Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Sentuhan Sang Mantan

Pintu ruangan kerja terbuka.

Rania melangkah masuk dengan membawa tas kerja di tangannya.

Hari sudah mulai sore.

Seharian memikirkan perkembangan PT. Herbalife membuat kepalanya terasa berat. Namun entah mengapa, yang paling melelahkan bukanlah pekerjaan.

Melainkan satu pria yang terus berada di pikirannya.

Brian Aristama. Pria itu memang tidak membahas masa lalu lagi tapi tatapannya dan cara bicaranya kenapa terasa begitu terlalu menguasai keadaan bahkan Rania tidak bisa terlepas dari sorot mata pria itu.

Rania mengembuskan napas panjang. Aku tidak boleh memikirkannya." Ia meletakkan tas di atas meja, lalu membuka laptopnya lagi, ia menatap hasil dari kerja kerasnya di bantu Brian hari ini.

Baru saja Rania duduk di meja kerjanya.

"Istirahat lah," ucap Brian.

Rania membeku, perlahan Rania menoleh.

Brian berdiri di ambang pintu, tongkat hitam berada di tangan kanannya.

Rania mengerutkan kening. "Kenapa kau masih di sini?"

Brian berjalan mendekat dengan langkah perlahan. "Bukankah sudah kukatakan?"

Rania diam.

"Aku akan menginap di sini," Brian berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Rania memalingkan wajah. "Terserah."

Ia hendak berjalan melewati Brian. Namun....

"Rania." Panggil Brian, tatapannya jatuh pada wajah Rania.

Rania tidak menghiraukannya, ia terus berjalan menuju pintu, lalu...

Tak! Tongkat Brian menahan pintu yang akan di buka Rania.

Rania pun menoleh, ia membalikkan tubuhnya, "Brian apa mau mu?" Tanya Rania.

"Menyentuh anak ku," langkah Brian langsung mendekat, dua langkah panjangnya membuat tubuh tingginya kini berdiri sangat dekat dengan Rania.

Rania menahan nafasnya, aroma Brian yang khas sangat ia kenal memasuki rongga hidungnya, entah kenapa, membuat Rania terasa nyaman sekali, sungguh sangat nyaman, rasa sakit di kepalanya pun seolah terasa berkurang.

Rania sampai memejamkan matanya sejenak.

Brian menatap lekar Rania, "kau baik-baik saja?" Tanya Brian. Lalu ia menyandarkan tongkatnya di sisi pintu, satu tangannya menyentuh sisi perut Rania.

Bagaimana kabarnya? Bisik Brian, ia terus menatap Rania yang sedang terlihat rileks.

Rania mengangguk pelan, "dia tumbuh dengan baik," jawab Rania.

Rania menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum, karena aroma Brian begitu terasa memabukkan yang Rania rasa, kenapa ia begitu menyukainya.

Rania kemudian mengangkat tangannya, jarinya menyisir sisi jas hitam Brian yang kancingnya sudah terbuka.

Rania menelan ludahnya, "Brian," panggilnya.

"Emh," Brian menunduk, ia memperhatikan wajah Rania yang masih terpejam dengan nafas yang sedikit memburu.

Rania mencengkram erat jas Brian, lalu ia membuka matanya dan kembali memejamkan matanya.

Sial, aroma tubuhnya sangat membuat aku rileks sekali, kenapa? Rania kemudian melepaskan sentuhannya pada jas Brian. Mendorong perlahan dada Brian untuk menjauh.

Namun...

Jemari Brian yang berada di belakang tengkuk Rania kini bersentuhan, ia menarik kepala Rania untuk mendekat ke arahnya.

Rania terkejut, ia membuka matanya, "Brian," bisik Rania lirih saat tatapan mereka bertemu.

Brian tersenyum tipis, saat wajahnya semakin mendekat, Rania sontak menahan dada Brian.

"Cukup," ucap Rania.

"Belum," bisik Brian.

Rania menahan lagi dada Brian, saat pria itu terus mendekat mengikis jarak.

Srakk! Tangannya bergeser menahan pundak Brian, meremasnya.

Brian sudah hampir menyentuh bibir Rania, namun Rania menahannya.

"Kenapa kau berpikiran ingin pergi dariku? Aku justru senang saat kau hamil anakku Rania," ucap Brian.

"Ini sebuah kesalahan," jawab Rania. "Dalam perjanjian kontrak pernikahan kita dulu kau hanya..."

"Cukup," potong Brian. "Aku tidak ingin membahas orang bodoh yang sudah membuat dan menandatangani kontrak bodoh tersebut," ucap Brian.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau berpikiran buruk padaku," ucap Brian.

Rania menatap Brian, nafas hangat pria itu terasa hangat menyapu wajahnya.

"Kau takut aku menyuruhmu menggugurkan kandungan mu?" Tanya Brian.

Rania mengangguk pelan. Brian menatap Rania dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Kau sudah menandatangani surat perceraian kita Brian, itu sudah cukup membuktikan bahwa kau tidak pernah menginginkan bayi ini," ucap Rania, ia mendorong bahu Brian.

Namun Brian terus bertahan dalam posisinya, bahkan kini satu tangannya melingkar di pinggang Rania, dan satu tangannya masih menahan tengkuk Rania.

"Kau tidak tahu," Brian sedikit mencengkram tengkuk Rania, "betapa aku sangat membencimu, saat aku menandatangani surat perceraian itu," Brian mengucapkannya begitu dekat hingga bibir mereka bersentuhan tipis sekali.

"Aku terbangun di rumah sakit, tubuhku terluka, dan hatiku hancur, saat sadar kau tidak ada di sisiku," ucap Brian. Ia mengeratkan pelukannya.

"Semua akses informasi tentang dirimu dan kondisi kakek di tutup oleh asisten ku," Brian menatap lekat bola mata Rania yang terlihat bergetar.

"Aku merasa jadi orang bodoh selama satu minggu, harus berusaha pulih mengikuti semua aturan dokter," ucap Brian. "Tapi apa yang ku dapat setelah aku bisa berjalan, Rio memberikan aku berkas, surat perceraian dari mu saat itu membuat aku gila Rania," Brian menggeleng tipis, tatapannya kini turun menatap Bibir Rania.

Sementara Rania, berusaha menahan detak jantungnya, setelah mendengar apa yang selama ini Brian lalui tanpa dirinya.

Cup!! Brian meraup b!b!r Rania, lambut namun dalam. Rania terkejut, ia segera mendorong bahu Brian.

Sekarang, aku akan menunjukkan padamu, kau pikir jalan pikiran mu cerdas? Brian menahan tengkuk Rania, sesekali melepaskan tautannya, hanya beberapa detik, membiarkan istrinya mengambil nafas.

Emph!! Brian mendengar suara lenguhan istrinya, namun ia tidak peduli.

Ini adalah hukuman yang pantas di terima Rania, ia akan menunjukkan bahwa Brian Aristama tidak akan menyesali setiap keputusannya.

Brian mengangkat tubuh Rania, walau kakinya tertatih, ia terus memaksa melangkah sambil membawa Rania ke sisi meja kerja.

Rania sontak melotot, ia bahkan mengigit Bibir Brian, berharap Pria di hadapannya tidak bersikap lebih gila dari ini, karena Rania tidak mau kondisi kaki Brian bertambah parah.

Emph! Rania memukul kembali bahu Brian. Saat brian meletakkannya di atas meja.

Tapi Brian tidak melepaskannya, ia masih terus m3n!kmati tautan b!b!rnya yang sudah lama tak pernah ia rasakan.

Dan saat Rania, kembali mengigit b!b!rnya lebih keras lagi, hingga berdarah, Brian pun melepaskannya.

"Arghh!" Lenguh Brian, ia mengusap sisi bibirnya, tatapannya jatuh pada noda merah di jarinya.

Rania yang tengah berusaha mengatur nafasnya menatap noda merah itu, "aku tidak sengaja," ucap Rania.

Brakk!! Satu lutut Brian menyentuh lantai.

"Arghh!! Shhh!!" Brian menyentuh pergelangan kakinya.

Rania langsung panik, ia segea turun dari sisi meja, "Brian," panggil Rania, ia menatap Brian yang menunduk dan menggenggam pergelangan kaki kirinya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!