Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Terlambat Menyadari

"Dan..." Daniel melirik sekilas ke arah Belvina. “Untuk menyadari bahwa istrimu jauh lebih menarik daripada yang orang-orang bicarakan.”

Satu kalimat ringan, tapi cukup tajam.

Alden tersenyum tipis.

“Memang,” ujarnya datar. “Aku juga baru menyadarinya.”

Kalimat itu terdengar seperti setuju. Namun ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. Lebih dalam, dan… personal.

Tangan Alden bergerak. Secara alami, terlalu alami untuk disebut kebetulan. Ia meraih pinggang Belvina lagi.

Menariknya sedikit mendekat. Tidak kasar. Tidak mencolok. Namun cukup jelas untuk mengubah posisi, menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

“Kalau begitu,” lanjut Alden, masih menatap Daniel, “sekarang kau sudah tahu batasnya.”

Nada suaranya tetap sopan, tapi maknanya… tidak.

Daniel terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil. Bukan tersinggung, lebih seperti… mengerti.

“Baiklah kalau begitu.”

Ia mengangkat kedua tangan sedikit. Santai.

“Tapi aku tidak pernah bilang aku akan melanggar.”

Di tengah ballroom, keduanya berdiri berhadapan lurus seolah tak peduli pada orang lain. Dua pria. Dua kepentingan.

Lalu Daniel mundur setengah langkah.

“Enjoy your evening.”

Ia pergi. Tanpa tergesa.

Belvina tidak langsung bicara. Namun ia bisa merasakan tangan di pinggangnya. Sekarang lebih mantap, seolah tidak berniat dilepas.

Kepalanya memutar sedikit.

“Interupsi yang halus,” komentarnya ringan.

Alden menggenggam gelasnya lebih erat dari seharusnya.

“Dia bukan orang yang tepat untuk kamu ajak santai.”

Jawaban itu cepat. Terlalu cepat.

Belvina mengangkat alis tipis.

“Dan kamu yang menentukan itu?”

Kali ini Alden menoleh. Urat rahangnya menegang tipis, tapi jelas.

“Iya.”

Hanya satu kata. Kali ini… bukan sekadar kontrol. Lebih ke arah—klaim. Dan itu, lebih berbahaya dari sebelumnya.

 

Di sisi lain ballroom, bibir Seraphina melengkung samar melihat tangan Alden di pinggang Belvina.

Nyatanya, di balik senyum itu, pikirannya sudah bekerja lebih cepat dari siapa pun di ruangan itu.

Ia mendekat dengan gelas di tangan. Senyumnya tetap sempurna.

“Alden, sebenarnya aku ingin membahas proposal akuisisi tadi.” Ia melirik ke Belvina, seolah baru teringat. “Tapi topik seperti ini mungkin kurang menarik.”

Beberapa orang di sekitar tersenyum tipis.

Belvina tidak langsung merespon. Ia justru mengambil satu potong kecil dessert dari piringnya, mencicipi sedikit, lalu menelan tenang.

“Kenapa?” tanyanya ringan. “Karena aku tak pengangguran?”

Udara di sekitar mereka berubah tipis.

Lengkung di bibir Seraphina Masih terjaga rapi. “Aku hanya tidak ingin kamu bosan.”

Mulut Belvina terbuka sedikit.

“Oh.”

Pandangannya bergeser ke Alden.

“Kalau proposal yang tadi itu tentang akuisisi perusahaan logistik regional, aku justru penasaran.”

Dahi Alden mengerut samar.

Belvina melanjutkan santai.

“Kalau mereka datang menawarkan diri saat margin sedang turun dan arus kas menegang, biasanya ada dua kemungkinan.”

Beberapa orang kini benar-benar memerhatikan.

“Perusahaannya sedang lebih bermasalah dari yang terlihat…” ia mengangkat bahu kecil, “…atau mereka tahu pihak pembeli terlalu percaya diri.”

Seorang pria senior di dekat sana tersenyum.

“Menarik.”

Belvina menoleh padanya.

“Kalau saya jadi pembeli, saya minta audit operasional dulu sebelum bicara valuasi.”

Ia mengambil minumannya lagi.

“Cantik di presentasi belum tentu sehat di gudang.”

Kali ini beberapa orang tertawa pendek.

Alden mengangkat gelas dan menyesap perlahan, seolah tak ada yang perlu ditanggapi. Namun jemarinya di pinggang Belvina belum juga lepas.

Seraphina tersenyum seperti biasa, terlalu rapi. “Kamu memang penuh kejutan malam ini.”

Belvina mengangkat alis sedikit.

“Kejutan?” ulangnya ringan.

Ia terkekeh kecil, lalu mengangkat gelasnya sebentar.

“Aku tidak suka membuat kejutan.”

Ia sedikit menggeser kakinya hingga berhadapan dengan Seraphina.

“Aku hanya terlalu lama diam… sampai orang-orang mengira aku tidak mengerti apa pun.”

Sunyi tipis jatuh di sekitar mereka.

"Kini aku paham..." lanjutnya tanpa tergesa. "...diam terlalu lama sering disalahartikan sebagai kebodohan.”

Ia mengusap lembut sudut bibirnya, membersihkan sisa remah kue yang nyaris tak terlihat.

“Dan… beberapa orang terlalu percaya diri saat lawannya memilih diam.”

Belvina menyesap minumannya sedikit, lalu menambahkan santai—

“Sekarang, rasanya sudah cukup.”

Alden tetap tenang, menyesap minuman. Namun sudut gelas berhenti sesaat di bibirnya.

Ia melirik Belvina sekilas.

Begitu lama ia mengira wanita ini mudah dibaca. Malam itu, ia sadar tidak.

Seraphina tetap tersenyum. Meski ini momen pertama ia harus berpikir sebelum menjawab.

***

Mobil melaju membelah malam.

Belvina duduk bersandar di kursinya. Cahaya layar ponsel memantul tipis di wajahnya. Jempolnya bergerak cepat, fokus penuh pada permainan.

“Ah… hampir.”

Ia menggerutu pelan tanpa sadar.

Di sampingnya, Alden akhirnya memutar tubuh sedikit ke arahnya.

“Kenapa?”

Belvina tidak menjawab. Bahkan tak tampak mendengar. Matanya tetap di layar.

Alden mengamatinya beberapa detik.

“Dulu kau akan memakai waktu seperti ini untuk bicara padaku.” Suaranya tenang. “Menempel. Mencari perhatian.”

Jempol Belvina masih bergerak.

“Sekarang kau sibuk dengan benda itu.”

“Aku sedang main,” jawabnya datar.

“Kau juga menjauh. Bersikap seolah tak mencintaiku lagi.” Alden menyipit sedikit. “Malam ini bahkan menunjukkan sisi yang tak pernah kulihat.”

Alden sedikit mencondongkan tubuh. Mendekat.

“Apa yang sebenarnya sedang kau mainkan?”

Baru saat itu Belvina menoleh sekilas.

“Aku tidak sedang bermain.”

Matanya kembali ke layar.

“Aku cuma sadar, pura-pura lemah… merendahkan diri… dan menjadikanmu pusat hidupku adalah kebodohan.”

Alden bersandar kembali.

“Jadi ini trik tarik ulur?”

Belvina tertawa kecil. Pendek. Kali ini ia mematikan layar ponselnya, lalu menoleh penuh.

“Bukan.” Nada suaranya tenang. “Aku hanya ingin tahu… apakah kau bisa menerima aku dengan segala kurangku.”

Ia memberi jeda.

“Dan ternyata tidak.”

Otot pipi Alden mengeras tipis.

“Jadi sekarang aku memilih mundur.”

Jemari Alden perlahan mengepal.

“Aku tidak akan memberimu jalan untuk mundur.”

 

...✨ "Dulu aku mengejarmu dan kau tak peduli. Sekarang aku mundur… dan kau tak terima."...

..."Yang paling terlambat sadar biasanya yang paling sulit melepaskan."✨...

.

To be continued

1
CV.fuadhh
Terimakasihh thorr , jujur bagus bngett , semangat terus yah thor untuk kedepannya 👍🏻
anonim
Duuuh Belvina kenapa tidak menghubungi Dimas terlebih dahulu. Ya saking paniknya jadi tidak berpikir jauh. Orangtuanya Alden juga ada kenapa gegabah sekali tidak memberi tahu lebih dahulu.

Belvina kena jebakannya Seraphina.

Semoga Belvina dan bayi dalam kandungannya selamat
Karo Karo
semangat Thor aku suka
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Dokkan Battle
cerita KLISE SKIP AWOKAWOK
Karo Karo
keluar yg sangat kompak 🤣
Karo Karo
part plot twist bngt 😂 pake mtr RX king lgi 🤣🤣
Karo Karo
ketika seorang istri sudah memakai logika bukan lagi perasaan 😂 mka itulah yg terjadi bebas 😂😂
Sunny Kwok
Ceritanya bagus 👍👍👍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Eva Novianti
hahahahahaja lucuuuu
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!