Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Janji Dua Tahun

Beberapa hari setelah pengakuan itu, Laras memutuskan bersikap biasa.

Ia menjemput Rayhan untuk kembali ke asrama dengan motor. Saat Rayhan duduk di belakang dan refleks melingkarkan tangan ke pinggangnya, Laras langsung menekan pergelangannya.

"Jangan peluk kencang. Sesak."

Rayhan melepaskan. "Dulu kamu bilang geli."

"Sekarang sesak."

Ia memilih memegang besi belakang sepanjang jalan. Jarak beberapa sentimeter di antara tubuh mereka terasa lebih dingin daripada angin.

Sebelum berangkat, Pak Darto memarahi Laras karena terus menghindar.

"Waktu kamu ujian, Rayhan yang bawain susu dan bantu bengkel. Sekarang dia mau sekolah lagi, kamu malah pasang muka."

"Dia bukan anak kecil yang harus ditemani."

"Bapak tahu. Kamu yang sepertinya belum tahu."

Pak Darto lalu bertanya kapan Laras mau berpacaran. Laras menunjuk para pekerja bengkel dan bertanya apakah ia harus memilih dari mereka. Percakapan selesai dengan Pak Darto melempar kain lap ke kepalanya.

Sehari sebelum Rayhan kembali ke sekolah, ia menghadang Laras dekat sungai.

"Kamu menghindar lagi."

"Gue jaga jarak. Beda."

"Supaya perasaanku hilang?"

"Supaya lo fokus sekolah."

"Jangan pakai sekolah sebagai alasan untuk keputusan kamu."

Laras kehilangan sabar. "Kita cuma bisa jadi kakak-adik. Yang lain nggak mungkin."

"Kita nggak sedarah. Aku juga nggak punya hubungan hukum sama Pak Darto."

"Hubungan nggak cuma kertas."

"Benar. Perasaanku juga hubungan."

"Mulai sekarang naik angkot sendiri. Jangan sering ke bengkel. Kita jaga jarak sampai lo sadar."

Rayhan menatapnya lama. "Kalau itu maumu."

Dua minggu kemudian, sekolah menelepon Mbah Surti.

Rayhan mengundurkan diri dari seleksi olimpiade provinsi. Nilai bulanannya turun lebih dari seratus peringkat. Ia dua kali bolos dan ditemukan di warnet. Setelah membaca surat pernyataan pada upacara Senin, ia berkelahi dengan anggota tim olahraga. Satu lawan mengalami retak lengan dan yang lain luka kepala ringan. Rayhan sendiri memar di pipi.

Sekolah memanggil wali. Mbah Surti panik dan meminta Laras mengantar.

Di ruang konseling, guru menjelaskan bahwa Rayhan berada di ambang skorsing berat. Ia harus mengikuti konseling, mengganti biaya pengobatan sesuai kesepakatan keluarga, dan menunjukkan perbaikan nyata.

Orang tua siswa yang terluka duduk di ruang sebelah. Mbah Surti membawa uang tabungan warung, tetapi pihak sekolah menegaskan tanggung jawab tidak berhenti pada biaya. Rayhan harus menyampaikan kronologi, menerima sanksi, dan mengikuti mediasi setelah kondisi siswa membaik.

"Kalau cuma bayar, dia nggak belajar apa-apa," kata ayah siswa itu.

Laras setuju. Rayhan tidak membela diri dengan alasan diprovokasi. Ia menulis surat permintaan maaf di depan konselor dan mengakui pukulannya menyebabkan cedera. Wajahnya datar, tetapi tangannya menekan pena sangat keras.

"Lihat Mbah lo," bisik Laras. "Dia sampai bawa semua uang warung. Ini akibatnya bukan cuma kena lo."

Rayhan melihat kantong kain di pangkuan Mbah Surti. Untuk pertama kali sejak mulai memberontak, rasa malu benar-benar menembus kemarahannya.

"Dia bukan anak yang biasa begini," kata wali kelas. "Perubahannya sangat mendadak."

Laras memandang Rayhan. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Jangan bohong."

"Belajar buat apa kalau orang yang aku tunggu tetap anggap aku kecil?"

Mbah Surti menutup mulut. Guru tidak memahami seluruh maksud, tetapi Laras memahami.

"Lo rusak masa depan sendiri buat ngancam gue?"

"Aku nggak ngancam. Aku capek."

"Ini manipulasi, Ray. Dan ini nggak benar."

Rayhan menunduk. Tidak ada senyum kemenangan. Memar di pipinya membuat ia terlihat muda lagi.

Laras meminta bicara di koridor. Ia menahan marah agar tidak mempermalukannya di depan guru.

"Gue nggak akan kasih hadiah karena lo berantem. Lo harus minta maaf, ikut konseling, balik belajar, dan ambil lagi seleksi kalau masih bisa."

"Kalau aku lakukan?"

"Jangan tawar-menawar."

"Kamu yang bilang jaga jarak sampai aku sadar. Aku sudah sadar. Aku nggak akan berhenti."

Laras memejamkan mata. Ia tidak boleh membalas perasaan anak enam belas tahun. Namun membiarkan Rayhan menghancurkan diri juga bukan pilihan.

"Satu sampai dua tahun," katanya. "Gue nggak akan pacaran sama siapa pun. Lo juga fokus sekolah. Setelah lo lebih dewasa, kita bicara lagi. Bukan janji gue akan menerima. Cuma janji gue nggak menutup pembicaraan selamanya."

Rayhan mengangkat kepala. "Galih juga nggak?"

"Siapa pun. Tapi kalau lo ulangi cara begini, janji batal. Paham?"

"Paham."

"Ulangi aturan kita."

"Aku kembali belajar, ikut konseling, nggak bolos, nggak berantem. Kamu nggak pacaran satu sampai dua tahun. Setelah itu kita bicara lagi tanpa kamu otomatis menyebut aku anak kecil."

"Dan gue nggak janji menerima."

"Iya."

"Kalau lo sengaja jatuh lagi buat maksa?"

"Janji batal."

Laras mengangguk. Ia sengaja membuat syarat jelas agar Rayhan tidak menafsirkan sesuka hati. Meski begitu, sinar yang kembali ke mata Rayhan menunjukkan ia tetap memperoleh sesuatu yang besar.

Mereka kembali ke ruang konseling. Laras menyampaikan komitmen Rayhan di depan guru dan Mbah Surti: kembali ikut kelas, konseling wajib, tak ada bolos, tak ada perkelahian, dan meminta maaf kepada siswa yang terluka.

Rayhan menyetujuinya satu per satu.

Sekolah memberi masa percobaan. Seleksi provinsi belum ditutup, tetapi ia harus mengejar nilai dan rekomendasi pelatih.

Tiga hari kemudian, Rayhan menemui siswa yang lengannya retak bersama konselor. Ia meminta maaf tanpa menyebut Laras atau menjadikan patah hati sebagai alasan. Keluarga lawan menerima maaf tetapi tidak langsung mencabut keluhan sekolah. Rayhan harus membantu tugas kelas siswa tersebut selama masa pemulihan dan dilarang ikut latihan fisik dua minggu.

Pada sesi konseling pertama, ia mengakui tindakannya dibuat untuk memancing Laras bereaksi. Menyebutnya keras-keras membuat strategi itu terdengar seburuk kenyataannya.

"Kalau kamu menyayangi seseorang, rasa takut kehilangan bukan izin untuk mengendalikan," kata konselor.

Rayhan tidak langsung setuju. Namun ia mencatat kalimat itu, karena Laras pasti akan menanyakan apa yang dipelajari.

Mbah Surti tidak bicara kepadanya selama satu malam penuh. Keesokan pagi, ia tetap menaruh sarapan di meja. Rayhan memeluknya dari belakang dan meminta maaf. Mbah Surti memukul lengannya dengan serbet, lalu menangis sambil memaki.

Akibatnya nyata. Rayhan mendapat jeda yang ia inginkan, tetapi juga kehilangan sebagian kepercayaan orang-orang yang paling ia butuhkan.

Di perjalanan pulang, Rayhan duduk di belakang motor tanpa memeluk. Laras masih marah. Ia juga tahu dirinya baru memberi Rayhan apa yang diinginkan: waktu dan lapangan kosong dari Galih.

"Makasih, Ras," katanya pelan.

Nada suaranya terlalu tenang.

"Jangan senang dulu. Gue masih pengin mukul lo."

"Aku tahu."

"Konseling jangan bolos. Minta maaf benar-benar, bukan formalitas."

"Iya."

"Dan janji ini bukan pacaran."

"Belum."

Laras menoleh sekilas. "Jangan main kata."

Rayhan akhirnya tersenyum kecil di balik helm.

Laras menatap jalan. Ia berhasil menarik Rayhan dari tepi hukuman sekolah.

Namun rasa dingin di punggungnya mengatakan ia mungkin baru saja masuk lebih dalam ke permainan yang disusun Rayhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!