Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Jarak yang Dibuat
Dua bulan kemudian, Rayhan pulang untuk libur semester dan menemukan Laras selalu punya alasan pergi.
Pagi hari ia sibuk di bengkel. Siang harus mengantar onderdil. Malam membantu Pak Darto mencatat pesanan. Bahkan ketika Rayhan datang membawa martabak, Laras membagi piring untuk semua orang lalu duduk paling jauh.
"Dia menghindar, ya?" tanya Koh Kelvin melalui telepon.
"Iya."
"Tembak saja."
"Kalau ditembak sekarang, dia kabur."
"Maksud gue nyatakan perasaan, bukan pakai pistol. Seram banget jawaban lo."
Rayhan memutus telepon. Ia memilih menunggu, tetapi menunggu tidak berarti membiarkan Laras merasa aman dengan jarak.
Setiap kali Laras keluar bengkel, Rayhan sudah ada di warung. Saat Laras duduk bersama Pak Darto, ia ikut membawa buku. Ia tidak menyentuh atau membahas foto. Kehadirannya saja cukup membuat Laras gelisah.
Suatu siang, Laras sengaja menerima pekerjaan mengambil ban ke gudang yang bisa dikirim kurir. Ketika pulang, Rayhan sedang membantu Pak Darto membersihkan karburator.
"Sejak kapan lo ngerti itu?"
"Sejak kamu selalu pergi waktu aku datang."
Pak Darto melihat keduanya. "Kalau kalian mau bertengkar, jangan dekat bensin."
Laras masuk kantor tanpa menjawab. Dari balik kaca, ia melihat Rayhan bekerja dengan tiga jari Pak Darto yang masih kaku sebagai panduan. Mereka tampak seperti keluarga yang sudah lama terbentuk. Menjauh dari Rayhan ternyata juga berarti menjauh dari bagian rumahnya sendiri.
Malam itu ia mencoba duduk makan bersama. Rayhan tidak mendekat berlebihan. Ia hanya mendorong sambal ke arah Laras sebelum diminta, kebiasaan kecil yang membuat pertahanannya terasa konyol.
Galih pulang lebih awal dari Bandung dan mengadakan bakar-bakar di lahan samping rumah Bu Yayuk. Nadia datang dari Surabaya, Bima membawa arang, dan Rayhan mengajak Koh Kelvin.
Koh Kelvin tiba membawa daging marinasi dan mengucapkan salam kepada tuan rumah dengan sopan. Bu Yayuk sempat memakai sapaan yang keliru. Rayhan langsung membetulkan, "Koh Kelvin, Bu."
"Panggil Kelvin juga nggak apa-apa," kata Kelvin ramah. "Yang penting jangan panggil pas tagihan datang."
Ia cepat menyatu dengan Bima melalui perdebatan soal cara menyalakan arang. Nadia mengatur meja, sedangkan Laras memotong bawang. Galih beberapa kali menawarkan bantuan kepada Laras, tetapi Rayhan selalu lebih dulu memberikan pisau, piring, atau serbet yang dibutuhkan.
"Lo hafal semua gerakannya?" bisik Kelvin.
"Dari kecil."
"Seram. Romantis, tapi seram."
Rayhan menyuruhnya diam.
"Biar ramai," kata Galih.
Laras tahu maksud sebenarnya: Galih ingin menghabiskan waktu dengannya. Kesadaran itu tidak membuat jantungnya bergerak seperti ketika Rayhan mendekat. Justru perbandingan tersebut membuatnya makin kesal.
Nadia membawakan sebuah jepit rambut mutiara murah.
"Pakai."
"Rambut gue pendek."
"Bisa di samping. Sekali saja."
Laras akhirnya memasang jepit kecil itu di atas telinga. Bu Yayuk yang lewat membawa piring langsung berkomentar.
"Pakai jepit juga tetap tomboy. Nanti siapa yang berani melamar?"
"Yang berani, Bu," jawab Laras.
Koh Kelvin tertawa paling keras. Galih menahan senyum. Rayhan hanya memandangi jepit tersebut.
"Dari siapa?" tanyanya.
"Nadia."
"Bagus."
Nada datarnya membuat Laras curiga. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku ingat saja."
Galih membawakan piring sate untuk Laras dan duduk di sampingnya. Rayhan mengambil kursi lain, tetapi Laras segera berdiri dengan alasan mengambil minuman.
"Lo sekarang kalau dia dekat selalu kabur," kata Nadia yang menyusul.
"Panas."
"Kita lagi bakar-bakar. Semua tempat panas."
Laras mengeluarkan kretek dan berjalan ke sisi gelap. Ia baru menyalakan ketika Rayhan muncul.
"Jangan banyak merokok."
"Jangan banyak ngatur."
"Aku cuma bilang jangan banyak. Bukan jangan sama sekali."
"Tetap ngatur."
Rayhan berdiri dua langkah darinya. "Kalau aku jauh, kamu cari alasan buat nggak telepon. Kalau aku dekat, kamu pergi. Maunya apa?"
"Gue mau normal."
"Ini normal buat aku."
"Buat gue nggak."
Suara Galih memanggil Laras dari dekat panggangan. Laras mematikan rokok yang baru dua hisap.
"Gue balik."
Rayhan tidak menahan. "Silakan. Tapi jangan bilang kamu pergi karena asap."
Laras membencinya karena selalu melihat kebohongan kecil.
Di dekat panggangan, Galih sedang menerima telepon. Wajahnya yang tadi santai berubah tegang.
"Tiara, gue bilang jangan datang dulu."
Suara perempuan di seberang terdengar tajam meski tidak jelas. Galih menjauh, tetapi Laras sempat mendengar namanya disebut.
"Siapa Tiara?" tanya Bima.
"Anak atasannya di tempat magang," jawab salah satu teman Galih. "Naksir dia. Agak maksa."
Galih kembali beberapa menit kemudian. "Maaf. Ada urusan."
"Dia mau ke sini?" tanya Laras.
"Katanya besok naik kereta. Gue udah bilang nggak usah."
"Kalau sudah beli tiket?"
Galih mengusap wajah. "Itu masalahnya."
Rayhan mendengar dari belakang. Sorot matanya berpindah dari Galih ke Laras. Tiara mungkin mengejar Galih, tetapi kedatangannya bisa membuat Galih meminta bantuan Laras.
"Aku bisa jemput di stasiun," kata Laras, persis seperti dugaannya.
"Nggak usah," jawab Rayhan.
Semua orang menoleh.
"Dia tamunya Galih," lanjut Rayhan. "Biar Galih urus."
Nadia menyela sebelum situasi pecah. "Besok gue juga ikut. Jadi Laras nggak sendirian."
"Lo baru sampai Surabaya tadi pagi," kata Laras.
"Justru sekalian jalan. Gue penasaran sama Tiara."
Bima mengangkat tangan. "Gue antar."
"Nggak usah semua orang datang kayak rombongan penjemput haji," keluh Galih.
Koh Kelvin menggigit sate. "Saya nggak ikut. Tapi tolong video kalau ada yang jambak-jambakan."
"Nggak ada yang jambak siapa pun," kata Laras.
Rayhan tidak tertawa. Ia tahu Tiara datang karena Galih, bukan Laras. Namun kecemburuan jarang patuh pada logika. Yang ia lihat hanya Laras bersedia menghabiskan satu hari mengurus masalah Galih, sementara selama libur ini ia sendiri nyaris tidak diberi satu jam tanpa alasan bengkel.
Tangannya menekan gelas plastik sampai penyok. Laras melihat, lalu diam-diam mengganti gelas itu sebelum isinya tumpah. Bahkan saat kesal, ia masih memperhatikan.
Galih mengangkat alis. "Kalau Laras mau ikut, kenapa lo larang?"
"Karena dia sering diminta beresin masalah orang."
"Gue nggak minta."
"Belum."
Laras meletakkan gelas. "Kalian bisa nggak berhenti ngomong seolah gue nggak ada?"
Keduanya diam.
Acara bubar menjelang malam. Nadia melepas jepit Laras lalu memasangnya lagi lebih kuat karena hampir jatuh. Rayhan memperhatikan asal dan bentuknya sekali lagi.
Galih berdiri jauh menerima panggilan kedua dari Tiara. Laras melihat ekspresinya dan tahu besok ia tetap akan ikut ke stasiun, bukan karena perasaan, melainkan karena teman lama sedang kesulitan.
Rayhan juga tahu.
Di bawah cahaya arang yang hampir mati, tatapannya berhenti pada jepit mutiara dan Galih secara bergantian.
Laras mengira Rayhan hanya cemburu.
Ia belum tahu anak itu sedang mengingat setiap bagian papan permainan.
Dan besok, satu pemain baru akan masuk tanpa memahami aturan lama mereka.