Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Terungkap?

Matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden, membiaskan sinar keemasan yang hangat di atas lantai ruang tengah. Suara kicau burung di luar menyambut pagi yang tenang, bertolak belakang dengan gemuruh hujan yang melanda semalam.

Fadil perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa agak berat, namun demam tinggi yang membakarnya semalam telah surut sepenuhnya. Saat hendak memiringkan tubuhnya di atas sofa, ia merasakan kejanggalan pada pergerakannya.

Pandangan Fadil bergeser ke bawah. Di lantai karpet tepat di samping sofa, Aura tertidur lelap dengan posisi melingkar. Kepala wanita itu bersandar pada tepi sofa, dekat dengan posisinya tidur.

Salah satu tangan Aura masih memegang erat selimut tebal yang menutupi tubuh Fadil, seolah memastikan suaminya tidak kedinginan sepanjang malam.

Fadil mematung. Matanya menatap lekat wajah polos Aura yang tampak begitu lelah. Lingkaran hitam menjejak tipis di bawah matanya, menandakan bahwa wanita itu hampir tidak tidur semalaman demi mengompres dan menjaganya.

Perasaan asing yang membingungkan mendadak menyusup ke dalam hati Fadil. Selama berhari-hari, ia memupuk rasa benci dan kecurigaan, dan menganggap Aura sebagai sosok yang dingin dan memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan sendiri.

Namun, dedikasi serta ketulusan yang ditunjukkan Aura semalam berbenturan keras dengan prasangka buruk yang ia bangun sendiri.

Fadil perlahan mengulurkan tangannya. Jemarinya melayang sejenak di udara, dan hendak menyentuh helai rambut Aura yang jatuh menutupi wajahnya. Namun sebelum jemarinya menyentuh rambut itu, Aura bergerak kecil dan membukakan matanya.

Aura tersentak kaget saat menyadari posisi mereka yang begitu dekat. Ia refleks duduk tegap dan mengusap matanya dengan cemas.

"Mas Fadil sudah bangun?" tanya Aura dengan suara parau khas bangun tidur. Ia buru-buru menempelkan punggung tangannya ke dahi Fadil. "Alhamdulillah, Panasnya sudah turun. Mas masih merasa pusing atau mual?"

Fadil melepaskan tangannya yang menggantung di udara, lalu memalingkan wajahnya untuk menutupi kecanggungannya.

"Sudah jauh mendingan," jawab Fadil pendek. Suaranya tidak lagi setajam biasanya, meski nada kaku itu masih tersisa.

Aura bernapas lega, seraya mengukir senyum tipis yang tulus di bibirnya. "Baguslah kalau begitu. Aku buatkan bubur hangat lagi dan teh manis ya untuk sarapan, supaya Mas bisa minum obat susulan."

Aura pun berdiri sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu bergegas menuju dapur. Sementara Fadil duduk di tepi sofa, sambil menatap punggung Aura yang menghilang di balik dinding dapur.

Jemarinya meremas kain selimut. Pertahanan dirinya yang selama ini kokoh mulai goyah oleh perhatian sederhana dari wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya tersebut.

Beberapa saat kemudian, situasi di rumah itu terasa jauh lebih tenang. Fadil yang sudah merasa lebih segar telah mandi dan mengenakan pakaian santai.

Ia duduk di meja makan, lalu menyantap bubur buatan Aura tanpa ada penolakan atau kata-kata pedas seperti hari-hari sebelumnya. Sementara Aura duduk di seberangnya, sambil menyesap teh hangatnya.

Saat Fadil meletakkan sendoknya dan menghabiskan sisa teh di cangkirnya, telepon genggam milik Aura di atas meja bergetar nyaring.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah nomor baru yang tak dikenal. Aura menatap layar tersebut dengan dahi yang berkerut, lalu melirik Fadil yang juga tengah menatap ponsel itu.

"Angkat saja," ujar Fadil datar.

Aura menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?"

"Aura..."

Suara berbisik yang amat parau dan bergetar menyapa dari balik telepon. Jantung Aura serasa melompat keluar dari dadanya, dan ia mengenali suara itu.

"Kak Keisya?!" pekik Aura spontan, lalu berdiri dari kursinya.

Fadil yang mendengar nama itu langsung tersentak tegap dari duduknya. Matanya membelalak tajam, memancar antara amarah, terkejut, dan luka yang mendadak bangkit kembali.

"Ra... tolong Kakak, Ra..." isak Keisya di balik telepon, suaranya sangat lemah dan diselingi rintihan kesakitan. "Kakak pendarahan... Kakak gak tau harus ke mana... tolong..."

"Kak Keisya! Kakak ada di mana sekarang?!" jerit Aura panik. "Kakak pendarahan?! Hallo, Kak?!"

Klik.

Sambungan telepon mendadak terputus.

Aura mematung dengan ponsel yang gemetar di genggamannya, wajahnya pun pucat pasi. Tanpa membuang waktu, Aura berbalik dan hendak berlari mengambil tasnya untuk pergi.

Namun, pergelangan tangannya langsung dicengkram kuat oleh Fadil. Pria itu menatapnya dengan rahang terikat keras dan napas yang memburu dengan cepat.

"Keisya pendarahan?" tanya Fadil dengan suara rendah yang menakutkan. "Apa maksudnya, Aura?! Keisya hamil?!"

Aura menatap mata Fadil dalam derai air mata keputusasaan. Rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat akhirnya roboh oleh keadaan darurat yang mengancam nyawa kakaknya.

"Mas... aku mohon," tangis Aura pecah.

"Keisya hamil?!"

Cengkraman Fadil di pergelangan tangan Aura semakin melilit bagaikan cengkraman besi. Matanya merah membara memancarkan amarah yang liar. Rahang pria itu mengeras begitu rapat, sementara napasnya memburu kasar memburu wajah Aura.

"Jawab aku, Aura! Anak siapa yang dia kandung?!" bentak Fadil menggelegar, hingga suaranya menggetarkan seluruh sudut meja makan. "Jadi ini alasan dia kabur?! Ini alasan kamu mendadak menggantikannya di pelaminan dan menutup mulut rapat-rapat?!"

Aura meringis kesakitan, dan mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang terasa hendak patah. Air matanya meledak deras, bercampur rasa panik atas kondisi Keisya yang dalam bahaya.

"Mas Fadil, lepaskan... Sakit! Aku mohon antarkan aku dulu, Kak Keisya pendarahan! Nyawanya bisa melayang, Mas!"

"Biar mati sekalian!" raung Fadil murka, seolah kehilangan seluruh kendali dan rasa kemanusiaannya.

Pria itu menghentakkan tangan Aura dengan kasar hingga tubuh wanita itu terdorong dan membentur sudut meja. "Wanita murahan! Kalian berdua sama saja! Kamu dan kakakmu sudah membodohiku, mempermainkan keluargaku, dan menghancurkan seluruh hidupku!"

Fadil melangkah maju dengan tatapan membunuh, lalu jemarinya terangkat hendak mencengkram bahu Aura kembali—

"Mas Fadil, jangan!"

Hah... Hah... Hah...

Aura tersentak tegap dari posisinya, napasnya tersengal-sengal parau seolah baru saja muncul dari dalam air. Jantungnya berdegup begitu kencang dan liar, menghantam rongga dadanya hingga terasa menyakitkan.

Keringat dingin membasahi dahi, leher, serta helai-helai rambutnya yang berantakan sementara pelipisnya berdenyut hebat.

Aura mengerdipkan matanya berkali-kali, dan berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan kegelapan ruangan. Tidak ada bentakan menggelegar, tidak ada cengkraman dingin yang menyakitkan, dan tidak ada ceceran ketakutan akan berita pendarahan.

Yang ada hanyalah keheningan malam yang sunyi. Suara guruh dan gemericik air hujan di luar jendela kamar yang terdengar samar-samar.

Aura menyapu pandangannya dengan jemari yang gemetar. Ia masih berada di atas karpet ruang tengah, sambil menyandarkan kepalanya pada pinggiran sofa. Dimana, Fadil masih terbaring pulas dalam selimut tebalnya. Wajah pria itu tampak tenang, napasnya teratur, dan suhu tubuhnya yang semalam tinggi kini terasa jauh lebih stabil.

Telepon genggam Aura tergeletak bisu di atas meja kaca, tidak ada panggilan masuk, dan tidak ada nama Keisya yang tertera di layar.

Dan ternyata, itu semua hanya mimpi buruk.

Sebuah ilusi mengerikan yang lahir dari rasa cemas, kelelahan hebat, serta beban rahasia besar yang terus menghimpit dada Aura tanpa ampun.

Aura lantas merosot kembali ke lantai, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih bergetar hebat, hingga air matanya menetes pelan menembus sela-sela jari.

Di tengah keheningan malam itu, Aura menyadari satu hal dengan sangat jelas, jika rahasia tentang kehamilan Keisya adalah bom waktu yang nyata.

Dan jika saatnya tiba nanti, amarah Fadil dalam dunia nyata mungkin akan jauh lebih menakutkan daripada mimpi buruk yang baru saja menyiksanya.

"Ini hanya mimpi Aura..."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
iya mas Fadil, kamu juga milikku mas😂😂😂
Aurora: betul bangetttt 😅
total 11 replies
sunaryati jarum
Cie- cie mulai romantis nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!