Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mingyuan Architecture
Di gedung Mingyuan Architecture, aktivitas para staf berlangsung seperti biasa. Di salah satu ruangan lantai atas, Direktur Fung sedang berbicara dengan Stella.
“Stella, Xing Group ingin bekerja sama dengan kita. Kali ini proyek tersebut ditangani langsung oleh Direktur Xing. Beliau ingin bertemu langsung denganmu. Berkat kemampuanmu, Xing Group mulai melirik perusahaan kita. Siang ini pergilah menemuinya,” kata Direktur Fung.
“Direktur, serahkan saja kepada saya,” jawab Stella sambil tersenyum.
“Baiklah, semua bergantung padamu. Nasib perusahaan kita ada di tanganmu. Semakin banyak klien yang kita dapat, tentu semakin bagus. Tidak lama lagi keponakanku juga akan bergabung. Aku berharap kalian bisa bekerja sama dan dia bisa belajar darimu,” ucap Direktur Fung.
“Dengan senang hati,” jawab Stella.
Beberapa saat kemudian, Stella kembali ke ruangannya dan mendapati Rinny sudah berada di sana.
“Keponakan Direktur Fung akan bergabung? Apakah yang namanya Shinta Fung, anak manja dari keluarga Fung?” tanya Rinny.
“Mungkin juga,” jawab Stella.
“Aku punya firasat buruk. Kalau dia masuk ke sini, pasti ada maksud tertentu. Direktur Fung selama ini hanya memanfaatkan kemampuanmu. Aku malah takut dia mengambil keuntungan darimu,” ucap Rinny.
“Keuntungan apa?” tanya Stella.
“Jangan terlalu percaya kepadanya. Dia berharap Shinta bekerja sama denganmu, artinya dia ingin Shinta belajar darimu sebelum mengambil alih proyek yang kau pegang. Aku pernah mendengar kejadian saat di kampus dulu. Shinta adalah adik kelasku. Aku dengar dia pernah menjiplak lukisan orang lain dan mengaku sebagai karyanya sendiri."
" Gara-gara itu, teman sekelasnya kalah dan tersingkir dari sebuah kompetisi. Yang paling buruk, teman sekelasnya malah dituduh menjiplak lukisannya. Padahal Shinta sendiri tidak memiliki kemampuan seperti itu. Aku hanya khawatir proyek yang sudah kau dapatkan akan direbut olehnya,” ujar Rinny.
Stella justru tersenyum tipis.
“Aku malah penasaran apakah dia mampu melakukan itu kepadaku.”
“Dia memang tidak mampu, tapi Direktur Fung adalah pamannya,” kata Rinny.
“Kalau begitu, kita tunggu saja,” jawab Stella tenang.
Siang itu, Stella tiba di sebuah kafe mewah yang menjadi tempat pertemuannya dengan Direktur Xing. Ia melihat seorang pria paruh baya duduk di meja dekat jendela bersama dua orang asistennya.
Stella menghampiri mereka dengan senyum profesional.
“Selamat siang, Direktur Xing. Saya Stella Mo dari Mingyuan Architecture,” ucap Stella sambil mengulurkan tangannya.
Direktur Xing segera berdiri dan menyambutnya. “Nona Mo, akhirnya kita bertemu. Silakan duduk.”
Keduanya berjabat tangan. Namun, setelah beberapa detik, tangan Direktur Xing belum juga dilepaskan. Tatapannya bahkan terlihat mengamati Stella dari atas hingga bawah dengan ketertarikan yang cukup jelas.
“Nona Mo ternyata jauh lebih cantik daripada yang saya bayangkan,” ucapnya sambil tersenyum.
Stella menarik tangannya perlahan dan tetap mempertahankan senyum profesional.
“Terima kasih, Direktur Xing. Sebaiknya kita membicarakan proyeknya.”
Direktur Xing justru tersenyum semakin lebar. “Tentu. Tapi saya rasa pertemuan ini tidak harus terlalu serius.”
Ia kemudian menggeser tangannya ke atas meja dan tanpa sungkan menyentuh punggung tangan Stella.
Stella langsung menarik tangannya.
“Direktur Xing,” tegurnya dengan suara tenang tetapi tegas, “saya datang ke sini untuk membicarakan kerja sama antara perusahaan kita.”
Direktur Xing tertawa kecil seolah tidak merasa bersalah.
“Maaf, Nona Mo. Saya hanya merasa Anda terlalu menarik untuk diperlakukan seperti rekan bisnis biasa.”
Tatapan Stella berubah dingin.
“Saya harap Direktur Xing bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan. Kalau kita ingin bekerja sama, saya berharap kita saling menghormati.”
Direktur Xing terdiam sesaat sebelum mengangguk.
“Baiklah, Nona Mo. Mari kita bicara mengenai proyeknya.”
Stella membuka proposal yang dibawanya lalu meletakkannya di atas meja. Ia mulai menjelaskan rancangan proyek dengan tenang dan profesional.
“Proyek ini akan dibangun di kawasan selatan. Berdasarkan kondisi tanah dan lingkungan sekitar, saya menyarankan konsep bangunan yang tidak terlalu padat agar tetap memiliki ruang terbuka yang cukup. Selain itu, area parkir akan dibuat di sisi timur agar tidak mengganggu akses utama,” jelas Stella sambil menunjuk beberapa bagian pada gambar rancangan.
Direktur Xing memperhatikan penjelasan Stella, tetapi sesekali tatapannya justru tertuju pada wajah wanita itu.
“Nona Mo, saya sudah melihat beberapa rancangan arsitek terkenal. Tapi cara Anda menjelaskan proyek ini cukup menarik,” ujarnya.
“Terima kasih. Saya hanya berusaha memastikan rancangan ini sesuai dengan kebutuhan klien.”
“Bukan hanya kemampuanmu yang menarik,” ujar Direktur Xing sambil tersenyum. “Kau juga cukup menarik perhatian.”
Stella berhenti menjelaskan dan menatapnya.
“Direktur Xing, saya rasa lebih baik kita tetap membicarakan proyek.”
“Tentu,” jawab pria itu sambil tertawa kecil.
Stella kembali menjelaskan proposalnya. Setelah hampir setengah jam, Direktur Xing akhirnya mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan lebih serius.
“Saya menyukai rancangan ini. Jika tidak ada perubahan besar, Xing Group bersedia melanjutkan kerja sama.”
“Terima kasih, Direktur Xing. Saya akan meminta tim kami menyiapkan dokumen kerja sama secepatnya.”
Direktur Xing mengangguk. “Tapi saya memiliki satu permintaan.”
“Silakan katakan saja!"
“Saya ingin Anda sendiri yang menangani proyek ini. Saya tidak ingin arsitek lain menggantikan Anda.”
Stella tersenyum profesional.
“Selama perusahaan memberikan persetujuan, saya akan bertanggung jawab langsung atas proyek ini.”
“Bagus. Kalau begitu, saya berharap kita akan sering bertemu.”
“Dan sekarang, mari kita bicara tentang hal pribadi,” ucap Direktur Xing.
“Pribadi? Saya rasa tidak ada hal pribadi yang perlu dibahas,” jawab Stella dengan nada tenang.
“Usiaku lima puluh empat tahun. Aku memiliki dua anak, tetapi aku masih ingin menikah. Syarat calon istri yang kuinginkan adalah muda, cantik, memiliki karier, dan mampu berdiri sendiri. Setelah bertemu denganmu, aku merasa kau memiliki semua yang kuinginkan,” ujar Direktur Xing.
“Direktur Xing, tujuan kita bertemu hanya untuk membahas kerja sama,” tegas Stella.
“Aku tahu. Tapi aku tertarik padamu dan ingin menikahimu,” jawabnya terus terang.
Stella mengernyitkan dahi. “Kenapa Anda bisa tertarik kepadaku?”
“Karena kau cantik, muda, berbakat, dan memiliki karier yang bagus. Aku yakin kau bisa menjadi istri yang baik dan bisa memberiku keturunan. Soal ranjang tidak perlu khawatir meski usiaku sudah lebih dari lima puluh tahun. Tapi hasrat ku masih tinggi dan pasti akan memuaskanmu, "ujar Direktur Xing dengan percaya diri.
Wajah Stella langsung berubah dingin. Tanpa basa-basi, ia mengambil cangkir di atas meja lalu menuangkan isinya tepat ke wajah pria itu.
Byur!
Direktur Xing terkejut dan langsung berdiri.
“Berani sekali kau!” bentaknya sambil mengusap wajahnya.
Stella berdiri dengan tenang.
“Saya datang sebagai seorang arsitek untuk membicarakan kerja sama bisnis, bukan untuk mendengarkan Anda menilai saya sebagai calon istri. Kalau Anda tidak bisa menghormati saya sebagai rekan kerja, maka kerja sama ini tidak perlu dilanjutkan.”
Stella mengambil dokumen di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Pertemuan kita selesai. Selamat siang, Direktur Xing.”
"Stella Mo, lihat saja aku akan membuatmu berlutut dan memohon padaku," ucap Pria itu.