**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Cemburu Sang Serigala
Gilang datang ke Vila Arkana keesokan pagi dengan sebuah buket lili putih dan kunci mobil di tangan.
"Mulai hari ini aku yang mengantar ke kampus," katanya.
Aku melihat Arkana di ujung tangga. "Perintah siapa?"
"Bos."
"Dia menyuruhmu menjadi sopirku?"
Gilang tersenyum. "Sopir, pengawal, dan pengingat makan siang. Katanya pengawal lama gagal mencegah penculikan."
Arkana turun tanpa menatap kami. "Gilang tahu prosedur keamanan dan jadwalmu."
"Kak Gilang baru pulang. Dia direktur, bukan sopir."
"Aku tidak keberatan," jawab Gilang.
Arkana mengambil satu tangkai lili dari buket, mematahkan batangnya, lalu meletakkannya di meja. "Bunga di dalam mobil mengganggu pandangan."
"Buketnya bisa di kursi belakang," kataku.
"Kalau begitu kau yang pegang."
Dia pergi sebelum aku sempat membalas.
***
Gilang tidak pernah memaksakan kedekatan.
Dia menunggu di luar kelas sambil bekerja melalui laptop. Jika latihan selesai larut, dia membawa makanan. Dia tidak bertanya tentang Arkana atau malam ketika aku dipaksa meninggalkan klub.
Pada hari ketiga, kami makan siang di warung dekat kampus.
"Kak Gilang," kataku, "aku harus mengatakan sesuatu sebelum kau salah mengerti."
Dia menutup laptop.
"Aku menyayangimu. Tapi seperti kakak."
Senyumnya bertahan, meski matanya meredup. "Karena Bos?"
Aku menatap nasi di piring. "Aku tidak bisa menjelaskan."
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang."
"Aku tidak ingin memberimu harapan."
"Menjagamu bukan transaksi untuk mendapatkan cinta, Laras."
Dia membuka dompet dan menunjukkan selembar kertas kecil yang sudah dilaminasi. Itu salinan perjanjian delapan tahun, ditulis tangan oleh Arkana ketika Gilang masih lima belas tahun.
"Dulu aku mengira hal yang paling kuinginkan adalah membawamu pergi," katanya. "Tapi sebelum aku pulang, Bos memanggilku. Dia bilang satu hal tidak pernah berada dalam kuasanya untuk diberikan."
"Aku."
Gilang mengangguk. "Katanya kamu bukan hadiah. Kalau ingin berdiri di sisimu, aku harus membuatmu memilihku sendiri."
Aku teringat Arkana yang memecahkan batang lili pagi tadi. Bahkan dalam cemburunya, dia sudah lama memastikan Gilang tidak akan memperlakukanku sebagai bagian dari upah.
"Jadi aku akan tetap menjadi sopir dan pengawal," lanjut Gilang. "Bukan untuk membeli jawabanmu. Hanya untuk menepati janjiku bahwa kamu tidak sendirian."
Kalimat itu mengembalikan bocah panti yang membagi telur denganku. Aku meraih tangannya.
"Terima kasih sudah pulang."
"Aku di sini. Itu cukup."
***
Sore itu Gilang mengantarku pulang. Arkana berdiri di depan pintu Vila Arkana dengan kemeja hitam dan rokok yang belum dinyalakan.
Dia melihat tangan kami yang baru terlepas.
"Masuk," katanya kepada Gilang.
"Saya masih harus kembali ke kantor."
"Kalau begitu pergi."
Gilang melirikku. "Telepon kalau butuh sesuatu."
Arkana menunggu sampai mobil keluar dari gerbang, lalu mencengkeram bahuku dan menarikku mendekat.
"Kau menikmati perhatian dia?"
"Setidaknya dia tidak menghilang semalaman setelah marah."
"Dia memberi bunga."
"Dan kau mematahkannya seperti anak kecil."
"Aku tidak suka pria lain menandai wilayahku."
"Aku bukan wilayah."
"Aku tahu."
Namun tangan Arkana menahan tengkukku dan bibirnya menutup mulutku.
Ciuman itu keras, dipenuhi cemburu. Aku memukul dadanya sekali. Dia langsung melonggarkan pegangan, memberi ruang untuk mundur.
Aku seharusnya mundur.
Sebaliknya, jariku mencengkeram jasnya.
Arkana menciumku sekali lagi, lebih lambat.
"Walau kau membenciku," katanya di depan bibirku, "aku tetap ingin kau berada di sisiku."
"Itu bukan cinta. Itu kurungan."
"Kalau begitu ajari aku bedanya."
Aku melepaskan jasnya dan masuk ke rumah. Kali ini dia tidak mengejar.
***
Malam berikutnya Mbak Tania memintaku datang ke Club Aurora.
Sherina, perempuan bergaun putih yang kulihat bersama Arkana, berdiri di ruang manajer. Ternyata dia penyanyi tamu yang baru mendapat kontrak promosi dan menggunakan kedekatannya dengan Arkana untuk mengatur staf.
"Aku memecat Tania," katanya. "Dia tidak menghormati orang yang dekat dengan pemilik."
Mbak Tania menyilangkan tangan. "Aku menghormati kontrak. Bukan perempuan yang baru tiga hari datang lalu meminta semua orang memanggilnya nyonya."
"Kontrakmu bisa kuakhiri."
"Tidak tanpa tanda tangan manajer atau Bos."
Sherina melihatku. "Kau lagi. Anak yang selalu mengikuti Pak Arkana."
"Batalkan pemecatan Mbak Tania."
"Kau tidak punya wewenang."
"Kau juga tidak."
Tamparannya datang cepat.
Kepalaku terlempar ke samping. Ruang manajer mendadak sunyi. Beberapa staf berdiri di pintu dan melihat semuanya.
Mbak Tania maju, tetapi aku menahan lengannya.
"Jangan balas. Kamera merekam."
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke grup operasional yang baru dibuat Mbak Tania. `Tidak ada yang menghapus rekaman ruang manajer malam ini.`
Sherina menatap layar ponselku. "Kau mengancamku?"
"Tidak. Aku memastikan semua orang melihat apa yang kaulakukan. Kalau kau ingin memecat seseorang secara terbuka, tanggung juga akibatnya secara terbuka."
Sherina kembali mengangkat tangan.
Seseorang menangkap pergelangannya.
Arkana.
Wajahnya begitu tenang hingga Sherina langsung pucat.
"Pak Arkana, dia menghina saya."
Arkana melihat bekas merah di pipiku. "Manajer, putar rekaman ruang ini di layar utama."
"Sekarang, Bos?"
"Sekarang."
Beberapa menit kemudian, seluruh staf dan tamu di aula privat melihat Sherina menamparku. Rekaman lain menyusul: dia memaksa staf memberi meja gratis kepada teman-temannya, mengambil komisi dari pemasok, dan mengancam Tania.
Sherina mencoba merebut remote. Jagal berdiri di depannya.
"Kontrak promosimu dibatalkan," kata Arkana. "Semua label dan penyelenggara yang bekerja dengan grupku akan menerima bukti pelanggaranmu. Tagihan yang kauhapus dibayar dari uangmu."
"Anda tidak bisa menghancurkan karier saya hanya karena dia!"
Arkana menatapnya. "Aku baru saja melakukannya."
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak perlu. Wajah Sherina ketika petugas keamanan mengantarnya keluar sudah menjadi penutup paling memuaskan.
Arkana kemudian menghadap manajer. "Tania tetap bekerja. Mulai malam ini dia memegang operasional lantai."
Para staf di pintu saling pandang, lalu seorang mulai bertepuk tangan sebelum yang lain ikut tersenyum lega.
Mbak Tania terdiam. "Bos, saya..."
"Kau satu-satunya orang yang melindungi Larasati sebelum aku datang. Itu cukup."
Dia memegang daguku, memeriksa pipi yang ditampar.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kita ke rumah sakit."
"Tidak perlu."
"Kompres dulu," kata Mbak Tania. "Kalau pusing baru periksa."
Arkana menerima saran itu, tetapi tidak melepaskan tanganku.
Di mobil, aku bertanya, "Apa Sherina benar-benar kekasihmu?"
"Tidak."
"Kenapa membawanya ke klub?"
"Aku ingin melihat reaksimu."
"Kekanak-kanakan."
"Berhasil."
Aku menoleh ke jendela agar dia tidak melihat senyum yang hampir muncul.
Arkana menempelkan kantong es ke pipiku. "Kau membela Tania meski tahu akan ditampar."
"Dia temanku."
"Kau selalu memberikan belas kasihan kepada semua orang."
"Itu buruk?"
"Tidak." Suaranya merendah. "Aku hanya ingin tahu mengapa belas kasihmu tidak pernah kau sisakan untuk orang yang paling membutuhkannya."
Tatapannya tidak meninggalkan wajahku.
Aku tahu orang yang dia maksud adalah dirinya sendiri.