Indonesia
NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Keesokan paginya, udara pagi Jakarta terasa sejuk menyambut hari baru yang damai. Baskara, dengan punggung yang masih terbalut perban medis dan mengenakan kemeja longgar berwarna hitam, telah selesai bersiap.

Alena berdiri di sisinya, mengenakan dress hamil sederhana berwarna senada, merapikan kerah baju suaminya sebelum mereka melangkah keluar kamar.

Namun, begitu mereka tiba di area ruang tamu apartemen, langkah keduanya mendadak terhenti.

Di hadapan mereka, berdiri dua sosok paruh baya yang sangat dirindukan.

Sang Mama langsung berlari kecil dengan mata berkaca-kaca, sementara sang ayah mengekor di belakangnya dengan senyuman haru yang tertahan.

"Alena, ya ampun, anakku!" teriak Mama yang langsung menghambur memeluk erat tubuh Alena seolah takut putrinya itu akan hilang lagi.

Alena terkesiap sejenak sebelum air matanya tumpah seketika.

Ia membalas pelukan hangat kedua orang tuanya dengan erat, melepaskan seluruh ketegangan, rasa takut, dan rindu yang selama ini ia pendam rapat-rapat selama masa-masa krisis di Seoul.

"Papa, Mama." bisik Alena tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya.

Papa Alena melangkah mendekat, lalu merangkul pundak anak dan istrinya bersamaan, matanya beralih menatap tajam namun penuh kelegaan ke arah Baskara. Pria paruh baya itu tahu persis badai apa saja yang baru saja dilewati oleh pasangan muda di hadapannya ini.

"Kalian benar-benar membuat kami jantungan, Nak," suara Papa Alena bergetar, namun ada kebanggaan yang terpancar jelas di matanya.

Ia kemudian merentangkan satu tangannya untuk menepuk pelan bahu Baskara.

"Terima kasih sudah menjaga putri dan cucu saya dengan baik, Baskara. Kamu benar-benar pria sejati."

Baskara menyambut pelukan singkat sang mertua dengan senyuman tulus.

"Maafkan saya dan Alena karena membuat Papa dan Mama khawatir. Semuanya sudah selesai sekarang," jawab Baskara tenang.

Mama Alena melepaskan pelukannya, lalu beralih menyentuh lembut perut putrinya yang mulai tampak membuncit. Wajahnya berseri di tengah sisa-sisa air mata.

"Cucu Mama sehat, kan? Kalian ini, mau pergi ke mana pagi-pagi rapi begini?" tanyanya lembut.

Alena tersenyum sambil menghapus sisa air matanya, lalu menoleh sekilas ke arah suaminya.

"Kami mau ke makam Papa Ferry, Ma. Baskara ingin mengajak aku dan si kecil mengunjungi makam papa kandungnya."

Mendengar itu, Mama Alena mengangguk penuh pengertian, kembali merangkul pundak putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Kalau begitu, kami ikut mendampingi ya. Kita berangkat bersama-sama."

Mobil hitam ber-AC itu melaju lembut meninggalkan basement apartemen, membelah jalanan Jakarta yang mulai sibuk di pagi hari.

Di dalam mobil, suasana terasa begitu tenang dan sarat akan kehangatan keluarga.

Baskara duduk di kursi tengah bersama Alena. Sepanjang perjalanan, tangan Baskara tidak pernah lepas menggenggam jemari istrinya, seolah menyalurkan ketenangan sekaligus keteguhan hati.

Di bangku depan, Papa dan Mama Alena sesekali menoleh ke belakang, melemparkan senyuman penuh kasih dan obrolan ringan untuk mencairkan suasana, memastikan putri dan menantu mereka merasa dikelilingi oleh dukungan penuh.

Alena menyandarkan kepalanya di bahu Baskara, membiarkan aroma parfum maskulin bercampur wangi khas suaminya menenangkan debar di dadanya.

Ia tahu perjalanan hari ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah bentuk penghormatan dan penutupan lembaran masa lalu yang penuh luka.

Tidak lama kemudian, deru mobil perlahan melambat saat memasuki gerbang kompleks pemakaman umum yang asri, dinaungi oleh kerindangan pohon-pohon besar yang menyejukkan udara pagi.

Sang supir mematikan mesin begitu mobil terparkir sempurna di area yang teduh.

Satu per satu, mereka turun dari kendaraan, bersiap melangkah menyusuri jalan setapak setapak demi setapak menuju tempat peristirahatan terakhir Papa Ferry.

Supir pribadi mereka dengan sigap melangkah mendekat, menyerahkan dua buket bunga segar bernuansa putih dan kuning lembut kepada Baskara dan Alena.

Bunga-bunga itu dibeli khusus di perjalanan sebagai tanda cinta dan bakti.

Satu per satu dari mereka melangkah mendekati pusara yang dinaungi oleh rindangnya pohon kamboja.

Baskara berjongkok perlahan dengan hati-hati, menjaga agar posisi punggungnya tidak tertekan secara berlebihan.

Dengan gerakan yang telaten, Alena membantunya membersihkan sisa-sisa kelopak bunga kering dan debu tipis yang menempel di atas nisan marmer hitam bertuliskan nama Ferry Hartanto.

Setelah batu nisan itu bersih, mereka berempat merapatkan barisan di sekeliling pusara. Suasana langsung berubah menjadi khidmat.

Papa Alena memimpin doa singkat, diikuti oleh ketukan tasbih dan gumaman lirih dari bibir setiap orang yang hadir, memanjatkan doa terbaik untuk ketenangan arwah Papa Ferry di sisi-Nya.

Angin pagi berhembus lembut, menggoyang dedaunan di sekitar pemakaman seolah membawa sejuk ke dalam hati mereka yang merindu.

Setelah doa selesai dipanjatkan, Baskara menunduk dalam-dalam menatap ukiran nama ayahnya.

Ia meletakkan buket bunga di atas pusara, lalu menempelkan telapak tangannya di permukaan nisan yang dingin.

"Semuanya sudah selesai, Pa," ucap Baskara dengan suara parau namun sarat akan kelegaan yang mendalam.

"Orang-orang yang mencoba menghancurkan kita sudah mendapatkan ganjarannya. Perusahaan, keluarga, dan kedamaian kita semuanya sudah aman. Alena dan calon cucu Papa juga ada di sini, menemani aku."

Alena yang berdiri tepat di samping suaminya ikut berjongkok perlahan. Ia mengelus lembut bahu Baskara, menyalurkan seluruh kehangatan dan kekuatan yang ia miliki.

Di bawah naungan langit pagi yang cerah, luka masa lalu akhirnya resmi terkubur, menyisakan ketenangan abadi dan lembaran baru kehidupan yang siap mereka jalani bersama.

Setelah ziarah dan doa di makam Papa Ferry selesai, udara pagi yang tadinya syahdu kini mulai berganti dengan kehangatan matahari menjelang siang.

Perut yang mulai terasa lapar membuat Papa Alena mencairkan suasana.

"Bagaimana kalau kita langsung cari makan siang?" usul Papa Alena sambil tersenyum hangat menatap putri dan menantunya.

"Perjalanan tadi cukup menguras tenaga, dan ibu hamil ini sepertinya butuh asupan nutrisi yang enak."

Maam Alena langsung mengangguk antusias. "Ide bagus! Kebetulan mama tahu ada restoran keluarga tidak jauh dari sini yang masakan nusantaranya terkenal enak dan ramah untuk ibu hamil."

Alena menoleh ke arah Baskara, meminta persetujuan suaminya. Baskara tersenyum tipis, merangkul pundak istrinya dengan penuh kasih.

"Boleh. Kamu mau makan apa, Sayang? Jangan bilang mau tteokbokki lagi ya," goda Baskara pelan.

Alena terkekeh pelan, mencubit gemas lengan suaminya.

"Enggak, kok. Kali ini aku lagi pengen makanan hangat yang berkuah segar."

Tidak lama kemudian, mereka kembali masuk ke dalam mobil.

Sang supir langsung meluncur mengikuti arahan Ibu Alena menuju restoran yang dituju.

Di dalam kabin, sisa-sisa kesedihan dan ketegangan masa lalu benar-benar telah sirna, bergantikan kehangatan keluarga kecil yang kini utuh dan siap menyambut masa depan dengan penuh suka cita.

Mobil hitam yang mereka tumpangi perlahan melambat, lalu berbelok masuk ke area parkir sebuah rumah makan legendaris yang terkenal dengan papan nama besar bertuliskan: "Rumah Makan SOP Buntut Spesial".

Aroma kaldu sapi yang gurih dan harum rempah-rempah langsung menguar begitu pintu mobil dibuka, menggugah selera siapa saja yang menciumnya.

"Nah, kita sudah sampai," seru Mama Alena dengan antusias, melepas sabuk pengamannya.

"Tempat ini langganan keluarga kita kalau lagi ingin makanan hangat yang nikmat. Cocok banget buat menu siang ini."

Baskara membukakan pintu untuk Alena, lalu merangkul pinggang istrinya dengan hati-hati saat mereka turun dari mobil.

Kedua orang tua Alena berjalan mendahului untuk mencarikan meja yang nyaman dan teduh di bagian dalam restoran yang bersih dan tertata rapi.

Begitu mereka duduk di meja kayu yang cukup luas, seorang pramusaji segera datang membawakan buku menu.

Alena langsung membuka lembar demi lembar, matanya berbinar menatap pilihan menu sop buntut sapi kuah bening, sop buntut bakar, hingga es jeruk segar.

"Wah, pas banget sama ngidamku yang pengen kuah hangat," kata Alena senang sambil menyerahkan buku menu kepada Baskara.

"Kamu mau pesan apa, Bas?"

Baskara tersenyum, memesan menu yang sama untuk dirinya dan Alena, ditambah beberapa lauk pendamping tradisional yang lezat.

Suasana siang itu terasa begitu hangat, jauh dari hiruk-pikuk intrik keluarga dan ketegangan ruang sidang yang baru saja mereka lewati beberapa hari lalu.

Di meja makan itu, yang tersisa hanyalah gelak tawa kecil, kebersamaan, dan rasa syukur atas kedamaian yang akhirnya berhasil mereka rengkuh kembali.

1
Muft Smoker
selamat Alena baskara ,,
semoga km juga cepat pulih ,,
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena and baskara, semoga Alena bisa melewati masa kritisnya dan bangun dari koma
Aghitsna Agis
semoga selamat alena dan debaynya
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,,
Muft Smoker
aaa sweet banget kn ,, jrang2 punya suami yg lebih muda bisa sesayang Dan sesetia ini ,,
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena dan baskara untuk toko roti yang baru, tetap jadi berkat
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!