Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Terlindung dalam Pelukannya
Ekaterina
Malam itu sulit sekali untuk tidur.
Kata-kata Viktor masih menggema dalam diriku.
Ciuman itu juga.
Terutama ciuman itu.
Aku melihat ketulusan di matanya. Rasa sakit juga. Dan itu membuat segalanya lebih buruk, karena sebagian diriku ingin memercayainya. Ingin percaya bahwa dia benar-benar menyesal.
Tapi aku tak sanggup mengatakan apa yang seharusnya kukatakan.
Seharusnya aku mengatakannya.
Seharusnya aku menceritakan semuanya. Bahwa aku pun bersalah. Bahwa tak ada apa pun di antara kami yang bermula dengan bersih.
Hanya saja, setiap kali aku mencoba membuka hati... ada sesuatu yang menahanku.
Mungkin rasa takut.
Mungkin rasa malu.
Mungkin sekadar kenyataan bahwa memercayai seseorang masih terasa terlalu berbahaya.
Aku bangkit dari ranjang perlahan, tapi rasa pusing hebat langsung menerpaku hampir seketika.
Aku harus cepat duduk sebelum terjatuh.
Kupejamkan mata dan kutopang tangan di sisi ranjang, menunggu dunia berhenti berputar.
Aku bertahan begitu selama beberapa detik.
Sampai pintu kamar terbuka dengan kencang.
"Kathy!"
Lis masuk seperti badai kecil.
Berdandan ala putri.
Dengan mahkota di kepala.
Dadaku langsung sesak melihatnya begitu bersemangat setelah kejutan menakutkan beberapa hari terakhir.
"Lihat bajuku!"
Aku berusaha tersenyum.
"Cantik... beri aku waktu sebentar saja, putri kecil."
Dia langsung berhenti di depanku.
Mata kecilnya mengamatiku lekat-lekat.
"Kathy... kamu lagi enggak enak badan?"
Hatiku sesak.
"Cuma sedikit. Sebentar lagi juga membaik."
Dia terus menatapku dengan curiga.
Rasa pusing itu akhirnya mereda dan aku bisa berdiri.
Kami menuju dapur.
Kubuatkan sarapan cepat dan sederhana untuk Lisbela, sementara dia bicara tanpa henti soal mahkota, gaun, dan bagaimana putri sungguhan butuh istana.
Aku berusaha menanggapi.
Tapi rasa tak enak badan itu masih ada di sana.
Berat.
Perutku mual lagi dan aku akhirnya berbaring di sofa beberapa menit sementara Lis makan.
Dia turun dari kursi dan menghampiriku dengan cemas.
"Telepon Om Viti, Kathy. Dia kan papanya bayi, dia bakal jagain kamu."
Aku langsung menolak.
"Tak perlu. Aku baik-baik saja."
Dia mengerucutkan bibir, jelas tak percaya.
Lalu aku bangkit terlalu cepat, berusaha menutupinya.
"Aku mau ambil air."
Tapi dunia berputar lagi.
Diam-diam aku berpegangan pada meja dapur.
Aku tak mau membuat Lisbela cemas.
Sudah cukup semua yang harus dia hadapi.
Ponselku berdering beberapa menit kemudian.
Kuambil ponsel itu dengan pikiran melayang.
Dan aku terkejut ketika melihat nama Viktor di layar.
Panggilan itu singkat.
Terlalu singkat.
Aku berbohong ketika bilang aku baik-baik saja.
Karena aku tak mau membuat Viktor khawatir.
Dia dan keluarganya sudah banyak berbuat untukku. Jauh lebih banyak daripada yang pantas kuterima setelah semua kebohongan.
Aku tak mau merepotkan lagi.
Maka kusembunyikan getaran dalam suaraku dan berpura-pura biasa saja sampai dia memutus telepon.
Setelah itu, aku menghabiskan pagi bermain putri-putrian dengan Lisbela.
Dia memaksaku memakai tiara plastik yang miring di kepala sementara kami berlenggak-lenggok di ruang tamu, membayangkan istana, naga, dan gaun-gaun raksasa.
Aku tersenyum padanya.
Tertawa ketika perlu.
Tapi tubuhku semakin memburuk.
Aku tak bisa makan apa pun.
Dan aku sudah muntah begitu banyak sampai perutku sakit meski kosong.
Kelemahan bertambah setiap menit. Kepalaku berdenyut dengan sakit yang tak tertahankan dan lenganku terasa terlalu berat bahkan untuk mengangkat cangkir.
Pada suatu titik aku benar-benar tak bisa lagi berpura-pura.
Aku kembali berbaring di sofa perlahan.
Lis langsung menyadarinya.
Dia selalu menyadarinya.
Dia turun dari karpet yang penuh mainan dan menghampiriku dengan langkah-langkah kecil yang cepat.
Tangan mungilnya menyentuh wajahku.
"Kathy... kamu pucat banget."
Kecemasan dalam suaranya hampir membuatku menangis.
"Telepon Alina."
Kupejamkan mata sesaat, mencoba menarik napas dalam.
Aku tak ingin membuatnya takut.
Aku tak ingin dia melihatku seperti ini.
Tapi kenyataannya aku nyaris tak bisa bangkit.
"Aku akan menelepon... ya?"
Lis meraih ponsel bahkan sebelum aku selesai bicara.
Tangan-tangan mungilnya memegang ponsel dengan hati-hati sementara dia naik ke sofa di sisiku.
"Telepon Alina, Lis... namanya mulai dengan huruf A."
Dia mengangguk penuh konsentrasi.
Tapi ketika menemukan kontaknya, bibirnya bergetar.
Mata kecilnya mulai berkaca-kaca.
Dan itu menghancurkan hatiku.
Karena Lisbela ketakutan.
Sungguhan.
Dia menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinganya dengan kedua tangan.
"Alina..." suaranya keluar kecil, gemetar. "Kathy lagi sakit... sakit banget."
Setelah itu aku sudah tak bisa mengerti dengan jelas sisa percakapan itu.
Suara Lisbela menjadi jauh.
Seolah terlalu jauh.
Aku masih melihatnya di sofa, memegang ponsel erat-erat, mata kecilnya membelalak ketakutan sambil berusaha menjelaskan sesuatu pada Alina.
Tapi suaranya mulai lenyap sedikit demi sedikit.
Kepalaku terasa berat.
Sakitnya memburuk.
Seluruh apartemen seakan berputar pelan di sekelilingku.
"Kathy...?"
Suara Lis terdengar teredam.
Aku berusaha menjawab.
Berusaha bilang aku baik-baik saja.
Tapi bibirku tak sanggup membentuk kata-kata.
Pandanganku mulai menggelap di tepiannya.
Langit-langit menjadi kabur.
Kurasakan tangan mungil Lis menyentuh lenganku lagi.
"Kathy!"
Kini suaranya keluar panik.
Aku ingin menenangkannya.
Aku ingin bangkit.
Aku ingin memeluk gadis kecilku dan bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tubuhku sama sekali tak menurut.
Hal terakhir yang kulihat adalah Lisbela menangis di sofa dengan ponsel di tangan dan mahkota miring di kepala.
Lalu semuanya menggelap.
Dan aku pingsan.
Aku terbangun tanpa rasa sakit.
Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit putih.
Rumah sakit.
Bau antiseptik memastikannya bahkan sebelum aku bisa berpikir dengan jernih.
Kepalaku masih berat, tapi tak lagi berputar.
Kudengar suara Viktor bahkan sebelum aku melihat ke arahnya.
Dia berdiri dekat jendela, berbicara pelan di telepon, wajahnya serius, tangannya yang bebas bertumpu di pinggang.
"Tidak, dia belum sadar... nanti kutelepon lagi."
Baru setelah itu dia berbalik.
Matanya langsung menemukan mataku.
Dan aku melihat kecemasan di sana.
Mentah.
Nyata.
Dia langsung memutus telepon dan bergegas ke sisi ranjang.
Tangannya menyentuh wajahku dengan belaian lembut, terlalu hati-hati untuk orang seperti Viktor.
"Akhirnya kau sadar juga, Kathy."
Aku hanya mengangguk perlahan.
Tenggorokanku kering.
"Mana Lis? Dan bayi kita?"
"Sama Mamaku. Bayinya baik-baik saja, kaunya yang tadi kekurangan cairan parah."
Rasa lega langsung menembusku.
Viktor tetap di sisi ranjang dan menyibakkan lembut sehelai rambut ke belakang telingaku.
"Jangan lakukan itu lagi, Ekaterina."
Suaranya pelan.
Terkendali.
"Jangan bohong padaku. Kau tidak sedang baik-baik saja. Kau tinggal memberitahuku... atau memberi tahu Mamaku."
Mataku langsung berkaca-kaca.
Karena aku tahu.
Aku tahu aku salah.
Aku berusaha menahan tangis, tapi air mataku tetap saja lolos.
Viktor langsung menyadarinya.
Wajahnya berubah seketika.
Menjadi lebih lembut.
Lebih tenang.
Dia menurunkan nada suaranya lebih rendah lagi.
"Hei... aku tidak sedang memarahimu, Kathy."
Kupejamkan mata sesaat sementara air mata lain berjatuhan.
Viktor menarik napas dalam sebelum melanjutkan.
"Aku cuma khawatir."
Kalimat itu meruntuhkanku sepenuhnya.
Karena tak pernah ada yang mengkhawatirkanku seperti itu sebelumnya.
Tidak dengan sungguh-sungguh.
Dengan susah payah, aku mencondongkan tubuh ke arahnya.
Dan memeluknya erat.
Seolah tubuhku mencari perlindungan dengan sendirinya.
Aku membutuhkannya.
Bahkan tanpa benar-benar mengerti alasannya.
Viktor langsung mendekapku erat, salah satu tangannya menopang kepalaku dengan hati-hati.
"Sudah tak apa-apa... sudah tak apa-apa, putri kecil."
Aku gemetar dalam pelukannya, berusaha bernapas dengan benar.
Berusaha menenangkan diri...