Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah

Malam itu, di dalam sebuah gua sempit di pinggiran Kota Tebing Tengkorak, Lin Tian mengenakan jubah merah darah milik Sekte Bulan Darah. Kain jubah itu ditenun dari sutra ulat darah, memancarkan aroma amis yang samar namun cukup untuk menipu indra spiritual kultivator biasa.

Ia menempelkan topeng kulit ular iblis ke wajahnya. Kali ini, ia tidak mengubahnya menjadi wajah yang biasa-biasa saja, melainkan meniru struktur tulang wajah dari kepala pria yang ia penggal di kedai tadi. Wajahnya kini tampak pucat, dengan mata yang cekung dan tatapan kejam, persis seperti seorang Pengawas Sekte Bulan Darah yang arogan. Aura lautan qi cair hitam keemasannya ia putar balik, memancarkan gelombang darah yang tiranik dan sesat.

Di tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah token besi berbentuk bulan sabit, sementara di tangan kirinya terdapat sebuah kendi giok yang berisi Mutiara Darah Jiwa.

Mutiara ini bukanlah barang sembarangan. Sebelum membunuh Pengawas itu, Lin Tian telah menggunakan Segel Dewa Penelan Langit untuk menyedot dan memadatkan sisa-sisa darah dan jiwa dari mayat-mayat di sekitar kedai, membentuk satu mutiara merah pekat yang memancarkan aura kebencian murni. Di Sekte Bulan Darah, kualitas darah jauh lebih dihargai daripada kuantitas nyawa fana yang murah.

Keesokan harinya, saat matahari berada tepat di atas kepala, Lin Tian tiba di mulut Lembah Kabut Merah.

Pemandangan di depannya seolah pintu masuk ke neraka. Kabut merah tebal menyelimuti seluruh lembah, memblokir pandangan dan indra spiritual. Di dalam kabut itu terdapat duri-duri qi pembunuh yang tak kasat mata; siapa pun yang melangkah masuk tanpa token khusus akan langsung tercabik-cabik menjadi daging cincang.

Di gerbang masuk yang dijaga oleh dua patung iblis berkepala anjing, berdiri tiga kultivator berjubah merah dengan aura Pengumpulan Qi Puncak. Mereka adalah penjaga Altar Luar.

"Berhenti!" bentak salah satu penjaga, menghunus tombak bertatahkan tulang. "Lembah Kabut Merah ditutup untuk Festival Panen Darah. Tunjukkan token dan bawaanmu!"

Lin Tian melemparkan token bulan sabit itu dengan santai. Token itu melayang di udara, memancarkan cahaya merah yang langsung diresap oleh kabut, membuka celah sementara.

"Pengawas Xue?" Penjaga itu menangkap token, lalu menatap Lin Tian dengan dahi berkerut. "Bukankah tugasmu adalah membawa seratus budak darah dari wilayah Tebing Tengkorak? Mengapa kau datang sendirian tanpa membawa satu pun daging hidup?"

Dua penjaga lainnya langsung siaga, tombak mereka diarahkan ke dada Lin Tian. Di Sekte Bulan Darah, kegagalan membawa upeti berarti hukuman mati dengan cara dikuliti hidup-hidup untuk dijadikan lilin darah.

Lin Tian mendengus dingin, suaranya terdengar serak dan penuh dengan kebencian yang dibuat-buat. "Seratus budak darah fana? Apakah otak kalian sudah dimakan oleh cacing mayat? Di tengah jalan, aku menemukan sarang kultivator iblis tingkat tinggi yang memberontak. Mereka mencoba melawan, jadi aku membantai mereka semua dan menyaring esensi darah mereka menjadi ini."

Lin Tian membuka tutup kendi gioknya.

Seketika, aroma darah yang sangat murni dan pekat meledak keluar, disertai dengan suara jeritan hantu yang menyayat jiwa. Cahaya merah dari Mutiara Darah Jiwa itu begitu terang hingga menembus kabut di sekitarnya, membuat ketiga penjaga itu langsung menelan ludah dengan mata terbelalak.

Energi di dalam mutiara itu setara dengan seratus budak darah, bahkan lebih murni karena telah disaring langsung oleh Segel Dewa Penelan Langit.

"I-ini... Darah Jiwa Murni!" Penjaga terdepan menurunkan tombaknya, suaranya kini bercampur antara ketakutan dan keserakahan. "Pengawas Xue, Anda... Anda benar-benar kejam. Tetua Agung pasti akan sangat senang dengan persembahan ini."

"Buka jalan," perintah Lin Tian dingin. "Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan anjing penjaga pintu seperti kalian."

Ketiga penjaga itu langsung membungkuk hormat, lalu memukul gong tulang di samping mereka. Kabut merah di depan perlahan terbelah, menampakkan sebuah jalan setapak yang menuruni tebing menuju pusat lembah.

Lin Tian melangkah masuk. Semakin dalam ia berjalan, semakin panas suhu di sekitarnya. Kabut merah itu ternyata bukan uap air, melainkan darah yang diuapkan dari tanah dan dibakar oleh formasi raksasa di bawahnya.

Di dasar lembah, Altar Luar Sekte Bulan Darah akhirnya terlihat.

Itu bukanlah bangunan biasa, melainkan sebuah piramida terbalik yang menjorok ke dalam tanah, dibangun dari ribuan tengkorak manusia dan batu obsidian yang dialiri darah cair. Di pusat piramida terdapat sebuah kolam darah raksasa yang mendidih, dan di atasnya berdiri sebuah patung iblis setinggi lima puluh meter dengan enam lengan dan wajah yang tertutup kain perban hitam.

Ratusan kultivator berjubah merah hilir mudik, membawa keranjang berisi organ dalam dan mayat yang dilemparkan ke dalam kolam darah sebagai makanan bagi patung raksasa tersebut. Suara mantra kuno yang dilantunkan oleh ribuan orang bergema dari kedalaman piramida, menciptakan getaran yang membuat tulang-tulang Lin Tian berdengung.

"Tuan Pengawas Xue!"

Seorang pria tua berjubah merah tua dengan kultivasi Pondasi Awal Puncak mendekati Lin Tian. Ia adalah pengurus logistik Altar Luar. "Anda datang lebih awal dari jadwal. Tetua Agung sedang melakukan ritual pembukaan segel di Ruang Bawah Tanah Ketiga. Beliau tidak bisa diganggu."

Lin Tian menatap pria tua itu, matanya menyipit di balik topeng. Ruang Bawah Tanah Ketiga. Itu pasti tempat di mana 'Leluhur Iblis' dikurung, dan di mana rahasia terbesar Sekte Bulan Darah disimpan.

"Aku tidak datang untuk menemui Tetua Agung," ucap Lin Tian, memasukkan kendi gioknya kembali ke cincin spasial. "Aku datang untuk mengirimkan 'kunci' yang dibawa oleh Tetua Xue Tu dari Ibu Kota."

Mendengar nama Xue Tu dan kata 'kunci', wajah pengurus tua itu langsung berubah drastis. Ia menatap Lin Tian dengan tatapan yang jauh lebih hormat, namun juga penuh dengan kecurigaan yang tersembunyi. "Lempengan Besi Karat itu? Tapi Tetua Xue Tu seharusnya kembali sendiri bersama pasukannya. Mengapa dia mengirim Anda?"

"Karena dia sudah mati," jawab Lin Tian datar.

Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti area di sekitar mereka. Beberapa kultivator di dekatnya berhenti bekerja, menoleh dengan tatapan tidak percaya.

"Mati?!" Pengurus tua itu mundur selangkah, aura Pondasi Awal Puncaknya meledak karena panik dan marah. "Kau berani berbohong tentang kematian seorang Tetua?! Xue Tu adalah ahli di ambang Inti Emas! Siapa yang bisa membunuhnya di Ibu Kota?! Penjaga! Tangkap penipu ini dan seret dia ke Kolam Penyiksaan!"

Puluhan kultivator Sekte Bulan Darah langsung mencabut senjata mereka, mengepung Lin Tian dari segala arah.

Lin Tian tidak panik. Ia justru tersenyum tipis di balik topengnya. Senyuman yang tidak bisa dilihat siapa pun, namun terasa oleh semua orang di sana.

"Dia mati karena kekacauannya sendiri. Dan aku..." Lin Tian mengangkat tangan kanannya, qi hitam keemasan yang kini berwujud cair mulai menetes dari ujung jarinya, jatuh ke tanah dan membuat batu obsidian mendesis serta meleleh seketika. "...datang untuk mengambil alih sisa-sisa kekayaannya."

Sebelum pengurus tua itu sempat bereaksi, Lin Tian melesat.

Kecepatannya melampaui batas penglihatan kultivator Pondasi Awal. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan pengurus tua itu. Tangan kirinya mencengkeram wajah pria tua tersebut, sementara tangan kanannya menebaskan pedang hijau bergeriginya dalam satu lengkungan horizontal.

Swaaasssh!

Gelombang pedang hitam keemasan menyapu area seluas tiga puluh meter. Puluhan kultivator Sekte Bulan Darah yang mengepungnya terbelah dua secara bersamaan, darah mereka menyembur ke udara namun tidak jatuh ke tanah, melainkan langsung tersedot oleh formasi di dinding altar.

Pengurus tua itu menjerit tertahan di dalam cengkeraman Lin Tian, qi cair yang korosif mulai melelehkan tulang tengkoraknya.

"B-bawa aku... ke Ruang Bawah Tanah Ketiga..." bisik Lin Tian di telinga pria tua yang sedang sekarat itu, matanya memancarkan kilatan iblis yang membuat jiwa pengurus itu runtuh sepenuhnya. "Sekarang."

1
Predi Siswanto
ha benar benar cerita busuk...ternyata bukan MC yg jadi pembantai tapi orang jahat itu
Restu Agung Nirwana: MC nya Lin Tian, udah lumayan bang. Baru buka meridian, baru bisa merasakan energi qi udah bantai 3 musuh lebih kuat dari dia. Membelah dada musuh dari bahu kiri hingga pinggang kanan, menginjak tangan musuh menghancurkan tulang-tulang jari hingga pipih, matahin lutut musuh, nancepin bilah hijau (pedang beracunnya) ke rahang bawah musuh langsung menembus otak
total 1 replies
Predi Siswanto
mati aja nggak usah di cerita kan lagi...pantas aja karya ini nggak laku
Restu Agung Nirwana: Baru bab 7 bang, masa mau di tamatin
total 1 replies
Predi Siswanto
ah belum sempat hidup sudah mati lagi apa cerita kayak gini
Restu Agung Nirwana: sabar...
total 1 replies
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!