Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
Tit... Tit... Tit...
Bunyi suara meteran listrik karena token habis menggema di rumah sederhana itu. Rumah milik sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Sengaja... Seorang wanita dewasa yang tak lain adalah Aruna Fatihah memilih diam sambil menikmati alunan suara token listrik habis itu. Dia tidak mempunyai uang untuk membeli token listrik. Suaminya sama sekali tak peduli dengan keadaan rumah yang tidak ada makanan dan listrik.
"Bu, nanti malam apakah lampunya sudah menyala? Nasya ada PR yang banyak," tanya seorang gadis cilik berusia 6 tahun, Nasya Yumiko. Anak dari Aruna. Tatapannya penuh harap karena dia ingin mengerjakan PR itu saat malam hari. Saat siang, dia ingin bermain bersama teman-temannya.
"Ibu usahakan ya, Nak." Aruna tak yakin bisa membeli token listrik hari ini. Dia tampak kebingungan karena dua hari ini, setiap malam Nasya selalu mengerjakan PR di rumah Neneknya.
"Ayah tidak pulang lagi ya, Bu?" tanya Nasya lagi karena jika Ayahnya tidak pulang, maka listrik tak menyala.
"Nanti Ibu hubungi Ayahmu. Sana kamu main," suruh Aruna pada anaknya agar tidak melihat kesedihan dari dirinya.
"Keterlaluan kamu, Mas." gumamnya setelah melihat Nasya pergi keluar rumah.
Kedua tangan Aruna mengepal erat. Jika hanya dia yang tak dinafkahi atau kebutuhannya tidak tercukupi, maka dirinya nggak masalah. Namun ini anaknya yang harus kesusahan karena ulah dari Ayahnya sendiri. Sudah dua hari, suaminya tidak pulang dengan alasan ada pekerjaan di luar kota. Bukan sekali dua kali seperti ini. Selama tiga tahun ini, suaminya yang bernama Kafka Abimanyu itu menjadi sosok yang jauh dari awal pernikahan. Setiap diminta uang untuk listrik atau belanja makanan, jarang direspons.
"Kafka belum pulang juga, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang datang ke rumah Aruna dengan tongkat kayu. Dia adalah Salma Yunita, Ibu dari Kafka alias mertua Aruna.
"Belum, Bu. Padahal katanya hanya dua hari saja di luar kotanya. Ini sudah hari ke tiga," ucap Aruna sambil menghela nafasnya lelah.
"Ini pakai uang Ibu untuk membeli listrik, Nak. Setidaknya nanti malam, kalian tidak gelap-gelapan." ucap Ibu Salma sambil mengelus lembut lengan Aruna.
"Jangan, Bu. Biarkan saja, ini sudah menjadi tanggungjawabnya Mas Kafka. Lagi pula Ibu kan juga pasti butuh buat beli beras," ucap Aruna dengan senyum getirnya.
"Ibu masih ada kalau cuma beras dan lauk seadanya. Ini juga kewajiban Ibu untuk memastikan kalian tidak kelaparan dan kesusahan." ucap Ibu Salma sambil menyerahkan uang selembar lima puluh ribu di tangan Aruna.
Aruna tetap menolaknya. Dia ingin Kafka yang harus bertanggungjawab atas semuanya. Kafka juga tidak memberikan sedikit uangnya pada Ibu Salma dengan alasan Ibunya masih ada uang simpanan. Dia benar-benar sudah lupa akan kewajibannya pada istri dan Ibunya selama tiga tahun ke belakang ini. Entah apa yang membuatnya berubah tiga tahun belakang ini, Aruna akan mencari tahu semuanya.
Padahal Kafka adalah seorang manager di sebuah perusahaan besar dengan gaji lumayan. Perusahaan yang sama dengan dulu saat Aruna bekerja. Namun Aruna diminta resign oleh Kafka agar bisa fokus pada rumah. Awal pernikahan, semua berjalan baik-baik saja. Namun tiga tahun setelah melahirkan, Kafka berubah. Pelit dan jarang memberikan uang juga waktu pada keluarga kecilnya. Tak hanya pada mereka, tapi kepada Ibu Salma juga.
"Tidak, Bu. Biar Mas Kafka sadar kalau di sini ada anak dan istrinya yang kekurangan walaupun dia sudah jadi manager," ucap Aruna menolak bantuan dari Ibu Salma.
"Buat kapok saja itu si Kafka, Aruna. Ibu ikhlas. Dzalim sekali dia sama anak dan istrinya," ucap Ibu Salma yang kali ini mendukung menantunya.
"Terimakasih sudah ada di pihak Aruna, Bu. Nanti biar Nasya mengerjakan PR di rumah Ibu ya," ucap Aruna sambil tersenyum dan Ibu Salma menganggukkan kepalanya.
***
Aruna...
"Ini kenapa kok gelap sekali rumahnya? Itu juga bunyi terus. Bikin pusing kepala," seru seorang laki-laki yang tak lain adalah Kafka.
Setelah dua hari tidak pulang, Kafka tiba-tiba saja menampakkan wujudnya. Mobil mewah di depan rumah sederhana itu menjadi pemandangan yang mencolok. Mobil hitam mengkilap dengan rumah sederhana yang token listriknya habis. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, terlihat sekali perbedaannya dengan rumah tetangga sekitarnya. Saat pulang dan rumah gelap gulita, Kafka langsung mencari keberadaan istrinya.
"Apa sih, Mas?" seru Aruna dengan raut wajah bantalnya. Dia tadi sudah tidur hingga tak sadar dengan kepulangan suaminya.
"Kenapa ini rumah gelap begini?" seru Kafka dengan raut wajah emosinya.
"Nggak ada duit. Mas Kafka harusnya ingat, kalau istrinya ini tidak bekerja. Mas Kafka tidak memberikan aku uang sama sekali selama 3 hari ini," ucap Aruna dengan sindirannya.
"Kan bisa pakai uangmu dulu," seru Kafka tak terima jika disalahkan.
"Uang darimana? Semua tabunganku sebelum menikah habis untuk bangun rumah ini." seru Aruna membuat Kafka bungkam.
Tanah ini memang milik orangtua Kafka. Namun untuk membangun rumah, menggunakan uang tabungan Aruna sebelum menikah. Hal itu juga yang membuat Aruna sekarang tidak mempunyai simpanan. Untuk makan selama 3 hari ini, dia memanfaatkan sayuran yang ditanamnya di belakang rumah. Dia menjualnya kemudian dibelikannya beras dan lauk. Beruntung Ibu mertuanya sangat baik, hingga beberapa kali memberikan beras dan lauk pauk.
"Sudah sadar sekarang?" tanyanya lagi dengan tatapan tajamnya. Bahkan tanpa sadar, mereka bertengkar di depan pintu rumah. Sehingga ada kemungkinan tetangga mendengar pertengkaran mereka.
"Alasanmu saja itu. Pasti ini listrik cepat habis karena kamu yang boros," ucap Kafka membela diri. Hal itu membuat Aruna melongo tak percaya.
"Boros? Astaga... Kamu isi aja cuma 20 ribu dua minggu yang lalu. Dasar suami dzalim," teriak Aruna yang terlalu kesal dengan suaminya itu.
Kafka yang mendengar teriakan istrinya pun segera menarik tangan Aruna untuk masuk ke dalam rumah. Kafka khawatir kalau imagenya selama ini yang menjadi suami dan ayah baik langsung tercoreng. Namun Aruna memberontak ingin dilepaskan karena tak terima dengan kelakuan Kafka. Bahkan Kafka langsung mendorong tubuh Aruna hingga terjatuh.
Brugh...
"Ibu..." teriak Nasya saat melihat Ibunya didorong. Nasya pun segera mendekati Aruna dan memeluknya sambil menangis.
Wush...
"Nih... Duit buat beli listrik dan beras," seru Kafka tanpa merasa kasihan sama sekali pada istrinya. Kafka juga melemparkan beberapa lembar uang ke arah wajah Aruna.
"Ini penghinaan. Aku tak butuh duitmu, Mas." teriak Aruna dengan tatapan tajamnya. Bahkan Kafka sempat terkejut melihat tatapan Aruna yang tak seperti biasanya itu.
"Ayo ke kamar. Besok kita beli listrik dan makanan kesukaanmu, Nasya." ucapnya pada Nasya kemudian menggendong anaknya itu masuk ke dalam kamar.
Brakkk...
Klek...
Argh...
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪