Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Melarikan diri
Pagi hari tiba, di dalam mobil, Clare dan Jhon masih tertidur, tangan Jhon melingkar di kepala Clare.
Matahari naik, cahayanya mengenai mata Clare. Clare membuka mata pelan, menggeseknya, halus, melihat ke sekeliling. Clare duduk tegak, ia terkejut saat melirik ke pria di sampingnya yang tertidur tanpa mengenakan pakaian, lalu ia melirik dirinya yang juga tanpa pakaian.
"Kok– kok, bisa aku!..." Ujarnya, diam sejenak, membayangkan waktu ia mencium seorang pria saat mabuk.
"Gawat!! Aku tidur dengan pria yang tak ku kenal!!" Clare memakai pakaiannya, ia meraih tas, lalu mengambil sejumlah uang, ia meletakan uang itu di dada Jhon. "Ini pertemuan kita yang pertama dan terakhir" ujarnya berbisik. Clare keluar membawa tas dan sepatunya, mengendap.
Di jalan Clare meraih tas untuk mengambil ponselnya, ia mencari satu nama.
Nit... Nit... Nit... Telepon berdering sebelum terangkat.
"Ya, siapa?" Ujar Nana, suaranya serak.
"Siapa pria itu, Nana!!" Teriak Clare. "Apa dia gigolo yang kamu pesan? tapi gigolo sekarang kok menaiki mobil Rolls Royce, apa mereka begitu kaya?" Ujarnya, ia berdiri di pinggir jalan menunggu taxi, suara mobil dan motor keras berlalu lalang.
Di seberang terdengar suara ranjang dan suara Nana yang terkejut. "Ha-hah apa? siapa kamu?"
"Jangan berpura-pura bodoh, siapa dia Nana?!!"
Taxi Clare datang. "Mbak Clare ya?" Ujar pak supir. Clare mengangguk, lalu ia melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Bump!
"Cepat, beritahu aku!" Mobil berjalan perlahan, lalu melaju kencang.
"Ouh kamu Clare... By the way, bagaimana pria tampan tadi malam, apakah dia hebat di ranjang?" Tanya Nana, suaranya begitu keras, hingga supir melirik Clare, tersenyum kecil.
Clare membuang muka ke arah jendela, malu. "Bicaranya bisa nggak tidak usah begitu keras!" Ujar Clare berbisik.
"Oh, oke. Jadi gimana" tanya Nana lagi tapi pelan.
"Apa yang harus di bahas sekarang hanya itu?! Aku bertanya dari tadi dia siapa, apa dia gigolo?" Ujar Clare geram.
"Ouh... Aku tidak tau dia siapa, dia hanya pria yang ku temui sembarangan, semalam kunci mobilku tertinggal di dalam bar jadi tidak bisa membuka mobilnya, aku kan tidak mungkin membawamu masuk lagi, kamu sangat berat Clare, kebetulan pria itu ada di sebelah mobilku, jadi aku titipkan kamu padanya." Jawabnya polos.
"Jadi dia bukan gigolo yang kamu pesan untukku!?" Clare menghela napas berat, emosinya mendalam.
"Bukan, dia sepertinya pria kaya. Dengan tampangnya yang seperti itu, orang bodoh mana yang akan berpikir bahwa dia gigolo." Jawab Nana.
"Nana!!!! Kamu membiarkan aku tidur dengan orang asing, apa kamu bodoh. Gimana kalau dia orang tidak benar"
"Ouh sayangku, maafkanlah temanmu ini. Aku juga tidak tau harus melakukan apa, semalam aku hanya berpikir kamu bisa bersenang-senang dan melupakan si Hans pria bajingan itu." Jawab Nana, suaranya memelas. "Sepertinya dia pria baik baik, kamu bisa mempertimbangkannya, dia melakukan hal itu juga karena kamu yang memulai, kan?"
Clare diam beberapa detik, ia merasa bahwa memang dia yang memulai.
"Ya, memang benar aku yang menciumnya duluan, tapi kan..."
"Stop!" Potong Nana. "Dia laki-laki, dia pasti mempunyai keinginan seperti itu, dan terlebih lagi itu kamu yang memulai, dan harus kamu juga yang mengakhiri."
"Tapi kamu sehar—" jawab Clare, Nana langsung mematikan teleponnya sepihak.
"NANA!!!" teriak Clare geram.
"Mbak mohon maaf, anda mengejutkan saya" Ujar supir.
"Maaf pak." Jawab Clare, malu.
****
Sementara dengan Jhon, ia berada di dalam mobil yang sudah berjalan, pakainya rapi, tangannya memegang sejumlah uang yang ia lihat setelah terbangun.
"Selidiki wanita yang bersama saya semalam." Jhon tersenyum tipis, matanya terus menatap uang itu.
*Gawat, sepertinya tuan jatuh hati kepada gadis semalam, malam itu pertama kali bagi tuan dan ia langsung jatuh cinta, saya harus mengabari nenek secepatnya* ujar supir dalam hatinya, ia cengengesan tak jelas.
"Apa yang kamu tertawakan?" Ujar Jhon, suaranya datar. "Kamu dengar tidak saya menyuruh kamu apa!" Lanjutnya.
Bima berhenti tersenyum, ia melirik wajah Jhon yang seram. "Siap! Saya mendengar tuan. Saya akan menyelidiki nyonya." Jawabnya tegas.
"Siapa yang kamu panggil nyonya itu?" Ujar Jhon, dingin.
"Siap salah." *Tetep aja gengsi, kamu suruh saya buat selidiki itu karena apa? Pasti karena ketertarikan*
________________________________
Dis sisi lain, Clare sudah sampai di rumahnya, ia membuka pintu kasar, melihat di ruang tamu ramai dengan tatapan tatapan tajam. Ia tak memedulikannya, Clare melewati sekumpulan orang itu.
"Tunggu!" Ujar Hans, ia berdiri, langkah Clare berhenti.
"Baru pulang yah! Siapa kamu seenaknya malas malasan tanpa kerja di rumsh ini, atau kamu cuma mau numpang dan nggak mau kerja!" Ujar Hans,
Clare menarik napas panjang, menahan emosi, lalu ia melangkah lagi.
"Heh, perempuan jalang. Kamu nggak denger Kaka saya sedang berbicara sama kamu!" Ujar Lena sinis, ia melangkah ke arah Clare, berjalan mengelilinginya. "Merasa masih menjadi ratu di rumah ini, iya?" Lena memegang rahang Clare, ia menegakkannya. "Liat kak, di leher wanita ini ada tanda merah, dia selingkuh dari Kaka."
Hans mendekat, alisnya mengerut, ia menceki* leher Clare, erat. "Beraninya kamu selingkuh di belakangku, siapa laki-laki itu!?"
Clare memegang tangan Hans yang menceki*nya, berusaha untuk melepaskan. Lena dan Bianca saling lirik, tersenyum puas.
"Lepas!" Ujar Clare kesakitan.
"Lepas! Sakit!" Hans melepaskannya. Clare langsung lari ke dapur, suaranya terdengar seperti sedang muntah.
"Liat kak! Dia sampe hamil, cerai aja kak, lagipula semua hartanya sudah di tangan kaka" ujar Lena.
"Jangan dulu, kita harus buat dia sengsara di rumah ini!" Jawab Hans, nadanya kejam.
"Mbok!" Panggil Clare, ia melirik ke dapur, namun mbok Lastri tidak ada di sana.
"Mbok Lastri!" Clare melangkah ke arah kamar mbok Lastri, melihatnya, namun mbok Lastri tak terlihat." Ia mengelilingi rumah, berteriak memanggil mbok Lastri, namun dimanapun tak dia temui.
"Mbok, mbok dimana?" Mereka yang mendengar dan melihat Clare seperti itu hanya tertawa kecil.
"Mbok?" Panggil Clare terus menerus.
Hans dan seluruh orang di rumah itu tertawa besar melihat Clare yang menyedihkan, seperti kucing mencari ibunya.
"Percuma sekeras apapun kamu berteriak, mbok Lastri tidak akan muncul. Dia sudah ku pecat!" Ujar Hans.
Clare yang mendengar itu terkejut, ia menghampiri Hans di ruang tamu dengan wajah yang sangat marah dan kesal.
"Ulangi sekali lagi, kamu berbicara apa?" Ujar Clare, matanya berkaca-kaca.
Hans berdiri, dia mendekat kan wajahnya ke wajah Clare. "Mbok Lastri kesayanganmu itu sudah aku pecat tadi malam!!" Teriak Hans di wajah Clare, lalu mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Clare meneteskan air mata, mendengar orang yang sudah membesarkannya pergi tanpa ia tahu.
"Atas dasar apa kalian memecat mbok Lastri!!" Teriak Clare.
Lena berdiri sejajar dengan Hans. "Jangan salahkan kami itu semua ulah mu sendiri kaka ipar, siapa yang menyuruh kamu pergi diam-diam tadi malam!" Ujar Lena.
Clare melirik mereka satu persatu dengan wajah yang penuh air mata.
Plak! Plak! "Jahat kalian..."
Clare menampar Hans dan Lena. Lalu ia lari menaiki tangga. Hans mengejarnya.
"Berhenti!"
Clare berlari hingga sampai di kamarnya, ia menutup pintu itu cepat, menguncinya hingga rapat. Ia menyenderkan badan di pintu, menangis tersedu-sedu.