Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Drama di Ciater

Rencana Nathan diterima setelah Mama mendengar kata Ciater.

"Udara pegunungan bagus untuk Karina," katanya.

dr. Silvia mengizinkan perjalanan pendek dengan syarat Karina tidak berendam di air terlalu panas, tidak berjalan jauh, dan segera beristirahat jika perut menegang. Nathan memesan vila privat di Ciater Highland Resort milik keluarga Nick.

Rombongan berangkat pagi. Kevin menemani Papa dan Mama sarapan di restoran utama, sedangkan Nathan mengajak Karina melihat taman anggrek yang lebih sepi. Mereka sepakat bertemu lagi satu jam kemudian.

Mama Meilan mengambil sepiring makanan dari meja prasmanan. Saat berbalik, seorang pelayan membawa baki dari arah berlawanan. Mama menghindar, tetapi capit besar di piringnya terlempar dan jatuh tepat ke rok sutra seorang perempuan.

Kuah mentega menetes sampai sepatu berlogo emas.

"Aduh, maaf," kata Mama. "Saya tidak sengaja. Saya ganti biaya pencuciannya."

Perempuan itu memandang noda, lalu wajah Mama dari atas ke bawah. Di belakangnya berdiri Sanusi Salim, istrinya, dan beberapa kerabat. Tania serta Andri belum tampak.

"Dicuci?" Ibu Salim tertawa pendek. "Ini koleksi baru. Perempuan kampung seperti kamu sanggup menggantinya?"

Papa Hendra berdiri. "Istri saya sudah meminta maaf. Beri tahu harganya secara baik."

"Kalau harus bertanya harga, berarti tidak mampu."

Beberapa tamu mulai menoleh. Mama Meilan memegang serbet, tetapi perempuan itu menepis tangannya hingga kuah mengenai lantai.

Kevin bergerak maju. "Jangan sentuh Mama saya."

"Anak muda tidak tahu sopan santun," kata Ibu Salim. "Panggil manajer. Orang seperti ini seharusnya tidak dibiarkan masuk area tamu premium."

Manajer resort datang bersama petugas layanan. Begitu mengenali keluarga Salim dan keluarga Wijaya dari catatan vila Nathan, ekspresinya berubah hati-hati.

"Kami mohon maaf atas insiden ini," katanya. "Resort akan menangani pembersihan dan penggantian berdasarkan bukti pembelian."

Ibu Salim mengerutkan kening. "Kenapa resort yang mengganti? Dia yang merusak."

"Lorong prasmanan terlalu sempit karena troli layanan kami. Tanggung jawab ada pada pengelola."

Sanusi menatap nama manajer itu, lalu lambang perusahaan di seragamnya. Ia tahu keluarga Nick masih memegang dokumen penyelesaian insiden balapan. Perselisihan baru akan membuka kembali percakapan yang ingin dia kubur.

"Sudah," katanya kepada istrinya. "Ganti pakaian."

"Tapi mereka harus belajar tempat."

"Aku bilang sudah."

Ibu Salim pergi dengan wajah merah. Mama Meilan mengembalikan serbet ke meja.

"Saya tetap bersedia membayar kalau memang salah saya," katanya kepada manajer.

"Tidak perlu, Bu. Rekaman akan kami periksa. Silakan lanjut sarapan."

Namun selera makan mereka sudah hilang. Papa mengajak kembali ke vila, tetapi Mama menolak.

"Kita datang untuk liburan. Aku tidak akan dikurung hanya karena rok orang sombong."

Mereka pindah ke deretan butik di lobi untuk mencari syal. Kevin berjalan dekat ibunya. Papa beberapa kali menoleh, memastikan keluarga Salim tidak mengikuti.

Di sebuah butik, Mama mencoba syal biru ketika suara sepatu hak tinggi terdengar dari pintu.

Ibu Salim masuk mengenakan pakaian baru. Di sampingnya ada Tania dengan perut enam bulan yang menonjol. Senyum Tania berubah ketika mengenali keluarga Wijaya.

"Toko ini menerima siapa saja sekarang," kata Ibu Salim.

Pramuniaga pura-pura merapikan rak. Mama meletakkan syal dan menghadap perempuan itu.

"Masalah restoran sudah diurus manajer. Kalau Ibu ingin uang, berikan kuitansi. Kalau ingin berkelahi, cari orang lain."

"Kamu mengotori pakaian saya lalu bersikap angkuh?"

"Saya meminta maaf sebelum Ibu menghina saya. Kesopanan saya tidak mengharuskan saya diam saat diinjak."

Tania menyentuh lengan mertuanya. "Sudahlah, Ma. Kita tidak tahu keluarga macam apa mereka."

Mama mengenali wajah itu dari foto yang pernah dikirim Mama Kusnadi. "Saya justru tahu kamu siapa."

Tania menegang.

"Kalian kenal?" tanya Ibu Salim.

"Tidak," jawab Tania terlalu cepat. "Mungkin dia lihat aku di media sosial."

Ibu Salim menatap pakaian sederhana Mama Meilan. "Kalau cuma ingin melihat barang mahal, jangan pegang semuanya. Bau pasar bisa menempel."

Kevin berdiri di depan ibunya. "Cukup. Jangan jadi perempuan kasar hanya karena punya uang."

"Kamu berani menyebut saya kasar?"

"Saya bisa menyebut lebih buruk kalau Ibu tidak pergi."

Tania mengangkat suara manja. "Aa!"

Andri masuk dari lorong bersama Sanusi. Begitu melihat Mama Meilan, langkahnya berhenti.

"Mama?"

Seluruh butik mendadak sunyi.

Mama menyilangkan tangan. "Jangan panggil saya Mama. Kamu sudah kehilangan hak itu ketika membawa perempuan lain ke hotel."

Ibu Salim memandang Andri, lalu Tania. "Ini ibunya mantan istrimu?"

"Mantan mertua," koreksi Mama. "Dan perempuan hamil di samping Ibu adalah orang yang masuk ke pernikahan anak saya. Perutnya sudah sebesar itu, padahal putusan cerai belum lama keluar."

Tania memucat. "Karina yang tidak bisa menjaga suami."

"Laki-laki yang harus dijaga seperti barang curian memang pantas diambil pencuri."

Kevin menahan tawa. Papa berdiri di sisi istrinya, tidak ikut menghina tetapi juga tidak mencegah.

Andri mendekat satu langkah. "Karina ada di sini?"

"Itu bukan urusanmu."

"Dia baik-baik saja?"

"Sangat baik. Setelah menceraikanmu, anak saya langsung hamil tiga. Menantu saya begitu gembira sampai semua kebutuhan Karina disiapkan sebelum diminta."

Tatapan orang-orang beralih kepada Andri. Wajahnya kehilangan warna.

Selama delapan tahun, Karina tidak pernah hamil. Andri dan keluarganya membiarkan semua tuduhan jatuh pada perempuan itu. Sekarang, hanya beberapa bulan setelah berpisah, dia mengandung tiga anak.

"Tiga?" tanya Andri parau.

Tania spontan melindungi perutnya dengan kedua tangan. Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Mama Meilan.

"Iya, tiga. Jadi jangan pernah lagi menyebut anak saya tidak sempurna. Mungkin selama ini orang yang perlu diperiksa bukan dia."

Rahang Andri mengeras. Ibu Salim segera menggandeng Tania, seolah kalimat itu dapat menular menjadi aib.

"Kita pergi," perintah Sanusi.

Andri masih memandang Mama. "Siapa suaminya?"

Kevin maju. "Orang yang tidak akan membiarkan Ko mendekati Cici lagi. Itu cukup."

Keluarga Salim keluar di bawah tatapan pengunjung. Setelah pintu menutup, pramuniaga menawarkan air kepada Mama. Tangan perempuan itu baru mulai gemetar ketika semuanya selesai.

Manajer resort tiba lagi setelah menerima laporan keamanan. Ia mengajak mereka ke ruang tunggu privat dan memperlihatkan potongan rekaman restoran. Troli pelayanan memang masuk terlalu cepat ke jalur tamu, memaksa Mama menghindar. Ia membuat berita acara singkat, mencatat nomor kontak kedua pihak, dan menjamin tidak ada biaya yang dibebankan kepada keluarga Wijaya.

"Kami juga menyimpan rekaman butik," katanya. "Tidak ada kontak fisik, tetapi staf mendengar penghinaan. Bila Ibu ingin membuat keluhan resmi, kami siap memberi salinan kepada polisi melalui prosedur hukum."

Mama menggeleng. "Saya tidak mau liburan anak saya berubah jadi perkara. Simpan saja rekamannya."

Kevin masih marah. "Mereka akan mengira kita takut."

"Tidak semua kemenangan harus berakhir di kantor polisi," jawab Mama. "Yang penting mereka tidak bisa membalik cerita."

Papa meminta nomor laporan dan memotretnya. Sikap tenangnya membuat Kevin ikut duduk. Mereka sepakat tidak mengunggah kejadian itu ke media sosial agar identitas dan lokasi Karina tidak tersebar.

"Cici sudah cukup dicari orang karena iklan Ko Nathan," kata Kevin. "Kalau nama Andri ikut muncul, netizen pasti menghubungkan semuanya."

Mama menatap putranya dengan bangga. "Kamu akhirnya berpikir sebelum memukul orang."

"Aku tidak memukul siapa pun."

"Karena Papa memegang belakang bajumu."

Papa melepaskan kain yang masih dicengkeramnya. Ketiganya saling pandang, lalu tertawa kecil. Ketegangan di ruangan menurun, meski penghinaan tadi masih menyisakan panas di dada mereka.

Papa memegang bahunya. "Kita pulang ke vila."

"Karina jangan diberi tahu," kata Mama. "Dia sedang hamil. Aku tidak mau dia marah lalu sakit."

Kevin setuju, meski ia mengirim pesan singkat kepada Nathan bahwa mereka bertemu orang yang tidak menyenangkan dan situasi sudah ditangani. Nathan membalas agar manajer mengawal mereka kembali dan menyimpan rekaman kamera.

Di taman anggrek, Karina tidak mengetahui apa-apa. Ia duduk di bangku sambil mendengarkan Nathan membaca pesan, tetapi Nathan hanya mengatakan Mama sedikit lelah.

"Kita kembali sekarang," katanya.

"Ada masalah?"

"Sudah selesai. Kamu tidak perlu memikul semua keributan yang melibatkan masa lalumu."

Karina curiga, namun ia melihat ketenangan di wajah Mama ketika tiba di vila. Mama bahkan memamerkan syal biru yang akhirnya dibeli Papa. Demi menjaga suasana, Karina tidak bertanya lagi.

Malam itu, di kamar resort keluarga Salim, Andri duduk dalam gelap. Tania baru keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur longgar.

"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanyanya.

"Karina hamil tiga."

"Lalu? Kamu menyesal?"

"Delapan tahun kami mencoba. Tidak pernah sekali pun berhasil."

Tania memalingkan wajah. "Berarti mantan istrimu cocok dengan laki-laki itu. Jangan bawa namanya ke kamar kita."

Andri mengingat semua pemeriksaan yang dijalani Karina. Ia sendiri selalu menolak ketika dokter menyarankan analisis semen, yakin masalah pasti berada pada istrinya.

"Besok kita periksa lagi usia kehamilanmu," katanya.

"Aku sudah kontrol. Dokter bilang semuanya baik."

"Aku ingin lihat catatan tanggalnya."

Tania menegang. Beberapa hari sebelum hubungannya dengan Andri menjadi resmi, ia pernah mabuk dan menghabiskan malam bersama mantan kekasihnya. Laki-laki itu sudah pindah ke luar negeri. Ia mengubur ingatan tersebut ketika dua garis muncul pada alat tes.

"Kamu menuduhku?"

"Aku hanya bertanya."

Andri menatap perutnya yang gelap di bawah cahaya jendela. Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan tumbuh lebih besar daripada rasa bangganya.

Bagaimana jika anak itu bukan miliknya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!