Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 5
Pertanyaan Maya menggantung di udara, memecah kesunyian kabin sedan lapis baja yang sedang meluncur perlahan menembus lebatnya hujan malam Jakarta. Di kursi belakang, Maya memajukan posisi duduknya, menatap lekat pantulan mata Leo melalui kaca spion tengah.
Leo tidak langsung menjawab. Jemarinya yang kokoh mengetuk kemudi secara teratur, memperhitungkan sejauh mana ia harus membuka kartu tanpa membuat istrinya panik sebelum pertarungan RUPS besok pagi.
Dua kemungkinan," sahut Leo tenang, suaranya terdengar berat dan mantap. "Paman Anda, Hendra, yang panik karena aksi penggelapan dananya terbongkar rapat tadi pagi. Atau..."
Leo sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia memindahkan kakinya ke pedal rem secara halus saat lampu lalu lintas di persimpangan jalan berganti merah.
Atau apa, Leo?" desak Maya. Ada nada kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik ketegasan suaranya.
Orang di belakang Hendra," sambung Leo dingin. Ia memutar sedikit kepalanya ke arah belakang, memberi Maya pandangan sekilas dari profil wajahnya yang tegas. "Paman Anda itu cuma pion yang serakah, Maya. Dia memang licik dalam urusan internal perusahaan, tapi dia tidak punya akses, keberanian, atau koneksi untuk menyewa enam tentara taktis berkelas tentara bayaran di tengah ibu kota. Serangan tadi terlalu rapi untuk ukuran penjahat kelas amatir."
Maya terdiam, menyandarkan punggungnya kembali ke jok kulit yang empuk. Otaknya yang cerdas langsung bekerja menata kembali puzzle informasi tersebut. Apa yang dikatakan Leo sangat masuk akal secara logika bisnis. Ekspansi AI dan ekosistem teknologi yang baru saja ia sahkan di Maheswari Group memang memicu ancaman bagi beberapa konsorsium asing dan kompetitor lokal.
"Maksudmu... ada pihak luar yang sengaja memanfaatkan ketakutan Paman Hendra?" tanya Maya, memastikan dugaannya.
Tepat," jawab Leo seraya menginjak pedal gas saat lampu hijau menyala. "Mereka ingin menciptakan kekacauan. Jika Anda berhasil diculik atau terluka malam ini, RUPS besok pagi secara otomatis ditunda. Dalam kondisi vakum kekuasaan, Hendra akan mengambil alih posisi CEO sementara, lalu pihak asing itu akan membeli saham Maheswari Group dengan harga murah lewat skema restrukturisasi modal. Itu pola lama dalam perang bisnis."
Rasa dingin mendadak menjalar di tengkuk Maya. Analisis Leo begitu tajam, runtut, dan presisi. Tidak ada keraguan atau spekulasi asal-asalan dalam setiap perkataannya. Pemikiran strategis tingkat tinggi seperti ini jelas bukan kapasitas seorang pengawal biasa atau mantan prajurit teritorial.
Maya menatap punggung tegap suaminya dengan perasaan yang makin bercampur aduk. Ada rasa heran, kagum, sekaligus pertanyaan besar yang kian menumpuk di benaknya.
"Kamu berpikir seolah kamu pernah menangani konspirasi seperti ini berkali-kali, Leo," gumam Maya pelan, matanya menyempit meneliti gerak-gerik suaminya dari belakang. "Sebenarnya, siapa orang yang menginstruksikan mereka dari luar?"
Leo tersenyum tipis—sebuah ukiran senyum ramah yang selalu menjadi benteng pertahanannya. "Saya hanya menganalisis berdasarkan pola yang sering saya temui di lapangan, Maya. Mengenai siapa pastinya otak di balik penyerangan ini, tim saya sedang menelusuri jalur transaksi kripto yang digunakan untuk membayar para eksekutor tadi."
"Tim kamu?" Maya menaikkan kedua alisnya, menangkap satu frasa kunci yang tak sengaja terucap. "Kamu punya tim sendiri?"
Leo terkekeh pelan, menyadari kecerdasan istrinya yang sangat jeli menangkap detail kecil. "Maksud saya, kenalan lama di kepolisian dan intelijen swasta. Sebagai pengawal pribadi yang bertanggung jawab atas nyawa CEO Maheswari Group, saya tentu harus punya jalur informasi sendiri, kan?"