Indonesia
NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan Kael

Mengayun dari samping, batang besi di tangan pria berjaket hitam itu membelah udara malam yang senyap.

Nio menunduk cepat, merendahkan tumpuan tubuhnya saat benturan logam menghantam dinding semen di belakangnya hingga memercikkan bunga api.

Sambil meremas lembut kertas kosong di dalam saku, Nio memanfaatkan momentum untuk menyapu kaki lawan dengan gerakan melingkar yang presisi.

Pria pertama roboh menghantam aspal basah, membiarkan besi di tangannya terlepas dan menggelinding jauh ke sudut gang.

Tanpa memberi jeda napas, pria kedua maju melayangkan tinju keras beruntun yang mengincar area wajah Nio.

Nio menangkis dengan siku, mengalihkan arah serangan seraya mendorong dada pria itu memakai bagian telapak tangannya.

"Sinyal itu cuma memanfaatkan lobus temporal kalian, sadarlah!!" bentak Nio seraya menekan titik saraf di leher lawan.

Tubuh pria kedua mendadak lemas membentur dinding, menyisakan napas tersengal dari kesadaran yang terdistorsi berat.

Dari puncak tiang pemancar di ujung lorong, pendar merah berkedip kian cepat bagai detak jantung yang terpacu abnormal.

Nio tidak membuang waktu untuk menaiki tangga besi pemancar, jemarinya bergerak cekat menarik kabel input utama hingga terputus paksa.

BZZZZT!

Percikan listrik melompat singkat di udara, disusul suara dengung frekuensi rendah yang mendadak mati total dari seluruh area.

Keheningan malam yang asli kembali merayap pelan, menyapu residu anomali psiko-digital yang sempat mencengkeram pemukiman.

Nio mengembuskan napas panjang seraya menyapu tetes keringat dingin di dahinya. "Satu pemancar berhasil dimatikan, tapi kerusakan memorinya belum tentu pulih instan."

Dengan langkah bergegas, Nio berlari kembali menuju kedai untuk memastikan kondisi Nora dan Kael.

Pintu kaca kedai berdering pelan saat Nio terdorong masuk ke dalam ruangan yang remang-remang.

Nora terduduk di lantai dekat meja kayu, memegangi kepalanya seraya terisak pelan dengan napas yang masih belum stabil.

"Nora, pemancar di luar sudah mati," panggil Nio seraya melangkah mendekat.

Nora mendongak perlahan, matanya yang sembab menatap Nio dengan sisa-sisa ketakutan yang masih membayang di telatah batinnya. "N-Nio...? Nama adikku... Milo... aku masih ingat nama Milo..."

"Bagus. Berarti rekonstruksi ingatan buatan Zero belum berhasil sepenuhnya mencabut eksistensi Milo dari kepalamu."

Namun, di balik meja bar kayu, suara gemerincing pisau dapur yang ditarik kasar mendadak memecah ketenangan ruangan.

Kael berdiri tegak di balik meja dengan wajah tegang, menggenggam erat gagang pisau seraya mengarahkan ujung tajamnya lurus ke arah Nio.

"JANGAN MENDEKAT!!" teriak Kael dengan nada tinggi yang bergetar hebat.

Nio menghentikan langkahnya seketika, menatap mata pria tua itu yang memancarkan kebencian serta keraguan asing.

"Paman Kael, ini aku. Nio," ucap Nio mencoba menenangkan dengan suara pelan.

"Aku tidak kenal siapa kamu!! Kenapa ada pemuda asing serba hitam yang mondar-mandir di lantai atas kedaiku?!" Kael menudingkan pisau itu lebih maju.

'Rasa terasing ini... efek frekuensi di otak Paman Kael rupanya tertanam lebih dalam dari perkiraanku,' batin Nio terenyuh.

Nora berdiri perlahan seraya memegangi pinggiran meja. "P-Paman Kael, berhenti! Dia Nio! Dia yang tinggal di lantai atas dan selalu membantu kita!!"

"Bohong! Kalian berdua pasti bekerja sama mau merampok kedai ini, kan?!" napas Kael memburu hebat dengan pupil mata yang mengecil.

Bagi Kael saat ini, sosok Nio hanyalah presensi nirnama yang mengancam ruang amannya, sebuah ancaman amorf yang harus diusir.

"Gue nggak akan menyakiti Paman," tegas Nio seraya mengangkat kedua tangannya terbuka lebar di udara.

Nio melepaskan genggaman tangannya dari kertas kosong di saku, lalu berjalan perlahan menghampiri rak racikan kopi di sudut bar.

"JANGAN BERGERAK, KURANG AJAR!!" gertak Kael seraya melangkah maju membentengi rak tersebut.

"Paman ingat aroma ini?" Nio meraih satu stoples kaca berisi biji kopi sangrai hitam tanpa memedulikan ancaman pisau Kael.

Nio membuka tutup stoples itu, membiarkan aroma pahit yang sangat khas menyebar memenuhi udara kedai yang dingin.

"Aroma biji robusta racikan khusus ini... cuma Paman yang sanggup menyangrainya sampai mencapai tingkat kematangan sempurna tanpa gosong."

Kael tertegun di tempat, tangannya yang memegang pisau mendadak mengendur beberapa senti di udara.

"Setiap pagi, Paman selalu menyeduh ini dengan air mendidih pada suhu delapan puluh delapan derajat," lanjut Nio seraya menuangkan sedikit biji kopi ke atas meja bar.

"K-kenapa... kenapa kamu tahu takaran racikan rahasia milikku...?" gumam Kael dengan raut wajah yang diliputi kebingungan besar.

"Sebab tidak ada preseden lain di kota ini yang sudi menampung sosok tanpa identitas selain Paman Kael di kedai tua ini."

Kalimat itu meluncur dari bibir Nio dengan kejujuran yang begitu dingin namun menghangatkan sudut hati yang sepi.

Kael menatap biji-biji kopi di atas meja bar, lalu beralih menatap wajah Nio yang datar tanpa ekspresi ancaman apa pun.

"Nio...?" bisik Kael pelan, pisau di tangannya terlepas dan jatuh berdentang keras menimpa lantai kayu.

Kael memegangi dadanya yang terasa sesak seraya terduduk lemas di atas kursi bar. "Kepalaku... rasanya seperti baru saja dihantam ombak besar yang sangat dingin..."

Nora segera berlari menghampiri Kael, merangkul bahu pria tua itu dengan derai air mata yang tidak bisa ditahan lagi. "Paman ingat lagi... Paman akhirnya ingat..."

"Maafkan aku, Nio... aku benar-benar hampir menusukmu tadi..." lirih Kael seraya menatap jemarinya yang masih bergetar.

Nio mengambil pisau di lantai dan meletakkannya kembali di tempat yang aman. "Bukan salah Paman. Gelombang psiko-digital buatan Zero sengaja dirancang untuk merusak pertahanan memori manusia."

'Penyangkalan dan keraguan ini adalah bukti kalau Zero sedang berusaha mengejawantahkan terornya ke dunia nyata secara masif,' monolog Nio dalam hati.

Nio berjalan menuju jendela depan kedai, menatap kegelapan jalanan yang masih menyimpak residu bahaya yang siap menerkam kapan saja.

Ponsel di dalam saku Nio mendadak bergetar singkat, menampilkan satu pesan masuk berformat teks tanpa nomor pengirim.

Pesan Teks:

"Satu pemancar hanyalah buih di lautan. Malam ini, tabula rasa akan tercipta sempurna di seluruh pusat data kota."

Nio meremas ponselnya rapat-rapat seraya menatap pendar layar yang perlahan padam di genggamannya.

"Dia tidak cuma mengincar ingatan warga lokal," gumam Nio dengan pandangan tajam yang menyipit.

Nora menoleh cepat dari samping Kael. "Maksudmu... Zero mau menyerang tempat lain lagi?!"

"Pusat Data Utama Kota. Kalau dia berhasil menghapus seluruh basis data di sana, jutaan eksistensi orang akan tereliminasi dalam semalam."

Kael mendongak menatap Nio dengan wajah pucat. "Nio... kamu tidak bisa melawan monster itu sendirian di luar sana!"

"Gue nggak punya pilihan lain, Paman. Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata."

Nio membalikkan badan, menyambar tas peralatan peretasnya dengan gerakan yang sangat terukur dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Nio, tunggu! Aku ikut denganmu!!" seru Nora seraya berdiri tegak membulatkan tekadnya.

Nio menatap mata Nora dalam-dalam, menemukan pendar keberanian yang mengalahkan rasa takut akan kehilangan ingatannya tentang Milo.

"Jalan di depan tidak akan pernah sama lagi, Nora," jawab Nio pelan seraya melangkah keluar menembus kegelapan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!