Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bayu adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang Bayu tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, Bayu merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa sambil menjaga dan merawat Bunda.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bayu belum bisa tidur, ia sedang memikirkan tentang bagaimana keadaan Alina. Bayu pun terus saja menatap handphone yang ada di genggamannya itu. "Apa harus aku telepon dia ya. hmmm, harusnya sih dia udah istirahat jam segini. Aku sangat berharap Tuhan akan mempertemukan kita lagi, Alina." Ucap Bayu dengan lirih serta memandang foto profil Alina.
Suara pintu diketuk, membuat Bayu seketika langsung mematikan layar handphonenya.
"Bayu! Kamu udah tidur, Nak?!" panggil Bunda dari balik pintu.
"Belum, Bun."
"Kalau gitu, cepat ke meja makan ya, kita makan sama - sama."
"Siap, Bunda."
Ia pun bergegas untuk menuju ke meja makan. Ternyata, selain Bunda disana juga sudah ada satu orang lainnya yang menunggu kedatangan Bayu.
"Hai, Brother!"
"Hai, Bro!" Bayu pun berjabat tangan dengan laki - laki itu. Dia adalah Kevin, teman Bayu sejak kecil ini ternyata akan menjadi rekan kerjanya sekarang.
"Gimana buat persiapan besok, aman kan?"
"Aman. Tapi gue rasa hati lo yang sekarang nggak aman." Canda Kevin, sambil menepuk pundak temannya itu.
"Ya, elah. Bisa aja, lo." Jawab Bayu singkat, sambil menuangkan makanan ke piringnya itu.
"Tenang aja, nanti kapan - kapan gue cerita. Sekarang Lo makan aja dulu, nih." Bunda pun mengambilkan sepiring nasi kuning.
"Ini, Nak Kevin. Yuk, makan dulu. Nanti dilanjut lagi ya ngobrolnya." Bunda pun tersenyum.
"Oke, Tante. terima kasih ya." Bunda pun mengangguk
...----------------...
Selesai makan, Bayu mengajak Kevin untuk ke kamarnya. "Wow, luar biasa ini kamar." Sejak kapan kamar ini di renovasi, Bay?" tanya Kevin penasaran.
"Udah lama sih, beberapa tahun yang lalu sejak gue sama..." Bayu pun menghentikan ucapannya, raut wajah yang semula ceria berubah menjadi muram. Kevin yang paham dengan apa yang akan diucapkan oleh Bayu, buru - buru mengganti topik pembicaraan.
"Eh, Bay. Gimana cewek tadi? lo bawa dia ke rumah sakit atau ke rumahnya?"
"Gue bawa dia ke rumah sakit."
"Oh, terus apa yang terjadi?"
"Ya, dia di rawat Ama dokter dong, Vin."
"Maksud gue, Lo nggak kenalan dulu atau apa gitu. Itu cewek cakep juga Bay, masih ada secercah harapan, masa Lo tinggal gitu aja, sih."
"Aduh, apaan sih Vin. Udah ah, lebih baik tidur aja ya. Daripada besok kita terlambat."
"Yah, Bayu. Oke, deh."
"Demi kebaikan Lo juga, Vin. Secercah harapan akan datang besok pagi dalam hidup kita."
"Hahaha..." Kevin pun tertawa sedangkan Bayu hanya meresponnya dengan senyuman, lalu mereka berdua menghentikan pembicaraan dan segera tidur.
...----------------...
"Ini kak, minum dulu obatnya." Kata Fara seraya memberikan obat kepada Alina.
"Oke, makasih ya, Ra" Alina pun meminum obat itu dan sebelumnya Fara sudah memakan bubur buatan Ibu.
"Kak, kakak nyadar nggak sih, cowok yang tadi itu perhatian banget sama kakak?"
"Aduh, kamu ini. Emangnya kenapa, Dek? Kamu cemburu ya?"
"Dih, siapa juga yang cemburu. Aku senang kok, kalau kakak sama dia jadi dekat terus resmi, deh!"
"Maksudnyaaaa.... Ih, kamu jangan keras - keras ngomongnya, nanti orang tua Aku dengar." Alina pun berlari ke arah pintu kamar memastikan tidak ada seorang pun dan menguncinya. Sedangkan Fara hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.
"Kak, tadi Kak Bayu titip pesan."
"Oh, ya. Apa katanya?"
"Yang tadi Aku sampaikan, waktu kakak lagi makan bubur itu."
"Yang mengenai nasehat Dokter?"
"Iya, kak Alina."
"Oke, makasih ya, Dek."
"Eh, kita kebetulan udah lama ya, nggak nobar film komedi. Yuk, kita nonton? Mumpung lagi banyak kuota nih!" Ajak Fara dengan penuh kegirangan. Alina pun setuju, walau sebenarnya ia sedang sangat galau hari ini.
Kamar dengan nuansa abu putih pun terkesan tenang. Namun, tidak dengan pemilik kamar itu. Sudah larut malam, Alina masih saja bergelut dengan pikirannya. Ia menengok ke arah kiri, di sebelahnya ada Fara yang sudah tertidur pulas. Handphone Lili yang sejak beberapa jam tadi menyala memperlihatkan adegan film komedi pun dimatikan. Alina memandang Fara dengan sendu, "Makasih bestie, udah nolongin Aku." Ucap Alina sambil mengelus kepala gadis yang terbalut oleh hijab itu. Alina beranjak dari tempat tidur dan duduk di kursi yang ada di kamarnya. Masih terngiang - ngiang di pikirannya tentang kejadian hari ini.
Flashback On
..........
"Alina, kamu kenapa, Nak?! Kenapa kamu bisa ada di rumah sakit? Sekarang gimana, udah baik - baik aja kan? Masih ada yang sakit nggak?" tanya Ibu secara beruntun.
Tiba - tiba beberapa tetangga pun memperhatikan Alina dan melontarkan perkataan yang cukup menyakiti perasaan.
"Hadeh, ini Anak sakit - sakitan mulu."
"harusnya sih, udah nikah."
"Mana ada yang mau sama perempuan kayak gini, nyusahin!"
Ibu pun menuntun Alina untuk masuk ke dalam rumah dan Fara mengikutinya. Sedangkan Ayah membawa barang - barang Alina.
Ibu mendudukkan Alina di sofa ruang tengah "Apa yang dibilang sama tetangga tadi, nggak perlu kamu dengarkan ya. Lupakan saja, cukup ingat hal yang membuat kamu senang dan bersemangat." Ibu pun mengusap air mata Alina dengan pelan.
"Fara, tolong temani Alina ke kamarnya ya, Nak. Tante akan membuatkan bubur untuk kalian berdua."
"Baik, tante."
Saat Fara dan Alina melewati dapur, terdengar Isak tangis Ayah Vina. "Bapak nggak tega Bu, melihat anak kita mengalami hal ini." Ibu pun mengusap pundak bapak untuk menenangkannya.
Flashback Off
Air mata yang berusaha Alina bendung itu pun mengalir membasahi wajahnya.