"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRING-IRINGAN SANG PENGUASA
Setelah menuntaskan sarapan pagi yang tenang di ruang makan megah, Haidar membimbing Elara menuju pelataran depan mansion. Jemari kokoh sang bos mafia menggenggam erat tangan Elara, seolah menegaskan perlindungan mutlak yang tak tergoyahkan.
Di pelataran mansion, lima unit SUV hitam mengkilap sudah berjejer rapi dengan mesin yang menderu halus. Haidar tidak mengemudi sendiri pagi ini. Seorang sopir pribadi berseragam rapi dan bersarung tangan hitam dengan sigap membukakan pintu tengah untuk mereka berdua. Tak hanya itu, dua mobil pengawal penuh dengan anak buah bersenjata berada di barisan depan, serta dua mobil pengawal lainnya bersiap menjaga di barisan belakang untuk mengamankan perjalanan mereka.
"Masuklah," ucap Haidar lembut sembari membantu Elara duduk nyaman di kursi penumpang yang dilapisi kulit mewah.
Elara memandang ke luar jendela saat iring-iringan lima mobil hitam itu mulai bergerak membelah gerbang utama mansion. Rasa cemas kembali merayap di dadanya ketika membayangkan wajah ayah dan ibunya. Bagaimanapun juga, ia harus menyampaikan kenyataan pahit tentang kebangkrutan, kejahatan Pak Surya yang telah dilenyapkan, hingga kehamilannya dari seorang pria penguasa dunia bawah tanah.
Haidar yang menyadari perubahan raut wajah Elara merengkuh jemari gadis itu dan menggenggamnya rapat di atas pangkuannya.
"Jangan takut," ujar Haidar dengan suara rendah yang menenangkan. "Kau tidak sendiri lagi, Elara. Hari ini, biarkan aku yang mengambil alih segalanya di hadapan orang tuamu."
Elara menyandarkan kepalanya di bahu bidang Haidar, merasakan detak jantung pria itu yang beratur konstan dan menenangkan. Jemari mereka saling bertaut erat, mengikis sisa-sisa ketakutan yang sempat membayangi benaknya.
"Aku percaya padamu, Haidar. Terima kasih," bisik Elara tulus sebelum akhirnya memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan yang mendekapnya di tengah ketidakpastian takdir.
Haidar tak menjawab dengan kata-kata, melainkan merapatkan genggaman tangannya dan mengecup dahi Elara sekali lagi dengan lembut. Tatapan mata sang bos mafia yang terlempar ke luar jendela berubah begitu tajam dan dingin. Ia tahu persis beban mental yang harus dihadapi Elara begitu tiba di rumah orang tuanya nanti. Namun baginya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tak bisa ia selesaikan.
Iring-iringan lima mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Mobil barisan depan dengan cepat membuka jalur, membuat kendaraan lain bergegas memberi jalan pada rombongan megah yang menebarkan aura dominasi mutlak tersebut.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit hingga iring-iringan itu memelankan lajunya dan memasuki kawasan perumahan tempat tinggal orang tua Elara. Deru mesin mobil-mobil mahal itu memecah ketenangan gang rumah Elara, membuat beberapa tetangga keluar dan memandang penasaran ke arah iring-iringan yang akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah keluarga Elara.
Sopir pribadi Haidar dengan sigap turun dan membukakan pintu. Haidar melangkah keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Elara turun. Dua puluh anak buah berjas hitam langsung menyebar dengan sigap, menjaga perimeter di sekitar rumah agar tidak ada gangguan sekecil apa pun.
Elara berdiri di depan pagar rumah lamanya, menatap pintu kayu yang sangat ia kenali dengan napas yang tertahan di dada. Di sampingnya, Haidar berdiri gagah, siap menggandengnya melangkah masuk untuk menghadapi babak baru kehidupan mereka.