Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menyebut Nama
Setelah cukup lama berjalan bersama mengelilingi taman, tiba saatnya Rozen mengantar Aurora kembali ke kamarnya. Angin malam sepoi-sepoi yang membawa aroma mawar menjadi pengiring langkah mereka untuk segera berpisah dan kembali ke dunianya masing-masing.
Mereka memang selalu bertemu di situasi dan keadaan yang disebut kebetulan. Tapi pertemuan tersebut tidak pernah menghabiskan waktu lebih dari satu menit. Dan malam ini adalah pertama kalinya mereka menghabiskan waktu bersama dalam durasi yang cukup panjang.
"Terima kasih." Aurora membuka suara. Karena tidak mungkin baginya mengakhiri perpisahan hanya dalam bungkam saja.
Lalu Aurora tersenyum sebelum benar-benar mengakhiri pertemuan tersebut. "Aku masuk, ya."
Seperti biasa, Rozen hanya membalas dengan anggukan singkat dan ekspresi datar yang nyaris tidak pernah berubah.
Aurora tidak mempermasalahkan tentang bagaimana suaminya merespon setiap ucapannya. Karena setelah tinggal bersama membuat Aurora memahami sedikit demi sedikit sifat suaminya. Suaminya bukanlah pria yang pandai mengekspresikan perasaan.
Anggukan kecil itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tetapi bagi Aurora merupakan bentuk penerimaan. Setidaknya suaminya tidak mengusirnya, tidak menunjukkan ketidaksukaan. Setidaknya suaminya tidak memperlakukannya dengan dingin hingga membuatnya merasa tidak diinginkan.
Selama suaminya masih bersedia berbicara dengannya, mengizinkan berjalan di sampingnya, dan sesekali menganggukkan kepala sebagai jawaban, Aurora merasa hubungan mereka perlahan bergerak ke arah yang lebih baik.
Mungkin bagi orang lain, semua itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi bagi Aurora, yang menikah hanya sebagai pengganti kakaknya, setiap respons kecil dari suaminya berasa seperti sebuah kepastian bahwa setidaknya kehadirannya di sisi pria itu belum sepenuhnya ditolak.
"Hei."
Aurora menoleh. Tangannya yang hampir menyentuh gagang pintu kamarnya seketika terhenti di udara.
"Iya?” ucap wanita itu singkat dengan postur tubuh yang telah sempurna menghadap suaminya.
"Malam ini ada jamuan makan malam keluarga."
Setelah mengatakan hal itu, Rozen menatap istrinya dengan ekspresi setenang biasanya, sedang menunggu jawaban dari sang istri. Namun, Rozen duga bahwa istrinya melupakannya.
"Aku pernah mengatakannya di hari pertama kita tiba di mansion."
Aurora mengangguk pelan. Ia memang masih mengingat ucapan itu, hanya saja begitu banyak hal yang terjadi hingga hampir saja terlupa.
"Bersiaplah satu jam lagi."
"Baik," jawab wanita itu dengan suara pelan.
Rozen menganggukkan kepala singkat sebelum melangkah pergi menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Aurora.
Dan ketika pintu kamar berhasil dibuka, suara lembut dari wanita yang juga masih berdiri di depan pintu kamarnya menarik kembali perhatian Rozen, memaksanya untuk berbalik arah.
"Aurora."
Satu kata yang berhasil membuat Rozen berpikir di depan pintu kamarnya. Pria mapan itu menatap istrinya seolah menanti sebuah penjelasan.
"Namaku Aurora, bukan Hei."
Rozen menatap Aurora tanpa perubahan ekspresi. Wajahnya tetap dingin, nyaris tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Namun, ucapan wanita itu membuatnya terdiam sejenak. Teguran sederhana itu rupanya berhasil membuat Rozen berpikir.
Tidak banyak orang yang berani mengoreksi cara bicaranya, apalagi dengan nada setenang itu. Ada kecanggungan samar yang menyelinap di balik tatapan datarnya, meski pria itu terlalu pandai menyembunyikannya hingga nyaris mustahil disadari.
Kemudian Rozen memandang Aurora cukup lama.
"Baik." Rozen menghentikan ucapannya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang tetap dingin.
"Rozen," lanjutnya singkat.
"Ya?” balas Aurora bingung.
"Hanya Rozen, tanpa Tuan."
Aurora sedikit tertegun. Kedua matanya berkedip pelan, seolah memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. Ia tidak menyangka bahwa suaminya yang seorang mafia, yang hanya mendengar namanya saja mampu membuat banyak orang menundukkan kepala, meminta hal semacam itu. Bahkan para bawahannya tidak pernah berani menyebut namanya secara langsung.
Aurora memusatkan pandangannya, mendapati tatapan suaminya yang masih sama. Dingin, datar, dan sulit dibaca.
"R-Rozen?" panggilnya lirih, nyaris berbisik. Khawatir telah menjadi lancang.
Begitu nama itu lepas dari bibirnya tanpa kata tuan, jantung Aurora seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Ia menahan napas, menunggu reaksi pria di hadapannya, bersiap menghadapi kemarahan yang mungkin datang sewaktu-waktu.
Namun, hal mengerikan yang Aurora bayangkan tidak kunjung terjadi. Yang ada hanyalah tatapan tenang yang tetap tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
Keheningan itu justru membuat Aurora semakin gelisah, karena ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh pria paling berbahaya di kota itu.
Mendengar namanya disebut demikian, Rozen hanya mengangguk seolah telah merasa puas.
"Bersiaplah, Aurora."
Setelah mengatakan hal itu, Rozen kembali pada tujuan awalnya. Memilih untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu, meninggalkan Aurora yang masih diusik oleh efek dua kata yang baru saja terdengar baik di telinganya.
Aurora memandangi pintu kamar suaminya yang sudah tertutup rapat.
Tanpa disadari sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Sekecil apa pun respon yang diberikan Rozen padanya selalu berhasil membuat hati Aurora terasa sedikit hangat. Aurora tahu, pria itu memang jarang berbicara, tetapi Aurora tidak pernah merasa dibiarkan sendiri di mansion yang begitu besar itu.
Aurora merasa kalau pernikahannya perlahan mengalami kemajuan. Aurora ingin percaya. Namun karena kilasan tentang alasannya menikahi Rozen terputar kembali di benaknya, Aurora kembali murung. Seolah Aurora baru saja disadarkan dari mimpi indahnya.
Aurora menggeleng pelan, menertawakan dirinya sendiri.
"Jangan salah paham, Aurora."
Aurora harus sadar bahwa semua yang dilakukan Rozen bukanlah karena rasa sayang yang mulai tumbuh. Aurora harus ingat bahwa pria yang menjadi suaminya itu hanya menjalankan perannya sebagai seorang suami dengan penuh tanggung jawab. Aurora juga harus ingat bahwa bagi Rozen, pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan yang harus dihormati. Ikatan tanpa cinta yang terjadi karena terpaksa. Aurora harus ingat bahwa dirinya hanyalah seorang pengantin pengganti.
Dan semua pemikiran itu membuat hati Aurora sedikit sesak.
Aurora tidak boleh berharap lebih. Karena Aurora tahu, berharap pada pria yang menikahinya bukan atas dasar cinta hanya akan membuatnya terluka di kemudian hari.
...***...
Aurora berdiri tegak di depan cermin setinggi badan, sementara Bibi Rosa dengan telaten merapikan lipatan gaun satinnya. Aurora tampil anggun dalam balutan gaun satin berwarna biru langit, membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna tanpa terlihat berlebihan.
Kilauan halus kain satin berpadu dengan kulit Aurora yang cerah, membuat pesonanya tampak sederhana, tetapi sulit untuk diabaikan.
Dipadukan dengan rambut panjang yang tergerai dan riasan tipis, Aurora terlihat begitu elegan, seolah setiap detail penampilannya diciptakan untuk mencuri perhatian tanpa perlu berusaha.
Sesekali wanita paruh baya itu merapikan helaian rambut Aurora yang sengaja dibiarkan tergerai lembut, lalu menyematkan sebuah jepit mutiara kecil di sisi kepalanya.
"Anda cantik sekali, Nona Aurora," puji Bibi Rosa tulus.
Aurora tersenyum tipis. Jemarinya tidak berhenti saling meremas.
"Semoga saja aku tidak mempermalukan keluarga Salvadore."
"Tidak akan, Nona."
Aurora hanya mengangguk pelan. Dadanya dipenuhi kegelisahan. Makan malam keluarga berarti ia akan bertemu seluruh anggota keluarga Salvadore dalam satu meja.
Ia bahkan tidak tahu seperti apa penerimaan keluarga Salvadore terhadap dirinya, seorang wanita biasa yang tiba-tiba menjadi istri pewaris keluarga mafia paling berpengaruh karena terpaksa menggantikan pengantin asli yang melarikan diri.
Yang Aurora yakini bahwa keluarga Salvadore tidak mungkin menyambut kehadirannya seramah sambutan para pelayan di mansion suaminya.
"Aku takut, Bibi. Bagaimana jika mereka tidak bisa menerimaku? Aku hanya pengganti."
Bibi Rosa terdiam sejenak. Kepala pelayan itu menyadari bahwa kedua mata indah majikannya itu sudah penuh dengan genangan air mata.
"Nona Aurora harus yakin kalau Tuan Rozen akan melindungi Anda."
Aurora mengangguk lemah, ”Baik, Bibi."
"Jangan terlalu khawatir. Tuan Rozen sudah membuat keputusan. Dan keluarga Salvadore selalu menghormati keputusan pewaris mereka."
Ucapan Bibi Rosa itu sedikit menenangkan hati gelisah Aurora. Aurora setuju dengan perkataan Bibi Rosa karena Aurora juga punya penilaian sendiri terhadap suaminya. Walau tidak banyak, tapi selama tinggal bersama suaminya, Aurora akui bahwa Rozen tidak pernah membuatnya merasa tertekan atau merasa terintimidasi karena kehadirannya yang hanya sebagai pengantin pengganti. Hal itu juga yang mendasari keyakinan dirinya bahwa suaminya akan menjaganya nanti.
Berpaling sejenak ke sisi lain mansion, tepat di sebelah kamar Aurora, ada kamar Rozen. Pria berperawakan tinggi itu berdiri diam di depan jendela kamar. Di sela jemarinya, sebuah foto pertunangan terjepit dengan rapi. Tatapannya yang tajam tertuju pada senyum wanita yang seharusnya berdiri di sampingnya, di altar kala itu.
Untuk beberapa saat, ruangan itu dipenuhi keheningan.
Bukan penyesalan yang memenuhi benaknya karena Rozen tidak pernah menyesali keputusan yang telah diambilnya. Baginya, yang telah terjadi adalah fakta. Benar bahwa pernikahannya dengan Aurora memang bukan bagian dari rencana awal. Lalu apa? Walaupun Isabella yang menjadi istrinya, tetap saja pernikahan itu hanyalah kesepakatan antar dua keluarga. Tidak ada bedanya. Tidak ada cinta di antara keduanya.
Rozen menurunkan pandangannya pada foto itu untuk terakhir kalinya. Tanpa perubahan ekspresi, ia menyimpannya kembali ke dalam laci meja.
Masa lalu tetap berada di tempatnya. Sementara masa kini telah memilih jalannya sendiri. Dan untuk saat ini, Aurora hanyalah bagian dari jalan itu. Belum lebih, belum pula kurang.
Rozen tidak membohongi dirinya sendiri bahwa hatinya memang belum diberikan ke Aurora. Wanita itu memang menyandang status sebagai istrinya, tetapi hanya sebatas itu. Bagi Rozen, Aurora hanyalah seseorang yang secara kebetulan berada di sisinya karena keadaan yang memaksanya demikian.
...***...