Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 5

Leon membentak lantang, suaranya menggelegar penuh tekad yang tak sebanding dengan wujudnya:

"JANGAN GANGGU MAMA!!!"

Elizabeth terbelalak menatap anaknya. Matanya membelalak tak percaya . hanya dalam sekejap mata, anak kecil yang baru saja ia peluk dan lindungi kini menjelma menjadi sosok pemuda bersayap gagah. Rasa takut, bangga, dan takjub bercampur menjadi satu di matanya yang mulai berkaca-kaca.

carmilla , wanita vampir bergaun merah itu, mundur selangkah, matanya menatap lekat-lekat sosok Leon dengan tatapan menyelidik sekaligus takjub. Ucapannya terdengar tegas namun penuh keheranan yang mendalam:

"Anak ini... berbau bangsawan. Bahkan darahnya memancarkan wibawa keturunan tertinggi yang sudah lama tak tercium di dunia ini..."

Belum selesai kalimat itu terucap, Leon melesat secepat kilat. Dengan satu ayunan tangan, kuku tajamnya menggores pipi carmilla !

"Arrghhh!!"

carmila terhuyung mundur, tangannya langsung menekan pipi yang berdarah. Matanya memancarkan kemarahan bercampur kebingungan luar biasa. Ia menatap noda darah di telapak tangannya, lalu menatap tajam ke arah Leon. Namun seketika itu juga, sosok pemuda bersayap itu perlahan mengecil kembali... hingga berubah menjadi wujud anak berusia empat tahun yang sama, terkulai lemas di tanah, napasnya tersengal lemah, wajahnya pucat tanpa daya.

carmilla melotot, amarahnya meledak tak terkendali.

"Berani-beraninya kau melukai wajahku? Makhluk kecil tak tahu diri!"

Dengan gerakan cepat, ia kembali mencabut cambuk panjang yang berkilau tajam dari pinggangnya. Matanya menyala merah padam.

"Kau pikir permainan kekuatan sesaat itu bisa melindungimu? Sekarang rasakan balasannya!"

Cambuk itu melesat ke udara, siap menghantam tubuh kecil Leon yang tak berdaya. Namun seketika, satu tangan berlumuran darah mencengkeram ujung cambuk itu erat!

Elizabeth berdiri di depan anaknya, tubuhnya gemetar hebat, darah dari luka di dadanya masih terus menetes. Ia menatap lurus ke manik mata carmilla, matanya tak sedikit pun berkedip, suaranya bergetar namun teguh bagai batu karang:

"Jangan sentuh anakku... Selama nyawaku masih ada, kau tak akan menyentuh sehelai rambut pun darinya. Jika kau ingin mencelakainya... kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!"

carmilla tersenyum miring, penuh kebencian dan penghinaan. Ia menarik cambuk itu dengan kasar, mencoba melepaskan dari genggaman Elizabeth.

"Beraninya manusia lemah seperti kau menghalangi jalanku? Kau pikir sisa tenaga yang kau miliki itu cukup menahan amarahku? Sangat lucu!"

carmila menarik kembali cambuknya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sekali lagi, bersiap menghantam Elizabeth dan Leon bersamaan dengan kekuatan sihir penuhnya.

"Baiklah... Jika kau begitu ingin mati duluan, aku akan menuruti permintaanmu!"

Saat cambuk itu melesat kembali ke udara dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat, tiba-tiba suara berat dan menggelegar terdengar membelah udara dari kejauhan, menahan gerakan tangan carmilla seketika:

"Carmilla!!! Apa yang kau lakukan di sini???"

Carmilla tersentak hebat. Tangannya membeku di udara, napasnya tertahan. Ia perlahan menoleh ke arah suara itu datang... wajahnya seketika berubah pucat pasi.

Suara berat dan berwibawa itu kian mendekat, seketika membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin dan menyesakkan. Sosok gagah berpenampilan bagaikan raja malam itu melangkah tenang namun penuh kuasa mendekat. Sepasang matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Carmilla.

Wajah Carmilla seketika berubah pucat. Ia buru-buru menurunkan tangannya, menyembunyikan cambuk di balik punggung, lalu menyambut kedatangan sang Raja dengan senyum manis yang dibuat-buat, berusaha menutupi rasa gugup sekaligus amarahnya.

"Tuanku..." sapa Carmilla lembut, seketika nada bicaranya berubah sangat santun dan merendah. "Maafkan kelancangan hamba... Manusia ini membawa anak blasteran . keturunan campuran yang tidak jelas . masuk melanggar batas ke wilayah kekuasaan Tuanku. Hamba hanya berniat membersihkan tempat ini dari makhluk terlarang..."

Raja Vampir tidak langsung menanggapi. Tatapan matanya yang tajam dan menyelidik beralih perlahan dari wajah Carmilla, bergerak menuju Elizabeth yang masih berdiri gemetar melindungi Leon di belakang tubuhnya, lalu jatuh tepat pada sosok Leon yang terbaring lemah di pelukan ibunya. Seketika pandangan tajamnya melembut, namun suaranya tetap tegas dan berwibawa, menggelegar bagaikan guntur di tengah hutan:

"Lepaskan mereka."

Carmilla tertegun sejenak, matanya membelalak tak percaya mendengar perintah itu. "T-tapi Tuanku... mereka ini..."

"Aku berkata... lepaskan mereka," potong Raja Vampir sekali lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dingin dan menekan, membuat seluruh tubuh Carmilla membeku ketakutan. "Jangan kau sentuh sehelai rambut pun dari mereka. Sekarang... mundur."

Elizabeth mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Leon yang masih lemas, lalu berjalan perlahan meninggalkan tempat itu. Langkahnya masih terhuyung dan tubuhnya masih gemetar, namun ia tak menoleh lagi—terus melanggar menjauh, membawa anaknya pergi dari bahaya yang mengancam nyawa mereka berdua.

Carmilla berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Elizabeth yang menjauh, lalu beralih menatap sosok Raja Draven. Dalam hatinya, ia bergumam tak habis percaya sekaligus penuh kecemburuan:

"Draven... Tuanku membela wanita manusia ini dan bahkan menentangku demi mereka? Siapa sebenarnya wanita itu hingga Tuanku begitu melindunginya?"

Belum sempat Carmilla melontarkan pertanyaan atau protes lebih lanjut, sepasang sayap hitam raksasa Raja Draven perlahan terbentang lebar. Dengan satu kepakan yang gagah, tubuhnya melesat tinggi ke udara, terbang menjauh meninggalkan Carmilla yang masih berdiri mematung penuh tanda tanya sekaligus amarah yang tertahan di dada.

Tinggal sepi yang menyelimuti tempat itu. Hanya suara rintik hujan yang perlahan mulai reda, membasahi dedaunan yang masih bergetar sisa kekuatan yang baru saja berlalu. Carmilla berdiri mematung di tempatnya, pandangannya tak lepas dari jejak langkah Elizabeth yang perlahan menghilang di balik rimbunan pepohonan gelap.

Namun seketika, matanya menangkap sesuatu yang berkilau samar di atas tumpukan daun lembap . setetes darah yang jatuh saat Leon terluka tadi. Darah itu tak sepenuhnya berwarna merah biasa. Di bawah pantulan cahaya remang yang menembus celah dedaunan, terlihat secercah cahaya keemasan yang perlahan memancar lembut, seolah memiliki nyawa sendiri.

Perlahan ia berjongkok, hatinya berdegup kian kencang. Dengan ujung jari yang gemetar, ia menyentuh tetesan darah itu, mengambilnya dengan hati-hati di atas telapak tangannya yang pucat bersih. Darah itu terasa hangat, bahkan sedikit memancarkan kehangatan yang menembus kulitnya. Ia mendekatkannya perlahan ke hidung, menarik napas panjang untuk mengendus aromanya.

Seketika napasnya tertahan. Matanya membelalak lebar, seakan dunia di hadapannya runtuh seketika.

"Aroma Tuanku Draven..." bisiknya parau, matanya menatap tak percaya pada darah yang masih berkilau lembut di telapak tangannya. "Aroma Raja Vampir... menyelimuti setiap tetes darah ini... persis sama... bahkan jauh lebih murni dan kental dari yang pernah kucium seumur hidupku..."

Tangannya perlahan terangkat, menatap noda itu makin lekat. Cahaya keemasan di sana kian terang, seolah menyanggah akal sehatnya sendiri. Ia menggeleng pelan, namun dugaan itu kian mencengkeram hatinya erat.

"Darah berkilau keemasan..." gumamnya semakin pelan, seakan takut didengar angin yang berhembus pelan. "Darah Emas... darah keturunan tertinggi... darah yang konon hanya dimiliki oleh satu garis keturunan Raja Vampir yang telah hilang seribu tahun... pada anak itu? Anak berusia empat tahun yang tadi meledakkan kekuatan sedahsyat itu... dan kini meninggalkan darah yang berkilau demikian?"

Carmilla menatap tajam ke arah kegelapan tempat Elizabeth dan Leon menghilang, keningnya berkerut dalam, campuran antara takjub, takut, dan dugaan yang mengguncang seluruh keyakinannya. Jantungnya berdetak kencang, bergumam pelan namun penuh tanda tanya yang mengerikan:

"Mungkinkah..?????

Di atas singgasana megahnya yang terbuat dari batu hitam berukir emas, Raja Draven duduk terpaku. Telapak tangannya yang kekar terangkat perlahan, menatap lekat-lekat secercah darah yang tadi sempat ia ambil tanpa disadari dari sisa luka Leon. Cahaya keemasan itu masih memancar lembut di kulit pucatnya, berdenyut pelan seolah memiliki nyawa sendiri, memancarkan kehangatan yang tak pernah ia rasakan selama beribu tahun hidupnya.

Darah itu bukan merah biasa. Di bawah pantulan cahaya remang istana, darah itu berkilau lembut bercampur warna emas murni . sangat murni, sangat agung, persis seperti legenda yang tertulis dalam kitab kuno kaum vampir sejak seribu tahun lalu.

Matanya yang merah menyala menyipit perlahan, menatap darah itu tak berkedip. Bayangan wajah anak itu seketika melintas jelas di benaknya . sepasang mata merah yang memancarkan keberanian luar biasa, sepasang sayap hitam raksasa yang tadi sempat terbentang gagah, dan wajah yang... persis seperti dirinya di masa muda. Wajah yang juga persis menyerupai wanita yang ia temui lima tahun lalu di bawah sinar rembulan purnama.

"Anak itu..." gumamnya lirih, suaranya berat dan bergetar tak disangka-sangka. Jantungnya yang selama ribuan tahun terasa dingin kini berdegup kencang, seakan ada sesuatu yang sedang merobek tabir keraguan di hatinya. Bayangan wajah Leon terus membayangi pandangannya, tak kunjung hilang. "Sepasang mata merah itu... sorot mata yang begitu teguh... tak ada anak manusia biasa yang memiliki pandangan seperti itu..."

Darah emas itu masih bersinar hangat di telapak tangannya. Ia menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan penuh kegelisahan. "Namun... belum ada cara untuk memastikannya..." ucapnya pelan, seakan berbicara pada diri sendiri. "Waktu belum cukup... bukti belum lengkap... dan jika dugaan ini benar-benar nyata..."

Perlahan ia berdiri dari singgasananya. Langkah kakinya berat namun berwibawa melintasi aula istana yang luas dan sunyi. Pakaian jubah hitam berhias emasnya melambai lembut mengikuti setiap gerakannya, namun pikirannya tak tenang sedikit pun. Ia berjalan terus hingga tiba di hadapan jendela raksasa yang terbuat dari kaca bening berukuran luar biasa besar, tempat dari sanalah ia memandang ke luar ke arah hutan lebat yang membentang luas di bawah cahaya rembulan yang mulai bersinar terang.

Angin malam berhembus pelan masuk menyisir rambut hitamnya yang panjang. Matanya menatap tajam ke arah kejauhan, ke arah tempat Elizabeth dan Leon menghilang tadi. Di dadanya, rasa rindu, cemas, dan harapan bercampur menjadi satu, menyatu dengan dugaan besar yang mulai meyakini hatinya. Tangannya yang masih menampakkan sisa darah emas itu perlahan mengepal erat, suaranya terdengar bergetar penuh tanda tanya yang mengguncang seluruh jiwanya:

"Siapa kau sebenarnya... anak kecil yang membawa darah keturunanku ini? Siapakah ibumu... dan mengapa wajah kalian berdua selalu terbayang di mataku? Jawablah... siapakah kau sebenarnya???"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!