Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Serangga Pelangi
Beberapa jam berlalu. Ping Yue kini telah mahir mengubah bentuk lempengan miliknya — bukan sekadar memperbesar atau memperkecil, melainkan membentuknya menjadi apa saja yang ia butuhkan. Kuncinya ternyata bukan di tangan, melainkan di dalam lautan jiwanya. Ia harus membayangkan bentuk itu terlebih dahulu di kesadarannya, lalu mengalirkan energi — dan lempengan itu akan berubah seketika, seluwes air yang mengikuti wadahnya.
"Dan satu hal lagi," ucap Ye Hu sambil memperhatikannya. "Lempengan itu bisa kau gunakan untuk terbang. Ia jauh lebih kokoh dibandingkan pedang terbang biasa, dan kecepatannya pun tak kalah. Cukup berdiri di atasnya dan arahkan niatmu."
Ping Yue segera mencobanya. Lempengan itu membesar hingga cukup untuk satu orang, melayang stabil di ketinggian pinggangnya. Ia melompat naik — dan lempengan itu bergerak mulus ke atas, ke depan, berbelok ke samping seakan memahami setiap pikirannya. Matanya berbinar gembira.
Kemudian Ye Hu mengeluarkan lempengan milik Lin Cing — yang kini menjadi miliknya. Ia mengecilkannya perlahan hingga melingkar, lalu membentuknya menjadi sebuah gelang halus yang indah berwarna perak keemasan.
"Perhatikan ini, " ucap Ye Hu sambil menyelipkan gelang itu ke pergelangan tangannya. "Gelang ini bukan sekadar hiasan. Ia berfungsi sebagai alat komunikasi dua arah — seperti berbicara langsung di dalam pikiran tanpa bersuara. Namun untuk menggunakannya, kau butuh kekuatan jiwa yang kuat. Jika ada bahaya atau hal mendesak, panggil lah namaku melalui gelang ini dan aku akan mendengarnya. Ia juga tetap berfungsi sebagai penunjuk arah — persis seperti yang menuntunmu dari sekte hingga ke Kota Awan."
Ping Yue mengangguk.
"Dulu, Xuan Ling memberikan satu lempengan kepada Lin Cing dan satu lagi kepada Kwan Cen agar hubungan keduanya lebih baik," cerita Ye Hu pelan. "Kedua murid ini berbakat kuat, namun sifat mereka sering berbenturan dan sering bertengkar. Gurunya berharap benda ini akan mengingatkan mereka untuk saling menjaga. Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, lempengan milik Lin Cing justru ditemukan di ladang seorang petani, lalu berpindah tangan ke sana kemari hingga berakhir di rumah lelang."
"Lempengan milik Lin Cing inj sementara kubawa sampai aku menemukan keturunan atau pewaris yang tepat. Entah di mana dia berada sekarang, apakah masih hidup. Saat tiba waktunya, gelang itu akan menemukan tuannya sendiri."
Ping Yue tersenyum getir. Selama ini ia mengira lempengan itu hanyalah bagian dari peta harta — sebuah benda berharga namun biasa saja. Ternyata di balik benda itu tersimpan begitu banyak cerita, persahabatan, dan perasaan manusia ribuan tahun silam. Ia merasa begitu beruntung — bukan karena menemukan harta, tapi karena dipertemukan dengan Ye Hu.
"Terima kasih, Guru Agung," ucapnya tulus. "Tanpa pertemuan ini, aku mungkin tak pernah tahu makna sebenarnya dari benda yang kubawa selama bertahun-tahun."
"Sekarang saatnya pergi," Ye Hu berdiri dan menatap lorong keluar. "Musuh sudah menunggu di luar. Kita tak bisa berlama-lama di sini."
Sebelum berangkat, Ye Hu memeriksa ruangan terakhir sekali. Semua benda yang tersisa — selain yang tersembunyi di dalam patung — ia kumpulkan semuanya. Tak ada yang ditinggalkan sia-sia. "Siapa pun yang datang setelah kita tak boleh mendapatkan apa pun dari tempat ini," gumamnya.
Keduanya melangkah keluar dari ruang harta, kembali melewati lorong panjang, hingga akhirnya tiba di tepi lapangan tempat kawanan Serangga Pelangi itu melayang diam menanti. Ping Yue menatap sisa-sisa Batu Roh di kantong penyimpanannya.
"Batu Rohku tinggal sedikit," bisiknya cemas. "Harta lain pun tak banyak. Kita punya pedang kembar, lempengan, Batu Ratna Ungu milikmu, dan beberapa benda kecil. Jika mereka menyerang lagi… aku tak yakin kita bisa lolos seperti sebelumnya."
"Kali ini kita tak perlu lari," jawab Ye Hu tenang, melangkah mantap masuk ke dalam lapangan. "Kita akan mengajak mereka pergi bersama kita."
Ping Yue tertegun, namun tetap mengikuti di belakangnya.
Di tengah lapangan, Ye Hu berhenti. Ia mengeluarkan Batu Ratna Ungu yang memancarkan cahaya dalam di tangannya. Tanpa ragu, ia menggigit jarinya dan meneteskan darah yang cukup banyak ke atas permukaan batu itu. Darah itu tak jatuh ke tanah, melainkan meresap masuk seketika, membuat batu itu berdenyut merah ungu yang pekat.
Lalu Ye Hu menarik napas dalam — dan berteriak. Bukan dengan suara biasa, melainkan nada yang sangat tinggi, melengking hingga menyayat telinga. Suara itu bukan untuk manusia — itu adalah panggilan kuno yang bergema di seluruh ruangan.
Seketika, Ratu Serangga Pelangi yang terbesar dan paling berwarna-warni melesat keluar dari tengah kawanan, mendekati Ye Hu dengan cepat. Kali ini ia tak menolak, tak menjauh. Ia mendarat tepat di atas Batu Ratna Ungu yang bernilai tinggi dan energinya juga besar, saat ini berlumuran darah Ye Hu, sayapnya bergetar pelan seakan merespons panggilan itu.
Di dalam lautan jiwa Ye Hu, pemandangan berubah. Ia berdiri di ruangan yang terbuat dari cahaya pelangi, dan di hadapannya berdiri sosok wanita cantik transparan — wujud kesadaran Ratu Serangga.
"Kau memanggilku," suara itu bergema di kepala Ye Hu. "Dan menawarkan darahmu. Tapi kau masih lemah. Kontrak dengan-mu akan membatasi kekuatanku."
"Aku tidak memintamu melayaniku selamanya," jawab Ye Hu tegas di dalam kesadarannya. "Aku ingin membuat perjanjian — aku akan membawa kawanan-mu keluar dari gua ini, ke tempat yang lebih luas, lebih kaya energi, dan tak terkurung formasi apa pun. Sebagai gantinya, kau dan seluruh kawanan harus menemaniku melewati bahaya di depan pintu. Setelah itu, kalian bebas pergi ke mana pun kalian mau."
Ratu itu terdiam sejenak. "Dan jika aku menolak?"
"Maka aku akan mengambil paksa," nada Ye Hu berubah dingin. Di lautan jiwa itu, benang-benang hitam tipis muncul dari segala arah, mengelilingi tubuh Ratu Serangga. "Kau sudah terikat oleh darahku dan Batu Ratna. Jika perlu, aku akan menyerap kekuatan-mu sedikit demi sedikit sampai kau tak berdaya. Lalu seluruh kawanan di luar sana — dua puluh meter dari formasi ini — semuanya akan kuhabisi. Energi mereka akan membuatku naik satu tingkat lagi. Dan kau… akan mati sendirian."
Ratu Serangga gemetar. Ia merasakan ancaman itu bukan kosong — benang hitam itu sudah mulai menarik sedikit energinya, dan rasanya begitu nyata, begitu tak tertahankan. Ia tahu pemuda di hadapannya benar-benar bisa melakukannya.
"Baik…" suara itu lirih. "Aku setuju."
Di alam nyata, Ye Hu membuka mata. Ia mengeluarkan sebuah kantong penyimpanan besar yang diambilnya dari ruang harta — sebuah artefak penyimpanan khusus yang bisa menampung makhluk hidup di dalamnya selama waktu tertentu tanpa celaka. Ia membuka mulut kantong itu lebar-lebar di udara.
"Masuklah," perintahnya pelan.
Satu per satu serangga pelangi itu terbang masuk ke dalam kantong itu, berkilauan bagai debu bintang yang ditarik masuk. Ratu Serangga masuk yang terakhir. Ye Hu mengikat mulut kantong itu rapat-rapat dan menyimpannya di pinggangnya. Seluruh lapangan kini kosong melompong.
Ping Yue berdiri terpaku, mulutnya sedikit terbuka. Seluruh kawanan serangga yang begitu mengerikan tadi — kini berada di kantong pinggang Ye Hu, menurut dan patuh.
"Mereka… kita bawa?" tanyanya tak percaya.
"Ya," jawab Ye Hu singkat, lalu melangkah menuju lorong keluar. "Sekarang, mari kita hadapi apa yang menanti di ruang kodok."