Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 : Pulang ke rumah yang asing.

‎Suasana ruang rawat inap di RS St. Corolus terasa lebih cerah dari biasanya. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menyinari tempat tidur yang kini sudah kosong dari peralatan medis. Hampir sebulan berlalu sejak Elena menjalani operasi tumor otak stadium tiga, dan hari ini adalah hari yang dinanti, dokter sudah memperbolehkannya pulang, karena kondisinya dinilai cukup stabil untuk pemulihan di rumah.

‎‎Celine melipat baju ganti ibunya dengan rapi, memasukkannya satu per satu ke dalam tas berwarna hitam. Elena duduk di tepi tempat tidur, kepalanya masih dibalut perban tipis yang rapi. Matanya menatap putrinya lekat-lekat, penuh kebingungan yang sejak kemarin-kemarin sudah ingin ia tanyakan.

‎‎"Cel..." panggilnya pelan, suaranya masih agak lemah namun terdengar jauh lebih baik dari minggu-minggu sebelumnya. "Kenapa selama Ibu dirawat di sini... Jason tidak pernah sekalipun datang menjenguk Ibu?"

‎‎Tangan Celine yang sedang merapikan sikat gigi berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh.

‎‎"Apakah kalian sedang bertengkar?" lanjut Elena bertanya dengan cemas. "Bukankah Jason yang membiayai operasi dan semua biaya perawatan Ibu selama ini? Ibu tahu dia itu sibuk, tapi... setidaknya sekali saja datang melihat keadaan Ibu, kan?"

‎‎Celine menarik napas panjang, lalu menutup ritsleting tas perlahan. Ia berbalik menatap ibunya, tersenyum tipis yang berusaha terlihat tenang, meski matanya menyembunyikan sesuatu yang berat.

‎‎"Ibu tidak usah terlalu memikirkan hal itu sekarang," jawabnya lembut namun tegas, mengalihkan topik. "Yang penting sekarang Ibu sudah boleh pulang, kondisi Ibu semakin membaik. Sisanya... biarlah berjalan apa adanya."

‎‎"Tapi—"

‎‎"Ayo, Bu," potong Celine halus, merangkul bahu ibunya agar berdiri. "Mobil sudah menunggu di depan. Kita pulang."

‎‎Elena mengangguk pelan, meski kerut di dahinya belum hilang. Ia menerima bantuan putrinya untuk berdiri, meraih tas yang sudah disiapkan itu. Namun saat mereka melangkah keluar dari pintu kamar rawat, langkahnya terhenti seketika.

‎‎Di koridor, tepat di depan pintu, berdiri empat orang pria berjas hitam yang tegap dan serius. Mereka tidak berbicara, tidak bergerak berlebihan, namun kehadiran mereka begitu mendominasi ruang itu hingga beberapa pasien dan perawat yang lewat pun menunduk dan memberi jalan.

‎‎Elena menatap keempat orang itu bergantian, lalu kembali menatap Celine dengan mata yang melebar penuh kebingungan dan sedikit cemas.

‎‎"Cel... sebenarnya ada apa ini? Siapa mereka? Kenapa ada pengawal sebanyak ini hanya untuk mengantar kita pulang?"

‎‎Celine meremas sedikit ujung tas di tangannya, lalu tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lembut namun tetap tidak menjelaskan.

‎‎"Ibu... aku akan menceritakan semuanya. Tapi nanti saja. Setelah sampai di rumah, setelah Ibu beristirahat dulu dengan tenang. Sekarang... tolong percaya padaku, ya?"

‎‎Elena menatap putrinya lama, mencari kebenaran di balik tatapan itu. Ia tahu Celine menyembunyikan sesuatu yang besar. Namun melihat ketegasan sekaligus kelembutan di wajah anaknya, akhirnya ia mengangguk pelan, menelan segala pertanyaan yang masih tertahan di tenggorokannya.

‎‎"Baik... Ibu tunggu sampai rumah."

‎‎Salah satu pria berjas hitam itu melangkah maju sedikit, memberi hormat kecil dengan kepala.

‎‎"Nyonya Celine, Nyonya Elena. Mobil sudah siap di pintu keluar utama. Kami yang akan mengantar."

‎‎Celine mengangguk, lalu merangkul ibunya lebih erat saat mereka mulai berjalan diiringi keempat pengawal itu. Di luar, mobil hitam panjang sudah menunggu. Pintu dibuka oleh salah satu pengawal.

‎‎"Silakan, Nyonya," ucapnya sopan.

‎‎Celine membantu ibunya masuk, lalu ia duduk di sampingnya. Mobil itu melaju meninggalkan area rumah sakit, membelah jalanan yang semakin sepi, hingga akhirnya berbelok masuk ke gerbang tinggi yang dijaga dua orang pengawal berseragam, lalu melaju perlahan menuju sebuah bangunan rumah yang luas dan tertata rapi di tengah lahan hijau yang rimbun. Bukan apartemen, bukan pula rumah kontrakan sederhana yang biasa Elena tempati. Ini adalah rumah dua lantai bergaya modern klasik yang terlihat bersih, tenang, dan jauh dari kebisingan kota.

‎‎Saat pintu mobil terbuka, Elena turun perlahan sambil memegang lengan Celine. Matanya menyapu sekeliling dengan penuh keheranan.

‎‎"Cel..." panggilnya pelan, matanya masih menatap bangunan di depannya dengan ragu. "Rumah ini... rumah siapa? Kenapa kita datang ke sini?"

‎‎Celine membantu ibunya melangkah menuju pintu utama, tersenyum tipis namun ada sedikit kesedihan yang tersembunyi di balik tatapannya.

‎‎"Ini rumah baru untuk Ibu, Bu," jawabnya lembut namun tegas. "Kita sudah tidak bisa kembali ke rumah kontrakan yang lama. Pemiliknya mengakhiri kontrak lebih awal, dan kita pun... terpaksa harus pindah."

‎‎Elena berhenti melangkah, menatap putrinya dengan mata yang membelalak tak percaya.

‎"Diusir? Diusir dari rumah kontrakan itu? Kenapa? Bukankah biasanya kita diberi waktu untuk mencari tempat baru? Dan rumah ini... lihatlah, Cel. Rumah ini jauh lebih bagus dan mahal dari yang pernah kita sanggupi. Dari mana kita punya uang untuk tinggal di tempat seperti ini?"

‎‎Celine membuka pintu utama, membiarkan ibunya masuk ke dalam ruang tamu yang terasa hangat dan tertata rapi.

‎‎"Nanti aku jelaskan semuanya secara rinci, Bu. Yang penting sekarang Ibu bisa beristirahat dengan tenang di sini. Dokter bilang Ibu butuh lingkungan yang sejuk dan tenang untuk pemulihan. Di sini udaranya bersih, tidak bising, dan ada orang yang akan membantu merawat Ibu setiap hari."

‎‎"Tapi Ibu tidak mau menerima sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, Cel," Elena duduk di tepi sofa, tangannya masih sedikit gemetar karena lemah maupun karena kebingungan. "Apakah... ini dari Jason? Apakah dia yang menyewa atau membelikan rumah ini untuk kita?"

‎‎Celine menghela napas panjang, lalu duduk di samping ibunya, menggenggam tangan keriput itu erat.

‎‎"Bu... tolong jangan tanya siapa yang membiayai dulu. Percayalah padaku, aku tidak akan melakukan apa pun yang merugikan Ibu atau membawa kita ke dalam masalah. Sementara waktu, anggap saja ini rumah kita. Ibu fokus sembuh dulu, ya?"

‎‎Elena menatap putrinya lama, melihat ketegasan sekaligus kelembutan di wajah anaknya. Ia tahu Celine menyembunyikan sesuatu yang besar, sesuatu yang mungkin belum siap untuk diceritakan sekarang. Dengan berat hati, akhirnya ia mengangguk pelan.

‎‎"Baik... Ibu tidak akan mendesakmu sekarang. Tapi janjilah, begitu Ibu sudah lebih kuat, kau akan menceritakan semuanya. Termasuk... siapa sebenarnya yang ada di belakang semua ini."

‎‎"Aku janji," bisik Celine lembut, lalu mencium punggung tangan ibunya. "Sekarang biarkan aku mengantar Ibu ke kamar. Kamarnya ada di lantai bawah, jadi Ibu tidak perlu naik turun tangga."

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Malam semakin larut, jalanan kota mulai sepi dan hanya diterangi cahaya lampu jalan yang berderet. Jason menyetir sendirian, wajahnya tampak kusut, matanya merah, belum sepenuhnya pulih dari kekesalan yang masih membara di dadanya. Sejak Celine tak pernah memberi kabar lagi, dan semua akses menuju wanita itu terputus, ia merasa seolah kehilangan separuh nyawanya.

‎‎Pikirannya masih berkecamuk pada Celine, pada kata-kata yang wanita itu ucapkan saat terakhir bertemu jika ia sudah menikah dan memutuskan hubungan dengannya.

‎‎"Tidak..." Jason menggelengkan kepalanya masih tak percaya, "Ini sudah sebulan, tapi kamu benar-benar tidak menemui dan menghubungiku. Apa kamu benar-benar sudah tidak membutuhkan aku lagi, Cel?"

‎‎Ia terus menyetir dengan pikiran berkecamuk hingga tidak menyadari bahwa sejak beberapa kilometer yang lalu, ada empat kendaraan yang perlahan mengekor di belakangnya, menjaga jarak aman seolah bayangan yang tak terlihat.

‎‎Saat mobilnya memasuki jalan tol yang lebih sepi dan lurus, keempat mobil itu tiba-tiba mempercepat laju. Dua di antaranya melaju mendahului dan memotong jalannya secara tiba-tiba, memaksa Jason mengerem mendadak hingga ban berdecit keras di aspal. Sementara dua mobil lainnya mengunci jalan dari belakang, mematikan segala kemungkinan untuk mundur atau melarikan diri.

‎‎"Kalian gila?!" bentak Jason, menepuk setirnya kesal. Ia mencoba menyalakan lampu sorot dan membunyikan klakson berulang kali, namun mobil-mobil itu tidak bergeming.

‎‎Pintu dari keempat mobil itu terbuka serentak. Sekitar sepuluh orang pria berjas hitam turun, berjalan tegap dan serius ke arah mobil Jason. Tidak ada senjata yang terlihat secara mencolok, namun postur dan tatapan mereka cukup membuat siapa pun merinding. Salah satu pria itu mengetuk kaca jendela sisi pengemudi dengan buku jari, perlahan namun tegas.

‎‎"Turun, Tuan Pradana. Jangan persulit keadaan."

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
🍓ADIRA🍓
main peran jadi ceo dulu y Dam 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!