Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Sang CEO

Terjerat Obsesi Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.

Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.

Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.

Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.

Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.

Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!

Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampai Kau Siap

Sinar matahari sore mulai membias keemasan, menembus kaca raksasa ruang kerja CEO di lantai empat puluh delapan.

Keheningan yang menyelimuti ruangan kini tak lagi terasa mencekat seperti pagi tadi. Gesekan kain lap Hana dan ketukan jemari Alvaro di atas papan ketik menciptakan irama kerja yang beriringan, seolah dua dunia yang bertolak belakang itu perlahan menemukan titik keseimbangan yang rapuh.

Alvaro menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menghentikan pengetikan dokumen analisis pasarnya. Matanya bergeser perlahan ke arah sudut jendela, menatap sosok Hana yang sedang menyapu karpet dengan gerakan perlahan namun teliti.

Pria itu meneliti raut wajah istrinya dimana bibir tipis Hana yang terkatup rapat dan helai anak rambut yang menyapu dahinya.

"Hana," panggil Alvaro pelan. Suaranya terdengar hangat, membelah kesunyian ruangan.

Hana menghentikan gerakan gagang sapunya, lalu menoleh singkat. "Iya, Pak Alvaro?"

"Bisakah kau berhenti bekerja sebentar?" Alvaro menunjuk ke arah teko porselen di meja kecil dekat jendela.

"Uap dari teh hijau itu sudah menguap. Kau belum menyentuhnya sejak kembali dari kantin." seru Alvaro.

Hana mendesah pelan, meremas pegangan sapunya. "Tugas saya belum selesai, Pak. Masih ada sudut ruangan dekat rak arsip yang belum dibersihkan." sahut Hana.

"Rak arsip itu bisa menunggu besok, Hana," sela Alvaro, nadanya menuntut namun disamarkan oleh kelembutan yang nyata. Ia berdiri dari mejanya, melangkah pelan mendekati area jendela, menjaga jarak sekitar dua langkah dari Hana.

"Duduklah. Kau sudah berdiri hampir tiga jam sejak jam makan siang berakhir." ujar Alvaro memohon.

Hana menatap mata Alvaro. Tak ada lagi binar dominasi yang menakutkan atau kilat kecemburuan buta di sana. Yang tersisa hanyalah sorot mata seorang pria yang benar-benar memohon agar dirinya mau beristirahat.

Dengan menghembuskan napas halus, Hana menyandarkan sapunya pada dinding, lalu melangkah menuju sofa. Ia duduk di ujung paling tepi, menjaga jarak sejauh mungkin dari posisi Alvaro yang kini berdiri di dekat meja kaca.

"Terima kasih," bisik Hana pelan seraya meraih cangkir teh porselen yang masih menyisakan rasa hangat.

Alvaro tersenyum tipis. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja kaca, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Hana yang sedang menyesap tehnya.

"Bagaimana makan siangmu di bawah?" tanya Alvaro memulai percakapan, mencoba mengikis canggung yang membentang di antara mereka.

"Apakah makanan di ruang istirahat itu cukup layak?" tanyanya lagi.

Hana menurunkan cangkirnya, menatap cairan hijau pekat di dalamnya. "Nasi dan tumis buncis buatan saya sendiri selalu layak, Pak Alvaro. Lagipula, makan bersama Mbak Wiwik dan Mas Doni jauh lebih menyenangkan daripada makan sendirian." sahut Hana memberikan penilaian nya.

Alvaro menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis masih terkulum di bibirnya. "Mbak Wiwik? Petugas senior berbadan agak berisi yang sering membawa kantong belanjaan ke ruang kebersihan?" tebak Alvaro yang sekilas pernah mendegar nama itu.

Hana mendongak kaget, mata bulatnya menatap Alvaro tak percaya. "Bapak... kenal Mbak Wiwik?"

Alvaro tertawa kecil yaitu sebuah suara tawa yang sangat renyah dan lepas, sesuatu yang amat langka terdengar di gedung Adhitama Group.

"Aku CEO di gedung ini, Hana. Memangnya kau pikir aku tidak memperhatikan orang-orang yang menjaga kebersihan kantorku setiap hari? Aku tahu Wiwik sudah bekerja delapan tahun di sini, dan Doni sering terlambat masuk shift pagi karena harus mengantar adiknya sekolah dulu." ucap Alvaro santai.

Hana terpaku. Ada rasa hangat yang tak terduga menyelusup ke dalam dadanya saat mendengar fakta bahwa pria di hadapannya ini bukan sekadar sosok penguasa yang angkuh dan buta terhadap staf lapisan bawah.

"Saya... saya pikir Bapak tidak pernah memedulikan orang-orang kecil seperti kami," gumam Hana jujur, menundukkan kepalanya kembali.

"Dulu mungkin aku terlalu fokus pada angka dan keuntungan," aku Alvaro, nada suaranya berubah penuh perenungan. Matanya menatap Hana lekat-lekat.

"Tapi sejak seseorang hadir dan mengacaukan seluruh jalan pikiranku... aku mulai melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda."

Hana mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu betul siapa 'seseorang' yang dimaksud oleh Alvaro. Pipinya mendadak terasa hangat, membuat Hana tergesa-gesa menyesap tehnya kembali untuk mengalihkan perhatian.

"Soal kejadian tadi pagi..." lanjut Alvaro pelan, memutus keheningan yang mulai terasa canggung.

"Aku ingin berterima kasih." Alvaro dengan tulus berterima kasih.

Hana mengerutkan keningnya, menatap Alvaro bingung. "Berterima kasih untuk apa?"

"Nakula memberitahuku soal rumor di ruang istirahat," ujar Alvaro, menatap mata Hana dengan kepenuhan rasa bersalah dan kagum yang bercampur aduk.

"Kau membela keputusanku di depan teman-temanmu. Kau bilang pada mereka bahwa aku marah karena masalah dokumen bisnis, bukan karena kecemburuanku yang konyol."

Hana mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca raksasa, menatap langit ibu kota yang mulai meredup keperakan.

"Saya tidak membela Bapak. Saya cuma menyelamatkan diri saya sendiri. Kalau sampai mereka tahu hal yang sebenarnya, hidup saya sebagai petugas kebersihan akan hancur hari itu juga." tutur Hana.

"Aku tahu," desah Alvaro berat. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat, membuat Hana refleks menegakkan posisi duduknya.

"Tapi tetap saja... terima kasih karena sudah melindungi privasi kita berdua, Hana. Aku berutang padamu."

Hana terdiam. Desir angin dari luar seolah menembus dinding kaca tebal, membawa kedamaian aneh yang baru pertama kali ia rasakan sejak menginjakkan kaki di gedung ini.

"Pak Alvaro..." panggil Hana pelan setelah jeda yang cukup panjang.

"Panggil Alvaro saja saat kita hanya berdua di ruangan ini, Hana," potong Alvaro lembut namun tegas.

"Tolong. Aku mohon." pinta Alvaro.

Hana menelan ludahnya, mencoba membiasakan lidahnya melafalkan nama itu tanpa embel-embel formalitas.

"Alvaro... sampai kapan kita harus berpura-pura seperti ini?" tanya Hana menebak-nebak.

Walau dirinya sendiri yang menginginkan pernikahan rahasia ini, namun jauh di lubuk hatinya Hana juga ingin agar semua orang tahu siapa suaminya.

Alvaro menatap wajah Hana yang terhiasi pendar jingga senja. "Maksudmu?"

"Status ini," bisik Hana rapuh, matanya menatap Alvaro dengan kejujuran murni.

"Pernikahan rahasia ini... kepura-puraan di kantor ini... sampai kapan? Kita tidak bisa hidup dalam kebohongan seperti ini selamanya." ucapnya realistis namun juga ada ketakutan jika semua orang tahu tentang pernikahannya, apa lagi dengan perbedaan status yang begitu jauh.

Alvaro terdiam rapat. Pertanyaan Hana menghantam sudut terhampa di dadanya. Pria itu menyilangkan jari-jarinya, menunduk menatap lantai karpet sejenak sebelum kembali menatap istrinya.

"Sampai kau siap, Hana." jawab Alvaro dengan kepastian yang teramat dalam.

Hana membelalakkan matanya pelan. "Apa?"

"Pernikahan ini akan tetap menjadi rahasia sampai kau merasa aman dan siap untuk membukanya kepada dunia." tegas Alvaro, suaranya sarat akan komitmen mutlak.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
+44
hamil kan?
Dewi Kasiani
kpn Hana tidak keras hatinya,biar sedikit romantis.semoga hana hamil. biar makin dekat
Meichah Hahahihi
Hana misal KLO ada cewek yg deketin alvaro perasaanmu gimana ... jual mahal sekali si hana ini
Meichah Hahahihi
ini ceweknya mau di sentuh alvaro takut tapi kalo cowok lain welcome... munafik si hans
irma hidayat
hadapi hana bukannya harus sembunyi dari jln hidup, alvaro aja mau menerima dan terbuka
Teh Fufah
gitu dong hana.... berani... kamu kan mahaiswa hukum....
irma hidayat
terima dgn ikhlas hana jalan takdirnya jangan keras kepala, meski tak diinginkan mungkin jln terbaik untuk hidupmu
Siti Solihah
ayooo hana buka lebar lebar hatimu, kuliah kembali agar kamu bisa meneruskan cita cita sekaligus jadi istri ceo bucin...😅🤭
Rarik Srihastuty
lanjut...
+44
jadi.. kamu sudah cinta 🌚
Siti Solihah
ayo varo nyatakan love yuo sekarang juga..🤣🤣🤣
Mia Camelia
ayo rehan terus deketin hana🤭🤭🤭, biar alvaro makin meledak🤭😂
irma hidayat
cemburu ya alvaro
Rarik Srihastuty
ada yang cemburu ternyata 🤭
Lilik24
hahhaaa cemburu dia, bagusalah
Siti Solihah
masih menahan bucin...🤭🤭
+44
aku mau bubur ayam 🌚
Rarik Srihastuty
ayo Alvaro semangat, buat Hama melupakan traumanya
+44
jadi penasaran.. hal apa yang nantinya membuat hana luluh?
Sastri Dalila
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!