Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Jangan Sampai Menyesal

Ratih ragu sejenak. "...kalian masih sering berkomunikasi?"

Levia terdiam sebentar, kemudian ia menggeleng. "Gak, Bu."

Ratih langsung mengernyit. "Gak pernah?"

Levia seperti mengingat-ingat. "Seingatku, gak pernah."

"Dia gak pernah menghubungi kamu?" Ratih mulai terlihat kesal. "Sama sekali?"

Levia menggeleng lagi."Enggak, Bu."

Ratih menggenggam erat kemeja di pangkuannya. "Telepon, atau pesan juga gak?"

"Gak pernah, Bu," jawab Levia jujur.

Ratih menarik napas panjang.

Levia memerhatikan ekspresi ibu mertuanya. "Ibu marah?"

"Marah." Ratih menjawab tanpa ragu. "Marah banget."

Levia malah tertawa kecil. "Kenapa malah Ibu yang marah?"

"Karena Vandra." Ratih meletakkan kemeja di meja. "Dia memang sedang menjalankan tugas. Ibu tahu itu. Ibu juga tahu tugasnya di sana berat. Tapi apa susahnya ngirim satu pesan? Gak bikin jempol patah 'kan?"

Levia tersenyum tipis. "Mungkin dia sibuk, Bu."

"Sesibuk apapun gak wajar kalau selama tujuh bulan gak pernah nanya kabarmu?" ucap Ratih geram.

Levia memandang ibu mertuanya penuh rasa haru. Wanita paruh baya itu tak pernah pilih kasih padanya dan Vandra. Beliau selalu memperlakukannya seperti putrinya sendiri.

Ratih semakin kesal. "Dulu kamu yang terus menghubunginya, dia yang mengabaikan. Sekarang kamu berhenti ngejar, dia malah gak nyari tahu keadaanmu sama sekal. Suami macam apa itu."

Andai saja putranya ada di dekatnya saat ini mungkin Ratih sudah memukulnya.

Levia menundukkan pandangan. "Ibu gak perlu marah. Aku juga gak nunggu pesan dari dia kok."

"Ibu tahu." Ratih berusaha meredam kekesalannya. "Tapi meski gimana kamu masih istrinya Vandra."

"Aku gak masalah, Bu. Lagian aku sekarang punya banyak hal yang harus dikerjain." Levia sama sekali tidak kesal, merajuk, apalagi marah seperti dulu.

Ratih mengangguk, ia tahu kesibukan Levia akhir-akhir ini.

"Perusahaanku masih kecil. Aku harus mengurus desain, produksi, pemasaran..." Levia tersenyum. "Belum lagi latihan."

"Jadi kamu benar-benar gak mikirin Vandra?"

Levia diam sejenak. "Kadang teringat," jawabnya jujur. "Tapi bukan berarti aku harus terus ngejer dia."

Ratih memandang menantunya dengan sorot mata lembut. "Bagus."

Levia langsung menoleh. "Bagus?"

"Iya. Ibu justru senang melihat kamu seperti sekarang." Ratih menggenggam tangan Levia. "Dulu Ibu sering kasihan melihatmu. Kamu terlalu mencintai seseorang sampai lupa mencintai dirimu sendiri."

Levia tersenyum kecil. "Sepertinya sekarang aku baru mengerti."

Ratih mengusap punggung tangan Levia. "Dan soal Vandra..." Ratih menghela napas. "Kalau dia benar-benar masih ingin mempertahankan pernikahan kalian, dia juga harus menunjukkan usahanya."

Levia tidak menjawab. Jujur ia tak punya perasaan apapun pada pria itu. Karena dirinya yang sekarang bukan Levia yang dulu.

Ratih kemudian melirik kemeja yang dibuat Levia. "Tapi kamu masih membuatkan pakaian untuknya."

Levia ikut melihat kemeja itu, lalu sudut bibirnya terangkat. "Aku seorang desainer, Bu. Masa aku gak boleh ngasih hasil desainku sama orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupku?"

Jawaban itu membuat Ratih semakin memahami bahwa Levia memang sudah berubah.

Dulu, setiap pemberian untuk Vandra pasti disertai harapan agar pria itu mencintainya. Sekarang, Levia memberikannya tanpa menuntut apa pun.

Ratih tersenyum. "Kalau begitu, simpan saja. Nanti ketika Vandra pulang, berikan sendiri."

Levia mengangguk. "Kalau dia mau menerimanya."

Ratih menatapnya. "Ibu rasa dia akan menerimanya."

Levia tertawa kecil. "Ibu yakin banget."

Ratih hanya tersenyum. Dalam hati, ia teringat percakapan terakhir dengan putranya beberapa waktu lalu.

Vandra yang awalnya berpura-pura tidak ingin membicarakan Levia, pada akhirnya justru bertanya sendiri tentang keadaan istrinya.

Dan sekarang, Ratih semakin yakin, putranya mungkin belum menyadari apa yang sedang terjadi pada hatinya sendiri.

Yang membuat Ratih penasaran hanya satu: ketika Vandra pulang nanti, apakah dia masih akan meminta perceraian, atau justru menjadi orang yang paling takut kehilangan Levia?

***

Sore harinya, ponsel Ratih di atas meja berdering. Nama Vandra muncul di layar.

Ratih segera mengangkatnya. "Halo, Van."

"Halo, Bu," sahut Vandra dari seberang telepon.

"Kamu belum tidur?" tanya Ratih yang tahu di Lebanon saat ini pasti sudah malam.

"Belum, Bu," jawab Vandra. "Sebentar lagi. Ibu gimana kabarnya?"

Bibir Ratih melengkung. "Ibu baik-baik aja. Gimana keadaanmu?"

"Baik."

Mereka berbicara sebentar tentang pekerjaan Vandra di Lebanon. Namun tidak lama kemudian, Ratih menyadari putranya kembali seperti biasanya. Ada sesuatu yang ingin ditanyakan, tetapi ia terus menahannya. Ratih sengaja menunggu.

Akhirnya Vandra sendiri yang membuka pembicaraan. "Bu..."

"Hm?"

"Levia..." suaranya terjeda sesaat. "apa masih sering datang?"

Ratih mengulum senyum. "Kenapa?"

"Dia memang datang?" tebak Vandra.

"Iya." Ratih sengaja menjawab singkat agar putranya penasaran.

Vandra terdiam sejenak. "Ngapain?"

Ratih menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu menjawab dengan nada santai. "Menjenguk Ibu."

"Oh." Hanya satu kata itu yang dikatakan Vandra.

Ratih hampir tertawa mendengar jawaban singkat itu. "Dia juga bawain sesuatu."

"Apa?" tanya Vandra mencoba terdengar biasa.

"Baju." Ratih mengingat blouse dan kemeja yang dibawa Levia tadi. "Dia sendiri yang mendesain. Satu untuk Ibu, satu lagi buat kamu."

"Buat aku?" ulang Vandra. Dulu ia mengabaikan semua pemberian Levia. Tapi sekarang... Entah mengapa mendengar Levia memberinya baju, hatinya menghangat.

"Iya," sahut Ratih. "Katanya itu hasil desainnya sendiri."

Vandra mengusap tengkuknya. "Dia sekarang masih sibuk dengan perusahaan itu?"

"Masih." Sesaat kemudian mata Ratih berbinar mengingat menantunya sekarang. "Dia banyak berubah, Van."

"Aku tahu." Pembicaraan rekan-rekannya tentang Levia kemarin kembali terlintas di benak Vandra.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Ratih.

Vandra terdiam. Ratih langsung tahu jawabannya. "Jadi kamu masih memerhatikan dia?"

"Bukan begitu," kelit Vandra.

"Kalau bukan begitu, kenapa kamu nanya dan juga tahu tentang dia?" cecar Ratih.

Vandra tidak menjawab.

Ratih akhirnya menghela napas. "Van, Ibu mau bicara serius."

Nada suara Ratih membuat Vandra diam.

"Tadi ibu nanya Levia soal hubungan kalian. Dia bilang selama kamu di Lebanon, kamu sama sekali gak pernah menghubunginya."

Vandra memijat pelipisnya. Kali ini ia benar-benar tak bisa berkelit lagi.

"Ibu tahu kamu sibuk. Ibu tahu tugasmu berat. Tapi..." suara Ratih mulai terdengar lebih tegas, "kalian masih suami istri."

Vandra menunduk.

"Satu pesan saja untuk menanyakan kabarnya. Apa itu terlalu sulit?" Ratih menahan kesal.

"Bu, aku—"

"Ibu gak nyuruh kamu mencintainya karena kasihan." Potong Ratih cepat. "Ibu juga gak nyuruh kamu membatalkan keputusanmu sekarang. Tapi kalau kalian masih terikat pernikahan, setidaknya tunjukkan sedikit perhatian sebagai suami."

Vandra menggenggam ponselnya lebih erat.

Ratih melanjutkan, "Dan ada satu hal yang ingin Ibu ingatkan."

"Apa?" tanya Vandra.

"Jangan sampai menyesal setelah perceraian itu benar-benar terjadi."

Vandra mengerutkan kening. "Kenapa Ibu bilang begitu?"

Ratih menghela napas. "Karena Levia sekarang bukan Levia yang dulu. Dia sudah berubah. Bukan cuma soal berat badannya."

Ratih teringat bagaimana Levia tadi berbicara tentang perusahaannya, bagaimana ia membawa pakaian hasil desain sendiri, dan bagaimana wanita itu sekarang menjalani hidup tanpa terus mencari perhatian Vandra.

"Dia punya tujuan," ujar Ratih "Dia punya pekerjaan yang dia cintai. Dia juga semakin mandiri."

"Bu..."

"Dengar dulu." Nada Ratih kali ini benar-benar tegas.

 

...✨“Ketika seseorang berhenti mengejar, bukan berarti ia sudah tidak peduli. Bisa jadi ia hanya sudah belajar bahwa hidupnya tetap harus berjalan, bahkan ketika orang yang dicintainya memilih untuk tidak berjalan bersamanya.”✨...

.

To be continued

1
Anitha
nah rasain sekarang masalahnya jadi tambah besar gara² bukti pertama tidak cukup jadi terpaksa Vandra memberikan bukti lain yang menyangkut nama Pramono srorang Jendral yang menekan bawahannya,good Vandra semoga dengan bukti terakhir itu kalian bisa lolos dan menang dalam sidangnya...

si Jendral dan anaknya di Penjara karena kelakuannya sendiri🤣
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
anonim: Sama-sama Author 🙏🙏🙏👍👍/Heart/
total 2 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!