Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 31 Peringatan Adrian part 2

Adrian melangkah satu langkah mendekat.

"Arunika bukan alat untuk menyelesaikan masalah keluarga Wilson. Dia juga bukan seseorang yang bisa kalian tarik kembali hanya karena sekarang kalian tahu keberadaannya."

Richard terdiam.

"Aku tidak berniat mengambilnya."

"Bagus."

Adrian menatapnya tajam.

"Karena kalau sampai ada satu orang dari keluargamu yang mencoba memaksanya pergi..."

Ia berhenti sejenak.

"...aku akan menganggapnya sebagai ancaman."

Richard mengernyit.

"Adrian."

"Dan aku tidak akan peduli siapa orangnya."

Suara Adrian tetap tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat peringatannya terasa jauh lebih serius.

"Nama Wilson tidak akan membuatku mundur."

Richard menatapnya dalam.

"Kau sedang mengancam keluarga Wilson?"

"Bukan."

Adrian tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

"Aku sedang memberitahumu apa yang akan terjadi jika kalian menyentuh Arunika tanpa persetujuannya."

Arunika yang sejak tadi diam akhirnya menatap Adrian.

"Adrian..."

Adrian menoleh kepadanya. Ekspresinya sedikit melunak.

"Aku hanya memastikan tidak ada yang memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan."

Kemudian ia kembali menatap Richard.

"Kalau kau benar-benar ayahnya, seharusnya kau bisa memahami itu."

Richard terdiam cukup lama.

"Aku kehilangan dia selama dua puluh tahun."

"Aku tahu."

"Aku hanya ingin kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

"Kalau begitu jangan mulai dengan mengambil keputusan untuknya."

Richard menarik napas panjang.

"Apa yang kau inginkan?"

Adrian menjawab tanpa ragu.

"Kejujuran."

Richard menatapnya.

"Semua yang kau ketahui tentang masa lalu Arunika. Siapa yang mengejarnya. Siapa yang membuatnya menghilang. Dan siapa yang sekarang mencoba menemukannya."

"Aku tidak memiliki semua jawabannya."

"Kalau begitu cari."

Nada Adrian semakin dingin.

"Karena jika kau tidak bisa memberikan jawaban sebelum mereka datang..."

Ia berhenti tepat di depan Richard.

"...aku akan mencarinya sendiri."

Richard menatap Adrian beberapa saat, lalu mengangguk pelan.

"Baik."

Namun sebelum percakapan itu berlanjut, ponsel Raka tiba-tiba bergetar Raka melihat layar Wajahnya berubah.

"Tuan."

Adrian langsung menoleh.

"Ada apa?"

"Tim yang mengawasi rumah lama keluarga Wilson baru saja kehilangan kontak."

Ruangan seketika sunyi.

"Berapa lama?"

"Enam menit."

Adrian menyipitkan mata.

"Dan kamera?"

"Semua kamera di sekitar lokasi mati secara bersamaan."

Richard langsung berdiri.

"Mustahil."

Raka menatapnya.

"Apa?"

Richard mengepalkan tangan.

"Kalau mereka sudah bergerak..."

Ia menatap Arunika.

"...berarti mereka tahu dia ada di sini."

Adrian perlahan menoleh kepada Arunika Wajahnya berubah dingin.

"Raka."

"Ya, Tuan."

"Tutup seluruh akses keluar."

Raka mengangguk.

"Jangan biarkan satu pun orang yang tidak dikenal mendekati rumah ini."

"Baik."

Adrian kemudian menatap Richard.

"Mulai sekarang, kau juga tidak boleh keluar sendirian."

Richard mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena kalau mereka benar-benar mengejar Arunika, kau juga sudah menjadi bagian dari masalah mereka."

Adrian mengambil ponselnya.

"Kita tidak akan menunggu mereka datang."

Arunika menatapnya.

"Maksudmu?"

Adrian memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.

"Kita yang akan menemukan mereka lebih dulu."

Tatapan Adrian berubah tajam.

"Dan kali ini, aku tidak akan memberi mereka kesempatan kedua."

Ruangan kembali sunyi, Richard memperhatikan wajah Adrian dengan saksama. Ada sesuatu yang berbeda dari pria di hadapannya. Bukan lagi sekadar seorang pria yang ingin melindungi Arunika.

Ada ketenangan yang terlalu dingin Adrian menatap Raka.

"Lokasi terakhir mereka?"

"Masih kami lacak, Tuan. Tapi sinyalnya sengaja diputus."

"Berapa orang di sana?"

"Enam anggota tim kita."

"Dan tidak ada kabar selama enam menit?"

"Benar."

Adrian mengangguk kecil.

"Berarti mereka bukan orang biasa."

Raka membuka tabletnya.

"Kemungkinan mereka sudah mengetahui pola pengamanan kita."

"Kalau begitu ubah polanya."

Adrian berjalan menuju meja, mengambil sebuah berkas, lalu melemparkannya ke hadapan Raka.

"Gunakan semua jalur yang kita punya. Satelit, jaringan komunikasi, kamera jalan, semuanya."

Raka menatap berkas itu.

"Kalau ada perlawanan?"

Adrian terdiam Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah. Tatapannya begitu dingin hingga Richard tanpa sadar menegang.

"Raka..."

"Ya, Tuan."

Adrian berbicara dengan suara rendah.

"Singkirkan yang menghalangi kita."

Raka terdiam sesaat.

"Termasuk jika mereka menyerang lebih dulu?"

Adrian menatapnya lurus.

"Jangan beri mereka kesempatan untuk menyerang Arunika."

Richard tiba-tiba berdiri.

"Tunggu."

Adrian menoleh Richard menatapnya dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.

"Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?"

"Aku sadar."

"Ini bukan lagi sekadar perlindungan."

Adrian tidak menjawab Richard melangkah mendekat.

"Kalau kau bergerak seperti ini, kau bisa membuat perang terbuka dengan orang-orang itu."

"Kalau memang itu yang diperlukan."

Richard terdiam ia melihat sisi lain pria tersebut, Bukan sisi seorang pelindung Melainkan sisi seseorang yang sudah mengambil keputusan bahwa siapa pun yang berdiri di antara dirinya dan keselamatan Arunika akan disingkirkan.

Richard menatap Arunika Gadis itu sama sekali tidak terkejut.

"Adrian..."

Adrian segera menoleh kepadanya Nada suaranya berubah.

"Jangan takut."

"Aku bukan takut padamu."

"Bagus."

Adrian berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah darinya.

"Aku hanya tidak ingin kamu melihat apa yang harus kulakukan untuk memastikan kamu tetap aman."

Richard memperhatikan keduanya Kemudian ia berkata pelan,

"Selama dua puluh tahun aku mencari anakku."

Adrian menatapnya.

"Dan sekarang aku menemukannya."

Richard menarik napas.

"Tapi orang pertama yang kulihat berdiri di depannya justru pria yang lebih menakutkan daripada orang-orang yang sedang mencarinya."

Adrian tidak menyangkal.

"Kalau begitu kau sudah melihat alasanku."

Richard mengernyit.

"Alasan?"

Adrian menatapnya tajam.

"Aku tidak takut menjadi orang yang mereka takuti."

Ia berbalik kepada Raka.

"Berapa lama?"

Raka memahami maksudnya.

"Sepuluh menit untuk menemukan lokasi mereka."

"Bagus."

Adrian mengambil jasnya.

"Setelah itu kita berangkat."

Arunika segera bertanya,

"Aku ikut."

"Tidak."

"Adrian."

"Kali ini tidak."

Arunika menatapnya.

"Kenapa?"

Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Karena tempat yang akan kami datangi bukan tempat untukmu."

Richard menatap Adrian dengan serius.

"Dan kalau Arunika menolak tinggal di sini?"

Adrian menoleh.

"Dia boleh menolak."

Richard terkejut Adrian melanjutkan,

"Aku bisa melindunginya. Tapi aku tidak akan pernah memaksanya."

Untuk sesaat, ketegangan di ruangan itu sedikit mereda, Namun ponsel Raka kembali bergetar Ia melihat layar.

"Tuan."

Adrian langsung menoleh.

"Apa?"

Raka mengangkat wajah.

"Kami menemukan lokasi mereka."

"Di mana?"

Raka menelan ludah.

"Rumah lama keluarga Wilson."

Richard membeku.

"Rumah itu?"

Raka mengangguk.

"Dan ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Tim kita tidak menemukan enam anggota yang hilang."

Ruangan kembali sunyi.

"Yang mereka temukan hanya kendaraan kosong."

Tatapan Adrian berubah sepenuhnya Ia mengambil ponselnya.

"Raka."

"Ya, Tuan."

"Batalkan semua rencana sebelumnya."

Raka menunggu perintah berikutnya Adrian menatap Richard.

"Sepertinya mereka tidak datang untuk membawa Arunika pergi."

Richard mengernyit.

"Lalu untuk apa?"

Adrian menjawab dingin,

"Mereka sedang mengirim pesan."

Tatapannya kemudian beralih kepada Arunika.

"Dan aku tidak suka cara mereka menyampaikannya."

Adrian berjalan menuju pintu.

"Raka."

"Ya?"

"Kita berangkat sekarang."

Raka mengikuti Sebelum keluar, Adrian berhenti dan menoleh sekali lagi.

"Kali ini..."

Tatapannya menjadi begitu dingin hingga Richard menyadari satu hal, Pria itu tidak sedang mengejar musuh Ia sedang memburu mereka.

"...aku ingin tahu siapa yang cukup bodoh untuk menyentuh sesuatu yang sudah kulindungi."

Pintu tertutup Richard masih berdiri diam, Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa Adrian bukan sekadar orang yang menjaga Arunika.

Adrian adalah seseorang ketika sudah menganggap seseorang sebagai tanggung jawabnya, tidak akan berhenti sampai ancaman terakhir benar-benar lenyap.

1
Kiara Maulida Aizaaa
kak kita saling support yuk
Winna Yun: iya ka💪🤗
total 1 replies
the virtuso
semangat kak bikin novelnya kalau mau boleh mampir buat baca sama like novel aku GK kak
the virtuso: ok kak
total 2 replies
nischa
hai,kak aku mampir ceritanya bagus semangat kak😍mampir juga ya ke ceritaku
Winna Yun: siap kakak terimakasih kunjungan nya🤗
total 1 replies
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!