Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Tiga Alat, Satu Kebenaran

Kapten Sandi datang pukul lima lewat dua belas menit.

Ia langsung menuju ruang dr. Wina.

Kayla berdiri di koridor bersama Tiana, dr. Rendra, dr. Hana, dan seorang saksi dari operasi. Tiga alat tes alkohol tersusun di meja pemeriksaan. Dua telah dikalibrasi vendor berbeda. Satu masih tersegel dalam kotak.

"Pemeriksaan saya dengan dr. Wina," kata Sandi.

"Hari ini pemeriksaan kasus audit dilakukan tim," jawab Rendra. "Silakan masuk."

Sandi berhenti ketika melihat semua orang. Bau alkohol lebih jelas daripada kemarin.

"Saya memakai obat kumur."

"Dicatat," kata Kayla. "Kita tunggu sesuai waktu observasi, pastikan tidak ada asupan, rokok, atau produk mulut, lalu lakukan tes konfirmasi."

Reyner datang dari ruang kru dan menyerahkan surat penugasan sebagai wakil operasi penerbangan. Ia tidak akan mengoperasikan alat, hanya menyaksikan identitas, waktu, dan rantai hasil.

"Saya diminta memastikan prosedur tidak dipengaruhi jadwal penerbangan," katanya.

Sandi mendengus. "Kapten membela dokter sekarang?"

"Saya membela pesawat agar tidak diterbangkan orang yang belum lolos pemeriksaan."

dr. Wina muncul membawa formulir. "Tidak perlu drama. Saya sudah menguji Kapten Sandi. Hasilnya nol."

Kayla melihat cap waktu. Formulir dibuat pukul lima lewat delapan menit, empat menit sebelum Sandi tercatat masuk gerbang pusat.

"Bagaimana Anda menguji orang yang belum berada di gedung?"

Wajah Wina kehilangan warna.

"Jam sistem bisa salah."

Tiana menunjukkan jam pada perangkat. "Server disinkronkan malam tadi."

Rendra mengambil formulir dan memasukkannya ke map bukti. "Pemeriksaan tetap dilanjutkan."

Selama masa tunggu, Sandi duduk dengan tangan mengepal. Tiana membuka alat baru di depan semua saksi, mencatat nomor seri, segel, dan waktu. dr. Leo menyiapkan alat kedua, sedangkan dr. Hana memegang alat ketiga.

Sebelum dipakai, ketiga perangkat menjalani pemeriksaan kosong dan kontrol sesuai petunjuk vendor. Hasil kontrol masuk rentang yang diterima. Rendra menandatangani lembar persiapan, sementara Reyner mencocokkan identitas Sandi dengan kartu kru dan memastikan tidak ada pergantian orang.

Kayla menjelaskan setiap langkah di depan kamera ruangan. "Pemeriksaan ini untuk kebijakan keselamatan kerja. Jika diperlukan konfirmasi laboratorium, itu dilakukan melalui fasilitas berwenang. Hasil alat napas tidak boleh ditulis ulang di luar sistem."

"Saya tidak perlu kuliah," kata Sandi.

"Penjelasan dicatat agar tidak ada yang mengaku tidak memahami prosedur."

Tes pertama menunjukkan kadar alkohol di atas batas kebijakan perusahaan untuk tugas terbang.

"Alatnya rusak," kata Sandi.

Tes kedua, setelah jeda sesuai prosedur, menunjukkan hasil yang konsisten.

Sandi berdiri. "Saya tidak mau tes ketiga."

Reyner menghalangi pintu tanpa menyentuhnya. "Anda boleh menolak. Penolakan dicatat dan status terbang tetap tidak aktif."

Sandi memandang jadwal di dinding. Penerbangannya kurang dari dua jam lagi.

"Lakukan."

Alat ketiga memberi hasil yang sama dalam rentang toleransi perangkat.

Ruangan hening.

Tiana mencetak hasil langsung dari setiap alat. Setiap lembar memuat nomor seri, waktu, identitas operator, dan tanda tangan saksi. Salinan digital otomatis masuk ke server kepatuhan yang tidak dapat diedit pusat.

Sandi meminta melihat angka. Kayla memperlihatkannya tanpa menyerahkan lembar asli.

"Saya ingin pengacara."

"Itu hak Anda dalam proses disiplin," kata Rendra. "Saat ini kami hanya menetapkan Anda tidak boleh bertugas dan mengamankan hasil."

Kayla tidak tersenyum. "Kapten Sandi dinyatakan tidak layak bertugas hari ini. Hasil akan dikonfirmasi sesuai protokol dan kasus diserahkan kepada keselamatan serta HR."

"Kalian menjebak saya."

"Tiga alat dibuka dan digunakan di depan saksi," kata Rendra. "Anda diberi waktu observasi dan kesempatan menolak. Semua direkam."

Wina mundur ke pintu.

Tiana memanggil namanya. "Dokter belum selesai."

Rendra menunjukkan formulir nol yang dibuat sebelum kedatangan Sandi. "Jelaskan ini."

"Saya hanya menyiapkan templat."

"Tanda tangan digital Anda sudah masuk."

"Sandi bilang dia bersih. Dia meminta saya mempercepat agar penerbangan tidak terlambat."

Sandi menoleh tajam. "Jangan bawa namaku!"

"Kamu yang memaksa!" Wina mulai menangis. "Setiap kali hasilmu buruk, kamu mengancam akan melaporkan saya."

"Melaporkan apa?" tanya Kayla.

Wina menutup mulut.

"Siapa yang meminta hasil diloloskan?"

"Saya tidak bisa bicara."

"Kalau ada tekanan, catat sekarang. Itu satu-satunya cara membedakan keterlibatan dan paksaan."

Wina memandang kamera, Rendra, lalu formulir palsu di meja.

"Ada orang di atas," katanya akhirnya. "Mereka bilang beberapa kapten harus tetap terbang apa pun hasilnya. Sandi mengenalkan saya kepada mereka."

"Nama."

"Saya tidak pernah bertemu langsung. Pesan datang melalui nomor sekali pakai."

Tiana meminta ponselnya diamankan tanpa dibuka sampai persetujuan tertulis dan prosedur forensik dilakukan. Wina menyerahkannya setelah didampingi HR.

Berita acara mencatat kondisi ponsel, nomor kartu, waktu penyerahan, dan pemegang segel. Jika Wina menarik persetujuan, perusahaan hanya akan memeriksa data kerja pada sistem internal dan menunggu jalur hukum untuk perangkat pribadi.

"Saya akan bicara kalau ada perlindungan," kata Wina.

"Permintaan itu dicatat," jawab Rendra. "Perlindungan tidak menghapus tanggung jawab memalsukan laporan."

Di luar, operasi mengganti kru dan menunda keberangkatan Sandi. Semua anggota kru penerbangan itu diminta menunggu pemeriksaan ulang karena formulir terkait berada dalam rangkaian yang sama.

Pengumuman kepada penumpang hanya menyebut pergantian kru karena kebutuhan operasional. Tim layanan menyiapkan konsumsi dan opsi pindah penerbangan tanpa membocorkan nama atau data kesehatan Sandi.

Leo dan Hana memeriksa kru lain satu per satu. Hasil mereka normal, sehingga penyelidikan tidak otomatis menuduh seluruh tim. Penerbangan akhirnya mendapat kapten cadangan yang sudah melalui pemeriksaan sah.

Penundaan hampir satu jam jauh lebih kecil daripada risiko membiarkan Sandi duduk di kokpit.

Adrian tiba dari pesawatnya di gerbang sebelah. "Apa penerbanganku terdampak?"

"Belum," jawab Reyner. "Tapi kru cadangan dipindah ke penerbangan Sandi."

Adrian menghubungi pengendali operasi, bukan meminta pengecualian. Ia menawarkan penyesuaian slot dan meminta penumpang diberi informasi keterlambatan tanpa membocorkan data kesehatan kru.

"Keselamatan dulu," katanya. "Alasan rinci cukup untuk penyelidikan."

dr. Hana menatap Kayla. "Anda benar soal data itu."

"Kita semua baru benar kalau seluruh pola diperiksa."

Rendra mengumumkan Sandi diskors dari tugas terbang menunggu proses disiplin. Wina dibebastugaskan dan diantar HR serta keamanan menuju ruang wawancara, bukan dibawa oleh Adrian.

Saat melewati Kayla, Wina berhenti.

"Kamu pikir sedang memeriksa keselamatan," bisiknya. "Padahal kamu sedang menggeser kursi orang-orang yang jauh lebih kuat darimu."

Petugas memintanya terus berjalan.

Reyner menatap sisi wajah Kayla. Rasa familiar itu kembali muncul, bercampur rasa bersalah tentang cangkir yang sudah berada di laboratorium.

Ponselnya bergetar dengan pesan singkat: sampel awal dapat diproses, tetapi laboratorium kembali mengingatkan bahwa hasil informasi bukan bukti identitas resmi.

Reyner segera mematikan layar sebelum Kayla melihatnya dan menyimpan ponsel kembali ke saku seragamnya.

1
tri septi
rosa 🤦🤦🤦🤦
tri septi
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷semoga selamat
tri septi
kalau Kayla anak angkat keluarga Chandra, apakah dia ada kemungkinan "Yaya" yang hilang dr keluarga Wijaya... 🤔🤔🤔🤔 lanjut thor 💪💪💪
tri septi
3 tahun bisa mengubah banyak hal🤭🌷🌷
tri septi
ehem ehemmm.... takdir yang aneh 🤭🌺🌺🌺
tri septi
mengapa Kayla bisa jadi anak angkat? 🤔
tri septi
hemmm.... mampir thor🌷🌷🌷
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
ternyata Vanessa benar anak Rosa karna mereka sama2 gila harta
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
perubahan untuk kebaikan sering tidak disukai oleh orang2 yang biasa abai sama peraturan
yuqana
keren bgt novelnya kakak, ditunggu update nya🥰🥰🥰
tri septi
siapa sebenarnya Kayla 🤭❤️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
demi keselamatan penumpang ayo bersihkan para penipu
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kehidupan anak keluarga kaya dikendalikan keluarganya, perasaan tidak ada hartanya didepan harta
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
ho ho ho bayi yang tertukar,, tapi kenapa Kayla ketahuan anak angkat kalo Halim juga melahirkan bayi perempuan di RS yang sama,, apa mereka sengaja??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!