Indonesia
NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Puisi yang Mengingatkan pada Ibu

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Suara anak perempuan itu terbata di halaman bangunan setengah jadi. Laras berjongkok di depannya, menunjuk baris berikut pada buku tipis.

“Pelan-pelan. Tidak perlu takut salah.”

Naren berdiri di luar pagar Rumah Puspa. Alasan kedatangannya adalah cicilan tanah dalam rekening Laras. Ia bilang kebetulan lewat. Laras tahu tak ada konglomerat kebetulan melewati jalan sempit berlubang ini.

“Masuk,” katanya. “Kalau sudah menguntit, sekalian lihat hasilnya.”

Halaman itu sederhana. Atap ruang belakang ditambal terpal. Enam anak berbagi meja belajar. Dinding belum diplester, tetapi lantai disapu bersih. Kotak-kotak bantuan diberi label makan, sekolah, dan obat.

“Ini tujuan uangnya?” tanya Naren.

“Sebagian.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Supaya Anda memberi lebih banyak?” Laras menatapnya. “Saya tidak menjual cerita anak-anak.”

Seorang pengurus menyerahkan map laporan. Laras memeriksa daftar belanja dan menemukan harga susu yang tidak sesuai kuitansi.

“Telepon tokonya,” katanya. “Minta kuitansi baru. Kita tidak boleh punya satu angka pun yang tidak bisa dijelaskan.”

Naren membaca halaman yang terbuka. “Kamu mencatat sampai dua ribu rupiah ongkos parkir?”

“Uang titipan harus lebih bersih daripada uang pribadi.”

“Uang dari aku juga dicatat?”

Laras membuka buku anggaran dan menunjukkan satu baris: pinjaman pribadi, Rp90 juta, sumber dirahasiakan, wajib dikembalikan.

“Pinjaman?”

“Saya tidak mau tempat ini berdiri di atas utang tubuh.”

Kalimat itu membuat Naren terdiam. Di bawah angka tersebut ada rencana pengembalian lima tahun dari pendapatan Laras. Tidak realistis, tetapi sungguh-sungguh.

“Hapus kata tubuh,” katanya.

“Kenapa? Tidak enak dibaca?”

“Karena malam-malam setelah yang pertama bukan pembayaran.”

“Bagi Anda mungkin.”

“Bagi kamu?”

Laras menutup buku. “Saya masih mencari jawabannya.”

Seorang anak menarik ujung bajunya, meminta bantuan mengikat rambut. Laras berlutut dan mengepang rambut anak itu dengan cekatan. Naren melihat wajah yang sama sekali berbeda dari perempuan dalam gaun pinjaman: sabar, hangat, tanpa satu gerak yang dibuat untuk memikat.

“Kak Laras bilang rumah ini nanti punya taman,” ujar anak itu kepada Naren.

“Kamu mau tanam apa?”

“Bunga yang nggak gampang mati.”

“Bougenville,” kata Laras. “Murah, tahan panas.”

“Mawar,” kata Naren.

“Mahal dan berduri.”

“Bisa tanam dua-duanya.”

Anak itu mengangguk puas, seolah baru menyelesaikan negosiasi keluarga.

Anak tadi kembali membaca. “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”

Ponsel Naren jatuh dari tangannya.

Benda itu menghantam semen. Layar retak dari satu sudut. Naren tidak membungkuk mengambilnya. Wajahnya kehilangan warna.

“Sapardi,” gumamnya.

“Anda tahu puisinya?”

Naren menatap anak itu, tetapi yang dilihatnya bukan halaman Rumah Puspa. Ia melihat kamar lama, hujan di jendela, dan Ratna yang membacakan bait sama sambil menyisir rambutnya ketika ia masih kecil.

“Bunda suka puisi itu,” katanya.

Laras tidak bertanya lebih jauh. Ia memungut ponsel Naren dan memeriksa layarnya. “Masih hidup. Cuma retak.”

“Biarkan.”

Seorang anak datang membawa enam boneka Minion dari Singapore. “Kak Laras, ini dari siapa?”

Laras melirik Naren. “Dari orang yang tidak mau disebut.”

“Om galak?”

Naren mengangkat alis. Laras menahan senyum. “Jangan bilang begitu.”

“Mukanya galak.”

“Namanya Pak Naren.”

Anak-anak mengucapkan terima kasih. Naren tampak lebih tidak nyaman menerima rasa syukur daripada menghadapi ruang rapat. Ia akhirnya berjongkok dan membantu satu anak memperbaiki kancing seragam yang longgar, gerakannya kaku tetapi hati-hati.

“Anda pernah ke tempat seperti ini?” tanya Laras.

“Pernah.”

“Sebagai donatur?”

“Jangan tanya.”

Jawaban sama seperti di taman rumah Hardjanto. Laras membiarkannya.

Ia menunjukkan denah, dokumen tanah, dan surat pendampingan Dinas Sosial. “Kami belum menerima anak sembarangan. Semua rujukan harus tercatat. Mbak Ratih mengurus pendampingan, saya mengurus uang dan bangunan.”

“Berapa biaya atap?”

“Sudah ada rencana.”

“Itu bukan jawaban.”

“Dan uang Anda bukan jawaban semua masalah.”

Naren mengangguk kecil. “Kalau begitu biarkan timku mencarikan kontraktor yang tidak menipu. Kamu tetap bayar sesuai harga wajar.”

Tawaran itu tidak merampas kendali. Laras mempertimbangkan lalu setuju.

Suara kendaraan masuk ke halaman. Seorang pria berkulit gelap turun sambil membawa kotak bantuan. Seragam PNS-nya sederhana.

“Rara!”

Laras berbalik. Wajahnya langsung terbuka oleh senyum yang belum pernah Naren lihat.

“Mas Bayu?”

Bayu menaruh kotak dan memegang bahu Laras sebentar. “Ya Allah, benar kamu. Aku kira orang-orang salah bilang.”

“Kapan datang?”

“Tadi pagi. Ada urusan dinas. Sekalian antar buku.”

Mereka berbicara cepat tentang desa, Eyang Sri, dan warung lama dekat sekolah. Bayu memanggilnya Rara dengan keakraban yang tak perlu izin.

Naren memungut ponselnya. Retakan layar membelah pantulan wajahnya.

“Pak Naren,” Laras memanggil. “Ini Mas Bayu, teman waktu kecil. Mas Bayu, ini Pak Naren.”

“Atasannya?” Bayu bertanya.

“Bukan,” jawab keduanya bersamaan.

Bayu tersenyum bingung dan menyalami Naren. “Terima kasih sudah membantu Rumah Puspa.”

“Aku baru datang hari ini.”

“Tapi bonekanya dari Pak Naren, kan?”

Anak-anak tertawa. Laras ikut tertawa. Naren tidak.

Bayu membantu memasang rak buku. Laras memegang papan sementara ia mengencangkan baut. Mereka bekerja dengan ritme orang yang pernah melakukan banyak hal bersama. Naren berdiri di bawah terik, semakin tidak berguna dan semakin kesal.

“Eyang sehat?” Bayu bertanya.

“Masih suka pura-pura sehat supaya saya tidak pulang.”

“Beliau masih simpan radio tua?”

“Masih. Tombolnya lepas satu, tapi tidak boleh dibuang.”

“Dulu kita dengar pembacaan puisi dari radio itu.”

“Kamu tidur setiap lima menit.”

“Karena kamu baca puisinya lebih bagus.”

Keakraban itu lahir dari ingatan yang tidak dimiliki Naren. Ia memindahkan kotak terlalu keras sampai debu beterbangan.

“Pak Naren, hati-hati,” kata Bayu. “Di situ ada buku donasi.”

“Aku tahu.”

Laras menahan tawa. “Anda mau membantu atau mengalahkan rak?”

“Rak ini menghalangi jalan.”

“Rak buku memang biasanya diam di satu tempat.”

Bayu akhirnya tertawa. Naren menatap keduanya dan merasa menjadi tamu di ruang yang baru saja membuatnya merasa pulang melalui puisi ibunya.

“Mas Bayu sekarang ditugaskan di mana?” Laras bertanya.

“Solo. Program perlindungan sosial tingkat kota. Kadang koordinasi dengan Dinas Sosial kabupaten.”

“Makanya tahu Rumah Puspa?”

“Mbak Ratih menghubungi kantor. Waktu lihat nama Larasati di dokumen, aku berharap itu kamu.”

“Kenapa berharap?” Naren menyela.

Bayu menatapnya bingung. “Karena Rara dari dulu ingin punya tempat untuk anak perempuan yang tidak diterima keluarganya.”

“Dari dulu?”

“Sejak sekolah.”

Naren menatap Laras. Jadi tanah, sepatu anak, dan puisi bukan ide sesaat untuk menutupi uang. Mimpi itu lebih tua daripada Galih, lebih tua daripada dirinya.

“Rara, pegang sini,” kata Bayu.

Naren mengambil papan dari tangan Laras. “Aku pegang.”

“Pak tidak perlu…”

“Cepat pasang.”

Laras menatapnya. “Anda tidak sedang rapat.”

“Rak ini miring.”

“Belum selesai.”

Bayu menahan senyum. Mereka menyelesaikan rak bertiga. Setelah itu Naren menyuruh Fahmi, lewat telepon, mengirim teknisi untuk mengecek atap tanpa membuat komitmen pembayaran.

Saat sore turun, anak-anak kembali membaca puisi. Naren berdiri di ambang pintu. Laras melihat matanya berkaca, tetapi ia mengedip dan menutup semuanya.

“Bunda Anda membacakan ini?” tanyanya pelan.

“Setiap hujan.”

“Kenapa?”

“Katanya cinta yang paling tulus tidak selalu paling berisik.”

Laras memandang halaman sederhana itu. “Mungkin beliau benar.”

Naren mengambil buku puisi dari tangan anak dan membaca sampulnya. Edisinya murah, beberapa halaman sudah lepas.

“Besok aku kirim buku baru,” katanya.

“Yang lama jangan dibuang,” Laras mengingatkan. “Anak-anak sudah menulis nama di dalamnya.”

“Aku tidak bilang akan membuang.”

“Orang kaya suka mengganti barang rusak sebelum bertanya apakah barang itu punya kenangan.”

Naren melihat ponselnya yang retak. “Tidak semuanya harus diganti.”

Ia memasukkan ponsel ke saku tanpa berniat memperbaiki layar hari itu. Laras memahami isyarat kecil tersebut dan tidak menertawakannya.

Sebelum pergi, Naren berdiri di bawah bagian atap yang bocor. Tetes air sisa hujan jatuh ke bahunya. Ia memotret rangka kayu, mengukur kira-kira panjang ruang, lalu meminta nomor kontraktor yang sebelumnya memberi harga.

“Saya tetap yang menandatangani,” kata Laras.

“Iya.”

“Dan saya tetap bayar.”

“Iya.”

“Anda cuma memeriksa supaya saya tidak ditipu.”

“Berapa kali harus kujawab iya?”

“Sampai saya percaya Anda bisa membantu tanpa mengambil alih.”

Naren menyerahkan kembali ponselnya. “Kalau aku mengambil alih, tempat ini selesai dalam sebulan. Tapi namamu hilang dari semua keputusan. Aku mulai paham kenapa kamu tidak mau.”

Laras memandangnya. Itu lebih dekat pada permintaan maaf daripada apa pun yang pernah diberikan Naren.

Di gerbang, Bayu menyerahkan sebungkus makanan untuk Eyang Sri. “Kalau ke Salatiga, titip ya, Rara.”

“Pasti.”

Naren mengambil bungkus itu lebih dulu dan membawanya ke mobil. Bayu menatap Laras dengan senyum tertahan. Laras pura-pura tidak melihat.

Dalam perjalanan pulang, Naren diam. Ponsel retak ada di tangannya.

“Tadi siapa?” tanyanya akhirnya.

“Mas Bayu?”

“Memangnya ada pria lain yang memanggilmu Rara?”

“Teman kecil.”

“Cuma teman?”

Laras menoleh. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Wajah Anda berisik lagi.”

Naren memandang keluar jendela. Retakan layar ponsel memantulkan garis cahaya di wajahnya, sementara di halaman Rumah Puspa, tawa Laras dan Bayu masih terdengar dalam ingatannya. Di pangkuan Laras, makanan titipan Bayu untuk Eyang Sri bergeser setiap kali mobil berbelok, menjadi pengingat bahwa pria itu sudah mengenal keluarganya jauh sebelum Naren hadir dan mulai diam-diam ingin masuk ke dalam seluruh hidupnya sendiri.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!