Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26.

Suara kicauan burung membangunkan Brian dari tidurnya. Brian menoleh ke belakang dan melihat Caesar yang masih tertidur sambil memeluk dirinya. Dengan perlahan, Brian melepaskan tangan kekar itu.

Grep!

"Mau ke mana?" ucap Caesar yang tiba-tiba memeluk kembali tubuh Brian.

"Bisa lepasin gak? Gue mau ke kamar mandi," ucap Brian.

Caesar melepaskan pelukannya, lalu terduduk memandang Brian yang berjalan masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Caesar bangkit berdiri dan menyusul ke kamar mandi.

Ceklek.

Brian terkejut saat melihat Caesar tiba-kira masuk. "Woi, elo ngapain masuk, ha?!" ucap Brian kesal.

"Saya ingin mandi," ucap Caesar dengan wajah dinginnya.

"Minggir, gue mau keluar!" Brian kesal karena Caesar tetap berdiri di depan pintu, menghalangi jalannya. "Elo bisa minggir gak? Gue mau keluar!"

Caesar malah mendekat. Brian mundur beberapa langkah hingga punggungnya terpojok ke dinding. Dengan senyum miring, Caesar berbisik ke telinga Brian, "Mau mandi bersama?"

Brugh!

"OGAH! DASAR MESUM SIALAN!" teriak Brian.

Brian langsung turun ke lantai bawah dan menghampiri Louis sambil menyilangkan dada.

"Kenapa, Dek? Masih pagi kok sudah kesal begitu?" tanya Louis.

"Tuh, anak Abang bikin kesal saja!" ucap Brian.

"Kenapa dengan Caesar? Apa dia melakukan sesuatu yang aneh-aneh sama kamu? Kasih tahu Abang, biar Abang bejek-bejek dia jadi perkedel," ucap Louis, mengira Caesar berbuat macam-macam pada Brian.

Tap... tap... tap...

"Saya tidak melakukan apa-apa, Mom," ucap Caesar yang baru turun dari tangga.

"Terus, kalau kamu tidak melakukan apa-apa, kenapa Brian bisa sekesal itu, Caesar?" tanya Louis.

"Saya hanya bilang ingin mandi bersama."

Uhuk! Uhuk!

Brian yang sedang minum langsung tersedak mendengar kepolosan Caesar. Dia menatap tajam ke arah cowok itu.

"Bangke lo, malah dibilang!" umpat Brian. Caesar hanya mengangkat bahunya cuek.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar di meja makan. Makan dulu, baru lanjut bertengkarnya," ucap Anton, sang kepala keluarga, dengan tegas.

"Tahu, tuh. Bang Caesar sama Bang Brian persis seperti suami-istri yang lagi berantem," celetuk Michael.

"Sorry to say ya, gue gak tertarik jadi pasangan dia. Ogah banget gue!" ketus Brian.

"Tapi saya mau," sahut Caesar datar. Brian langsung melotot tidak terima.

"Idih, si jurig! Sorry-sorry nih ya, gue itu sukanya sama cewek yang montok, seksi, dan bermelon. Bukannya yang datar dan berbatang! Lagian gue ini macho dan kekar, gak mungkin gue suka sama elo yang sama-sama kekar begini," cerocos Brian.

Otot Brian memang kekar, tapi sebenarnya tidak sekekar Caesar. Caesar hanya menatap Brian sambil mengepalkan tangannya.

"Ngapain lihat-lihat? Gak suka lo sama kegantengan gue?" ucap Brian narsis.

"Dek," tegur Louis.

"Hem?" dehem Brian.

"Makan," tegas Louis.

Mereka akhirnya makan dalam diam karena itu sudah menjadi peraturan di keluarga Benedict. Saat makan tidak boleh ada yang bicara, kecuali dua bocah ditambah satu "bocah gede".

"Omy, adeknya Omy celewet ya," ucap Tio yang duduk di kursi balita yang lebih tinggi.

"Dari dulu Ommu ini memang cerewet, bahkan lebih cerewet dari cewek," sahut Louis.

"Dia anak kamu, Bang, sama si tua ini?" tanya Brian sambil menunjuk Anton. Anton langsung melotot ke arah Brian.

"Dia Tio, anak bungsu Abang," jelas Louis.

"Bocah, berapa umurmu?" tanya Brian kepada Tio.

"Tiga tahun, Om," jawab Tio imut.

Brian melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. "Bang, aku pulang dulu ya. Soalnya mau kerja."

"Kerja di mana kamu?" tanya Louis.

"Di kafe Kak Tian. Udah telat nih. Dadah bocil, nanti Om ganteng kasih mainan ya. Sama tuh, satu bocah lagi siapa namanya, Bang?" tanya Brian menunjuk Bian.

"Dia Bian, usianya sepuluh tahun," jawab Louis.

"Iya. Om tua, saya pergi dulu ya. Ingat Pak Tua, jaga Abang saya. Awas kalau kamu menyakiti Bang Louis, saya..." ancam Brian ke Anton.

"Saya apa?" tantang Anton.

"Saya... ya gitulah pokoknya! Aku pamit, Bang. Dadah dua bocah!"

Saat Brian bersiap pergi, Caesar ikut berdiri.

"Kenapa lo berdiri juga?" tanya Brian curiga.

"Saya akan mengantar kamu pulang," ucap Caesar.

"Tidak usah, gue bawa motor," tolak Brian.

"Tidak ada penolakan," tegas Caesar

Ogah!" Brian langsung berlari secepat kilat untuk menghindar.

"Huuu, selamat—" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuh Brian diangkat oleh Caesar dan digendong di pundak seperti karung beras.

"WOI, TURUNIN GUE, TIANG KABUPATEN...!" berontak Brian yang terkejut.

"Diam, atau saya cium kamu di sini," ancam Caesar dingin.

"Sue lu! (Ya Tuhan, begini banget nasib gue ketemu sama tiang kabupaten yang nyebelin ini)," umpat Brian dalam hati.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!