Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Merusak Mobil Amira
Sonia melangkah tergesa-gesa dengan napas tersengal-sengal. Matanya melotot menyaksikan sebuah mobil Honda Jazz warna putih mulus diturunkan secara perlahan dari atas truk towing di halaman kedai. Hati Sonia terasa bagai diremas panas, membuat dadanya sesak oleh rasa iri.
Namun, langkah Sonia mendadak terhenti saat sebuah pikiran terbesit di benaknya. 'Jangan-jangan... ini bukan mobil Amira?'
Seorang pria berkemeja putih rapi melangkah menghampiri Amira. Pria itu membawa map tebal berisi berkas-berkas kendaraan. Seperti prosedur penyerahan pada umumnya, staf showroom tersebut menyiapkan kamera ponsel untuk membuat video dokumentasi penyerahan mobil.
"Terima kasih banyak, Ibu Amira, telah mempercayakan pembelian kendaraan baru ini di showroom kami," ucap pria berkemeja putih itu tersenyum sopan.
Hati Sonia seketika membara panas. 'Mobil ini benar-benar milik si Amira sialan itu?!'
Ketika pria berkemeja putih hendak menyerahkan map dokumen secara simbolis kepada Amira, Sonia melangkah lebar lalu merampas map tersebut dari tangan sang staf showroom!
Pria itu terperanjat kaget. "Maaf, Anda siapa?!"
"Saya adalah adik dari pemilik mobil ini!" seru Sonia dengan wajah penuh kemenangan yang dibuat-buat.
"Tidak tahu diri," celetuk Amira sinis seraya melipat tangan di dada.
Sonia memelototi Amira dengan napas memburu. "Mobil ini jelas-jelas milik Mas Adam! Mana mungkin kamu yang cuma tukang cuci piring bisa beli mobil secara lunas, hah?! Gaji Mas Adam di Jepang itu 40 juta! Alya dikasih 15 juta, untuk biaya keluarga 10 juta... Sisa 15 juta lagi pasti kamu sembunyikan! Kalau bukan hasil mengendapkan uang Mas Adam, bagaimana mungkin kamu bisa bertahan di rumah kami selama dua tahun?!" tuduh Sonia berapi-api seraya menggenggam erat map berkas tersebut.
"Orang gila," gumam Amira menatap Sonia dengan pandangan malas. "Mobil ini aku beli cash murni pakai uangku sendiri, bukan pakai sepeser pun uang kakakmu!"
"Tidak mungkin!" potong Sonia tidak tahu diri. Pengunjung kedai di sekitar mereka mulai berbisik-bisik memperhatikan drama tersebut.
Melihat situasi mulai ramai, Sonia sengaja memanfaatkan keadaan. Matanya dibuat berkaca-kaca seperti korban yang tertindas. "Ibu saya sampai harus menggadaikan sertifikat rumah demi bertahan hidup! Kakak-kakak saya hidup menderita karena kekurangan uang! Tapi ternyata uangnya tidak hilang... Ternyata wanita ini yang telah menggelapkan uang kakak saya! Tidak mungkin tukang cuci piring seperti dia tiba-tiba bisa beli mobil mahal!"
Amira menghela napas panjang. "Dasar orang gila. Sudah dijelaskan berkali-kali masih saja tidak sadar diri." Amira menatap Sonia lurus-lurus dengan tatapan dingin. "Tapi baiklah... Kamu sudah menuduhku menggelapkan uang di depan umum. Ini tuduhan yang sangat serius dan nama baikku benar-benar kamu cemarkan. Sekarang, tunjukkan bukti sah kalau aku memang menggelapkan uang Adam!"
"Buktinya ya mobil ini, Amira!" tunjuk Sonia hysteris ke arah Honda Jazz putih itu. "Kamu cuma mantan tukang cuci piring, tidak mungkin bisa beli mobil ini kalau bukan pakai uang Mas Adam!"
Amira menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. "Aku membeli mobil ini secara lunas dan aku punya bukti riwayat transfernya secara transparan. Yang melakukan transfer adalah rekening bank pribadi milikku, bukan akun bank atas nama Adam."
"B-bisa saja itu uang Mas Adam yang sengaja kamu endapkan di rekeningmu kan?!" cerceca Sonia mulai terbata-bata.
"Aku bisa membuka mutasi rekeningku secara penuh selama dua tahun terakhir. Ada catatan resmi berapa kali Adam mentransfer uang padaku dan ke mana saja alokasinya..."
"Bisa saja kamu pakai banyak rekening rahasia lain!" potong Sonia asal menuduh.
Amira melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Sonia. Aura intimidasi Amira membuat Sonia tanpa sadar melangkah mundur.
"Oke, kalau kamu tetap tidak percaya, sebaiknya kita selesaikan tuduhanmu ini di kantor polisi," bisik Amira tenang namun penuh penekanan. "Aku punya bukti mutasi uang masuk dari Adam, dan aku punya bukti sah alur keuangan bisnisku sendiri untuk pembelian mobil ini." Amira makin mendekatkan wajahnya. "Sekarang aku tanya... kamu punya bukti apa, hah? Kalau kamu menuduh tanpa bukti sah, siap-siap saja kamu masuk penjara atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!"
Tubuh Sonia seketika gemetaran. Nyalinya ciut drastis karena ia sadar seluruh tuduhannya dari tadi murni sebatas andaikan dan asumsi dangkalnya sendiri.
Para pengunjung kedai yang menyaksikan kejadian itu mulai menunjuk-nunjuk Sonia dengan nada mencibir.
"Dari tadi wanita ini menuduh terus tanpa logika, ya?" "Iya, kelihatan banget irinya. Makanya kerja yang benar, bukannya malah menyebar fitnah di tempat usaha orang!" "Menuduh orang sembarangan tanpa bukti, memalu-malukan sekali!"
Pria berkemeja putih dari showroom yang jengkel langsung merampas kembali map dokumen di tangan Sonia dengan kasar. "Memalukan sekali!" mendecih pria itu.
"Itu milik kakakku!" teriak Sonia histris mencoba merebut kembali.
"Kalau Anda tetap ngotot merampas berkas ini, saya sendiri yang akan melaporkan Anda ke polisi dengan tuduhan perampasan dokumen!" ancam pria showroom itu tegas.
"Woiii! Mending kamu kabur saja, Mbak! Bikin malu saja!" seru salah satu pengunjung dari arah meja makan.
Amarah dan emosi Sonia memuncak hingga ke ubun-ubun. Mobil Brio kesayangannya disita Adam, Amira yang ia kira miskin dan terbuang ternyata memiliki kedai sukses dan sanggup membeli mobil baru, dan kini semua orang di tempat umum menyorakinya bagai orang hina.
Sonia benar-benar lepas kendali. Otaknya sudah tertutup oleh dendam.
Ia berbalik badan dan matanya menangkap sebingkah batu kali berukuran sebesar kepala anak kecil di pinggir taman kedai. Tanpa berpikir panjang, Sonia menyambar batu berat itu, berbalik badan, lalu berlari sekuat tenaga melemparkannya ke arah mobil Honda Jazz yang baru turun tersebut!
BRAYYY!
Benturan keras terdengar membahana. Batu besar itu menghantam kaca depan Honda Jazz putih yang masih kinclong, menciptakan retakan besar dan goresan parah di atas kap mesinnya.
"Orang gila! Ringkus dia!" perintah Amira tegas tanpa keraguan.
Dion dan Tono bersama beberapa karyawan kedai yang bertubuh kekar bergerak kilat meringkus kedua tangan Sonia sebelum gadis itu sempat kabur. Rika di balik meja kasir segera menghubungi panggilan darurat kepolisian.
Sonia yang sudah diringkus terus berteriak mencaci maki Amira dengan kata-kata kotor. Amira sama sekali tidak membalas atau membungkam mulut Sonia. Ia hanya berdiri tenang seraya bersedekap dada.
Tak sampai lima belas menit, suara raungan sirene mobil patroli polisi mendekat dan berhenti di depan kedai. Wajah Sonia yang tadinya dipenuhi kemarahan sombong seketika berubah pucat pasik dihantam rasa takut yang luar biasa. Awalnya, Sonia mengira Amira hanya menggertaknya saja—ia tak menyangka Amira benar-benar tega memenjarakannya!
Amira menjelaskan kronologi kejadian secara tenang dan terstruktur kepada petugas kepolisian, lengkap dengan bukti video CCTV, rekaman Live ponsel Sonia, serta kuitansi sah kepemilikan mobil. Staf showroom dan beberapa pengunjung kedai juga secara sukarela memberikan kesaksian resmi atas aksi perusakan anarkis yang dilakukan Sonia.
Bukti lengkap, barang bukti nyata, dan saksi mata berlimpah. Sonia tak bisa mengelak lagi. Borgol besi dingin melingkari kedua pergelangan tangannya saat ia digelandang menuju mobil patroli.
"Amira! Tolong lepaskan aku, Amira! Tolong!" teriak Sonia histeris seraya memohon-mohon.
Namun ekspresi wajah Amira tetap dingin, datar, dan tak tersentuh.
"Amira! Dua tahun kamu menumpang makan di rumahku! Sekarang kamu memperlakukanku seperti ini?! Aku doakan hidupmu sengsara!" jerit Sonia menangis meraung-raung saat dipaksa masuk ke dalam mobil.
Amira tak memberikan tanggapan sedikit pun hingga pintu mobil patroli ditutup rapat dan kendaraan dinas kepolisian itu melaju meninggalkan halaman kedai.
Pria staf showroom menghela napas prihatin melihat kondisi kaca mobil baru tersebut. "Ibu Amira, sepertinya mobil ini harus kami bawa kembali ke bengkel resmi untuk penggantian kaca dan perbaikan kap. Tenang saja, biaya perbaikan akan dicover oleh asuransi dan garansi penyerahan."
"Baiklah... Kira-kira berapa lama proses perbaikannya?" tanya Amira.
"Paling cepat satu minggu, paling lambat satu bulan, Bu."
"Baik, saya tunggu," jawab Amira tenang.
Mobil Honda Jazz itu kembali dinaikkan ke atas truk towing untuk dibawa ke bengkel resmi.
Sementara itu, di dalam mobil patroli yang melaju membelah jalanan kota, Sonia tak berhenti menangis tersedu-sedu.
"Berhenti menangis! Makanya kalau mau bertindak itu pakai otak dulu, jangan turuti emosi!" tegur seorang polwan yang duduk di sampingnya dengan nada sangat tegas.
Waktu berjalan menuju sore hari.
Di rumah keluarga Adam, ponsel Mirna berdering nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layarnya. Mirna yang sedang menyapu lantai mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, benar ini dengan Ibu Mirna?" ucap suara pria berwibawa di balik telepon.
"Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Kami dari Kepolisian Sektor Kota. Anak kandung Ibu yang bernama Sonia saat ini sedang kami amankan di markas kepolisian. Yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana perusakan barang milik orang lain. Ibu sebagai pihak keluarga diminta untuk segera datang ke kantor polisi."
"A-apa...? Anak saya... di penjara?!"
Ponsel di genggaman Mirna seketika terlepas dan jatuh menghantam lantai. Pandangan mata Mirna mendadak gelap, tubuhnya gemetar hebat dan ia hampir saja pingsan di ruang tamu.