Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target
Evelyn kembali melanjutkan perjalanan pulang. Namun kini suasana di dalam mobil terasa jauh berbeda. Radio sudah dimatikannya sejak tadi. Tidak ada lagi musik. Tidak ada lagi suara penyiar. Yang tersisa hanya suara mesin mobil dan detak jantungnya sendiri yang belum benar-benar tenang.
Tangannya masih sedikit dingin saat menggenggam setir.
Sesekali matanya melirik kaca spion belakang. Entah kenapa... ia jadi merasa paranoid sendiri.
"Tenang..." Ia menarik napas panjang pelan. “Dia nggak mungkin ngikutin gue..." Walaupun begitu, bayangan pria bertopi hitam itu terus muncul di kepalanya. Tatapan matanya. Nada suaranya. Dan bagaimana dia berdiri diam di lift seperti bayangan. Evelyn menggigit bibir bawahnya pelan sambil mencoba mengingat isi novel.
"Kalau nggak salah...Dia bunuh pengacara itu karena sesuatu deh..." Namun semakin dipaksa mengingat, kepalanya justru makin pusing.
Novel itu terlalu panjang. Dan authornya suka menyimpan detail penting di chapter random yang kadang baru relevan ratusan halaman kemudian. "Aduh..."
Evelyn mengusap wajahnya frustasi. "Ini kenapa gue malah lupa pas butuh banget sih...”
Mobil terus melaju melewati jalanan kota yang mulai diselimuti cahaya sore menjelang malam. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu. Orang-orang berjalan santai di trotoar. Semua terlihat normal. Padahal beberapa jam lalu... ada seseorang dibunuh brutal di mall yang sama dengannya.
Evelyn kembali tenggelam dalam pikirannya. "Jangan-jangan dia emang pilih-pilih korban?" Mungkin Altair hanya membunuh orang-orang tertentu. Orang yang punya hubungan dengan masa lalunya.
Atau orang yang mengganggu rencananya. Namun beberapa detik kemudian Evelyn langsung menggeleng sendiri. “... kayaknya nggak juga."
Karena di novel asli, banyak korban yang bahkan tidak dijelaskan detail latar belakangnya. Mereka tiba-tiba muncul sebagai korban. Lalu mati. Sesederhana itu.
Dan justru itulah yang membuat Altair makin menyeramkan. Karena pembaca tidak pernah tahu... apakah korban berikutnya punya alasan untuk dibunuh. Atau hanya sial berada di tempat yang salah.
Evelyn langsung merinding sendiri. "Anjir... Berarti gue juga bisa mati random dong..." Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dari sebelumnya.
Dan begitu mobil akhirnya memasuki area mansion-Evelyn hampir merasa ingin menangis lega. Pintu garasi terbuka otomatis.
Mobil masuk perlahan. Begitu mesin dimatikan-Evelyn langsung membuka pintu mobil secepat kilat. Dan berlari masuk ke dalam mansion seperti dikejar setan.
"AMAN AMAN AMAN-"
Suara langkahnya menggema di rumah besar yang kosong itu. Ia buru-buru naik tangga menuju kamar.
Ceklek!
Pintu kamar langsung dikunci rapat. Bahkan ia memastikan dua kali. Baru setelah itu Evelyn bersandar lemas di pintu. “Hah...” Napasnya masih sedikit berantakan.
Namun saat menoleh-ia baru sadar kamarnya sudah dipenuhi barang belanjaan tadi siang. Kotak. Paper bag. Dan tumpukan pakaian memenuhi hampir seluruh sudut kamar.
Evelyn terdiam beberapa detik.iya "...oh iya. Gue tadi sempet hidup normal ya."
Tubuhnya langsung ambruk ke atas kasur.
Ia memeluk bantal sambil menatap langit-langit kosong. Capek. Takut. Bingung. Dan semua terasa terlalu cepat.
Beberapa menit kemudian, Evelyn mengambil ponsel milik Evelyn Adreena. Layar langsung menyala menampilkan notifikasi pesan dan dia segera membalasnya.
Dari Mommy
Evelyn membuka chat itu perlahan.
__________________________
Mommy
[Sayang... kamu baru saja keluar?]
Evelyn
[Iya mom]
Mommy
[Kamu baik-baik saja kan?]
Evelyn
[Eve baik-baik saja mom, sekarang sudah di rumah]
Mommy
[Syukurlah...]
Evelyn
[Mom... Eve pengen ikut mommy sama daddy aja]
Mommy
[Sayang... untuk saat ini mommy sama daddy belum bisa membawa Eve ikut. Kamu jadi anak baik ya di rumah]
Evelyn
[Baik mom]
Mommy
_________________________
Evelyn menatap layar ponselnya cukup lama setelah percakapan itu selesai. Entah kenapa ... dadanya terasa sedikit sesak. Karena dari cara wanita itu berbicara... jelas sekali kalau ia sangat menyayangi Evelyn Adreena. Dan itu membuat Evelyn makin tidak nyaman.
Karena ia tahu sesuatu yang bahkan keluarga ini sendiri belum tahu. Mereka sedang berada dalam bahaya. Bahaya besar. Perlahan Evelyn membuka daftar kontak. Dan saat melihat jumlahnya-
keningnya langsung mengernyit. "...hah?"
Hanya ada enam kontak. Daddy. Mommy. Supir pribadi.
Dokter keluarga. Manager rumah. Dan satu nomor lain bernama "Aunt Claire". Hanya itu.
Evelyn berkedip beberapa kali. "...sedikit banget." Ia membuka media sosial. Sepi. Tidak ada banyak chat. Tidak ada grup ramai. Tidak ada teman dekat. Tidak ada percakapan absurd tengah malam seperti yang biasa ia lakukan bersama Raya.
Mansion itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Dan untuk pertama kalinya... Evelyn mulai menyadari sesuatu. Evelyn Adreena Danesha... 'apa dia ga ngerasa kesepian?'
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Berbeda dengan suasana tenang di mansion milik Evelyn...
di tempat lain, malam terasa jauh lebih dingin. Sebuah ruangan luas dengan pencahayaan remang tampak sunyi tanpa suara apa pun selain denting pelan benda logam yang sesekali terdengar. Ruangan itu terlihat mewah. Terlalu mewah untuk disebut ruang biasa. Dinding hitam elegan. Rak kayu mahal. Meja kaca besar. Dan aroma samar tembakau bercampur parfum dingin yang memenuhi udara.
Namun ada satu hal yang membuat ruangan itu terasa menyesakkan. Dinding di ujung ruangan. Dipenuhi foto manusia. Puluhan. Mungkin lebih. Sebagian diberi tanda silang merah. Sebagian lainnya tertusuk benda tajam.
Dan tepat di depan dinding itu- seorang pria duduk santai di meja kerjanya. Posturnya tinggi dan tegap. Kaos hitam polos lengan pendek membungkus tubuhnya dengan pas, sementara celana jeans gelap membuat penampilannya terlihat sederhana.
Terlalu sederhana untuk seseorang yang aura keberadaannya saja sudah membuat ruangan terasa dingin. Di tangannya... sebuah pisau lempar kecil berputar pelan di antara jari-jarinya.
Tatapannya lurus ke depan.
Tenang. Tanpa emosi. Lalu-
SREETT.
Pisau itu meluncur cepat menembus udara. Dan tepat menancap di tengah foto seorang pria tua. Meleset sedikit pun tidak.
Altair Varellion pria berusia 25 tahun itu mengambil satu pisau lain tanpa mengubah ekspresinya. Tangannya bergerak lagi.
SREETT.
Kali ini mengenai foto berbeda. Tepat di bagian kepala.
Tak lama kemudian-tok.
Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang pria masuk sambil membawa map hitam tebal di tangannya. "Permisi, tuan."
Altair tidak menoleh sedikit pun. Pisau lain kembali dilempar. Dan kembali menancap sempurna. Pria berusia 30 tahun bernama Aron itu tampak sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut.
Ekspresinya datar saat berjalan mendekat. "Dokumen kerja sama dari cabang selatan sudah selesai diperiksa."
Ia menyerahkan berkas itu ke meja. Altair mengambilnya sekilas lalu membuka halaman terakhir tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat menandatangani dokumen tersebut. Rapi. Tenang. Seolah pria ini hanyalah pebisnis biasa.
Padahal beberapa jam lalu... tangannya baru saja dipenuhi darah manusia. Aron berdiri diam sebelum akhirnya bicara lagi. "Pihak kepolisian mulai bergerak lebih cepat dari perkiraan."
Hening sesaat.
Altair mengambil satu pisau terakhir dari meja kecil di sampingnya. Jemarinya memutar benda tajam itu perlahan. Lalu
SREETT.
Pisau itu melesat jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Dan menancap tepat di foto seorang gadis muda yang sedang menggendong kucing putih. Foto itu bergetar kecil akibat benturan keras.
Aron melirik sekilas ke arah dinding itu. Namun tidak bertanya apa pun. Karena di tempat ini... rasa ingin tahu adalah hal paling berbahaya.
Altair akhirnya bicara pelan. "Mereka selalu bergerak cepat." Nada suaranya datar. Tenang. Namun justru itu yang membuatnya terdengar menyeramkan.
Ia berjalan mendekati meja lalu mengambil kotak rokok. "Dan tetap tidak pernah belajar."
Klik.
Api kecil menyala. Asap rokok perlahan memenuhi udara dingin ruangan. Aron menundukkan kepala sedikit.
"Kalau begitu saya permisi, tuan." Tidak ada jawaban.
Namun itu sudah cukup dianggap izin. Pria itu segera keluar meninggalkan ruangan.
Ceklek.
Pintu tertutup kembali. Kini hanya tersisa keheningan. Altair menyandarkan tubuhnya pelan ke meja sambil mengembuskan asap rokok tipis. Tatapannya kembali mengarah pada dinding penuh foto.
Namun entah kenapa... pikirannya justru kembali pada kejadian siang tadi.
Seorang gadis aneh. Bermasker hitam. Terlalu banyak bicara. Dan terlalu santai pada orang asing. Ia masih ingat jelas bagaimana gadis itu berbicara di lift. Mengomel sendiri. Menguap tanpa malu. Dan tersenyum seolah dunia ini aman-aman saja.
Aneh. Sangat aneh. Karena biasanya orang akan merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Namun gadis itu...
bahkan sempat membayarkan makanannya.
Altair memejamkan mata sebentar, mencoba mengingat detail wajah di balik masker itu.
Lalu perlahan... sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum kecil yang tidak mencapai mata. "...apa perlu aku menempel fotomu di dinding ini juga?"
Suaranya rendah. Hampir seperti bisikan. Namun nada itu tidak terdengar seperti candaan sama sekali. Tatapannya kembali jatuh pada foto gadis yang tertusuk pisau tadi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu- Altair merasa tertarik pada sesuatu selain targetnya sendiri.
curang tauuu😒😒