Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang sulit Di Jelaskan

Bab 31

Pagi itu, matahari kembali bersinar cerah setelah hujan semalam. Genangan air di halaman kampus masih terlihat di beberapa sudut, memantulkan cahaya yang menyilaukan.

Sudah hampir seminggu berlalu sejak Kai mengantar Maureen ke rumah sakit. Sejak saat itu, kehidupan di kampus tetap berjalan seperti biasa. Tugas kuliah, presentasi, dan rutinitas sehari-hari membuat semua orang kembali sibuk.

Namun, bagi Karin, ada satu hal yang diam-diam berubah. Ia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Kai hanya membantu seseorang yang sedang kesulitan. Kai memang seperti itu. Kalau ada orang yang membutuhkan pertolongan, ia pasti akan membantu tanpa banyak bertanya.

Meski sudah hampir seminggu berlalu, setiap kali melihat Maureen berbicara akrab dengan Kai, bayangan hari itu kembali terlintas di benaknya. Perasaan aneh yang muncul saat melihat mereka bersama ternyata belum benar-benar menghilang.

"Aneh..." gumam Karin lirih.

"Apa yang aneh?"

Suara itu membuat Karin tersentak.

Kai berdiri beberapa langkah di depannya sambil membawa dua gelas kopi hangat.

"Pagi."

"P-pagi."

Kai mengulurkan salah satu gelas.

"Masih belum sarapan?"

Karin menerimanya.

"Belum."

"Kebiasaan."

Nada suara Kai terdengar datar seperti biasa, tetapi justru itu yang membuat Karin tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Kai beberapa kali melirik Karin.

"Kamu kurang tidur?"

Karin menoleh.

"Kelihatan?"

"Sedikit."

Karin tersenyum tipis.

"Mungkin lagi banyak pikiran."

Kai mengangguk pelan.

"Kalau ada yang bisa kubantu... bilang."

Kalimat sederhana itu kembali membuat hati Karin menghangat.

"Iya."

-

-

-

Jam kuliah berlangsung hingga menjelang siang. Saat dosen keluar kelas, Nia langsung menarik lengan Karin.

"Ke kantin, yuk."

"Boleh."

Mereka berjalan berdua karena Kai dipanggil dosen untuk membahas laporan observasi. Begitu duduk di kantin, Nia memperhatikan Karin cukup lama.

"Karin."

"Hm?"

"Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

Karin tertawa kecil.

"Kok langsung dibilang bohong?"

"Soalnya kamu dari tadi sering melamun."

Karin terdiam.

Nia menyandarkan dagunya di atas telapak tangan.

"Ada hubungannya sama Kai?"

Seketika Karin tersedak minum.

"B-bukan!"

"Yakin?"

"Iya."

Nia menyipitkan mata.

"Kalau bukan, kenapa mukamu merah?"

"Itu karena tadi kesedak."

Nia terkekeh.

"Aku belum nanya apa-apa, lho."

Karin langsung memalingkan wajah.

Nia tersenyum kecil. Ia memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebagai sahabat, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Di tempat lain...

Kai baru keluar dari ruang dosen ketika melihat Maureen berdiri di koridor.

"Hai."

"Halo."

Maureen tersenyum.

"Laporan administrasi kalian sudah selesai."

"Terima kasih."

Ia menyerahkan map kepada Kai.

"Maaf ya... gara-gara aku waktu itu kamu jadi telat kerja."

"Nggak apa-apa."

"Aku benar-benar ngerepotin."

Kai menggeleng pelan.

"Yang penting nenekmu baik-baik saja."

Ucapan itu membuat Maureen tersenyum semakin lebar.

"Aku senang waktu itu yang datang justru kamu."

Kai tidak menanggapi kalimat itu. Ia hanya mengangguk singkat. Baginya, pembicaraan itu sudah selesai. Namun bagi Maureen, setiap perhatian kecil dari Kai terasa semakin berarti. Ia mulai berharap bisa menjadi orang yang paling dekat dengan pria itu.

Tak jauh dari sana, tanpa sengaja Karin melihat mereka. Langkahnya melambat.

Kai menerima map dari Maureen. Mereka berbicara beberapa saat. Lalu Maureen tersenyum lebar sebelum pergi.

Karin kembali berjalan. Namun kali ini langkahnya terasa lebih berat.

"Kenapa setiap lihat mereka ngobrol... rasanya aneh?"

Ia berusaha mengusir pikiran itu.

Bukankah Kai bebas berbicara dengan siapa saja?

Lagipula, sejak awal hubungan mereka hanyalah sebuah kesepakatan. Tidak ada alasan baginya untuk merasa terganggu. Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya, semakin jelas pula perasaan yang sulit ia pahami itu.

Sore harinya...

Kelompok mereka kembali berkumpul untuk membahas revisi presentasi.

Raka datang paling akhir sambil membawa kantong gorengan.

"Maaf telat."

Nia menghela napas.

"Kamu habis perang?"

"Nggak."

"Terus?"

"Milih gorengan."

Nia memijat pelipis.

"Kamu luar biasa."

Raka tersenyum bangga.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

Kai yang sedang membuka laptop tersenyum tipis.

Melihat itu, Raka langsung menunjuk sahabatnya.

"Nah! Dia senyum lagi!"

Kai kembali memasang wajah datar.

"Nggak."

"Kamu sekarang sering senyum."

Kai tidak menjawab. Namun tanpa sadar, pandangannya justru mengarah kepada Karin.

Hari itu, Karin terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Menjelang pulang...

Raka dan Nia berjalan lebih dulu. Kai dan Karin menyusul dari belakang.

"Kamu benar-benar nggak apa-apa?" tanya Kai pelan.

Karin menoleh.

"Kenapa nanya begitu?"

"Kamu dari tadi diam."

Karin memaksakan senyum.

"Cuma capek."

Kai tidak langsung percaya. Namun ia juga tidak memaksa. Kalau Karin belum ingin bercerita, ia akan menunggu sampai Karin siap.

"Itu..."

Kai menghentikan langkah.

"Hm?"

"Kalau memang capek...jangan dipaksakan."

Kalimat sederhana itu membuat Karin tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu.

"Iya."

Malam hari...

Di kamar, Karin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Ponselnya berada di samping bantal.

Tak lama kemudian muncul sebuah pesan. Dari Kai.

Sudah sampai rumah

Tanpa sadar Karin langsung tersenyum.

Sudah.

Beberapa detik kemudian balasan datang.

Istirahat yang cukup.

Karin menatap layar ponselnya cukup lama. Belakangan ini, perhatian kecil seperti itu selalu berhasil membuat harinya terasa lebih hangat.

Lalu tanpa sadar ia berbisik pelan,

"...kalau perhatian terus begini, gimana aku nggak salah paham?"

Ucapan itu membuat dirinya sendiri membeku.

 Ia buru-buru menutup wajah dengan bantal. Jantungnya berdetak semakin cepat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya mengapa dirinya merasa tidak nyaman saat melihat Maureen mendekati Kai.

Karena jauh di dalam hati, ia mulai mengetahui jawabannya. Namun ia hanya belum berani mengakuinya.

Di sisi lain kota...

Maureen duduk di balkon kamar sambil memandangi langit malam.

Ponselnya menampilkan percakapan singkat dengan Kai siang tadi. Balasannya tetap singkat. Tetap datar.

Namun entah mengapa, ia justru semakin ingin mengenal pria itu. Ia menggenggam ponselnya erat.

"Aku nggak akan menyerah..."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kini, tujuannya bukan lagi membantu Gio. Ia benar-benar menginginkan Kai. Dan Maureen memutuskan, bahwa ia akan berjuang mendapatkan pria yang telah mengisi pikirannya, meski itu berarti harus menjadi lawan bagi Karin.

-

-

-

Bersambung...

1
happy mom's
Alurnya lambat, unfavorit
happy mom's
Terlalu mbulet 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!