Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dongeng untuk selamanya

Dua tahun kemudian.

Indra Subroto, kini berusia delapan tahun, berdiri di atas panggung sebuah kompetisi robotika nasional, memegang trofi juara pertama dengan Kevin di sampingnya, keduanya melompat kegirangan sementara penonton bertepuk tangan riuh.

Di antara kerumunan, Luki dan Alena berdiri berdampingan, tepuk tangan mereka paling keras dari semua orang di ruangan itu, wajah mereka bersinar dengan kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan sama sekali — sebuah kemewahan yang, dua tahun lalu, terasa hampir mustahil bagi Luki untuk bayangkan bisa ia rasakan secara terbuka.

"Dia benar-benar tumbuh jadi anak yang luar biasa," bisik Alena, menggenggam tangan Luki erat.

"Berkat kamu," jawab Luki, menatapnya dengan cinta yang sudah tidak lagi ia coba sembunyikan dari siapa pun. "Berkat kalian berdua."

Bram berdiri tidak jauh dari mereka, kini dengan cincin kawin baru di jarinya — hasil dari kisah cintanya sendiri dengan salah satu anggota tim keamanan yang bertemu dengannya selama masa pemulihan pasca insiden gudang biru, sebuah kisah bahagia lain yang tumbuh dari kegelapan malam itu.

"Tuan," katanya, mendekat, "Indra minta kita semua foto bareng dia."

Mereka berkumpul di dekat panggung, Indra memeluk erat trofinya sambil tersenyum lebar di antara Luki, Alena, dan Bram, sebuah foto yang, bertahun-tahun kemudian, akan terpajang di ruang kerja Luki sebagai pengingat akan seberapa jauh perjalanan mereka bertiga — kini berempat, dengan Bram yang sudah lama dianggap keluarga — telah menempuh sejak malam pertama Alena melangkah masuk ke penthouse mereka.

Malam itu, seperti ribuan malam sebelumnya, ritual sederhana tetap dijalankan — meski kini Indra sudah cukup besar untuk membaca sendiri, ia tetap meminta Luki dan Alena bergantian membacakan satu bab dari novel fantasi panjang yang sedang mereka baca bersama, sebuah tradisi yang berevolusi seiring pertumbuhan Indra, tapi tidak pernah benar-benar hilang.

"Bab berapa malam ini?" tanya Luki, duduk di tepi ranjang yang kini sudah diganti dengan tema yang lebih dewasa — bukan lagi galaksi berputar, melainkan peta bintang yang lebih rinci, lengkap dengan diagram konstelasi yang Indra pelajari sendiri.

"Bab dua puluh tiga," jawab Indra, menyerahkan buku itu pada Alena, yang mengambil tugas membaca malam itu.

Setelah bab itu selesai dibacakan, dan Indra mulai mengantuk, ia menatap ayah dan Alena dengan mata yang sudah setengah tertutup, tapi masih cukup sadar untuk mengucapkan sesuatu yang sudah lama ingin ia katakan.

"Ayah, Kak Alena," katanya pelan, "makasih ya, udah selalu ada buat aku."

Luki dan Alena saling bertukar pandang, dada mereka sesak dengan emosi yang terlalu besar untuk diungkapkan sepenuhnya lewat kata-kata.

"Selalu, Bintang Kecil," jawab Luki, mengecup dahi anaknya. "Apa pun yang terjadi, kami akan selalu ada."

"Selamanya," tambah Alena, mengecup dahi Indra di sisi lainnya.

Indra tersenyum, matanya akhirnya menutup sepenuhnya, dan dalam beberapa menit, napasnya sudah teratur dalam tidur yang damai — tidur seorang anak yang, meski pernah mengalami sesuatu yang tidak seharusnya dialami siapa pun di usia sekecil itu, kini tumbuh dikelilingi cinta yang cukup untuk menyembuhkan hampir semua luka yang pernah ia tanggung.

Di luar kamar, di balkon penthouse yang sama tempat mereka sering menghabiskan malam-malam tenang, Luki dan Alena berdiri berdampingan, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkelip di kejauhan — kota yang sama yang dulu menyimpan begitu banyak bahaya bagi mereka, kini terasa jauh lebih bersahabat.

"Kamu menyesal?" tanya Luki tiba-tiba, menatap Alena dengan keseriusan yang jarang muncul di malam-malam tenang seperti ini. "Memilih hidup bersama kami, dengan segala risiko yang menyertainya?"

Alena menatapnya lama, lalu tersenyum, meraih tangannya erat. "Tidak pernah sekalipun. Bukan karena hidup ini mudah — karena aku tahu itu tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya mudah. Tapi karena setiap malam aku melihat kamu membacakan dongeng untuk Indra, setiap kali aku melihat kalian berdua tertawa bersama, aku diingatkan bahwa cinta yang paling berharga sering kali datang dari tempat yang paling tidak terduga."

Luki tersenyum, menarik Alena lebih dekat, dan untuk sesaat, mereka berdua berdiri dalam keheningan yang nyaman, menikmati kedamaian yang sudah lama mereka perjuangkan bersama.

"Aku mencintaimu," bisik Luki, kata-kata yang dulu terasa begitu sulit ia ucapkan, kini mengalir dengan mudah dan tulus. "Bukan hanya untuk apa yang sudah kamu lakukan untuk Indra, tapi untuk siapa dirimu sendiri — untuk keberanianmu memilih tinggal, meski kamu tahu betul dunia macam apa yang kamu masuki."

"Aku mencintaimu juga," jawab Alena, menatapnya dengan mata penuh keyakinan. "Kedua sisi darimu. Tuan L yang akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya, dan Luki, ayah yang membacakan dongeng dengan suara naga yang masih perlu banyak latihan."

Luki tertawa, tawa yang tulus dan bebas, sebuah suara yang, bertahun-tahun lalu, hampir tidak pernah terdengar dari bibirnya sebelum Indra dan Alena mengajarinya kembali bagaimana caranya merasakan kebahagiaan sejati.

Di kejauhan, lampu-lampu Jakarta terus berkelip, saksi bisu dari perjalanan panjang sebuah keluarga yang terbentuk dari kegelapan, tapi menemukan cahayanya sendiri — bukan dengan menghindari bayangan yang menyertai kehidupan mereka, melainkan dengan belajar bahwa bahkan di tengah dunia paling berbahaya sekalipun, cinta sejati selalu bisa menemukan jalannya untuk bertahan, tumbuh, dan pada akhirnya, menyembuhkan.

Yang tidak mereka sadari malam itu — di jalan raya beberapa lantai di bawah balkon tempat mereka berdiri, sebuah sedan hitam telah terparkir selama hampir satu jam, mesinnya menyala pelan, kaca jendelanya gelap sempurna.

Di dalam mobil itu, sepasang mata mengamati siluet dua orang di balkon penthouse lewat teropong kecil, lalu berpindah ke layar ponsel yang menampilkan foto lama Antasena Prawira — foto yang diambil bertahun-tahun lalu, sebelum semuanya runtuh.

Jari-jari itu mengetik pesan singkat, dikirim ke nomor yang tidak tersimpan di kontak mana pun.

"Sudah kutemukan mereka. Sama seperti yang Kakak bilang — dia masih lemah kalau menyangkut soal keluarga."

Sedan itu kemudian melaju pergi, menghilang ke dalam arus lalu lintas Jakarta malam itu, meninggalkan penthouse yang masih bersinar hangat, tanpa ada yang tahu bahwa kedamaian yang baru saja mereka rayakan sedang diam-diam diawasi dari kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!