Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mobil Gabriella berhenti tepat di halaman kediaman Fendi Aurelie. Farra turun dari mobil dengan langkah terburu-buru, membawa kopernya tanpa memedulikan panggilan dari asisten rumah tangga yang menyambutnya. Dengan mata sembab dan napas berburu, Farra langsung berlari ke lantai atas menuju kamar lamanya, memutar kunci pintu dari dalam, dan menguncinya rapat-rahasia.
Fendi Aurelie dan istrinya yang terkejut melihat kedatangan putri tunggal mereka dalam keadaan menangis sesenggukan seketika menghampiri Gabriella di ruang tamu.
"Gabby, ada apa ini? Kenapa Farra datang malam-malam begini sambil menangis dan membawa koper?" tanya Fendi raut wajahnya dipenuhi rasa cemas. "Barra ke mana? Kenapa dia tidak mendampingi Farra?"
Gabriella hanya bisa menyunggingkan senyum serba salah dan menggelengkan kepala. "Maaf, Papi, Mami... Gabby nggak berani bicara banyak. Mendingan Papi dan Mami tanya langsung sama Farra. Gabby cuma diminta Farra buat antar dia ke sini."
Fendi dan istrinya bergegas menyusul ke depan kamar Farra. Suara ketukan pintu bergema berulang kali di koridor lantai dua. "Farra, Sayang... ini Papi sama Mami. Buka pintunya, Nak. Ada masalah apa sama Barra?"
Dari dalam kamar, hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan, disusul sahutan lirih Farra. "Aku cuma ingin sendiri dulu, Papi, Mami... Tolong jangan ganggu aku malam ini."
Mendengar ketegasan dalam suara putrinya, kedua orang tua Farra menghela napas berat. Di lantai bawah, Gabriella pamit beranjak pulang. "Papi, Mami, Gabby izin pamit pulang dulu ya. Gabby nggak mau ikut campur terlalu dalam urusan rumah tangga Farra dan Barra. Semoga besok masalahnya cepat selesai."
Tak sampai setengah jam setelah kepulangan Gabriella, deru mesin SUV Barra terdengar membelah heningnya malam di halaman rumah. Barra melangkah masuk ke dalam rumah mertuanya dengan wajah pucat, rambut yang agak berantakan, serta napas yang belum teratur karena panik.
"Papi, Mami... maafkan Barra datang malam-malam begini," ujar Barra dengan suara bergetar dan penuh penyesalan di hadapan Fendi Aurelie.
Tanpa menutup-nutupi sedikit pun, Barra menjelaskan seluruh kronologi kesalahpahaman yang terjadi di kantornya—mulai dari kehadiran perwakilan firma hukum, Indira yang sengaja mendekatinya, hingga kedatangan Farra yang berujung pada cemburu hebat dan ledakan emosi sang istri.
Fendi Aurelie mendengarkan dengan saksama. Sebagai pria yang berpengalaman, Fendi paham betul bahwa Barra sama sekali tidak berniat mendua, dan emosi Farra yang meluap-luap saat ini sangat dipengaruhi oleh kecemburuan serta hormon kehamilannya yang kian mendekati masa persalinan.
Barra kemudian melangkah menuju kamar Farra di lantai dua. Dengan lembut, ia mengetuk pintu kayu tebal itu berulang kali.
"Farra... Sayang, ini aku. Tolong buka pintunya sebentar saja," bisik Barra lembut di balik pintu. "Aku mau minta maaf... Tolong dengarkan aku sebentar saja, Farra."
Namun, nihil. Tak ada suara sahutan maupun pergerakan kunci dari dalam kamar. Farra memilih untuk membisu, membenamkan wajahnya di bantal sembari mengelus perut buncitnya yang terasa agak tegang akibat stres.
Melihat jarum jam sudah menunjukkan tengah malam, Fendi menghampiri menantunya dan menepuk bahu Barra pelan. "Sudah, Bar. Jangan dipaksa malam ini. Farra masih tersulut emosi, apalagi kondisinya sedang hamil tua. Kamu istirahat dulu di kamar tamu ya. Jangan pulang, menginap saja di sini."
Barra mengangguk pasrah. Sebelum melangkah menuju kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar Farra, Barra menyandarkan dahinya di daun pintu kamar istrinya.
"Farra... malam ini aku menginap di kamar tamu ya, Sayang," ujar Barra dengan nada suara yang sangat lembut dan sarat akan kerinduan. "Aku akan tunggu di sini sampai kamu siap bicara sama aku. Selamat tidur, Istriku... jaga si kembar baik-baik."