Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Aula Awan Kecil
Su Yu menelan ludah. Helaan napasnya terdengar berat saat ia memaksa kedua kakinya melangkah melewati ambang pintu. Begitu tubuhnya sepenuhnya masuk, pintu di belakangnya langsung tertutup rapat tanpa suara.
Dug... Dug... Dug...
Pemuda itu memejamkan mata sejenak. Rasa takut menjalar pelan dari tengkuk hingga ke ujung jari, tetapi ia tidak membiarkan dirinya mundur. Lalu ia membuka mata lagi.
Matanya langsung melebar.
Empat zhang di hadapannya terbentang tangga batu raksasa yang naik tinggi, menjulang entah sampai ke mana. Setiap pijakan memancarkan cahaya redup berwarna emas. Ruangan ini jelas tidak mungkin setinggi itu jika dilihat dari luar.
Bersamaan dengan keterkejutan Su Yu, Xioutian keluar dari balik kerah jubah. Burung kecil itu langsung terbang di samping tuannya, kedua sayapnya mengepak cepat.
"Tuan, tempat ini tidak masuk akal. Dari luar kelihatan seperti paviliun biasa, tapi dari dalam... luasnya seperti lembah tersembunyi!"
Belum sempat Su Yu menjawab, suara berat terdengar dari segala arah.
"Selamat datang, pewaris terpilih."
Su Yu menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, tetapi tidak menemukan siapa pun. Xioutian ikut memutar kepalanya, bulu-bulu di lehernya berdiri.
"Siapa yang bicara? Tunjukkan dirimu!"
Satu zhang di depan mereka, cahaya putih mulai menggumpal. Butiran-butiran energi spiritual menyatu perlahan, membentuk sosok manusia yang semakin lama semakin jelas. Ketika gumpalan itu memadat, tampaklah seorang pria tua dengan rambut panjang seputih salju dan janggut yang menjuntai hingga dada. Matanya tenang seperti permukaan danau di pagi hari.
Su Yu langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Senior, mohon petunjuk. Apa maksud dari panggilan sebelumnya? Dan apa yang dimaksud dengan pewaris terpilih?"
Xioutian segera menambahkan tanpa menunggu jawaban. "Selain itu, kenapa hanya tuanku yang kau panggil? Bukankah banyak pendekar lain di luar sana yang lebih kuat darinya?"
Pria tua itu tersenyum tipis. "Sudah sepuluh ribu tahun tidak pernah ada yang berkunjung ke tempat ini. Tentu aku memilih orang yang paling layak untuk menjalani ujian."
Xioutian mengangkat dagunya dengan angkuh. "Ujian? Ha! Bisa saja ini jebakan. Jangan mencoba menipu tuanku, pak tua."
Su Yu segera meraih paruh burung itu dan menutupnya rapat dengan jari-jarinya. Wajahnya sedikit menegang, tetapi ia tetap mempertahankan sikap hormat.
"Maafkan kelancangan peliharaanku, Senior. Dia memang tidak tahu cara menahan mulut."
Pria tua itu mengangguk pelan, sama sekali tidak menunjukkan tanda tersinggung. "Tidak masalah. Aku tidak memiliki emosi untuk merasa tersinggung."
Mendengar jawaban itu Su Yu menjadi lega. Ia melepaskan tangannya dari paruh Xioutian, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya lagi.
"Jika boleh tahu, ujian seperti apa yang senior maksud?"
Pria tua itu mengarahkan telapak tangannya ke belakang, tepat ke arah tangga batu raksasa yang menjulang. "Seperti yang kau lihat di belakang. Ada tiga ratus anak tangga. Setiap seratus anak tangga yang berhasil kau lewati, kau akan mendapatkan kesempatan untuk memilih dua hal: teknik atau senjata."
"Hmp." Xioutian mendengus pelan. "Dua hal? Berarti total ada enam pilihan kalau berhasil sampai puncak."
"Tidak salah." Pria tua itu menurunkan tangannya. "Namun perlu kalian pahami, semakin tinggi anak tangga yang dilewati, semakin kuat tekanan yang menimpa tubuh dan jiwa."
Su Yu menyipitkan matanya. "Lalu kenapa hanya saya yang dipanggil?"
Pria tua itu menatapnya lekat-lekat.
"Aku tertarik dengan darahmu."
Keheningan singkat menyelimuti ruangan itu. Xioutian langsung terbang lebih dekat ke arah pria tua tersebut dan menunjuk hidungnya.
"Sial! Kau dengar itu, Tuan? Pak tua ini menganggap kita sampah, sampai-sampai niat buruknya tidak ditutupi sama sekali!"
Pria tua itu tertawa pelan. "Hahaha... tenang dulu, burung kecil. Kalau pemuda ini berhasil, aku tidak akan melakukan kecurangan. Bahkan aku cukup senang karena akhirnya ada yang mewarisi teknik dan senjataku."
Su Yu mengernyitkan dahinya. Pria tua di hadapannya sangat aneh, dan dia pasti merasakan sesuatu dari esensi Kunpeng di dalam tubuhnya. Entah dia tahu persis apa itu, atau hanya mencium keanehan yang belum bisa ia pahami. Apa pun masalahnya, situasi ini tidak menguntungkan.
Setelah beberapa saat merenung, Su Yu mengangkat wajahnya. "Saya bersedia mencoba, Senior. Lagipula, sepertinya senior tidak akan membiarkan saya pergi begitu saja setelah saya masuk ke sini."
Pria tua itu tersenyum lebar.
"Bagus. Kau cukup sadar diri."
Xioutian langsung terbang ke samping Su Yu lagi.
"Kalau begitu aku juga ikut! Jika tuanku menjalani ujian, aku harus melakukannya juga."
Su Yu menoleh cepat ke arah burung itu. "Xioutian, kau sadar apa yang kau katakan? Kau mungkin bisa mati di dalam sana."
"Hmp." Xioutian mengangkat kepalanya. "Mati saat mencoba tidak terlalu buruk, Tuan."
Pria tua itu menatap keduanya bergantian, lalu tertawa kecil. "Baiklah, burung kecil itu boleh ikut. Tapi kalian harus melewati tangga itu sendiri-sendiri."
Su Yu dan Xioutian saling berpandangan. Sesaat kemudian, keduanya mengangguk hampir bersamaan.
Xioutian menyilangkan kedua sayapnya di depan dada sambil melayang di udara.
"Sebelum mulai, tolong beri aturan mainnya, pak tua. Jangan sampai nanti ada peraturan tambahan yang muncul tiba-tiba di tengah jalan."
Pria tua itu mengangguk. "Aturannya sederhana. Pertama, kalian dilarang saling membantu saat berada di atas tangga. Kedua, kalian tidak boleh berhenti lebih dari dua puluh tarikan napas di setiap anak tangga. Jika melanggar, tekanan akan meningkat dua kali lipat."
Xioutian memiringkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kami terjatuh?"
"Itu berarti kalian gagal. Tanpa bisa dihindari, tubuh kalian akan dihancurkan kekuatan ujian."
Su Yu menelan ludah mendengar jawaban itu. Namun ia tidak menunjukkan ketakutan di wajahnya. "Apa ada aturan lain yang perlu kami ketahui?"
Pria tua itu menggeleng. "Tidak ada. Sisanya kalian temukan sendiri setelah melangkah."
Xioutian mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan buktikan bahwa burung agung sepertiku mampu mencapai puncak."
Pria tua itu tersenyum tipis dan menggeser dirinya satu langkah kesamping kiri.
"Kita lihat saja."
Su Yu menarik napas dalam-dalam. Pandangannya beralih ke tangga batu raksasa di hadapannya. Cahaya emas dari setiap pijakan berdenyut pelan, seperti memanggil-manggil untuk segera ditaklukkan.
"Xioutian, kita mulai."
"Aku siap, Tuan."
Keduanya melangkah mendekati anak tangga pertama. Begitu kaki Su Yu menyentuh pijakan batu paling bawah, tekanan aneh langsung menimpa bahunya. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang menekan tubuhnya dari atas.
"Lebih berat dari dugaanku..."
Xioutian yang terbang di sampingnya ikut merasakan hal serupa.
"Baru anak tangga pertama sudah seperti ini. Bagaimana nanti di tangga ke seratus?"
Su Yu tidak menjawab. Ia mengangkat kakinya dan melangkah ke anak tangga kedua. Tekanan bertambah sedikit. Langkah ketiga, keempat, kelima... setiap pijakan terasa semakin berat.
"Tuan, jangan terlalu cepat. Atur ritme langkahmu."
"Aku tahu."
Mereka terus naik tanpa berbicara. Di luar sana, para pendekar lain mungkin masih sibuk menjelajahi bangunan-bangunan megah, tanpa menyadari bahwa ada aula tersembunyi yang menyimpan ujian misterius.
Namun di dalam aula itu, Su Yu dan Xioutian tidak memikirkan apa pun selain satu hal: bertahan di atas tangga.
Langkah mereka terus bertambah. Dua puluh... tiga puluh... lima puluh...
Keringat mulai membasahi dahi Su Yu. Kakinya terasa berat seperti diikat batu. Xioutian juga mulai kehilangan kelincahannya. Kepakan sayap burung itu melambat, dan napasnya memburu.
"Tuan... sejujurnya aku mulai menyesal ikut."
"Sudah terlambat untuk menyesal."
Xioutian menggerutu pelan, tetapi tetap terbang di samping tuannya.
Di kejauhan belakang mereka, pria tua berjanggut putih itu mengamati dengan tenang. Kedua matanya tidak lepas dari punggung Su Yu.
"Menarik... darahnya itu benar-benar bukan darah biasa. Darah apa itu?"
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔