Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Langit kota mulai berubah jingga ketika mobil milik Evelyn melaju meninggalkan area kampus. Hari itu terasa panjang sekali. Dan jujur saja, Evelyn masih belum sepenuhnya tenang setelah kejadian di toilet tadi.
Karena itulah sejak keluar dari UKS, ia terus menempel pada Celine seperti anak ayam kehilangan induk.
"Cel..."
"Hm?"
"Temenin gue ya."
Celine melirik sekilas sambil memutar setir. "Kan gue lagi nyetir lo pulang."
"Bukan itu." Evelyn langsung memeluk tasnya dramatis. "Nginep juga."
Celine terdiam beberapa detik. "...lo takut?"
"Banget." Jawabannya terlalu cepat sampai Celine malah kasihan.
Biasanya Evelyn memang absurd. Tapi kali ini wajahnya benar-benar pucat. Tatapannya juga kelihatan masih kosong.
Akhirnya Celine menghela napas panjang.
"Yaudah."
"Serius?!"
"Iya."
"CELINE I LOVE YOU."
"Najis."
Evelyn langsung tersenyum lega. Untungnya Celine memang bisa menyetir, jadi sejak tadi Evelyn tinggal duduk di kursi samping pengemmudi sambil memeluk bantal kecil mobilnya seperti orang trauma berat.
Mobil mereka kemudian berhenti di salah satu restoran modern dekat pusat kota. Karena lapar. Stres boleh. Tapi makan tetap prioritas. Mereka memilih duduk di pojok dekat jendela. Tempatnya cukup tenang. Lampu restoran hangat.
Aroma makanan memenuhi ruangan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Evelyn merasa sedikit hidup kembali. "Gue pesen banyak ya," ucap Evelyn sambil membuka menu.
"Lo habis hampir mati masih mikirin makan." ucap Celine memperhatikan Evelyn memilih menu.
"Justru karena hampir mati. Minimal mati kenyang." ucap Evelyn santai. Celine tidak habis pikir dengan temannya satu itu.
Tak lama pesanan mereka datang. Pasta. Kentang goreng. Minuman dingin. Dan beberapa dessert yang sebenarnya tidak perlu. Namun Evelyn sedang stress eating. Sambil makan, obrolan mereka perlahan kembali membahas kejadian tadi. Jujur.... Celine masih penasaran setengah mati.
"Eh serius deh." Celine mengecilkan suara.
"Lo beneran gak liat muka pelakunya?"
Sendok di tangan Evelyn berhenti sesaat.
Bayangan pria bersarung tangan itu langsung muncul lagi di kepalanya. Evelyn langsung merinding sendiri "...nggak jelas" Jawabannya pendek.
Karena memang ia tidak ingin terlalu banyak cerita. Dan untungnya Celine tidak memaksa. "Yang penting lo selamat."
Evelyn tersenyum kecil.
Namun belum sempat suasana jadi mellow, ponsel Celine tiba-tiba berbunyi.
TING!
"Eh bentar." Celine langsung membuka ponselnya.
"Anjayyyy-"
"Apa?"
"Kael update story cuy."
Deg.
Nama itu otomatis membuat Evelyn menoleh cepat. Celine langsung menggeser kursinya mendekat sambil menunjukkan layar ponsel. Di sana terlihat foto Kael Reneth. Cowok itu berdiri santai sambil memegang piala besar. Masih dengan ekspresi santainya sambilenyum dikit yang khas. Namun kali ini mengenakan jas formal hitam.
Di belakangnya ada backdrop lomba internasional. Caption-nya sederhana.
National Cyber Security Olympiad - Gold Medal.
Evelyn langsung berkedip beberapa kali. "...hah?"
Celine tampak heboh sendiri. "Gila gak sih?! Dia ternyata juara olimpiade cyber! Pantes anak-anak kampus pada tergila-gila."
Jarinya mulai scroll komentar. Dan benar saja, isinya hampir semua cewek.
"KAEL AKU MAU JADI WIFI KAMU "
"Mas ganteng otak mahal."
"Cowok green flag idaman."
"Kael nikahin aku sekarang."
Celine sampai ngakak bacanya. Sedangkan Evelyn... diam. Otaknya mendadak loading.
Cyber security?
Juara nasional?
Kalau begitu berarti kemampuan hacking-nya memang hebat. Dan itu... malah sedikit cocok dengan karakter Altair di novel. Namun di sisi lain. postingannya terlalu normal, tidak ada sesuatu yang aneh dengan orang bernama Kael itu. Evelyn jadi makin bingung sendiri.
"Jangan-jangan...Gue terlalu suudzon sama dia ya?"
gumamnya.
"Hm?" Celine menoleh.
"Enggak. Maksud gue..."
Evelyn buru-buru menggeleng. "Dia keliatan normal banget."
"Ya emang normal kali. Mana ganteng, pinter, sopan lagi." Celine menyipitkan matanya menggoda ke arah Evelyn.
"Kenapa?" heran Evelyn.
"Mulai naksir ya...?" ucap Celine tiba-tiba.
"OGAH." Jawab Evelyn terlalu cepat. "Takut gue."
"Takut kenapa coba?"
Evelyn langsung minum cepat menghindari pertanyaan.
Karena jujur saja, yang membuatnya takut sekarang bukan cuma kemungkinan Kael adalah tokoh itu. Tapi juga kemungkinan lain. Kalau Kael ternyata bukan siapa-siapa... berarti pelakunya masih berkeliaran di dekatnya. Dan itu jauh lebih menyeramkan.
Namun saat masih menatap layar ponsel Celine, tiba-tiba tubuh Evelyn sedikit menegang.
Matanya membola pelan.
'Tunggu. Kael tadi pagi...'
ketemu dia di lift apartemen.
Deg.
Sendok di tangan Evelyn langsung berhenti di udara.
Otaknya mulai memutar ulang kejadian pagi tadi. Bertemu di lift, pakai pakaian kampus, dan berangkat di jam yang sama.
Dan sekarang... dia muncul di postingan penyerahan piala.
Evelyn langsung menoleh cepat ke Celine.
"Cel."
"Hm?"
"Itu lombanya kapan?"
Celine masih santai sambil scroll postingan itu. "Bentar..."
Ia membaca caption dan beberapa info yang ditag akun kampus.
"Oh ini. Lombanya satu hari lalu ternyata. Terus hari ini pengumuman sama penyerahan hadiahnya."
Evelyn mengernyit. "Di mana?"
"Ya di kampus kita." Celine menjawab sambil menyeruput minuman. "Makanya tadi agak rame. Banyak anak luar kampus juga dateng."
Evelyn langsung terdiam. Perlahan... potongan-potongan kecil mulai tersambung di kepalanya. "Oh... Iya juga..."
Pantas tadi suasana kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Ada banner. Ada beberapa orang pakai ID card event. Dan beberapa ruangan dipakai panitia. Karena pikirannya kacau sejak pagi, ia bahkan tidak terlalu memperhatikan.
Namun sekarang justru itu membuatnya makin bingung.
Kalau Kael memang sibuk ikut acara olimpiade hari ini... apa mungkin dia masih sempat melakukan pembunuhan di toilet? Evelyn menggigit sedotan pelan sambil berpikir.
Di novel asli... Altair memang jenius. Manipulatif.
Dan sangat ahli
menyembunyikan identitas. Tapi bahkan Altair pun tetap manusia. Mana mungkin habis pembunuhan terus santai naik panggung ambil piala? ...atau justru bisa?
"Anjir... Kepala gue makin mumet."
Celine melirik heran. "Lo kenapa sih dari tadi serius amat mikirin Kael?"
"Curiga aja."
"Curiga apaan?"
"...curiga dia terlalu sempurna." ucap Evelyn entah apa maksudnya.
Celine langsung ngakak.
“YA EMANG. Makanya banyak yang suka."
Ia kembali menunjukkan komentar postingan itu. "Liat nih."
""Kael senyum dikit ekonomi Indonesia stabil."
""Cowok cyber tapi gak ngeselin, langka bgt aww."
""Mas aku rela jadi virus asal bisa masuk hidup kamu.'"
Evelyn langsung meringis geli. "Netijen kampus kalian serem-serem ya."
"Kita." ucap Celine membenarkan.
"Hah?" Evelyn seketika loading.
"Kampus kita." Celine.
"Oh iya."
Evelyn langsung bersandar ke kursi sambil menghela napas panjang. Tatapannya kembali jatuh ke foto Kael di layar.
Cowok itu memang terlihat normal.
Setelah makan malam selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen Evelyn.
Malam mulai turun
sepenuhnya. Lampu-lampu kota berkilauan di balik kaca mobil. Suasana jalan juga sudah jauh lebih lengang dibanding sore tadi. Untuk pertama kalinya hari itu, Evelyn terlihat sedikit lebih tenang.
Walaupun sesekali masih melamun sendiri. Sedangkan Celine masih fokus menyetir sambil sesekali memutar playlist dari ponselnya.
"Lagu galau terus?" protes Evelyn.
"Ini bukan galau. Ini orang habis diputusin."
"Bedanya apa?"
"Tipis."
Mereka berdua akhirnya tertawa kecil. Lumayan.
Setidaknya suasana tidak
semenyeramkan beberapa jam lalu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mulai memasuki kawasan apartemen mewah tempat Evelyn tinggal sementara.
Celine yang awalnya santai langsung melambatkan mobil. Matanya mulai bergerak ke kanan dan kiri. Bangunan tinggi menjulang. Area lobby luas.bAir mancur modern. Dan petugas keamanan yang jumlahnya lebih banyak dari yang ia perkirakan.
"Oke..." gumam Celine. "Ini apartemen atau markas konglomerat?"
Evelyn mengangkat bahu santai. "Gatau."
"Gatau gimana?"
"Gue juga baru tinggal beberapa hari."
Celine langsung menatapnya tidak percaya. "Lo nyewa tempat kayak gini cuma beberapa hari?"
"Iya."
"Kenapa?"
Evelyn terdiam sesaat. "... trauma."
"Oh. Oke masuk akal." Tidak masuk akal sama sekali sebenarnya.
Tapi setelah mendengar cerita tentang mansion besar yang ditinggali sendirian, Celine sedikit memahami. Mobil akhirnya berhenti di area parkir khusus penghuni.
Mereka turun dan berjalan menuju lobby. Begitu masuk ke dalam, Celine langsung kembali melongo. Lantainya marmer mengilap. Lampu gantung kristal besar menggantung di tengah ruangan.
Bahkan aroma ruangan pun terasa mahal. "Gue miskin." ucap Celine tiba-tiba.
Evelyn menoleh.
"Hah?"
"Guejadi ngerasa misqwen."
"Padahal rumah lo gede."
"Setelah lihat ini gue ngerasa miskin."
Evelyn tertawa kecil. Mereka berjalan menuju lift pribadi yang hanya bisa diakses penghuni lantai tertentu. Begitu pintu lift terbuka, Celine akhirnya membaca nomor lantai tujuan.
Lantai 27. Matanya langsung menyipit. "Lantai dua puluh tujuh?"
"Iya."
"Kamar berapa?"
Evelyn menyebutkan nomor unitnya. Beberapa detik kemudian... Celine membeku.
"Loh."
"Hm?"
"Bentar."
Ia menghitung sesuatu di kepalanya. "Lantai dua puluh tujuh..."
"Iya."
"Unit premium..."
"Iya."
"Private floor?"
"Iya."
Celine berhenti berjalan. Lalu perlahan menoleh.Tatapannya seperti melihat makhluk asing.
"LO NYEWA SATU LANTAI?!" Suara gadis itu menggema di dalam lift. Evelyn refleks menutup telinganya.
"Jangan teriak bego."
"EVELYN!"
"Apa?"
"Lo nyewa private floor cuma karena takut tinggal di mansion?!"
Evelyn menggaruk pipi.
Kalau dipikir-pikir... memang terdengar absurd. "Kan aman."
"Itu bukan aman."
"Itu sultan."
Pintu lift akhirnya terbuka.
Dan saat Celine melihat koridor panjang yang hanya memiliki dua unit apartemen di lantai itu... ia benar-benar terdiam.
Tidak ada penghuni lain.
Tidak ada lalu lalang orang.
Hanya koridor mewah yang tenang dan sunyi. Celine perlahan menoleh ke Evelyn.
"Jujur."
"Hm?"
"Kalau bukan karena gue kenal lo dari kemarin..."
"Gimana?"
"Gue bakal mikir lo anak pewaris perusahaan yang kabur dari rumah."
Evelyn langsung tertawa.
Padahal beberapa minggu lalu dirinya masih karyawan kantoran yang tiap akhir bulan menghitung sisa saldo sambil menangis dipojokan.
Sekarang? Punya mansion. Punya mobil mewah. Punya apartemen private floor. Dan sedang berusaha tidak dibunuh psikopat. Kadang hidup memang aneh. Sangat aneh.
curang tauuu😒😒