Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25. Saling Membantu Tanpa Menarik Perhatian
Hari-hari perkuliahan kembali berjalan setelah liburan usai. Sekali lagi kami harus mengenakan topeng di depan orang banyak — ia sebagai dosen yang tegas dan berwibawa, aku sebagai mahasiswi yang rajin dan sopan. Namun ada satu hal yang berubah sejak kami kembali: di antara semua kesunyian dan kerahasiaan itu, kini tumbuh kebiasaan kecil yang menjadi jembatan hati kami — saling membantu, tanpa perlu menarik perhatian siapa pun.
Suatu siang, saat aku sedang sibuk menyusun tumpukan buku referensi yang begitu tebal di perpustakaan, tanganku sempat tergelincir. Buku-buku itu hampir jatuh berantakan ke lantai, namun sepasang tangan besar dengan sigap menahannya tepat waktu. Saat aku mendongak, Arga berdiri di sampingku, wajahnya tetap tenang seakan tak terjadi apa-apa. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia membantu menyusun kembali buku-buku itu dengan rapi, lalu berbisik pelan hanya untuk telingaku.
"Hati-hati, Lisna. Jangan sampai terluka," ucapnya begitu pelan, lalu berbalik pergi menuju rak buku yang lain seakan ia hanya kebetulan lewat dan membantu sesama pengguna perpustakaan. Tak ada yang menyadari sesuatu. Tak ada yang menoleh. Namun hatiku berdebar kencang, bukan karena kaget, melainkan karena rasa hangat yang tersisa di udara di mana tangannya sempat menyentuh bukuku.
Begitu pula sebaliknya. Saat ia sedang berdiri di depan kelas menjelaskan materi yang rumit, tiba-tiba pena di tangannya habis tinta. Ia sempat terdiam sejenak, mencari sesuatu di meja dosen namun tak menemukan apa pun. Sebelum mahasiswa lain menyadari hal itu, aku dengan tenang meletakkan sebuah pena di ujung meja di dekat tempatku duduk, lalu pura-pura membuka buku catatan seakan tak melakukan apa-apa. Saat ia berbalik, matanya menangkap pena itu. Ia mengambilnya dengan tenang, melanjutkan penjelasannya seakan memang itu penanya sendiri. Namun sekilas, matanya melirik ke arahku, berkedip pelan — sebuah ucapan terima kasih yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Kami saling membantu tanpa perlu berteriak, tanpa perlu pujian, dan tanpa perlu diketahui orang lain. Hal-hal kecil yang sering kali tak disadari oleh siapa pun, namun menjadi bukti bahwa kami selalu saling menjaga di dalam hati.
Suatu sore saat hujan turun deras lagi, aku melihatnya berjalan keluar dari gedung fakultas tanpa membawa payung. Ia tampak terburu-buru dan tak sempat kembali ke ruangannya. Dengan tenang aku berjalan mendekat ke tempat yang agak tersembunyi, lalu meletakkan sebuah payung lipat di bangku tempat ia biasa berdiri menunggu kendaraan, lalu berbalik pergi secepat mungkin. Saat ia sampai di sana dan melihat payung itu, ia menoleh ke sekeliling mencari siapa yang meletakkannya. Namun aku sudah berdiri di balik pilar, tersenyum kecil melihatnya mengambil payung itu dan membukanya. Ia tahu siapa yang melakukannya. Dan itu sudah cukup bagiku.
Begitu juga saat aku kesulitan memahami materi yang sangat sulit dan hampir menyerah mengerjakan tugasnya. Pagi harinya, saat aku membuka buku catatanku yang kemarin sempat tertinggal sebentar di meja kelas, aku menemukan catatan tambahan yang tertulis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas — milik Arga. Di sana, poin-poin sulit itu dijelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti, tanpa nama, tanpa tanda tangan, hanya ada di sudut halaman dengan tulisan kecil: Semoga membantu. Tetap semangat. Tak ada yang tahu. Tak ada yang melihat. Namun bagiku, itu lebih berharga daripada apa pun.
Hal-hal kecil seperti itu terjadi hampir setiap hari. Saat aku kelelahan dan hampir pingsan di jam olahraga, ia dengan alasan yang wajar menyuruhku beristirahat lebih awal — tanpa terlihat seperti memihak. Saat ia sedang sibuk menyusun jadwal dan terlihat lelah, aku diam-diam meletakkan sebotol air mineral di meja ruangannya saat ia sedang keluar sebentar. Semuanya dilakukan dengan tenang, diam-diam, dan tanpa ingin diketahui siapa pun.
Orang-orang di sekitar kami mungkin melihatnya sebagai kebetulan belaka. "Pak Arga memang dosen yang baik hati," begitu kata mereka. "Lisna memang orang yang rajin dan suka menolong," begitu juga pendapat yang lain. Tak ada yang mencium aroma aneh. Tak ada yang curiga. Karena kami melakukannya dengan cara yang begitu wajar, begitu sederhana, dan tanpa menarik perhatian.
Namun di dalam hati, kami berdua tahu bahwa itu bukan sekadar kebetulan atau kebaikan hati biasa. Itu adalah cara kami mencintai satu sama lain di tempat yang belum boleh kami tunjukkan. Itu adalah cara kami menjaga satu sama lain tanpa melanggar batas, tanpa membongkar rahasia, dan tanpa menimbulkan keraguan.
Sore itu, saat aku berjalan pulang, aku berpikir — mungkin cinta tak selalu harus teriak-teriak di depan orang banyak. Mungkin cinta juga bisa berupa hal-hal kecil yang dilakukan diam-diam, yang hanya diketahui oleh dua hati yang saling memiliki. Saling membantu tanpa menarik perhatian... ternyata itu adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling tulus dan paling menenangkan. Karena kami tahu, apa pun yang terjadi, kami selalu ada untuk satu sama lain — di dekat maupun di kejauhan, diketahui maupun tidak, selama hati kami tetap saling mengerti.
bersambung...