Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Mommy dan Mama

Bastian memutar arah mobilnya begitu saja.

Diandra yang duduk di sampingnya mengernyit heran.

“Loh, Mas? Katanya mau pulang. Kok malah belok ke sini?”

Bastian hanya tersenyum tipis.

“Kita ke hotel.”

“Hotel?” Diandra menoleh cepat. “Buat apa?”

“Biar bisa ngobrol berdua tanpa ada yang mengganggu.”

Mobil akhirnya berhenti di depan Dirgantara Hotel, salah satu hotel mewah yang dikelola oleh Arsen Dirgantara, rekan bisnis Bastian. Setelah menyerahkan kunci kepada petugas valet, Bastian langsung menggenggam tangan Diandra.

“Ayo.”

Diandra menurut meski masih dipenuhi rasa penasaran.

Setelah proses registrasi selesai, mereka masuk ke lift. Bastian menekan tombol lantai sepuluh.

“Kamu sebenarnya mau melakukan apa?” tanya Diandra.

Bastian terkekeh. “Mau menghabiskan waktu berdua sama kamu.”

“Kenapa harus di hotel?”

“Karena aku ingin malam ini cuma ada kita.”

Pintu lift terbuka. Koridor lantai sepuluh terlihat tenang dan elegan. Hanya terdapat beberapa kamar VIP dengan suasana yang jauh lebih privat.

Begitu mereka sampai di depan kamar, Bastian tiba-tiba mengangkat Diandra dalam gendongannya.

“Mas Bastian!” Diandra refleks memegang bahunya. “Turunkan aku!”

Bastian justru tertawa kecil.

“Tenang. Aku cuma ingin memanjakan istriku.”

Diandra menatap wajah suaminya, lalu tanpa sadar tersenyum.

“Mas ini semakin aneh.”

“Kalau penyebabnya kamu, aku nggak keberatan.”

Bastian membawa Diandra masuk ke kamar. Setelah pintu tertutup, suasana di antara mereka berubah lebih tenang. Bastian menatap istrinya cukup lama sebelum mengecup keningnya dengan lembut.

“Aku cuma ingin kita punya waktu untuk berdua, Diandra.”

Diandra menghela napas kecil.

“Kalau begitu, jangan bikin aku penasaran terus.”

Bastian tersenyum, lalu menggenggam tangannya erat.

“Deal. Malam ini kita nikmati waktu bersama.”

Bastian menempelkan kartu akses pada panel di samping pintu. Setelah terdengar bunyi bip, pintu kamar terbuka.

Tanpa banyak bicara, ia kembali menggenggam tangan Diandra dan mengajaknya masuk.

Begitu pintu tertutup, Bastian berhenti di hadapan istrinya. Tatapannya begitu dalam hingga membuat Diandra salah tingkah.

“Kenapa lihat aku seperti itu?” tanya Diandra pelan.

“Karena hari ini aku benar-benar ingin menghabiskan waktu hanya denganmu.”

Bastian mendekat dan mengecup kening Diandra, kemudian pipinya. Diandra tersenyum kecil sambil menahan rasa gugup.

“Mas Bastian…”

“Aku kangen,” bisiknya.

Bastian merengkuh tubuh Diandra ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri dalam diam, menikmati kedekatan yang selama ini jarang mereka rasakan.

Diandra akhirnya menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

“Kalau cuma mau memelukku, kenapa harus jauh-jauh ke hotel?”

Bastian terkekeh.

“Karena aku ingin malam ini menjadi milik kita. Tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain, dan tidak ada yang mengganggu.”

Diandra mendongak.

“Benarkah?”

“Benar.”

Bastian mengusap lembut rambut istrinya.

“Aku ingin kamu tahu satu hal, Diandra. Aku tidak mau lagi kehilangan kesempatan untuk membuatmu bahagia.”

Tatapan Diandra berubah sendu. Kata-kata sederhana itu justru membuat hatinya berdebar.

Bastian kemudian mengajaknya duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan Diandra dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

“Aku menginginkanmu tetap berada di sisiku,” ucapnya lirih.

Diandra tersenyum.

“Kalau begitu, jangan pernah membuatku merasa sendirian lagi.”

Bastian mengangguk.

“Janji.”

Malam itu mereka memilih mengesampingkan semua masalah dan menikmati kebersamaan sebagai pasangan suami istri, membiarkan perasaan yang selama ini tertahan kembali menemukan jalannya.

“Jangan.”

Suara Diandra terdengar tegas.

Bastian langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap istrinya beberapa detik, lalu memilih berbaring di samping Diandra dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.

Diandra menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

“Mas Bastian.”

“Hm?”

“Kalau aku bilang tidak, berarti tidak.”

Bastian mengangguk pelan.

“Iya. Aku mengerti.”

Diandra menarik napas panjang.

“Aku belum siap memberikan apa yang Mas inginkan.”

“Aku nggak akan memaksamu.”

Bastian menggenggam tangan istrinya, tetapi tidak melakukan apa pun lebih jauh.

Diandra menoleh.

“Aku baru akan membuka hati sepenuhnya kalau Mas benar-benar bisa membuktikan bahwa Serly sudah tidak memiliki tempat di hati Mas.”

Bastian terdiam.

“Aku ingin dicintai sebagai istrimu, bukan dijadikan seseorang yang hanya kamu datangi ketika kamu sedang membutuhkanku.”

Ucapan itu membuat Bastian menundukkan kepala.

“Aku sedang berusaha, Diandra.”

“Berusaha seperti apa?”

“Seharian ini aku menolak ajakan Serly. Aku memilih menghabiskan waktu bersamamu. Aku juga sedang belajar memberikan perhatian yang selama ini seharusnya menjadi hakmu.”

Diandra tersenyum tipis, tetapi matanya masih menyimpan luka.

“Mas baru melakukannya setelah aku hampir menyerah.”

Bastian tidak membantah.

“Aku tahu. Dan aku menyesal.”

Hening kembali memenuhi kamar.

Tangan Bastian perlahan mengusap punggung Diandra dengan lembut.

“Aku ingin menjadi suami yang lebih baik untukmu.”

Diandra menatapnya.

“Kalau begitu, jangan hanya minta aku menjadi istri yang baik. Tunjukkan dulu kalau Mas juga pantas mendapatkan kepercayaanku kembali.”

Bastian mengangguk.

“Baik.”

“Aku tidak membutuhkan janji besar.”

“Aku akan membuktikannya lewat tindakan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Diandra tersenyum kecil.

“Kalau begitu, kita lihat seberapa lama Mas bisa bertahan.”

Bastian ikut tersenyum.

“Selama yang dibutuhkan untuk mendapatkan hatimu kembali.”

Bastian mengembuskan napas panjang. Tatapannya tertuju pada punggung Diandra yang masih membelakanginya.

“Apa memang sesulit itu untuk membuka hati kepada perempuan baru?”

Suara Diandra terdengar lirih, tetapi jelas menyimpan luka.

“Dua tahun, Mas. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi selama itu, apa aku masih belum cukup untuk membuat Mas melihatku sebagai perempuan yang layak dicintai?”

Bastian terdiam.

Ia bisa merasakan kekecewaan yang selama ini berusaha disembunyikan Diandra. Bahkan dari cara perempuan itu menarik napas, Bastian tahu ada luka yang kembali terbuka.

Diandra masih tidak menoleh.

“Katanya laki-laki hanya benar-benar jatuh cinta sekali. Setelah itu mereka hanya belajar menjalani hidup dengan orang baru.”

Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir.

“Kalau begitu, apa aku memang tidak punya kesempatan untuk membuat Mas jatuh cinta kepadaku?”

Bastian mengusap wajahnya sebelum menjawab.

“Siapa yang mengatakan hal seperti itu kepadamu?”

“Banyak orang.”

“Jangan percaya semuanya.”

Diandra akhirnya menoleh.

Bastian menatapnya dengan serius.

“Manusia bisa berubah, Diandra. Begitu juga hati. Tuhan yang membolak-balikkan hati manusia. Jadi jangan pernah menganggap perasaan seseorang akan selamanya sama.”

“Mas sendiri percaya dengan ucapan itu?”

“Sekarang aku mulai percaya.”

Diandra terdiam.

“Tapi, Mas...” suaranya melembut. “Bukankah hati juga membutuhkan usaha?”

Bastian tidak langsung menjawab.

“Kita memang tidak bisa memaksa diri untuk mencintai seseorang,” lanjut Diandra. “Tapi kita bisa memilih untuk memberikan kesempatan. Kita bisa memilih untuk mengenal seseorang lebih dalam. Kita juga bisa memilih berhenti hidup di dalam masa lalu.”

Tatapan Diandra mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak meminta Mas langsung mencintaiku.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku cuma ingin Mas berhenti membandingkanku dengan Serly. Berhenti mencari sosoknya dalam diriku. Aku adalah Diandra, Mas. Aku punya kekurangan, punya kelebihan, dan aku punya caraku sendiri untuk mencintai Mas.”

Bastian terdiam cukup lama.

Ucapan itu terasa menampar dirinya.

Selama ini ia selalu menyalahkan keadaan karena belum mampu mencintai Diandra. Padahal mungkin, ia sendiri yang tidak pernah benar-benar memberikan kesempatan kepada istrinya.

“Aku tahu,” ucap Bastian akhirnya.

“Tidak, Mas belum tahu.”

Diandra menggeleng pelan.

“Kalau Mas benar-benar tahu, Mas pasti sadar bahwa aku juga lelah menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah berusaha melihatku.”

Bastian menatap istrinya dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang terluka oleh masa lalu.

Diandra juga terluka karena dirinya.

Diandra menarik napas panjang. Ada begitu banyak hal yang selama ini ia pendam, dan malam itu semuanya terasa ingin keluar sekaligus.

“Aku tahu Serly sudah ada dalam hidup Mas sejak lama,” ucapnya pelan. “Dia menemani Mas sejak kecil. Saat Mas bahagia, dia ada. Saat Mas jatuh, dia juga ada.”

Diandra menunduk.

“Dia cinta pertama Mas. Aku mengerti kalau melupakan cinta pertama bukan sesuatu yang mudah.”

Ia tersenyum getir.

“Tapi sampai kapan Mas akan terus seperti ini?”

Bastian terdiam.

“Kalau ternyata Mas masih mencintai Serly, kembalilah kepadanya.” Suara Diandra mulai bergetar. “Jangan terus menahanku di dalam hubungan yang hanya dipenuhi harapan kosong.”

Bastian mengerutkan kening.

“Aku tidak pernah berniat memberi harapan kosong.”

“Lalu apa yang Mas lakukan selama ini?”

Pertanyaan itu membuat Bastian kehilangan kata-kata.

“Aku jujur saja, Diandra. Aku sendiri belum sepenuhnya memahami perasaanku.”

Diandra menatapnya.

“Aku tidak tahu apakah yang tersisa untuk Serly masih cinta atau hanya kenangan yang terlalu lama melekat.”

Bastian menarik napas.

“Tapi ada satu hal yang aku yakini.”

“Apa?”

“Aku tidak akan kembali kepadanya.”

Diandra terdiam.

“Serly adalah bagian dari masa laluku,” lanjut Bastian. “Sedangkan kamu... kamu adalah perempuan yang ingin aku perjuangkan untuk masa depanku.”

Mata Diandra mulai berkaca-kaca.

“Mas bilang aku masa depan Mas, tapi bagaimana aku bisa percaya kalau masa lalu Mas masih begitu kuat?”

Bastian tidak mampu langsung menjawab.

“Kalau Mas benar-benar ingin aku menjadi masa depan Mas,” lanjut Diandra, “Mas harus berani menutup pintu masa lalu itu. Bukan karena aku memintanya, tapi karena Mas sendiri memilih untuk melakukannya.”

Air mata akhirnya jatuh di pipinya.

“Kalau tidak, kita berdua hanya akan terus terluka.”

Bastian terdiam ketika melihat bahu istrinya mulai bergetar.

Diandra menangis.

Dan entah mengapa, melihat air mata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua perkataan yang baru saja mereka lontarkan.

Bastian mendekat, lalu duduk di sisi ranjang.

Ia sempat mengulurkan tangan, berniat menarik Diandra agar bersandar di pundaknya.

Namun Diandra segera menepisnya.

“Tidak perlu menawarkan pundakmu sekarang.”

Bastian terdiam.

“Karena orang yang membuatku menangis adalah Mas sendiri.”

Kalimat itu membuat dada Bastian terasa sesak.

Ia menatap Diandra yang berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Kalau begitu, izinkan aku melakukan satu hal.”

Diandra tidak menjawab.

“Biar aku menghapus air matamu.”

Bastian mengulurkan tangannya, tetapi kali ini ia berhenti sebelum menyentuh Diandra.

“Aku tidak akan memaksamu. Kalau kamu belum mau disentuh, aku akan menunggu.”

Diandra terdiam.

Untuk pertama kalinya, Bastian benar-benar memahami bahwa mendapatkan kembali kepercayaan istrinya tidak bisa dilakukan dengan kata-kata.

Ia harus membuktikannya.

“Tidak usah. Aku masih punya tangan sendiri.”

Bastian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

“Baiklah. Kalau begitu, setidaknya biarkan aku membuatmu tersenyum.”

Diandra langsung menatapnya dengan kesal.

“Jangan macam-macam.”

Bastian malah terkekeh. Entah bagaimana, melihat wajah istrinya yang kesal justru membuat suasana hatinya membaik.

“Aku cuma bercanda.”

Bastian kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Setelah itu, ia mengambil beberapa lembar tisu dan menyerahkannya kepada Diandra.

“Ini.”

Diandra menerimanya tanpa berkata-kata.

Bastian melirik jam dinding.

“Kamu masih mau menangis, atau kita tunda dulu? Sudah hampir pukul empat. Kita harus menjemput anak-anak.”

Diandra mengikuti arah pandang Bastian ke jam dinding.

“Sudah sore?”

“Iya.”

Diandra menghela napas, kemudian berdiri.

“Baiklah. Kita jemput anak-anak.”

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba berhenti dan menoleh.

“Tapi Mas mandi dulu. Bau badanmu sudah mulai mengganggu.”

Bastian mengangkat alis.

“Kalau begitu temani aku mandi.”

“Tidak.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah tahu kelanjutannya.”

Bastian tertawa kecil.

“Baiklah. Aku mandi sendiri.”

“Aku tunggu di mobil.”

Diandra segera meninggalkan kamar.

Bastian hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.

Begitu pintu tertutup, senyumnya perlahan berubah menjadi tatapan penuh harap.

Hari ini memang belum sepenuhnya berhasil.

Diandra masih menjaga jarak dan belum kembali memberikan kepercayaan kepadanya.

Namun setidaknya, perempuan itu sudah tidak sepenuhnya menutup diri.

Bastian tahu, mendapatkan kembali hati Diandra membutuhkan waktu.

Dan kali ini, ia bersedia menunggu.

“Pelan-pelan, Diandra,” gumamnya. “Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar serius.”

Setelah itu, Bastian mengambil pakaian bersih dan masuk ke kamar mandi.

Mereka masih memiliki banyak hal untuk diperbaiki, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bastian merasa hubungan mereka memiliki kesempatan untuk kembali menjadi lebih baik.

Setelah meninggalkan hotel, Diandra dan Bastian langsung menuju sekolah Azzam dan Azzura. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktu yang biasanya mereka gunakan untuk menjemput kedua anak tersebut.

Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Azzam yang lebih dulu melihat kedua orang tuanya langsung menghampiri dengan wajah penuh rasa penasaran.

“Tumben Mommy sama Daddy datang bareng,” katanya sambil membuka pintu mobil.

Diandra tersenyum kecil.

“Kebetulan hari ini Mommy dan Daddy sedang bersama. Ayo, masuk.”

Azzam segera naik ke dalam mobil. Tidak lama kemudian Azzura ikut masuk dan duduk di sebelahnya.

Azzam terlihat senang. Sudah lama ia tidak melihat kedua orang tuanya datang bersama untuk menjemput mereka.

“Bahagianya , sekarang Mommy sama Daddy bisa bareng lagi,” ucap Azzam polos.

Namun, Azzura justru memasang wajah kurang senang.

“Aku lebih suka kalau Daddy sama Mama Serly yang jemput.”

Azzam langsung menoleh.

“Kamu aja kali. Aku malah suka kalau Mommy sama Daddy yang jemput.”

Azzura mendengus.

“Aku mau Mama Serly.”

“Ya sudah, jangan ajak aku.”

Diandra yang mendengar percakapan kedua anaknya hanya tersenyum tipis. Sementara Bastian memilih diam, sesekali melirik istrinya dari balik kemudi.

Beberapa menit kemudian, Azzura diam-diam mengambil ponselnya.

Ia langsung mengirim pesan kepada Serly.

Daddy dan Mommy jemput kami bareng hari ini.

Tak lama, Azzura kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Ia masih berharap suatu hari nanti Daddy akan kembali bersama Mama Serly seperti dulu.

Tanpa disadari Azzura, kehadiran Diandra di sisi Bastian perlahan mulai mengubah banyak hal.

Dan kali ini, Bastian tidak ingin kembali membiarkan masa lalu menentukan arah keluarganya.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!