"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Angin malam bertiup menusuk membawa aroma dedaunan basah dari hutan kecil yang memisahkan desa dari sungai. Rumah-rumah penduduk sudah gelap, hanya diterangi sinar rembulan yang terselip di antara awan. Suara jangkrik dan gemericik air dari kejauhan menjadi latar alam yang kontras dengan suasana hati Azel. Ia gelisah menggigit bibir sambil sesekali melirik jam di layar ponselnya-23.50.
Azel memeluk lututnya di sudut ruangan kecil tempat para anggota BEM perempuan menginap. Tekanan di perutnya semakin menyiksa, namun ia tidak cukup berani untuk pergi ke sungai sendirian. Akhirnya ia mengulurkan tangan menggoyangkan bahu Sekar yang terlelap di sampingnya.
"Sek, bangun dulu," bisiknya mencoba tidak membangunkan yang lain.
"Kenapa sih, Zel?" Gumam Sekar setengah sadar, matanya masih terpejam.
"Sek, gue nggak tahan lagi, temenin gue ke sungai ya." Pinta Azel dengan nada yang memelas.
Sekar mengerjap, menatap Azel dengan mata yang setengah terbuka. "Zel, lo nggak lihat ini jam berapa? Ini udah hampir tengah malam. Gue mana berani lewat hutan sendirian?"
"Tapi gue juga nggak bisa pergi sendiri," keluh Azel, nadanya lebih tinggi dari bisikan sebelumnya. Ia memeluk lutut lebih erat, matanya memohon belas kasihan.
Sekar menarik napas panjang mencoba meredakan kantuknya. "Ya ampun, Zel, tapi kalau ada apa-apa, gue nggak tanggung jawab, ya."
"Gue janji cepet, sumpah," balas Azel cepat, wajahnya sedikit cerah karena Sekar akhirnya mengalah.
Mereka mengambil senter kecil yang baterainya hampir habis lalu beringsut keluar rumah.
Suara derit pintu yang terbuka membuat keduanya terdiam sejenak memastikan tidak ada yang mendengar. Namun tanpa mereka sadari, Sarah yang terbangun karena suara langkah mereka menyelinap keluar. Gadis itu memicingkan mata mendengar samar percakapan mereka.
"Hah? Ke sungai tengah malam? Kayaknya mereka udah gila." Gerutunya pelan sebelum memutuskan mengikuti mereka diam-diam.
Jalan menuju sungai gelap gulita hanya diterangi cahaya rembulan yang sesekali tertutup pepohonan. Langkah Azel dan Sekar penuh ragu. Senter kecil di tangan Sekar bergetar lemah menyoroti jalan setapak yang dipenuhi akar pohon. Udara dingin semakin menusuk membuat Azel menggosok kedua lengannya untuk menghangatkan tubuh.
"Sek..."
"Hm?"
"Lo yakin nggak takut?"
Sekar langsung menoleh. "Justru gue yang mau nanya begitu ke lo."
Azel tertawa kecil. "Gue lebih takut ngompol."
Sekar memutar bola mata. "Masih sempat bercanda."
"Gue serius."
Sekar menggeleng. "Dasar."
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba—
"Mau ke mana kalian?"
Keduanya langsung berhenti. Azel dan Sekar serempak menoleh.
Cahaya senter yang jauh lebih terang menyinari mereka. Di depan sana berdiri Fariz bersama Ihsan. Fariz menurunkan senternya agar tidak menyilaukan mata mereka.
"Kak Fariz..." Sekar terlihat kaget.
Fariz berjalan mendekat. "Sudah hampir tengah malam. Kalian mau ke mana?"
Sekar menunjuk Azel. "Dia yang ngajak."
"Eh, kok gue?"
Fariz menghela napas. "Kalian mau ke sungai?"
Azel mengangguk. "Iya, Kak."
"Kenapa?"
Azel menjawab dengan wajah sedikit malu. "Kebelet."
Ihsan yang sejak tadi diam menahan tawa.
Namun Fariz justru terlihat semakin serius. "Terus kalian mau pergi berdua dalam kondisi seperti ini?"
Azel mengernyit. "Memangnya kenapa, Kak?"
"Ini sudah malam."
"Sungainya juga nggak jauh."
"Justru karena malam."
Fariz menatap mereka bergantian. "Kalian nggak tahu apa yang bisa terjadi di jalan."
Azel mengembuskan napas. "Kak, saya benar-benar sudah nggak tahan."
Fariz terdiam sesaat. Ia akhirnya menghela napas.
"Ya sudah. Kita antar."
Azel langsung menggeleng. "Nggak usah, Kak. Merepotkan."
"Nggak ada yang bilang kamu merepotkan."
Ihsan ikut menyahut. "Udah, biar kita antar."
Fariz menunjuk jalan di depan. "Gue di depan sama Azel. Ihsan, lo sama Sekar di belakang."
Sekar langsung mengangguk. "Nah, itu lebih aman."
Azel masih terlihat ragu. "Tapi—"
Fariz memotong. "Zel."
Nada suaranya membuat Azel terdiam. "Kamu pikir tempat seperti ini aman kalau sudah tengah malam?"
Azel menunduk. "Nggak."
"Makanya jangan keras kepala."
Azel mengembuskan napas panjang. "Iya."
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Fariz berjalan di depan bersama Azel, sementara Ihsan dan Sekar mengikuti beberapa langkah di belakang.
Azel sesekali melirik Fariz. "Kak..."
"Apa?"
"Harusnya Kak Fariz nggak perlu ikut."
Fariz tidak menoleh. "Kalau aku nggak ikut, siapa yang memastikan kalian aman?"
"Kan ada Ihsan."
"Ihsan jagain Sekar."
Azel terdiam.
Fariz akhirnya menoleh sekilas. "Udah, jangan banyak protes."
Azel menggumam. "Iya, iya."
Di belakang mereka, Sarah yang masih mengikuti mulai kelelahan. Ia berhenti sejenak menyeka keringat di dahinya. "Kenapa gue harus ikutin mereka sih?" gumamnya, mulai meragukan keputusannya sendiri. Namun sebelum Sarah bisa melanjutkan langkahnya, sesuatu terdengar dari semak-semak di depannya. Suara gemerisik yang membuat tubuhnya menegang. Mata Sarah membelalak, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
***
Setelah perjalanan yang cukup menegangkan di bawah rimbunnya pepohonan, mereka akhirnya tiba di sebuah MCK sederhana yang berada tidak jauh dari sungai.
Suasana di sekitarnya terasa mencekam. Sepi. Hanya suara angin malam yang menggoyangkan dedaunan dan dengungan serangga yang terdengar bersahutan.
Azel dan Sekar segera masuk ke dalam bilik, sementara Fariz dan Ihsan berdiri di luar untuk berjaga.
Ihsan mengarahkan senter ke sekeliling. "Tempat ini beneran nggak enak banget," gumamnya.
Fariz hanya mengangguk. Tatapannya terus menyapu kegelapan di antara pepohonan.
Tiba-tiba— Tawa keras terdengar dari arah hutan.
"Hahaha!"
Keduanya langsung menoleh.
"Lo dengar nggak?" tanya Fariz.
"Iya." Ihsan menurunkan suara. "Kayak suara orang."
Mereka terdiam beberapa detik. Lalu terdengar suara perempuan.
"Tolong..."
Fariz langsung menegang. "San..."
"Iya, gue dengar."
"Tapi ada suara ketawa juga."
Ihsan mengangguk pelan. "Ada laki-laki."
Tanpa banyak bicara, keduanya berjalan mengikuti sumber suara. Langkah mereka semakin dalam memasuki area pepohonan. Tanah yang lembap dan berpasir membuat langkah mereka sedikit sulit.
Tak lama kemudian, cahaya redup dari sebuah korek api terlihat di balik pepohonan. Beberapa pemuda desa duduk melingkar. Aroma alkohol dan asap rokok langsung menusuk hidung.
Mereka tertawa dalam keadaan mabuk. Di tengah kelompok itu, seorang perempuan terlihat menangis ketakutan. Kedua tangannya terkatup di depan dada.
"Tolong..."
Di hadapannya berdiri seorang pemuda bernama Satria. Fariz mengenal nama itu.
Satria adalah anak salah satu orang terpandang di desa tersebut. Namun, dari cerita beberapa warga, pemuda itu terkenal sering membuat masalah dan kerap berbuat seenaknya karena merasa memiliki kuasa.
Fariz mengepalkan tangannya. "Lepasin perempuan itu."
Satria menoleh perlahan. Tatapannya langsung berubah tajam.
"Kalian siapa berani-beraninya nyuruh gue?"
"Gue memang bukan siapa-siapa," jawab Fariz dingin. "Tapi lo bisa lihat sendiri dia terus-terusan minta tolong."
"Itu bukan urusan kalian."
Satria melangkah maju dengan sempoyongan. "Mending pergi sebelum gue marah."
"Kalau lo nggak mau dengar baik-baik, kita bisa selesaikan ini dengan cara lain."
Satria tertawa mengejek. Namun sebelum percakapan itu berlanjut, terdengar langkah kaki dari arah belakang.
"Kak Fariz?"
Fariz langsung menoleh. Azel dan Sekar sudah keluar dari MCK.
Wajah Fariz seketika berubah. "Loh, Zel? Ngapain kalian ke sini?"
Azel mengernyit. "Tadi kami dengar suara ribut. Kalian kenapa malah menjauh dari MCK?"
Satria yang sejak tadi tidak memperhatikan mereka akhirnya menoleh. Tatapannya berhenti pada Azel. Senyum miring muncul di wajahnya.
"Wah..." Matanya menyapu Azel dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
"Cewek cantik."
Azel langsung merasakan bulu kuduknya meremang.
Fariz segera melangkah ke depan Azel, menghalangi pandangan Satria. "Jaga mata lo!"
Satria terkekeh. "Santai, Bro."
Ia masih mencoba mendekat. "Gue cuma mau kenalan."
Tatapannya kembali mengarah pada Azel. "Cewek secantik ini masa nggak mau kenal sama Akang Satria?"
Azel mundur satu langkah. “Jangan dekat-dekat.”
Satria justru tertawa. “Galak juga.”
Ia kemudian menunjuk perempuan yang sedang menangis di belakangnya.
"Lo mau cewek itu, kan?"
Fariz menatapnya tajam. "Lepasin dia."
"Boleh."
Satria tersenyum licik. "Asal..." Tatapannya kembali beralih kepada Azel. "...temen lo ini nemenin gue di sini."
Fariz langsung menatap tajam Satria. "Kurang ajar!"
Satria tertawa. "Lagian gue yakin cewek secantik dia pasti suka sama laki-laki tangguh—"
Bug!
Satu pukulan mendarat tepat di wajahnya ketika tangan laki-laki itu terulur ingin menyentuh Azel.
Satria terhuyung ke belakang.
"Ya Allah, Azel!" Sekar berteriak panik.
Azel berdiri dengan napas memburu. "Jaga ucapan lo!"
Satria menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Wajahnya langsung memerah karena marah.
"Sialan!"
Ia hendak maju menyerang. "Lo cari masalah sama gue?!"
Azel tidak mundur sedikit pun. "Cepat lepasin perempuan itu!"
"Gue nggak akan!" Satria kembali melangkah maju.
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, Fariz langsung menghadangnya.
"Udah cukup!"
Satria mencoba mendorong Fariz, tetapi tubuhnya yang sempoyongan membuat gerakannya tidak stabil.
Sementara itu, Azel melihat perempuan yang masih menangis ketakutan. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke arahnya.
"Jangan takut. Sini!" Azel menarik perempuan itu menjauh dari kelompok tersebut.
Beberapa pemuda yang hendak menghalangi justru kehilangan keseimbangan karena pengaruh alkohol. Ada yang jatuh terduduk, ada pula yang hanya mampu mengumpat.
Azel segera membawa perempuan itu ke belakang tubuhnya. "Tenang. Kamu aman sekarang."
Perempuan itu menangis semakin keras. "Mereka... mereka mau menyakiti saya..."
"Aku nggak akan biarkan." Azel menggenggam tangannya.
Di sisi lain, Fariz masih berusaha menahan Satria yang terus memberontak.
"Fariz, bawa mereka pergi!" teriak Ihsan.
"Iya!"
Fariz mendorong Satria menjauh lalu segera menghampiri Azel. "Zel, kamu nggak apa-apa?"
Azel menggeleng. "Nggak."
Tatapannya beralih kepada perempuan yang masih gemetar di sampingnya.
"Tapi kita harus bawa dia pergi dari sini."
Fariz mengangguk. "Benar."
Namun sebelum mereka sempat melangkah, Satria kembali berteriak dari belakang.
"Kalian jangan pikir masalah ini selesai sampai di sini!"
Azel berhenti sejenak. Ia menoleh. Tatapannya tak lagi menunjukkan rasa takut. "Kalau lo masih berani menyentuh perempuan itu kita yang akan memastikan kamu berhadapan dengan pihak yang berwenang."
Satria terdiam.
Fariz menatap Azel beberapa detik. Entah harus kagum atau justru khawatir melihat keberanian gadis itu.
"Zel..."
"Apa?"
"Mulai sekarang..." Fariz menghela napas. "...jangan pergi ke mana-mana sendirian."
Azel mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena kamu barusan hampir bikin jantung gue copot."
Sekar yang mendengar itu langsung menyela. "Baru sadar, Kak? Gue dari tadi udah hampir pingsan!"
Ihsan menggeleng sambil menghela napas. "Udah, ayo pergi sebelum masalahnya makin panjang."
Fariz kembali menatap ke arah hutan yang kini semakin gelap. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang.
Satria memang mabuk malam ini. Tapi Fariz tau satu hal. Orang seperti Satria biasanya tidak mudah menerima penghinaan. Apalagi setelah dipukul di depan teman-temannya.
Dan yang paling ia khawatirkan orang yang mungkin akan menjadi sasaran dendam Satria bukanlah dirinya. Melainkan Azel.
***
Setelah memastikan perempuan itu sudah bersama keluarganya, mereka akhirnya berpamitan dan kembali menuju posko.
Fariz mengembuskan napas panjang. Ia masih terlihat tegang setelah kejadian beberapa menit lalu. Beruntung, Satria dan teman-temannya tidak mengikuti mereka. Kondisi mereka yang sudah sangat mabuk membuat mereka bahkan kesulitan berdiri dengan tegak.
Fariz mengembuskan napas panjang. Ia masih terlihat tegang, seolah berusaha menenangkan dirinya setelah kejadian beberapa menit lalu.
Sesekali ia melirik ke arah Azel yang berjalan bersama Sekar dan perempuan tadi.
"Zel."
Azel menoleh. "Iya, Kak?"
Fariz mempercepat langkah hingga berjalan di sampingnya. "Kenapa kamu pukul dia?"
Azel terdiam sebentar. "Karena aku nggak suka cara dia lihat aku."
Fariz menghela napas. "Aku ngerti."
"Dan aku juga kasihan sama perempuan itu," lanjut Azel. "Kalau tadi kita cuma diam, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama dia."
Fariz mengangguk. "Iya. Aku juga nggak menyalahkan kamu karena membela dia. Tapi cara seperti tadi bisa jadi masalah, Zel."
Azel menatapnya. "Masalah?"
"Iya."
Fariz menurunkan suaranya. "Kita datang ke sini buat pengabdian. Kita harus menjaga sikap dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan warga."
"Aku tau, Kak."
"Aku cuma takut Satria menyimpan dendam." Fariz menatap Azel serius. "Kalau dia tau kamu siapa dan nanti sengaja mencari masalah sama kamu, gimana?"
Azel terdiam. Namun beberapa detik kemudian, ia menjawab dengan tenang.
"Aku juga nggak mau cari masalah, Kak. Tapi aku nggak bisa tinggal diam kalau ada perempuan yang diperlakukan seperti itu."
Fariz terdiam.
Azel menarik napas pelan. "Abi pernah bilang kalau kita melihat sesuatu yang salah, jangan sampai rasa takut membuat kita memilih diam."
Fariz menatapnya. "Abi kamu yang ngajarin?"
Azel mengangguk. "Iya..Abi juga selalu bilang, kalau mau membela orang lain, jangan pakai emosi. Harus tetap berpikir."
Ia menundukkan pandangan sejenak. "Jadi mungkin tadi aku salah karena langsung mukul."
Fariz justru tersenyum tipis. "Setidaknya kamu sadar."
Azel mendengus kecil. "Tapi kalau tadi aku nggak mukul, mungkin dia malah makin kurang ajar."
Fariz terkekeh pelan. "Nah, itu dia. Makanya aku bingung harus marah atau salut sama kamu."
Azel tersenyum kecil. "Berarti salut aja, Kak."
Sekar yang berjalan di belakang mereka langsung menyahut. "Geer banget!"
Azel menoleh. "Diam, Sek."
Sekar terkekeh. Fariz hanya menggeleng sambil tersenyum.
Namun setelah beberapa langkah, wajahnya kembali serius.
"Zel."
"Iya?"
"Mulai sekarang kalau mau ke mana-mana malam-malam, jangan sendirian."
Azel mengangguk. "Iya, Kak."
"Dan kalau ada apa-apa, langsung bilang ke kami."
"Iya."
Fariz menghela napas lega. "Bagus."
Ia kembali berjalan, tetapi matanya sesekali masih memastikan Azel berada di dekat mereka.
Malam itu mereka memang berhasil menyelamatkan seorang perempuan. Namun bagi Fariz, kejadian tadi meninggalkan satu kekhawatiran baru. Ia takut Satria tidak akan melupakan Azel begitu saja.
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.