Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Semakin Terikat
Tok... tok... tok...
Suara ketukan terdengar dari pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Daffa melangkah masuk ke dalam ruangan. Rania yang sejak tadi duduk di depan meja baru saja menutup berkas di hadapannya.
Tatapan Daffa langsung tertuju kepadanya.
"Kau pandai menyusun rencana," ucap Daffa.
Rania hanya menunduk sambil merapikan beberapa berkas di atas meja. "Kau juga," balas Rania.
Daffa tersenyum tipis.
Ia berjalan mendekat, kemudian menyandarkan tubuhnya di sisi jendela.
Beberapa saat mereka terdiam.
Hingga akhirnya Daffa kembali membuka suara. "Rania."
"Hm?"
"Bagaimana perasaanmu saat pertama kali melihat wajahku?" Tanya Daffa.
Tangan Rania berhenti bergerak.
Daffa melangkah, ia berjalan mendekati Rania.
"Setelah penglihatanmu membaik seperti sekarang..." Daffa membungkukkan sedikit tubuhnya hingga wajah mereka berada hampir sejajar.
"Apakah aku masih tampan?"
Rania berkedip.
Daffa mengangkat satu alis. "Atau kau masih belum bisa melihat wajahku dengan jelas?"
Rania menatap wajah pria itu beberapa detik.
Kemudian bibirnya melengkung tipis. "Masih sama."
Daffa tersenyum.
Jari Rania perlahan terangkat. Ia menyentuh sisi rahang Daffa dengan lembut. "Tapi..." ucapnya.
Daffa menunggu.
"Hanya bagian ini yang berbeda." Jari Rania bergerak turun. Tepat menunjuk dada Daffa. "Dulu aku tidak bisa melihat apa yang ada di baliknya," ucap Rania lagi.
Daffa terdiam, untuk sesaat tatapannya berubah.
Pria itu kemudian meraih telunjuk Rania, tanpa melepaskannya, Daffa mengecup ujung jari wanita itu.
Rania tersentak. Ia spontan hendak menarik tangannya.
Namun Daffa menahannya, tatapan mereka bertemu.
"Ya," ucap Daffa pelan. "Sekarang semuanya sudah jelas."
Rania menelan ludah.
Daffa melepaskan tangan Rania perlahan. "Aku juga sudah tidak ingin menahan diriku lagi, Rania."
Deg!
Jantung Rania berdetak lebih cepat. Namun sebelum ia sempat menjawab—
Tok... tok... tok...
Suara ketukan kembali terdengar.
"Tuan Daffa?"
Daffa mengalihkan pandangannya. "Masuk."
Seorang pelayan berdiri di ambang pintu. "Tuan, ayah Anda sudah tiba. Beliau sedang menunggu di ruang tamu."
Rania langsung menarik tangannya, wajahnya berubah panik. "Apa aku bilang..." ucap Rania.
Daffa menatapnya.
"Tuan Daniel pasti datang." Rania menyentuh kepalanya yang mulai terasa pusing. "Aku harus bagaimana sekarang?"
Daffa menghela napas. "Tunggu di sini. Aku akan menemui Ayah."
Namun terlambat. Pintu kembali terbuka.
"Oh..." Suara seorang pria tua terdengar dari ambang pintu. "Jadi kalian ada di sini."
Rania langsung membeku.
Tuan Daniel berdiri di sana.
Meskipun usianya tidak lagi muda, pria itu masih terlihat berwibawa dan gagah.
Tatapannya kemudian jatuh kepada Rania. Ada kelembutan yang langsung terlihat di matanya.
Bagi Rania, Tuan Daniel bukan sekadar ayah Daffa.
Ia adalah sosok ayah yang selama ini selalu memperlakukannya dengan penuh perhatian, meskipun Rania bukan anak kandungnya.
Tuan Daniel berjalan masuk. "Rania."
Rania berdiri. "Tuan Daniel..."
"Kenapa masih memanggilku seperti itu?" Tanya Tuan Daniel.
Rania terdiam.
Tuan Daniel justru tersenyum.
Kemudian ia menghampiri Rania dan menggenggam tangannya. "Ayo duduk." Ia membawa Rania duduk di sisi ranjang.
Tatapannya kemudian turun ke perut Rania yang masih datar. "Jadi putri Ayah sudah mengandung?"
Mata Rania langsung berkaca-kaca. "Sa-satu bulan lebih, Ayah."
Tuan Daniel terdiam sejenak. Kemudian wajahnya terlihat begitu bahagia. "Benarkah?"
Rania mengangguk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ayah..."
Tuan Daniel langsung memeluk Rania. "Rania, aku turut berdukacita atas meninggalnya paman mu di desa Bambu, dan satu lagi... Maafkan Kakakmu Rania."
Rania membeku dalam pelukan itu, ia hanya mengangguk kecil.
Sementara itu, Daffa berdiri beberapa langkah dari mereka.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya mengarah ke luar jendela.
"Ayah akan membuat kakakmu berhenti mencampuri urusanmu," ucap Tuan Daniel.
Daffa akhirnya menoleh. "Apa tujuan Ayah datang ke sini?"
Tuan Daniel melepaskan pelukannya dari Rania. Tatapannya beralih kepada Daffa. "Kau akan bertunangan dengan Meyra."
Suasana seketika berubah. "Sudahi permainanmu dengan adikmu ini."
Rania langsung terdiam.
Daffa menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ayah masih keras kepala."
Tuan Daniel menghela napas.
Namun Daffa justru melanjutkan dengan tenang. "Baiklah." Ia berjalan mendekat. "Kalau begitu, aku akan menikahi Rania terlebih dahulu."
Rania membelalak.
Daffa melanjutkan. "Setelah itu aku akan bertunangan dengan Meyra."
Wajah Tuan Daniel seketika berubah. "Jangan bercanda, Daffa."
"Aku tidak sedang bercanda," jawab Daffa mantap.
Rania menatap Daffa dengan mata membesar.
Begitu pula Tuan Daniel.
Pria itu benar-benar tidak menyangka putranya akan mengucapkan kalimat tersebut dengan begitu tenang.
Daffa hanya menatap ayahnya.
Dingin.
Tegas.
Seolah keputusan itu sudah bulat.
Sementara itu di kediaman Aristama, suasana kamar Brian jauh lebih tenang.
Brian duduk di sofa ketika Mona menghubunginya lewat ponsel.
"Brian, kau baik-baik saja?" tanya Mona, setelah ia melihat kabar di media mengenai Brian.
"Hm. Aku baik," jawab Brian.
Mona menghela napas. "Aku khawatir melihat beberapa media terus memberitakan kabar buruk tentangmu."
Brian hanya diam.
Namun Mona kembali bertanya. "Aku penasaran..."
Brian mengangkat pandangan.
"Benarkah kau melakukan KDRT terhadap mantan istrimu?"
Tatapan Brian langsung berubah. "Mona."
"Hm?"
"Kau bisa bertanya langsung kepadanya," jawab Brian datar.
Mona terkekeh kecil. "Aku hanya penasaran."
Brian tidak menjawab.
Namun Mona kembali melanjutkan. "Lalu bagaimana dengan kabar kehamilan Rania?"
Brian menggenggam ponselnya lebih erat.
"Katanya dia mengandung anak dari sahabatmu," ucap Mona.
Keheningan langsung mengisi percakapan mereka..
"Kau terlalu banyak bertanya hari ini," ucap Brian.
Mona terdiam. Beberapa detik berlalu.
Brian akhirnya bersuara lagi. "Jangan pernah berharap lebih dariku."
Mona membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar.
Brian melanjutkan dengan nada datar. "Kau memang menyelamatkanku dari kematian."
Tatapannya tajam. "Dan aku akan membalasnya." Brian menyandarkan tubuhnya. "Aku akan memastikan bisnis keluargamu tetap berjalan lancar di bawah naunganku."
Mona tersenyum tipis.
Namun jelas terlihat ada sedikit kegugupan di wajahnya.
"Paham?" ucap Brian.
Mona menyibakkan rambutnya ke belakang di seberang sana, seolah menenangkan dirinya sendiri.
"Iya." Mona menarik napas. "Terima kasih sudah mengingatkanku."
Lalu Mona mengembalikan topik pembicaraan utamanya. "Kalau begitu, persiapkan dirimu, teman ku akan memeriksa kaki mu nanti. Dan ingat pastikan jadwal mu kosong," jelas Mona.
"Baik," ucap Brian.
"Selamat istirahat, Brian," ucap Mona.
"Ya."
Tut! Panggilan berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Rio yang sejak tadi merapikan beberapa berkas di meja Brian akhirnya menoleh.
"Tuan."
Brian mengangkat pandangan.
"Hati-hati menghadapi Nona Mona."
Brian menatap Rio beberapa detik.
Kemudian mengangguk tipis. "Aku tahu."
Rio merapikan berkas terakhir. "Semuanya sudah selesai, Tuan."
Ia kemudian melirik jam. "Kakek Anda mungkin sudah menunggu."
Brian berdiri. Ia mengambil jas hitam yang tergantung di kursi. "Kalau begitu, ayo kita pergi."
Tak lama, mobil melaju membelah jalanan Kota Laven.
Brian duduk di kursi belakang.
Tatapannya tertuju pada pemandangan di luar jendela.
Namun pikirannya kembali pada sebuah telepon yang ia terima sebelum Mona menghubunginya.
Suara Robby masih terngiang di kepalanya.
'Tuan Muda, Kakek Anda ingin berbicara.'
Saat itu Brian sempat mengernyit.
Kemudian suara serak yang begitu ia kenal terdengar dari sambungan telepon.
'Cepat kemari. Kakek punya sesuatu untukmu.'
Brian tersenyum kecil mengingatnya.
"Apa lagi yang Kakek rencanakan?" gumamnya.
Bersambung...