Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. SABAR
Sebagai seorang panglima perang yang terbiasa menghadapi musuh-musuh keji, penyusup licik, dan monster buas di medan pertempuran, Kael tidak pernah merasa gentar.
Namun, menghadapi gadis di hadapannya ini yang berdiri di atas puing-puing vas antik dengan tudung lampu tembaga di kepala sambil berteriak histeris, membuat Kael merasa bahwa strategi militer tercanggih sekali pun sama sekali tidak berguna.
Gadis ini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Setiap gerakannya, setiap teriakannya, dan setiap kalimatnya membuktikan bahwa tidak ada kewarasan yang tersisa di dalam diri Putri Virelia. Rumor di istana ternyata sama sekali tidak dilebih-lebihkan; gadis ini adalah bencana murni yang dikirimkan langsung oleh takdir untuk menyiksa hidup Kael.
Kurasa pikiranku terlalu berlebihan kemarin saat melihatnya turun dari pohon dengan mudah, batin Kael.
"Julian?" panggil Kael lagi, suaranya terdengar datar namun menyiratkan kelelahan yang mendalam.
"Ya, Yang Mulia?" sahut Julian.
"Berapa banyak barang berharga yang sudah dia hancurkan sejak sore tadi?" tanya Kael.
Julian melirik sejenak ke arah kekacauan kemudian menjawab, "Total kerugian sementara, termasuk vas kristal generasi ketiga, satu set piring perak kerajaan, dan pintu kamar tamu yang didobrak menggunakan kursi kayu, mencapai angka empat ratus lima puluh keping emas, Yang Mulia."
Kael memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di dalam hatinya, Kael kembali merutuki keputusan bodoh Raja Lucien yang memaksanya menikahi gadis gila ini.
Namun di balik rasa frustrasi itu, jauh di sudut hatinya yang paling dalam sebagai seorang pria dan sebagai seorang prajurit yang terbiasa melindungi orang lain, terselip rasa iba yang kuat.
Virelia adalah seorang putri kerajaan yang dibuang, diisolasi, dan dibiarkan menderita gangguan jiwa berat di sudut istana tanpa ada seorang pun yang peduli merawatnya. Dan sekarang, wanita malang itu berada di bawah tanggung jawabnya.
Kecaman dan amarah perlahan surut dari diri Kael, digantikan oleh rasa tanggung jawab yang kaku.
Kael melangkah maju perlahan, mengabaikan serpihan kaca yang berderit di bawah sendal rumahnya.
Melihat Kael mendekat dengan wajah dingin dan postur tubuh yang mengintimidasi, Virelia merasa jantungnya berdegup kencang.
"Jangan mendekat, Serigala Jelek! Tolong aku! Aku tidak mau ditangkap serigala jelek!" jerit Virelia dramatis, melangkah mundur hingga tumitnya hampir menabrak dinding.
Kael berhenti tepat satu langkah di hadapan Virelia.
Pria itu sama sekali tidak memedulikan teriakan ngawur sang gadis. Pandangan mata Kael terfokus tajam, mengamati setiap jengkal tubuh Virelia dengan teliti. Sebagai seorang panglima yang sering memeriksa kondisi prajuritnya seusai pertempuran, mata Kael langsung menangkap detail-detail kecil yang tersembunyi di balik kekacauan itu.
Di ujung gaun putih Virelia, terdapat noda arang yang pekat, menandakan ia sempat mendekati perapian atau mungkin menyalakan sesuatu di kamarnya. Di pergelangan tangan kiri sang putri yang sedikit tersingkap, terdapat goresan merah tipis yang masih basah. Dan di telapak tangan kanannya, ada bekas gesekan kasar yang memerah, seolah-olah ia baru saja menyeret benda berat atau memanjat sesuatu dengan paksa.
Kael mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Apakah dia melukai dirinya sendiri saat mengamuk di dalam kamar? Atau apakah pelayan istana sebelumnya memperlakukannya dengan kasar di belakang punggungku? batin Kael bertanya-tanya dengan perasaan tidak nyaman.
Tanpa ragu-ragu lagi, Kael mengulurkan tangan kanannya yang besar dan kokoh, lalu dengan lembut mencengkram pergelangan tangan Virelia untuk menariknya agar mendekat.
Virelia terperanjat kaget. Sentuhan hangat dan kasar itu membuat aliran listrik kecil merayap di kulitnya.
"Diam sebentar, Putri," perintah Kael dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, sebuah nada bicara yang bahkan tidak pernah ia gunakan kepada para perwiranya di garis depan.
Kael mengangkat pergelangan tangan Virelia yang tergores, mendekatkannya ke arah cahaya lampu dinding untuk melihat seberapa parah luka di kulit mulus tersebut. Alis tebal Kael semakin bertaut. Luka itu kecil, tetapi tampak seperti goresan benda tajam atau pecahan kayu, bukan sekadar luka akibat mengamuk biasa.
"Kau terluka. Di mana lagi yang sakit? Apakah ada bagian tubuhmu yang lain yang terluka akibat pecahan kaca atau benturan tadi?" ucap Kael pelan, suaranya terdengar kaku namun menyiratkan ketulusan yang aneh. Ia menatap mata Virelia lurus-lurus.
Virelia terdiam seribu bahasa. Ia mendongak, menatap sepasang mata biru milik sang Serigala Perang yang kini memantulkan cahaya temaram. Di dalam mata itu, tidak ada sedikit pun rasa jijik, tidak ada amarah, dan tidak ada seringai mengejek yang biasa ia temui dari para bangsawan istana yang memandang Virelia rendah.
Yang ada hanya kekhawatiran yang tulus dari seorang pria yang sedang kebingungan merawat istrinya.
"Apakah Tuan Putri terluka, Yang Mulia?" tanya Julian.
"Kurasa begitu," jawab Kael.
Melihat Virelia terdiam dan tidak memberontak, Kael mengira gadis itu sedang mengalami kebingungan mental akibat dunianya yang kacau.
Dengan sangat hati-hati, Kael melepaskan tudung lampu tembaga dari kepala Virelia, meletakkannya dengan pelan ke atas lantai yang bersih dari pecahan kaca. Setelah itu, dengan gerakan tangan yang sangat telaten, Kael merapikan helaian rambut pirang Virelia yang menutupi wajah pucat sang gadis, menyelipkannya perlahan ke belakang telinga.
"Jangan takut," bisik Kael lembut, mencoba menenangkan wanita di hadapannya. "Tidak ada monster di sini. Kau aman."
Julian, yang berdiri tidak jauh dari mereka, menyaksikan pemandangan itu dengan mata terbelalak di balik kacamata emasnya. Selama sepuluh tahun mengabdi di bawah komando Duke Kael Dravenhart, Julian belum pernah sekali pun melihat atasannya menunjukkan kelembutan semacam itu kepada siapa pun, khususny wanita.
Apakah dunia akan kiamat besok pagi? batin Julian ngeri sambil mendorong kacamatanya. Duke kita baru saja merawat seorang perempuan gila seperti merawat bayi.
Virelia yang tersadar langsung mengerjap cepat. Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Kael, lalu melompat mundur dua langkah sambil kembali memasang ekspresi liar dan tertawa terbahak-bahak bernada tinggi.
"Hahahaha! Jangan sentuh aku dengan cakar beracunmu, Serigala! Aku adalah ratu awan! Awan tidak bisa disentuh oleh manusia fana!" teriak Virelia histeris, berlari berputar-putar mengelilingi ruangan sambil melambaikan tangan kosongnya ke udara.
Kael berdiri tegak kembali. Ia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya malam ini, menatap punggung Virelia yang sedang berputar-putar dengan perasaan campur aduk antara iba, lelah, dan rasa penasaran yang semakin membara.
"Julian," panggil Kael tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Siap, Yang Mulia!" jawab Julian sigap, langsung kembali ke posisi siap lapor.
"Panggil tabib istana sekarang juga. Minta dia membawa salep penenang saraf dan ramuan herbal terbaik untuk luka gores di tangannya."
"Baik, Yang Mulia."
"Dan setelah itu," lanjut Kael dengan suara dingin yang kembali berwibawa, "pastikan kamar tidur sayap barat dipersiapkan dengan pengamanan ekstra. Kunci semua jendela yang menghadap ke halaman luar, singkirkan semua benda tajam atau barang pecah belah, dan letakkan pengawal di depan pintunya sepanjang malam."
"Laksanakan, Yang Mulia."
Kael melangkah mendekati Virelia yang masih sibuk berteriak pada dinding kosong. Sang Duke membungkuk sedikit, mengangkat tubuh ringan sang putri dalam gendongan dengan begitu mudah dan cepat, membuat Virelia terkejut setengah mati hingga hampir menjerit sungguhan.
"Hei! Apa yang kau lakukan, Monster?! Biarkan aku terbang bersama burung-burung!" protes Virelia dengan suara aslinya yang sempat lolos karena kaget, sebelum buru-buru ia ubah kembali menjadi tawa melengking.
"Tidur di kamar, Putri," ucap Kael datar, melangkah mantap meninggalkan ruang tamu yang berantakan menuju sayap barat puri, sementara Julian mengekor di belakang mereka sambil membawa sutil kayu dan tudung lampu tembaga yang tertinggal di lantai.
Di dalam dekapan lengan sang Duke yang hangat, Virelia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang di luar kendali.
Pria ini, lebih sulit dari pikiranku, Sialan. Apa yang harus aku lakukan agar dia membuangku, batin Virelia dengan tatapan rumit dan jelas berbeda dari gadis gila sebelumnya.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣