Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Tiga Minggu
“Hasil darahnya positif.”
Dokter di klinik swasta meletakkan laporan di depan Renata.
Kalimat itu membuat semua suara di ruangan seolah menjauh.
Renata menatap angka pemeriksaan, lalu gambar hasil pemindaian yang masih terlalu awal untuk menunjukkan banyak hal.
“Saya hamil?”
“Ya. Kehamilannya masih sangat awal.” Dokter menunjuk tanggal menstruasi dan hasil laboratorium. “Dari perkiraan waktu pembuahan, sekitar tiga minggu. Dalam pencatatan obstetri, usia kehamilan biasanya dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir, jadi angkanya bisa berbeda. Kita ulang pemeriksaan dalam satu sampai dua minggu untuk memastikan perkembangan.”
Renata menghitung tanggal dalam kepala.
Malam sebelum Maladewa.
Tidak ada kemungkinan lain. Anak itu adalah anak Nathan.
Tangannya bergerak ke perut tanpa sadar. Tidak ada perubahan yang terlihat. Di balik kain blus, tubuhnya masih sama. Namun mengetahui ada kehidupan yang baru mulai tumbuh membuat telapak tangannya terasa hangat.
Kehangatan itu disusul ketakutan.
“Apakah semuanya normal?”
“Sejauh yang bisa dinilai pada tahap ini, hasilnya sesuai kehamilan awal. Tapi jangan menganggap satu pemeriksaan cukup.” Dokter menjelaskan tanda bahaya seperti nyeri berat, perdarahan, atau pingsan berulang yang memerlukan pertolongan segera. “Untuk obat, beri tahu dokter atau apoteker bahwa Anda hamil. Jangan menghentikan obat rutin tanpa konsultasi.”
“Saya nggak minum obat rutin.”
“Bagus. Mulai vitamin kehamilan sesuai resep, makan sedikit tapi sering kalau mual, dan jadwalkan kontrol ulang.”
Renata menerima penjelasan tertulis. Ia meminta hasil tidak dikirim ke alamat Puri dan menolak mencantumkan nama Nathan sebagai kontak.
“Apakah pasangan Anda tahu?” tanya dokter.
“Belum.”
Dokter tidak menghakimi. “Keputusan memberi tahu milik Anda. Yang penting, ada satu orang tepercaya yang tahu jika Anda membutuhkan bantuan.”
Dokter juga menanyakan jenis pekerjaan Renata. Penerbangan singkat tidak otomatis dilarang, tetapi jadwal panjang, dehidrasi, dan kelelahan perlu dinilai kembali pada kontrol berikutnya. Renata diminta membawa catatan lengkap pekerjaan dan tidak menyembunyikan gejala dari dokter perusahaan.
“Saya belum mau kantor tahu.”
“Kerahasiaan medis tetap dijaga. Tapi keselamatan Anda dan penumpang harus dipertimbangkan jika mual atau pusing mengganggu tugas.”
Renata mengangguk. Ia tidak akan menggunakan rahasia sebagai alasan mengambil risiko di kabin. Untuk sementara, proyek konsultasi jarak jauh dapat memberi penghasilan tanpa penerbangan panjang.
Sebelum pergi, ia membaca persetujuan pemeriksaan ulang dan membayar melalui rekening pribadinya. Tidak ada kartu keluarga Halim, asuransi Nathan, atau sekretaris yang menerima pemberitahuan.
Renata langsung memikirkan Tania.
Ia meninggalkan klinik dengan map tertutup di dalam tas. Di luar, lalu lintas Jakarta bergerak seperti biasa. Orang-orang membeli kopi, pengemudi memanggil penumpang, dan layar gedung menampilkan iklan.
Dunia tidak berubah meski dunia Renata baru saja bergeser.
Ia menelepon Tania dari dalam mobil.
“Positif,” katanya begitu panggilan tersambung.
Tania diam selama beberapa detik. “Kamu yakin?”
“Tes darah. Dokter bilang kira-kira tiga minggu sejak pembuahan.”
“Nathan?”
“Siapa lagi?”
“Kamu harus bilang kepadanya.”
“Tidak.”
“Ren, dia ayahnya.”
“Kalau dia tahu, aku nggak akan bisa pergi.”
“Dia sudah bilang nggak akan pakai keluarga atau harta untuk menahanmu.”
“Dia bisa berubah saat tahu ada anak. Opa juga bisa berubah. Seluruh keluarga Halim akan menganggap tubuhku milik mereka.”
Tania mengembuskan napas berat. “Jadi kamu mau bagaimana?”
“Selesaikan mediasi sebelum perutku terlihat. Setelah cerai, anak ini ikut margaku.”
“Kamu akan membesarkannya sendiri?”
Renata memandang tangannya yang masih berada di atas perut. “Kalau harus.”
“Bukan berarti kamu harus menolak semua bantuan.”
“Aku menerima bantuan darimu.”
“Aku serius. Punya anak bukan proyek satu orang.”
“Menikah juga seharusnya bukan proyek satu orang. Aku sudah melakukannya tiga tahun.”
Tania terdiam. Ia tahu tidak ada kalimat sederhana yang dapat menghapus pengalaman tersebut.
“Setidaknya bicara dengan Gerald sebelum membuat keputusan hukum,” katanya. “Jangan menyembunyikan sesuatu lalu membahayakan posisimu sendiri.”
“Aku akan bicara hanya soal perlindungan dan jadwal. Bukan memberi tahu nama ayah.”
“Keras kepala.”
“Takut,” koreksi Renata. “Aku sangat takut.”
Mengakuinya membuat napasnya sedikit lebih ringan.
Keputusan itu tidak membuat ketakutan hilang. Ia masih memikirkan biaya, pekerjaan, jadwal penerbangan, dan kondisi Yolanda. Ia bahkan tidak tahu apakah kehamilan tersebut akan berkembang baik sampai pemeriksaan berikutnya.
Namun di antara semua ketidakpastian, satu hal terasa jelas.
Anak ini bukan tali untuk mengikatnya kepada Nathan.
“Tolong rahasiakan,” kata Renata.
“Aku nggak suka, tapi aku nggak akan mengkhianatimu.” Suara Tania melunak. “Kalau mual, pusing, atau takut, telepon kapan saja. Jangan pura-pura kuat sendirian.”
Mata Renata terasa panas. “Terima kasih.”
Sesampainya di Puri Teratai, ia masuk melalui pintu samping. Bik Inah sedang menata meja makan dengan sup bening, roti panggang, dan buah potong.
“Tuan Nathan bilang Nyonya mual,” katanya. “Beliau minta semua makanan hari ini jangan pakai santan dan jangan digoreng.”
Renata berhenti.
“Tuan ada di rumah?”
“Baru pulang. Tadi beli buah sendiri, tapi pilihnya lama sekali sampai telepon saya tiga kali.”
Di meja terdapat jeruk, apel, biskuit tawar, dan es kopi susu yang kali ini tidak disentuh Renata.
Nathan turun dari tangga sambil membawa sebuah diffuser baru.
Di belakangnya ada kantong dari toko buku. Sebuah panduan makanan sederhana dan catatan menu yang tidak memicu mual terlihat di dalam. Nathan jelas mencari jawaban sejak semalam tanpa tahu pertanyaan sebenarnya.
“Yang lama terlalu tajam,” katanya. “Aku pilih aroma yang lebih ringan.”
“Saya nggak meminta.”
“Aku tahu.”
Ia tidak memaksa Renata berterima kasih. “Kalau masih pusing, aku antar ke dokter.”
“Saya sudah ke klinik.”
Wajah Nathan langsung tegang. “Kata dokter?”
Renata merasakan map di dalam tas.
“Kelelahan. Saya perlu istirahat.”
Nathan menatapnya seolah ingin bertanya lebih jauh. Dulu, ia akan mengambil ponsel Renata atau memerintahkan staf mencari nama klinik. Kali ini ia mengingat aturan nol di teras rumah Opa.
“Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, bilang,” katanya.
“Saya bisa mengurus diri sendiri.”
“Aku tahu. Menawarkan bantuan bukan berarti menganggapmu nggak mampu.”
Perubahan kecil itu membuat kebohongan di lidah Renata terasa semakin berat.
Kebohongan pertama terasa pahit, tetapi keluar dengan tenang.
Nathan mengangguk. “Baik. Aku nggak akan mengganggu.”
Renata membawa tas ke kamar tamu. Ia mengeluarkan laporan darah, jadwal kontrol, dan resep vitamin. Semuanya dimasukkan ke dalam map tanpa logo lalu diletakkan di laci meja.
Ia mengambil kunci kecil.
Klik.
Laci terkunci.
Di lantai bawah, Nathan bertanya kepada Bik Inah apakah sup sudah cukup hangat. Langkahnya kemudian terdengar menaiki tangga.
Renata berdiri di depan meja dengan satu tangan menekan perut.
Langkah itu berhenti di depan pintunya.
Nathan mengetuk pelan.
“Rena, aku boleh masuk?”
Rahasia terbesar di antara mereka kini hanya dipisahkan oleh satu pintu.