Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — MATA-MATA DI KEDIAMAN YUN
“Ada apa?”
Yun Xiao mengerutkan kening ketika menyadari Yun Luofeng terus menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Yun Xiao,” ujar Yun Luofeng sambil tersenyum, “pernahkah seseorang mengatakan bahwa kau sangat menggoda?”
Pria di hadapannya memang memiliki wajah yang nyaris sempurna. Ditambah tubuh kuat hasil kultivasi bertahun-tahun, tidak mengherankan jika banyak wanita akan tertarik kepadanya.
Yun Xiao berpikir sejenak.
“Tidak pernah.”
Jawaban jujur itu membuat Yun Luofeng tertawa.
Kemudian pandangannya turun.
“Tapi... sampai kapan tanganmu mau tetap berada di dadaku?”
Tubuh Yun Xiao seketika kaku.
Barulah dia menyadari telapak tangannya masih menempel di tubuh Yun Luofeng untuk menyalurkan energi.
Dia segera menarik tangannya.
“Kondisimu sudah pulih. Aku pergi.”
Yun Xiao berbalik dan berjalan menuju pintu. Langkahnya terlihat tenang seperti biasa, tetapi Yun Luofeng masih bisa menangkap sedikit kepanikan dalam gerakannya.
“Jadi dia tidak benar-benar polos,” gumam Yun Luofeng sambil tersenyum. “Hanya masih kurang latihan.”
***
Kabar bahwa Yun Luofeng pulang dalam pelukan Yun Xiao sudah menyebar ke seluruh Kediaman Yun.
Begitu mendengarnya, Yun Luo yang sedang berada di luar langsung meninggalkan urusannya dan bergegas pulang. Dia baru benar-benar tenang setelah memastikan cucunya tidak terluka.
Meski begitu, amarahnya tetap meledak ketika mengetahui apa yang dilakukan Jing Lin.
Kalau Yun Luofeng tidak menghentikannya, lelaki tua itu mungkin sudah menerobos istana untuk mencari Jing Lin.
Sementara itu, seluruh Kota Kekaisaran juga diguncang kabar lain.
Jing Lin dikabarkan membuat keributan di Paviliun Medis, bahkan merusak sejumlah tanaman obat berharga serta Ramuan Pengumpul Energi.
Paviliun Medis langsung mengirim tagihan ke istana.
Jing Lin ingin mengatakan dirinya dijebak, tetapi siapa yang akan mempercayainya dibandingkan Paviliun Medis?
Pada akhirnya, dia hanya bisa menelan kemarahan dan menyerahkan hampir seluruh kekayaannya sebagai ganti rugi.
Dalam semalam, tabib kekaisaran yang sebelumnya hidup bergelimang harta berubah menjadi orang yang bahkan kesulitan membeli tanaman obat mahal.
Sedangkan orang yang menjadi awal seluruh kekacauan itu justru tenang berkultivasi di pegunungan belakang.
Beberapa hari kemudian, Yun Luofeng membuka mata di dalam bak berisi ramuan.
Energi di tubuhnya telah berubah semakin kuat.
“Berhasil.”
Senyum muncul di wajahnya.
“Aku sudah mencapai kultivator tingkat awal lapisan tinggi.”
“Hmm!”
Suara Xiao Mo terdengar kesal dalam benaknya.
“Kalau Nona mau mendengarkanku dan berkultivasi berpasangan dengan Yun Xiao, mungkin sekarang sudah menembus tingkat berikutnya.”
Wajah Yun Luofeng menggelap.
Anak kecil ini benar-benar tidak berniat melupakan persoalan tersebut.
“Cukup. Jangan bahas itu lagi.”
Dia keluar dari bak dan mengenakan pakaian.
“Pekerjaan yang kuberikan kepada Milk Tea seharusnya sudah selesai.”
Cit! Cit!
Seolah merasa namanya dipanggil, seekor hamster putih kecil menyelinap melalui celah pintu dan berlari menghampirinya.
Yun Luofeng mengangkat Milk Tea ke telapak tangannya.
“Tempat latihan bawah tanah sudah selesai?”
Milk Tea mengangguk cepat.
“Tiga lubang besar yang kuminta tetap ada?”
Hamster kecil itu kembali mengangguk.
“Bagaimana dengan dua ratus orang yang kusuruh kau awasi?”
Milk Tea mulai mencicit sambil menggerakkan kaki depannya.
Yun Luofeng mengambil sebotol Ramuan Pengumpul Energi.
“Ini hadiahmu.”
Milk Tea langsung memeluk botol itu dan meminum isinya dengan lahap.
Setelah selesai, ia kembali bercicit sambil menunjuk ke arah luar.
“Nona,” Xiao Mo menerjemahkan, “Milk Tea mengatakan semalam melihat seorang pria diam-diam meninggalkan Kediaman Yun. Dia mengikutinya dan menemukan pria itu menyerahkan surat kepada lelaki tua yang suaranya seperti wanita.”
Yun Luofeng menyipitkan mata.
“Suara seperti wanita?”
Senyumnya perlahan berubah dingin.
“Selain kasim istana, tidak banyak pria yang memiliki suara seperti itu.”
Sejak awal dia sudah menduga Kaisar tidak mungkin begitu saja menyerahkan dua ratus orang kepada Klan Yun tanpa menanam mata-mata.
“Milk Tea, tunjukkan orangnya.”
Cit!
Hamster kecil itu melompat turun dan berlari keluar.
Yun Luofeng segera mengikutinya.
***
Dua ratus orang berdesakan di ruangan batu yang gelap dan lembap.
Beberapa hari dibiarkan tanpa penjelasan membuat mereka mulai kehilangan kesabaran.
“Sepertinya kalian hidup cukup nyaman.”
Suara malas tiba-tiba terdengar.
Semua percakapan berhenti.
Yun Luofeng berdiri bersandar pada dinding, pakaian putihnya tampak mencolok di tengah ruangan kusam.
“Nona Yun!”
Seorang pemuda tampan melangkah maju.
“Setelah membawa kami kemari, kau meninggalkan kami begitu saja. Sebenarnya apa tujuanmu merekrut kami?”
Yun Luofeng memperhatikannya.
Pemuda itu masih sangat muda, tetapi tatapan matanya jauh lebih matang daripada usianya.
“Siapa namamu?”
Pemuda tersebut sedikit terkejut.
“Yi Ling.”
Yun Luofeng tersenyum.
“Aku menanyakan nama aslimu.”
Wajah pemuda itu menegang.
“Itu memang nama asliku.”
“Kalau begitu, pertanyaan lain.”
Yun Luofeng berjalan mendekat.
“Ke mana kau pergi semalam?”
Keringat mulai muncul di dahinya.
Dia yakin tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Sayangnya, dia tidak pernah membayangkan seekor hamster kecil telah membuntutinya sepanjang perjalanan.
“Tidak pergi ke mana-mana.”
“Begitu?”
Yun Luofeng mengusap kepala Milk Tea.
“Kalau begitu, mari membicarakan sesuatu yang lain.”
Tatapannya menjadi tajam.
“Beberapa tahun lalu, Kerajaan Liujin kalah dalam perang melawan Longyuan. Sebagai bagian dari perdamaian, seorang pangeran dikirim ke sini sebagai sandera.”
Wajah pemuda itu perlahan memucat.
“Pangeran Ketiga Liujin, Ye Ling.”
Tubuhnya membeku.
Yun Luofeng tersenyum.
“Jadi, sebaiknya aku memanggilmu Yi Ling... atau Pangeran Ketiga?”
“Kau...”
Ye Ling mundur selangkah.
“Bagaimana kau mengetahuinya?”
“Sebenarnya ketika Gao Ling mengirim kalian ke sini, aku tidak memperhatikanmu secara khusus.”
Yun Luofeng mengangkat bahu.
“Kau sendiri yang membuatku curiga. Semalam kau menemui seorang kasim dan mengirimkan laporan ke istana.”
Dia berhenti sebentar.
“Dan ketika kutanya namamu, kau malah memilih Yi Ling.”
Wajah Ye Ling berubah.
“Ibumu adalah Permaisuri Yi dari Kerajaan Liujin. Menggunakan nama keluarganya sebagai nama palsu bukan pilihan yang cerdas.”
Ye Ling tertawa pahit.
Dia akhirnya berhenti berpura-pura.
“Benar. Aku Ye Ling.”
Tatapannya kemudian berubah dingin.
“Kaisar menjanjikan sesuatu kepadaku. Kalau aku tinggal di Kediaman Yun selama dua tahun dan melaporkan keadaan kalian kepadanya, aku akan diizinkan kembali ke Liujin.”
Kebencian muncul di matanya.
“Kalau bukan karena Yun Luo, Liujin tidak akan kalah perang dan aku tidak akan dikirim ke sini sebagai sandera!”
Yun Luofeng tertawa dingin.
“Jadi kau menyalahkan kakekku?”
Ye Ling mengepalkan tangan.
“Bukankah pasukan Yun yang mengalahkan negaraku?”
“Kakekku memang terlalu setia kepada Kaisar dan menjalankan semua perintahnya. Aku mengakui itu.”
Yun Luofeng melangkah mendekat hingga hanya beberapa langkah memisahkan mereka.
“Namun perang itu bukan keinginannya. Orang yang memerintahkannya adalah Gao Tu.”
Ye Ling terdiam.
“Kalau kau ingin membenci seseorang karena kekalahan Liujin, bencilah orang yang memulai perang dan memberikan perintah.”
Tatapan Yun Luofeng semakin dalam.
“Dan mengenai alasan kau akhirnya dijadikan sandera...”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Ye Ling, jangan berpura-pura tidak mengetahuinya.”
Wajah pemuda itu seketika berubah.
Yun Luofeng sudah melihat jawabannya dari perubahan tersebut.
Ada sesuatu yang jauh lebih rumit di balik alasan Pangeran Ketiga Liujin dikirim ke Longyuan.
Dan sepertinya...
Ye Ling mengetahui semuanya.
......................
Bersambung...