Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Terakhir Dan Awal Yang Baru

Bab 30

Malam itu mendung kembali menyelimuti langit persis seperti malam ketika semuanya bermula dan malam ketika Ayah pergi meninggalkan kami. Angin berhembus dingin menerpa dedaunan di halaman rumah menimbulkan suara berdesir yang halus namun terdengar menakutkan di tengah keheningan malam yang sunyi. Jam dinding di kamarku baru saja berdentang menandakan pukul dua belas tengah malam. Aku belum tidur. Aku duduk di tepi tempat tidur menatap lurus ke arah jendela yang tertutup rapat namun aku tahu di balik kegelapan di luar sana ada sesuatu yang sedang menunggu. Sesuatu yang sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk datang kembali menyelesaikan segala sesuatu yang belum selesai di antara kami berdua.

Tiba tiba aku mendengar suara benda kecil menghantam kaca jendelaku pelan namun jelas terdengar di ruangan yang sunyi itu. Aku tidak terkejut. Aku justru merasa lega seolah olah pertanda yang selama ini kurasakan akhirnya menjadi kenyataan. Aku bangkit berdiri berjalan perlahan menuju jendela dan membukanya perlahan lebar lebar. Di bawah sana berdiri sesosok bayangan yang kukenal dengan baik. Sosok itu berdiri di bawah naungan pohon besar di sudut halaman belakang tempat yang paling gelap dan paling tersembunyi dari pandangan orang lain. Cahaya remang remang bulan menerangi separuh wajahnya. Itu adalah Vanessa. Ia berdiri diam menatap lurus ke arahku dengan mata yang berkilat tajam penuh kebencian dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.

Ia memberi isyarat dengan tangannya menyuruhku turun dan menemuinya di tempat itu. Aku tidak ragu sedetik pun. Aku tahu bahwa menemuinya berarti menghadapi bahaya yang nyata dan mungkin tidak akan bisa kembali lagi ke dalam rumah ini dengan selamat. Namun aku juga tahu bahwa jika aku tidak menemuinya di sini malam ini ia mungkin akan tetap bersembunyi dan menunggu kesempatan lain untuk menyakiti keluargaku saat aku tidak ada di dekat mereka. Lebih baik aku menyelesaikannya sekarang juga di antara kami berdua saja di tempat yang sepi tanpa melibatkan orang lain yang aku sayangi. Aku mengangguk pelan ke arahnya lalu menutup jendela dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang tenang dan mantap.

Aku berjalan perlahan menyusuri lorong rumah memastikan tidak ada yang terbangun. Aku tidak ingin ada yang menghentikanku. Aku tidak ingin ada yang ikut campur dan terluka lagi demi keselamatanku. Cukup sudah pengorbanan yang dilakukan Ayah. Cukup sudah air mata yang jatuh dari mata Ibu dan ketiga kakakku. Malam ini biarlah aku yang menyelesaikan semuanya sendiri dengan gadis yang dulu pernah kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri. Aku melangkah keluar melalui pintu belakang yang tidak dikunci rapat seperti pintu depan dan berjalan perlahan menuju ke arah pohon besar tempat bayangan itu berdiri menunggu dengan diam.

Saat aku sampai di hadapannya aku melihat wajahnya yang terlihat jauh lebih berantakan dan pucat dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Matanya merah dan bengkak seolah olah ia tidak pernah tidur dengan tenang sejak hari itu. Pakaiannya lusuh dan kotor seolah olah ia telah bersembunyi di tempat tempat yang jauh dan sepi sendirian selama berhari hari. Namun di balik penampilannya yang tampak hancur itu tatapan matanya tetap tajam dan penuh kebencian yang belum pernah pudar sedikit pun sejak awal kami saling mengenal. Ia menatapku lama sekali dalam diam seolah olah sedang mencoba mencari sesuatu di dalam wajahku yang dulu pernah ia kenal begitu baik namun kini terasa jauh dan asing baginya.

Aku yang pertama kali memecah keheningan dengan suara yang tenang dan datar. Kau datang kembali. Aku tahu kau pasti akan datang. Vanessa menatapku tajam lalu menjawab dengan suara yang serak dan penuh amarah yang tertahan. Kenapa kau tidak lari? Kenapa kau tidak memanggil saudara saudaramu atau orang lain untuk menangkapku? Kau pikir aku takut padamu? Kau pikir kau sudah menang Maya? Aku menatapnya lurus ke dalam matanya lalu berkata dengan tenang aku tidak memanggil siapa pun karena aku tidak ingin ada darah yang tumpah di sini malam ini selain antara kau dan aku. Tidak ada lagi yang boleh terluka demi urusan kita. Cukup sudah nyawa Ayah yang menjadi korban. Cukup sudah air mata yang jatuh di rumah ini. Malam ini katakanlah apa yang sebenarnya kau inginkan Vanessa. Katakanlah dan biarlah semuanya berakhir di sini malam ini juga.

Mendengar nama Ayah disebut air mata tiba tiba meluap dari mata Vanessa. Ia gemetar hebat menahan tangis dan amarah yang meluap luap. Ia berteriak pelan namun penuh kepedihan kenapa kau harus menyebut namanya? Dia mati karena tanganku! Aku tidak bermaksud membunuhnya! Aku hanya ingin menyakitimu sedikit saja! Aku hanya ingin kau merasakan sedikit saja rasa sakit yang selama ini kurasakan! Kenapa dia harus melindungimu? Kenapa semua orang selalu melindungimu dan tidak pernah melindungiku sedikit pun? Apa yang kau miliki yang tidak kumiliki? Kenapa kau selalu dicintai dan aku selalu dibenci? Seluruh dunia seolah olah berpihak kepadamu dan meninggalkanku sendirian dalam kegelapan!

Aku menatapnya dengan hati yang terasa perih namun tetap tenang. Karena kebenaran selalu dicintai dan kebohongan selalu ditakuti Vanessa. Kau tidak dibenci karena kau kurang baik atau kurang cantik. Kau dibenci karena kau selalu menyembunyikan kebenaran di balik senyummu. Kau selalu memisahkan orang orang yang saling mencintai dengan kebohonganmu. Jika dulu kau jujur dan tulus mungkin Ayah dan seluruh keluarga ini akan tetap memelukmu sebagai saudara. Kau yang memilih jalan ini sendiri. Kau yang memilih menyakiti orang yang baik hati kepadamu. Dan sekarang kau menderita karena pilihanmu sendiri bukan karena aku.

Kata kata itu seolah olah menembus dada Vanessa lebih tajam dari senjata apa pun. Ia terdiam terpaku menatapku dengan mata yang terbelalak seolah olah baru saja menyadari sesuatu yang selama ini tersembunyi dari pandangannya. Namun seketika itu juga kemarahannya kembali meledak. Ia mengeluarkan sebilah pisau tajam yang terselip di balik pakaiannya dan menunjukkannya kepadaku dengan tangan yang gemetar hebat. Tidak! Kau yang salah! Semua orang salah! Kau yang mengambil semuanya dariku! Jika kau tidak pernah ada di dunia ini pasti aku yang akan menjadi anak kesayangan mereka! Aku yang akan hidup bahagia dan tidak akan pernah menderita seperti ini! Pergilah kau ke tempat yang seharusnya kau tuju sejak lama! Matilah kau Maya! Saat kau mati barulah aku merasa menang!

Ia melangkah maju dengan cepat dan menusukkan pisau itu ke arah dadaku dengan sekuat tenaga. Aku tidak menghindar. Aku tidak melompat menjauh. Aku justru melangkah maju menyambutnya sambil menatap matanya dengan tenang tanpa sedikit pun rasa takut di dalam hatiku. Pisau itu menancap tepat di dadaku. Rasa sakit yang luar biasa seketika menyelimuti seluruh tubuhku membuat napasku terasa sesak dan sulit untuk ditarik. Darah segar segera membasahi pakaianku dan jatuh menetes ke tanah yang lembap terkena rintik hujan yang mulai turun kembali.

Vanessa terbelalak kaget. Ia melepaskan gagang pisau itu dan mundur perlahan dengan wajah yang pucat pasi menatapku seolah olah tidak percaya atas apa yang baru saja dilakukannya. Kenapa kau tidak menghindar? Kenapa kau tidak berteriak meminta tolong? Aku menatapnya sambil tersenyum lemah. Karena aku tidak ingin kau terus hidup dalam kesalahan dan ketakutan selamanya Vanessa. Jika nyawaku adalah harga yang harus dibayar agar kau menyadari kebenaran dan agar keluargaku tetap selamat maka aku ikhlas melepaskannya. Tolong berhentilah membenci dunia. Berhentilah menyakiti orang lain. Maafkanlah dirimu sendiri dan kembalilah menjadi gadis yang baik hati. Katakanlah itu dengan sisa kekuatanku yang perlahan habis lalu tubuhku perlahan terkulai jatuh ke tanah yang basah dan dingin.

Di saat yang sama terdengar suara teriakan namaku dari arah pintu belakang rumah. Kakak Arka Kakak Dika dan Kakak Rizky berlari mendekat dengan wajah yang penuh ketakutan dan keputusasaan. Mereka melihatku terbaring berlumuran darah di tanah sementara Vanessa berdiri kaku terpaku di tempatnya dengan tangan yang gemetar menutup mulutnya menahan teriakan yang tak kunjung keluar. Kakak Arka segera memeluk tubuhku yang perlahan menjadi dingin. Ia memanggil namaku berulang kali dengan suara yang bergetar penuh air mata dan keputusasaan. Ibu datang berlari di belakang mereka jatuh berlutut di samping tubuhku yang terbaring lemah menangis sejadi jadinya sambil memeluk kepalaku di pangkuannya.

Aku berusaha tersenyum kepada mereka satu per satu meskipun penglihatanku mulai kabur dan napasku perlahan terasa semakin berat. Aku merasakan tangan hangat Ibu mengusap wajahku dan mendengar suara isak tangis ketiga kakakku yang memohon agar aku tetap membuka mata dan tidak pergi meninggalkan mereka. Aku ingin berkata kepada mereka janganlah kalian bersedih. Aku pergi dengan hati yang tenang. Aku sudah memaafkan semua orang. Janganlah kalian menyimpan dendam kepada siapa pun. Hidup bahagialah dan saling menjaga satu sama lain. Namun kata kata itu tidak mampu terucap dari bibirku yang perlahan kehilangan kekuatannya. Tanganku yang lemah jatuh terkulai dari genggaman tangan Kakak Dika. Cahaya di mataku perlahan lenyap digantikan oleh kegelapan yang lembut dan damai.

Di samping sana Vanessa akhirnya runtuh jatuh berlutut ke tanah menangis sejadi jadinya sambil memukul mukul dadanya sendiri penuh penyesalan yang datang terlambat. Ia berteriak memanggil namaku memohon agar aku kembali membuka mata dan memarahinya kembali. Namun kali ini aku tidak lagi menjawab. Tubuhku terasa semakin ringan seolah olah ada sesuatu yang perlahan terlepas dari dalam diriku dan terbang naik meninggalkan tempat itu. Suara tangis dan keputusasaan keluargaku perlahan terdengar semakin jauh dan semakin samar. Kegelapan di hadapanku bukanlah gelap yang menakutkan melainkan cahaya yang lembut dan hangat yang seolah olah sedang membukakan pintu menuju tempat yang jauh lebih indah dan damai.

Aku merasa seolah olah melayang terbang melintasi ruang dan waktu meninggalkan segala rasa sakit kesedihan dan penyesalan yang selama ini membebani hatiku. Aku melihat bayang bayang wajah Ayah yang tersenyum lembut kepadaku dari kejauhan sambil mengulurkan tangannya seolah olah menyambutku pulang ke rumah yang sejati. Perlahan lahan segala rasa sakit lenyap sepenuhnya. Hanya tersisa kedamaian yang tak terlukiskan dan perasaan dicintai yang begitu hangat menyelimuti seluruh jiwaku.

Ketika kesadaran itu kembali perlahan lahan aku tidak lagi mendengar suara tangis atau rintik hujan. Yang kurasakan hanyalah kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhku dan aroma wangi bunga yang lembut tercium di udara. Aku perlahan membuka mataku. Cahaya lembut menyinari ruangan yang asing namun terasa begitu mewah dan hangat. Di samping tempat tidurku yang besar dan empuk itu duduk seorang pria yang tampak gagah dan berwibawa dengan wajah yang tegas namun matanya memancarkan kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Saat melihatku membuka mata ia segera bangkit mendekat dengan wajah yang penuh kelegaan dan kasih sayang yang tak terhingga. Ia meraih tanganku yang terasa segar kembali dan hangat lalu mengecupnya lembut sambil berkata dengan suara yang dalam dan penuh kehangatan putriku sayang. Kau akhirnya bangun. Ayah sangat khawatir padamu.

Aku menatap wajahnya yang tampak asing namun entah mengapa terasa begitu dekat dan dicintai. Di luar jendela yang besar itu terlihat langit yang biru bersih dan cerah tanpa awan mendung sedikit pun. Aku menyentuh dadaku yang dulu tertusuk pisau itu. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada bekas luka. Hanya kulit yang halus dan tubuh yang segar bugar. Saat itulah aku menyadari sepenuhnya. Maya yang dulu telah pergi bersama hujan dan kesedihan malam itu. Dan kini aku terbangun kembali di dunia yang berbeda. Di tempat di mana tidak ada lagi kebohongan tidak ada lagi pengkhianatan dan tidak ada lagi yang akan menyakitiku. Di sini aku adalah putri satu satunya dari seorang pria yang tampak paling berkuasa dan paling ditakuti di tempat ini namun yang justru menyayangiku lebih dari apa pun di dunia ini.

Air mata menetes perlahan dari mataku bukan karena kesedihan melainkan karena kelegaan yang mendalam. Perjuanganku di dunia yang lama telah berakhir. Penderitaanku telah selesai. Dan kehidupan baruku yang penuh kasih sayang dan kekuatan baru saja dimulai. Aku menatap pria itu yang menatapku dengan penuh cinta dan kecemasan lalu perlahan aku tersenyum dan menggenggam tangannya erat. Halo Ayah. Ucapku pelan namun penuh ketulusan. Dan di sanalah di ambang pintu kehidupan yang baru aku tahu bahwa penderitaan yang lama itu ternyata hanyalah gerbang menuju kebahagiaan yang sejati dan abadi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!