Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Mati Rasa

Deru mesin bus antarkota yang bising dan guncangan keras akibat jalanan berlubang tak sedikit pun mengusik Intan Saputri.

Ia duduk diam di dekat jendela kaca yang kusam, menatap hamparan sawah dan pepohonan hijau Desa Lao-Lao yang perlahan surut, tergantikan oleh bangunan-bangunan beton yang kian rapat dan menjulang.

Di sampingnya, seorang pria paruh baya berkeringat sibuk mengobrol dengan penumpang lain di seberang lorong. Suara gelak tawa dan obrolan nyaring memenuhi ruangan bus yang pengap.

Jika ini adalah Intan yang dulu—gadis introvert yang selalu gelisah saat berdekatan dengan orang asing—ia pasti sudah meremas ujung bajunya, menundukkan kepala dalam-dalam, dan menahan napas karena kecanggungan yang menyiksa.

Namun kini, tidak ada lagi desir ketakutan itu. Dinding emosinya mendadak kebas. Sensasi cemas yang biasa merayap di dadanya telah menguap, digantikan oleh keheningan yang dingin dan pekat.

Intan telah sampai pada tahap mati rasa.

Rasa sakit akibat pengkhianatan Rian ternyata berfungsi seperti obat bius dosis tinggi.

Rasa sakit itu mematikan seluruh saraf kepolosan, keraguan, dan kecanggungannya.

Ia tidak lagi peduli pada tatapan orang-orang yang mungkin merasa heran melihat seorang wanita bertubuh kecil dan berwajah belia

bepergian sendirian membawa ransel tua.

Ia mengambil buku catatan ber-cover hitam dari dalam tasnya.

Jemari rampingnya membalik halaman pertama, menatap deretan tulisan tangan yang ia buat kemarin malam.

> Target: Rian (nama samaran).

> Ciri-ciri: Suara teratur, pandai menyusun kata, mengaku bekerja di bidang konstruksi/kontraktor area kawasan industri.

> Tujuan Utama: Melacak identitas asli, merebut kembali harga diri, dan membalas dendam.

>

Intan menutup buku itu dengan ketukan pelan. Di dalam benaknya, rencana demi rencana mulai tersusun.

Ia sadar, dua juta rupiah yang lenyap tidak akan kembali hanya dengan meratap. Namun, lebih dari sekadar nominal uang, ada sebuah keadilan yang harus ia tegakkan sendiri.

Rian telah memanfaatkan ketakutannya sebagai seorang wanita, dan Intan tidak akan pernah membiarkan pria itu tidur nyenyak di atas penderitaan orang lain.

"Mbak, mau turun di terminal mana?"

Suara kondektur bus yang agak serak mengejutkannya. Pria bertopi lusuh itu berdiri di samping kursinya sambil memegang seikat lembaran uang kertas.

Intan mendongak. Tatapan matanya yang datar dan tanpa kedipan membuat kondektur itu sempat tertegun sejenak.

"Terminal pusat kota, Bang."

Jawab Intan singkat. Suaranya tenang, tanpa ada sedikit pun intonasi ragu yang biasa menghiasi tutur katanya.

"Dua puluh ribu, Mbak."

Intan merogoh saku celananya, menyerahkan satu lembar uang dua puluh ribuan yang sudah ia siapkan. Ia tidak lagi meringis melihat sisa uang tunai di dompetnya yang makin menipis.

Ketakutan akan kemiskinan atau ketidakpastian hidup di kota mendadak terasa begitu kecil dibanding kobaran api dendam yang membakar dadanya.

Tiga jam perjalanan berlalu. Bus akhirnya melaju lambat memasuki area terminal pusat kota.

Udara panas, polusi gas buang, serta riuh rendah suara klakson kendaraan dan teriakan calo menyambut kedatangan Intan.

Begitu kakinya menapak di atas aspal terminal yang lengket, gelombang manusia yang hilir mudik seolah ingin menelannya bulat-bulat.

Beberapa calo angkutan umum langsung menghampirinya, menawarkan jasa dengan nada setengah memaksa.

"Mbak!"

"Mau ke mana, Mbak?"

"Arah barat?"

"Mari saya bawakan tasnya!"

Seorang pria berjaket lusuh mencoba menggapai tali ransel Intan.

Jika itu Intan yang lama, ia pasti akan menjerit pelan, mundur ketakutan, dan menuruti apa saja agar pria itu pergi.

Namun kali ini, Intan hanya berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata pria calo itu dengan sorot mata yang begitu dingin dan menusuk.

"Jangan sentuh tas saya."

Ucap Intan dengan nada rendah yang sarat akan ancaman.

Pria calo itu menghentikan tangannya di udara. Ada sesuatu dari cara bicara dan tatapan gadis mungil ini yang membuatnya merasa sungkan—atau mungkin sedikit gentar.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, calo itu mundur dua langkah dan beralih mencari penumpang lain.

Intan menghela napas pendek, membetulkan letak ransel di punggungnya, lalu melangkah keluar dari area terminal.

Langkah pertamanya di kota besar terasa begitu mantap. Mati rasa ini telah menjadikannya sebuah perisai yang sempurna.

Tujuan pertamanya hari ini adalah mencari tempat tinggal termurah yang bisa ia temukan.

Dengan uang tunai yang tersisa di dompetnya, menyewa kamar kos bulanan jelas tidak memungkinkan.

Namun, Intan sudah memperhitungkan hal itu. Sebelum berangkat, ia sempat mencari informasi melalui internet di ponselnya tentang kontrakan petakan atau kos kecil harian di pinggiran kawasan industri—tempat yang menurut perkiraannya paling dekat dengan jejak Rian.

Setelah berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di balik riuk rendah jalan protokol selama hampir satu jam, Intan akhirnya menemukan sebuah papan kayu bertuliskan 'Menerima Kos Putri/Karyawati' yang tergantung di depan sebuah bangunan dua lantai berdinding cat mengelupas.

Seorang wanita paruh baya berdaster dengan rambut digulung asal-asalan menyambutnya di depan pintu.

"Mau cari kos, Mbak?"

"Sisa satu kamar di lantai atas."

"Seminggu seratus lima puluh ribu, belum termasuk listrik."

Ujar wanita itu ramah namun matanya meneliti penampilan Intan dari atas sampai bawah.

"Kerja di mana?"

"Saya baru sampai dari desa, Bu."

"Besok baru mulai cari kerja."

Jawab Intan lugas. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan sisa uang tunai terakhirnya beserta beberapa lembar simpanan darurat yang sempat ia selipkan di lipatan celana.

"Saya bayar untuk seminggu dulu."

Ibu kos menerima lembaran uang itu dengan senyuman lebar.

"Ayo, saya antarkan ke kamar."

Kamar kos itu sangat sempit—mungkin hanya berukuran dua kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis tanpa sprei, sebuah lemari plastik kecil, dan satu kipas angin gantung yang berdecit nyaring saat dinyalakan.

Jendela kecil di sudut kamar menghadap langsung ke arah bentangan tembok beton pabrik di kejauhan.

Bagi gadis lain, kamar ini mungkin terasa sangat menyedihkan. Namun bagi Intan, tempat ini adalah markas pertamanya.

Setelah ibu kos pergi, Intan meletakkan ranselnya di lantai. Ia berjalan menuju jendela kecil, memandangi cerobong asap pabrik yang membubung ke langit sore yang berwarna keabu-abuan.

Ia mengambil ponselnya, menyalakan layar, lalu menatap pantulan dirinya sekali lagi di kaca layar yang retak.

Tidak ada lagi tangisan. Tidak ada lagi penyesalan. Hatinya telah membeku sempurna.

Kota besar yang katanya sangat kejam ini kini menjadi arena permainannya, dan Intan tidak akan berhenti sampai ia berhasil menemukan pria yang telah membunuh kepolosannya.

"Selamat datang di duniaku yang baru, Intan,"

bisiknya dingin pada sunyi malam yang mulai merayap.

Bagaimana dengan atmosfer dan ketegangan di Bab 7 ini? Jika kamu suka dengan cerita nya jangan lupa like, komen dan subscribe☺

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!