"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 13
Rhea membuka mata saat Tono memanggil namanya. Langit di luar memang masih gelap, namun pesawat sebenatar lagi sudah akan menuju ke landasan pacu.
Pukul 00.00 tengah malam, mereka sampai di bandara international Prancis. Semuanya bersiap untuk turun dari pesawat. Pemberitahuan kapten pilot membuat Rhea semakin yakin.
"Ini pakaian tebal punya kamu, Mbak Rhea."
"Terimakasih."
Tono memberikan sebuah paper bag besar. Rhea menerima dan melihat isi di dalamnya. Ia lalu bergegas mengenakannya karena Tono juga sudah memakai. Ekor mata Rhea juga melihat Nayaka yang sudah mengenakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.
Tangga pesawat diturunkan. Crew pesawat membantu Rhea membawa kopernya.
Mereka bertiga berjalan menuju bandara, dan di depan sudah ada sebuah mobil yang menunggu.
"Bienvenue, ami (Selamat datang. kawan). Tempat tinggal mu sudah siap."
"Merci, aku yakin bisa mengandalkanmu, Vin."
Rhea mengamati dan mendengarkan dengan seksama percakapan sementara Nayaka dan orang yang bernama Vin tersebut. Dari ekspresi mereka, Rhea bisa mengetahui bahwa keduanya adalah teman akrab.
Bahasa perancis yang digunakan oleh Nayaka juga terdengar fasih.
Rhea lalu melihat ke arah Tono.
"Pak Nayaka sangat baik menggunakan bahasa Prancis, lalu mengapa harus menggunakan penerjemah?"
Tono tersenyum lebih dulu, lalu baru menjawab pertanyaan Rhea.
"Bahasa percakapan biasa jelas berbeda dengan pembicaraan bisnis. Jadi meskipun Pak Bos lancar berbincang, namun untuk urusan bisnis adalah hal yang berbeda. Kita butuh memastikan istilah bisnis diterjemahkan dengan jelas, mencatat poin-poin penting dan juga menjadi penghubung saat negosiasi masuk ke hal teknis."
Rhea mengangguk paham. Dia kembali melihat ke arah map yang di pangkuannya. Membukanya dan membaca tentang bisnis yang sama sekali belum diketahuinya.
Mobil memasuki pekarangan rumah bergaya eropa yang artistik. Rhea yang turun dari mobil, matanya langsung melihat ke keseluruhan bangunan.
"Cantik," katanya lirih.
Udara dingin yang langsung menyambut, sedikit teralihkan oleh pemandangan rumah di depannya.
"Sebelah sini," ucap Tono.
Rhea berjalan cepat menyusul Tono yang sudah lebih dulu masuk ke rumah. Di dalam rumah, rasanya menjadi lebih hangat. Baik Tono maupun Nayaka melepas mantel mereka. Tapi tidak dengan Rhea, menurutnya ini tetap masih terasa dingin.
"Mbak Rhea, istirahat dulu. Ini masih cukup untuk tidur. Pagi masih lama juga."
Seorang wanita menghampiri Rhea, wanita itu mengantarkan Rhea menuju ke sebuah kamar yang akan ditempatinya.
"Selamat istirahat, Nona."
"Terimakasih."
Lagi lagi Rhea mengagumi tempat itu. Namun matanya yang masih berat membuat Rhea memilih untuk kembali tidur. Esok, adalah hari yang lebih peting untuk dijalani.
Malam di belahan dunia lain dilalui Rhea begitu saja. Pagi datang menjelang dengan mudahnya. Kini Rhea sudah berada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan mulut Rhea tak berhenti, dia menghafal materi yang akan muncul dalam rapat.
"Pak Tono, berarti perusahaan kita akan menjadi pengantar dari negara Prancis ke negara yang akan dituju. resikonya lumayan ya?"
"Nah betul, makanya akan ada perjanjian nantinya. Dan ini lah yang perlu diterjemahkan secara gamblang agar kesepakatan bisa berjalan dengan aman dan tanpa merugikan kita sebagai penyedia alat transportasi."
Rhea mengangguk paham. Banyak sekali istilah bisnis yang baru saja dia temui. Sedikit membuat takut tapi Rhea senang karena dengan hal tersebut dia pun banyak belajar.
Berkali-kali dia menggenggam tangannya dan sesekali mengusapkan ke mantel karena terasa basah. Ketika mobil berhenti, debaran di dada Rhea semakin tidak karuan. Ia terus mengucapkan doa dalam hati agar bisa melakukan pekerjaannya dengan lancar.
Namun ketika melihat ke arah gedung yang ada di depannya, kedua alis Rhea berkerut.
"Toko pakaian?" ucapnya lirih. "Kita mau ketemu klien di sini Pak Tono?" tanyanya sambil mengalihkan wajahnya dari gedung itu ke wajah Tono.
"Hahahaha, nggak lah. Ya kali ketemu rekan bisnis di toko pakaian," jawab Tono sambil membimbing Rhea turun dari mobil.
"Lantas?"
"Beli mantel dan beberapa pakaian buat kamu."
Mata Rhea membulat sempurna mendengar jawaban dari Tono. Tubuhnya mundur selangkah hingga menyentuh mobil.
"T-tapi, d-dari mana uangnya?"
"Pakai uang perusahaan, nanti dipotong dari gaji mu."
Bukan Tono yang menjawab, melainkan Nayaka.
Rhea reflek mengarahkan pandangannya kepada Nayaka. Namun dengan cepat pula dia kembali mengalihkan wajahnya.
"B-begitu ya," jawabnya lirih.
Tono terkekeh kecil. "Ekhem, mari Mbak Rhea kita masuk. Biar cepet."
Tono membawa Rhea masuk ke dalam toko pakaian. Mata Rhea langsung membulat sempurna saat melihat harga yang tertera di sana.
"Mahal banget," gumamnya.
Rhea berkeliling, ia melihat setiap label harga yang tertera di sana. Dan akhirnya mengambil pakaian yang menurutnya pas, entah dari harga ataupun kecocokannya.
"Yang ini," ucapnya sambil membawa setelan itu ke kasir.
"Mbak, kayaknya itu kurang klik deh. Coba sini, dan boleh minta tolong, untuk yang itu, itu, dan sebelah sana, bawakan kemari."
Tono menunjuk beberapa setelan pakaian formal dan juga mantel. Dia meminta bantuan penjaga toko untuk mengambilkannya.
"Nah coba dulu."
"T-tapi."
Tono mendorong lembut Rhea ke ruang ganti. Setiap kali mencoba pakaian, Rhea akan keluar dan memperlihatkannya kepada Tono.
"Oke, kami ambil semua yang sudah di coba."
Sebuah kartu hitam dikeluarkan oleh Tono lalu diberikan kepada kasir. Rhea hanya bisa menahan nafasnya. Berapa kali gajiku harus dipotong nanti untuk membayar semuanya itu?
Otak Rhea sangat berisik, memikirkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pakaian-pakaian ini.
"Nah ayo, kita selesai."
Rhea mengikuti Tono. Namun pria itu menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu di sisi kanan pintu toko.
"Sepatu, kamu juga butuh sepatu Mbak Rhea. Permisi, coba lihat yang itu."
Tubuh Rhea langsung lemas. Di benaknya ia kembali menghitung berapa hutang yang harus dibayarkannya nanti.
"Pak Tono, apa harus?" tanya Rhea saat menerima paper bag yang berisi sepatu.
"Oh iya dong, harus. Mbak Rhea kan juga bagian dari wajah LT, jadi harus memiliki tampilan yang sempurna dari atas ke bawah. Sekarang ayo kembali, Pak Bos udah nanyain terus ini."
Dengan langkah lunglai, Rhea mengikuti Tono. Ketika masuk ke mobil, Rhea menundukkan kepalanya, menyapa Nayaka sejenak lalu duduk.
"Berapa utangnya?"
"Hahaha, sudah Pak Bos jangan meledek terus. Kita kembali dulu ke rumah. Bukankah ada hal lain yang mau Anda sampaikan?"
Nayaka memutar bola matanya malas. Dia konsisten melipat kedua tangannya di depan dada sejak tadi. Sekarang pria itu menatap keluar jendela.
Hingga perjalanan kembali ke rumah, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Nayaka. Berbeda dengan Tono, dia banyak bicara dan menjelaskan beberapa hal yang ditanyakan oleh Rhea.
Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Nayaka keluar lebih dulu, di susul oleh Tono dan Rhea.
"Sebelum besok bertemu klien, sekarang kita review dulu apa yang sudah kamu pelajari."
Rhea mengangguk, ia ingin meletakkan barang belanjaan ke kamar lebih dulu, namun oleh Nayaka seseorang sudah diperintahkan untuk melakukannya.
"Rhea, coba kamu terjemahkan bagian ini."
Nayaka menunjuk paragraf pada lembaran kertas yang ada di pangkuan Rhea, dan Rhea pun segera melakukan perintah sang atasan.
Nayaka mendengarkan secara seksama. Ia menganggukkan kepalanya.
"Terus bagian selanjutnya?" pinta Nayaka.
Jika tadi dia menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Prancis, sekarang sebaliknya. Rhea melakukan dengan baik, namun di bagian pertengahan dia berhenti sejenak.
"Maaf Pak, ini saya tidak terlalu paham untuk maksudnya. Garantie complète, itu garansi penuh kah?"
Nayaka menganggukkan kepala. Dia lalu menjelaskan tentang apa maksud dari garansi penuh yang ada dalam konteks bisnis yang akan mereka hadapi nantinya.
Rhea mengeluarkan pena dan buku catatan, dia lalu menulis setiap penjelasan dari Nayaka.
"Oke, cukup. Kamu bisa beristirahat. Siapkan dirimu besok."
"Baik Pak, selamat beristirahat."
Rhea membungkuk sebentar, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melenggang menuju ke kamar. Senyumnya mengembang sempurna sambil berkata, "Aku pasti bisa."
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭