Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Tamparan & Amarah

Rania menatap Brian dengan napas memburu.

Pria itu masih berdiri terlalu dekat, seolah tidak peduli dengan penolakan yang sejak tadi diberikan Rania.

Rania yang tidak ingin Brian semakin kehilangan akal sehatnya akhirnya mengangkat tangannya.

Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Brian.

Brian terdiam.

Rania menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Jangan seperti ini, Brian."

Suaranya bergetar, tetapi ketegasan di dalamnya tidak hilang. "Kau tidak menghargai keputusanku."

Brian masih diam.

Rania menarik napas panjang. "Aku menerima kerja sama bisnis denganmu bukan karena aku ingin kembali kepadamu."

Tatapan Brian perlahan terangkat.

"Aku hanya ingin membangun PT. Herbalife agar aku bisa memiliki kehidupan yang layak untuk diriku sendiri dan anakku kelak." Rania menunjuk perutnya. "Aku ingin bisa berdiri dengan kakiku sendiri." Rania menghentak lantai karena emosi.

Rania menatap Brian tajam. "Jadi, jangan berpikir semua yang kulakukan adalah alasan agar aku bisa kembali kepadamu."

Hening.

Brian tidak membalas. Ia hanya menatap wanita keras kepala di hadapannya.

Tatapan yang sulit ditebak. Namun beberapa detik kemudian, Brian melangkah mendekat.

Rania refleks mundur.

Hingga punggungnya kembali berada di dekat dinding. Brian berhenti tepat di hadapannya.

Kedua tangannya diletakkan di sisi tubuh Rania, membuat wanita itu seolah terkunci di antara kedua lengannya.

"Brian..."

Brian menatapnya lekat. Kemudian tangannya bergerak turun dan menunjuk tepat ke perut Rania. "Selama anakku ada di sini..." Nada suaranya rendah. "Kau tidak akan pernah lepas dari pandanganku, Rania Almira Aristama."

Rania membeku. "Kau tidak berhak—"

"Tuan!" Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari ujung koridor.

Rania menoleh.

Rio baru saja keluar dari lift. "Nyonya. Tuan." Ia ampak terkejut melihat keduanya.

Rania segera memanfaatkan kesempatan itu. "Rio!"

Rio berjalan mendekat.

"Tolong bawa Tuanmu," titah Rania.

Namun bukannya menjauh, Brian justru meraih pergelangan tangan Rania.

"Brian!" pekik Rania.

Dengan gerakan cepat, ia menarik Rania menuju mobil.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Rania.

Brian membuka pintu mobil dan membuat Rania masuk. Kemudian ia mengambil kunci mobil dari tangan Rania.

Rania menatapnya tidak percaya. "Brian!"

Brian melemparkan kunci tersebut kepada Rio. "Antarkan kami ke rumah."

Rio menangkapnya. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

"Baik, Tuan." Malam itu, Rio akhirnya mengantarkan Rania dan Brian menuju rumah milik Rania.

Sepanjang perjalanan, Rania memilih membuang wajah ke arah jendela. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Sementara Brian duduk di sampingnya dengan tatapan lurus ke depan.

Tidak ada yang berbicara.

Namun ketegangan di dalam mobil terasa begitu pekat.

Sementara itu, di dalam Club Glamore...

Daffa dan Mona berada dalam keadaan yang sama-sama tidak sepenuhnya mereka sadari.

Pengaruh alkohol membuat kesadaran keduanya semakin kabur.

Dalam kamar hotel yang berada di dalam kompleks Club Glamore, mereka terjebak dalam situasi yang salah.

Daffa mengira wanita di hadapannya adalah Rania.

Sementara Mona, dalam kondisi mabuk, mengira pria yang bersamanya adalah Brian.

Keduanya sama-sama tidak menyadari kesalahan tersebut.

Malam itu pun berlalu dalam kebingungan yang kelak akan menjadi masalah besar bagi mereka.

Sementara mobil hitam yang di kendarai Rio akhirnya tiba di rumah Rania.

Brian turun terlebih dahulu.

Anehnya, langkahnya terlihat cukup tegap di bandingkan saat pagi hari.

Rania turun setelahnya, wajahnya masih menunjukkan kemarahan. Ia berjalan cepat menuju pintu rumah.

Brian mengikutinya. "Rania."

Rania tidak menjawab.

"Rania."

Wanita itu berhenti dan berbalik. "Jangan ikuti aku!" Tangannya mendorong dada Brian.

Brian sedikit terhuyung. Namun bukannya marah, pria itu justru terkekeh kecil.

Melihat Rania yang sedang marah ternyata membuatnya merasa geli.

"Ah..." Brian tersenyum. "Seandainya aku tidak mabuk, mungkin aku sudah menggendongmu sampai ke kamarmu."

Rania melotot. "Kau benar-benar menyebalkan!"

Ia kembali berbalik dan meninggalkan Brian.

Brian hanya memperhatikannya hingga wanita itu menghilang di balik pintu.

Tidak lama kemudian, Rio menghampirinya.

"Tuan."

Brian menoleh.

"Anda sudah membuat Nyonya sangat marah." Rio kemudian menyodorkan sebuah tongkat berwarna hitam. "Kiita bisa melanjutkannya besok. Saya juga khawatir dengan kondisi kaki Anda."

Brian menatap tongkat di tangan Rio. Namun bukannya mengambilnya, ia justru melewatinya begitu saja. "Aku tidak membutuhkannya lagi," ucap Brian.

Rio mengerutkan kening.

Brian melangkah beberapa langkah. Kemudian ia berkata, "sentuhan istriku masih sama."

Rio terdiam.

"Pijatannya selalu sempurna." Brian tersenyum kecil. "Dan membuat kakiku cepat sembuh."

Rio menghela napas. Sebenarnya, ia tidak bisa membantahnya.

Sejak bangun pagi, Brian memang sudah mulai berjalan menggunakan tongkat di bawah sinar matahari. Ia juga terus meminum teh herbal buatan Rania.

Ditambah lagi, Rania memberikan pijatan dua kali kepadanya, pagi dan siang.

Hasilnya terlihat jelas. Cara berjalan Brian sekarang sudah jauh lebih baik.

Tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Bahkan, sekilas ia nyaris terlihat seperti pria yang tidak pernah mengalami cedera.

Rio mengangguk pelan. "Wah... Nyonya Rania memang ahli dalam pijat refleksi."

Tatapannya kemudian beralih ke balkon kamar Rania.

Namun tiba-tiba Rio teringat sesuatu. "Lalu apakah aku harus menyampaikan pesan ini kepada Nyonya Rania?"

Rio mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan dari Zoul masih terpampang di layar.

Pesan tersebut baru diterimanya sekitar lima belas menit yang lalu.

Rio membacanya kembali.

"Kabarnya istri Tuan Brian pandai dalam pijat refleksi serta mengolah tanaman herbal menjadi teh."

"Sampaikan kepadanya, ibuku sudah dua tahun sakit dan ingin mendapatkan pemeriksaan darinya."

"Tolong sampaikan kepadanya."

Rio mengernyitkan kening.

"Ibu Tuan Zoul sakit?" Ia menatap layar ponselnya beberapa detik. "Atau jangan-jangan Tuan Zoul masih mabuk dan mengirimkan pesan ini kepadaku?"

Rio menghela napas. "Aku harus memeriksa dulu kebenarannya." Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Rio sama sekali tidak menyadari...

Pesan sederhana yang malam itu ia terima akan menjadi awal dari masalah baru.

Sebuah pesan yang kelak akan memicu pertengkaran besar antara Brian dan Rania.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!