Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : Hoodie Kebesaran dan Susu Cokelat

   Kiara sempat terpana melihat piring berisi jeruk yang sudah dikupas tiba-tiba bergeser mendekat ke arah piring kosongnya. Saat ia menoleh, Khafi justru sudah mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk mengelap sisa air di meja dengan tisu seolah tidak terjadi apa-apa.

​Kiara berdehem pelan, mengambil satu potong jeruk tersebut sambil lanjut terlibat obrolan yang lebih santai dari orang tua Khafi.

​Usai makan malam dan membantu merapikan meja—meski sempat dilarang keras oleh Mama Khafi—Kiara akhirnya bersiap untuk pulang. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan rintik hujan di luar benar-benar telah reda, menyisakan aroma tanah basah dan udara malam yang dingin.

​"Tante, Om... Kiara pamit pulang dulu ya. Terima kasih banyak buat makan malamnya, masakan Tante enak banget, maaf jadi ngerepotin." ucap Kiara tulus seraya menyalami tangan kedua orang tua Khafi bergantian.

​"Sama-sama, Cantik. Nggak merasa repot kok Tante juga, jangan kapok main ke sini ya? Ingat pesan Tante sama Om tadi, rumah ini terbuka kapan aja buat Kiara," balas Mama Khafi hangat, lalu merengkuh tubuh Kiara dalam pelukan singkat—pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama tidak Kiara rasakan.

​Khafi yang sudah siap dengan kuncinya berjalan mendahului ke halaman. Saat Kiara menyusul mendekati motor, Khafi tiba-tiba melepas hoodie tebal berwarna hitam yang semula melekat di tubuhnya, lalu melemparkannya pas ke arah dada Kiara.

​"Pakai. Udah malam, anginnya dingin," kata Khafi santai tanpa menoleh, sibuk membetulkan letak spion motornya.

​Kiara menangkap hoodie tersebut. Aroma wangi maskulin bercampur softener langsung tercium dari bahannya yang tebal. "Nanti lo yang kedinginan, Khafi. Walau rumah gue dekat, tapi kan—"

​"Gue cowok, lebay. Lagian seragam lo tipis gitu," potong Khafi cepat, lalu menepuk jok belakangnya. "Buruan naik, ntar keburu gerimis lagi."

​Kiara memutar bola matanya, namun tak ayal ia menuruti perintah cowok itu. Ia memakai hoodie milik Khafi yang ukurannya sangat besar dan membuat tubuh kecilnya tenggelam—membuat panjang lengan jaket itu menutup seluruh jemari tangannya.

​"Khafi! Pelan-pelan bawa motornya! Jangan ngebut-ngebut nganterin anak orang!" teriak Sang Mama dari teras rumah.

​"Iya, Mamaku sayang! Bawel amat!" balas Khafi setengah berteriak menembus malam.

​Kiara terkekeh pelan, melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Papa dan Mama Khafi yang masih berdiri hangat menyatukan lambaian di teras hingga pagar hitam itu menghilang di belokan komplek.

​Motor besar Khafi membelah jalanan kota yang masih basah. Udara dingin malam terasa menusuk kulit, tetapi hoodie milik Khafi mendekap tubuh Kiara dengan sangat hangat.

​Kiara menundukkan sedikit dahinya ke balik bahu tegap Khafi, membiarkan aroma hoodie ini mengikis rasa sepi yang biasanya selalu menyambutnya setiap kali hendak pulang ke rumah. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa asing itu tidak lagi terasa menakutkan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Angin malam yang berembus di sepanjang jalanan sisa basah tadi terasa lumayan menusuk, membuat Kiara tanpa sadar makin mengikis jaraknya dengan punggung Khafi. Dengan posisi duduk yang agak maju, kepala Kiara hampir saja menyandar pas di bahu tegap cowok itu.

​"Khafi, thanks ya," bisik Kiara cukup kencang agar terdengar menembus angin.

​Khafi melirik sedikit dari spionnya, keningnya berkerut di balik kaca helm. "Buat apa?"

​Kiara memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan hoodie hitam yang tenggelam di tubuhnya. "Pokoknya makasih aja."

​Khafi tidak membalas lagi. Ia hanya mengangguk pelan sekali, membiarkan keheningan kembali mengambil alih.

Sepanjang sisa perjalanan, keduanya sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing—Khafi yang mengamati raut wajah diamnya Kiara dari spion, dan Kiara yang mencoba menyimpan rasa hangat malam ini rapat-rapat di dadanya.

Tidak lama kemudian, motor besar itu perlahan memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan sebuah rumah megah berpagar tinggi. Rumah itu tampak sepi, dengan lampu teras utama yang bahkan belum dinyalakan, membuatnya terlihat gelap dan dingin di bawah temaram lampu jalan.

​Khafi melepas helmnya, memandangi bangunan besar itu sebelum melirik Kiara yang baru saja turun dari jok belakang.

​"Nggak ada orang di rumah lo?" tanya Khafi, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

​Kiara merapikan helai rambutnya yang berantakan terkena angin, lalu tersenyum tipis—senyum yang terkesan dipaksakan. "Pada keluar kota, urus kerjaan."

​Khafi manggut-manggut pelan, meski tatapannya sempat tertahan di jendela lantai dua rumah itu yang gelap gulita.

​Kiara kemudian menurunkan resleting hoodie zipper tebal milik Khafi dan bersiap melepasnya. "Nih, makasih ya."

​Namun, Khafi dengan cepat menahan pergelangan tangan Kiara yang terbungkus lengan hoodie kebesaran itu. Raut wajahnya yang tadinya serius mendadak berubah tengil dalam hitungan detik.

​"Eits, nggak, nggak! Jangan di balikin sekarang," tolak Khafi sambil memundurkan badannya sok jijik.

​Kiara mengerutkan dahi heran agak tersinggung. "Lah? Kenapa? Kan ini hoodie lo, Khafi."

​"Bau, Kuntil! Itu daki lo udah nempel di hoodie kesayangan gue. Ogah banget gue pakenya lagi kalau belum dicuci," ujar Khafi dengan wajah tanpa dosa.

​"Dih! Sembarangan banget mulut lo ya!" seru Kiara langsung menyemprot, emosinya seketika tersulut melepas masa-masa sendunya tadi. "Gue wangi ya, enak aja daki! Lagian lo yang main lempar-lempar tadi!"

​"Ya kan tadi niatnya karena kasihan liat lo bakal gemetaran kayak anak kucing hanyut sepanjang jalan. Minimal cuci dulu kek sebelum di balikin ke gue!" balas Khafi tak mau kalah.

​Kiara mengembuskan napas kasar, memutar bola matanya jengkel. "Yaudah! Nanti gue cuci dulu sampai bau busa detergennya ngalahin wangi parfum lo. Puas?"

​"Nah, gitu dong!" Khafi terkekeh puas melihat muka cemberut Kiara yang kembali ke setelan pabrik.

​"Terus masalah editan tugas sosiologi gimana?" tanya Kiara mengalihkan topik sebelum ia makin emosi.

​"Nanti bagi link Google Drive aja, biar bisa dilanjut kerjain bareng dari laptop masing-masing," jawab Khafi santai seraya kembali memasang helmnya. "Gue balik dulu ya, Mbak Ara. Jangan lupa kunci pagar, ntar ada penampakan perempuan rambut panjang lewat dikira lo temennya."

​"Khafi! Pergi gak lo sekarang?!" ancam Kiara sambil mengangkat kepalan tangannya di udara.

​Khafi tertawa puas di balik helm, menepuk pelan puncak kepala Kiara yang terbungkus kupluk hoodie—sebuah gestur singkat yang sukses membuat jantung Kiara berdesir aneh—sebelum akhirnya menyalakan mesin motornya.

​"Duluan, Kuntil! Jangan kangen!" teriak Khafi seraya melambaikan tangan dengan gaya sok keren, lalu menggas motornya membelah malam.

​Kiara masih berdiri di depan pagar, memandangi punggung Khafi hingga lampu belakang motor itu menghilang di belokan ujung jalan. Senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibirnya. Sambil merapatkan hoodie hangat yang masih beraroma khas cowok itu, Kiara membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya yang gelap—kali ini, terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Kelas XI IPS 2 mendadak riuh gembira ketika Rian mengumumkan bahwa guru mapel ketiga dan keempat berhalangan hadir. Suasana jam kosong langsung dimanfaatkan oleh kelompok 2 Sosiologi untuk berkumpul di area belakang kelas untuk mengejar pengumpulan tugas yang deadline-nya hari ini.

​"Ini klip bagian wawancara udah rapi banget, sih," puji Fathir sambil menggeser kursor di laptop Kiara. "Transisinya pas, suara narasumbernya juga jelas."

​Nisya dan Okta mengangguk setuju. "Iya, gila! Editan lo sama Khafi menyatu banget. Kagak kelihatan kalau kemarin pas mau ngerjain sempat cakar-cakaran dulu," celetuk Okta yang langsung dihadiahi pelototan maut oleh Kiara.

​"Tapi ini ada sedikit revisi dari gue," Fathir menunjuk bagian closing. "Bagian kesimpulan dibuat agak fade out dikit ya suaranya, biar pas Bu Linda nonton besok penutupnya lebih halus."

​"Yaudah, beres. Nanti gue samain timeline-nya," sahut Kiara jemarinya dengan lincah mencatat poin revisi di buku tulis.

"Okta! Bantuin gue balikin buku paket." sahut Dinda dari meja depan ke partner sekretaris-nya.

​"Gue mau ke perpustakaan dulu ya, mau balikin buku paket," pamit Okta sambil berdiri.

Fathir ikut bangkit dari duduknya, "Gue mau ke kantin sebentar, nyusul anak-anak futsal. Ki, lo aman kan ngerjain revisinya sendirian? Atau mau ditungguin?" Fathir bertanya karena rekan anggota yang lain seperti Misya sedang makan di kantin yang katanya pagi tadi belum sarapan, lalu Nisya dipanggil oleh Dewi anggota kelompok mata pelajaran lain yang ada tugas juga.

​"Aman, kok. Tinggal potong klip tipis-tipis doang," jawab Kiara santai.

   ​Sepeninggal Fathir dan yang lainnya, Khafi yang baru saja kembali dari kamar mandi langsung melangkah santai menuju mejanya di pojok belakang. Melihat Kiara yang sendirian mengotak-atik laptop di meja Ferdi—yang tepat berada di sebelah mejanya—Khafi mengambil posisi duduk di bangkunya sendiri, menggeser kursinya agar lebih dekat ke arah Kiara.

​"Mana yang mau direvisi?" tanya Khafi dengan suara bassnya yang khas, mendadak serius seraya ikut menatap layar laptop Kiara.

​"Bagian closing ini, nih. Katanya audio fade out-nya kurang mulus," tunjuk Kiara dengan touchpad.

​Keduanya pun larut dalam keheningan yang fokus. Jemari Kiara sibuk menggeser durasi audio, sementara Khafi memperhatikan dari dekat, sesekali memberi arahan singkat atau menunjuk poin koordinat detik di layar. Tidak ada pertengkaran, tidak ada adu mulut—hanya dua pasang mata yang sama-sama serius menatap layar monitor.

​Pemandangan langka itu rupanya tak luput dari pengawasan trio rusuh: Pandu, Kevin, dan Ferdi yang baru saja masuk ke kelas sambil membawa bola basket.

​Pandu menghentikan langkahnya, menatap Khafi dan Kiara dengan mata membelalak jenaka. "Bentar, bentar... mata gue nggak bermasalah, kan?"

​"Wah, keajaiban dunia ke delepan!" sahut Edi seraya merangkul bahu Kevin. "Tom and Jerry IPS Dua bisa duduk berdampingan tanpa ada yang kena lempar penghapus papan tulis?!" sahutnya dengan heboh.

​Kevin ikut-ikutan menempelkan telapak tangannya ke dahi Khafi dari belakang. "Khaf, lo kesambet setan mana pas berangkat sekolah tadi? Kok diem aja di samping Kiara ini?"

​"Dunia mau kiamat apa gimana ini, woi? Kok adem ayem banget!" tambah Pandu dengan nada dramatis yang sengaja dikeras-keraskan.

​Kiara dan Khafi yang fokusnya terganggu langsung menghentikan gerakan jemari mereka. Tanpa janjian, keduanya menoleh kompak ke arah trio tersebut dan berteriak dalam satu helaan napas yang persis sama:

​"DIEM LO PADA!"

​Suara kompak yang menggelegar itu sukses membuat Ferdi, Kevin, dan Pandu terlonjak kaget. Trio itu refleks mundur dua langkah dengan wajah cengengesan sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

​"Galaknya menyatu, anjir!" bisik kevin pelan seraya buru-buru kabur ke barisan meja depan sebelum kena amuk massa.

​Kiara menghela napas kasar, memutar bola matanya jengkel lalu kembali menatap layar laptop. Sementara Khafi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya.

​Khafi kemudian merogoh kolong mejanya. Sebuah kotak susu UHT rasa cokelat yang masih dingin dikeluarkan dan diletakkan tepat di samping mousepad Kiara.

​Kiara mengerutkan dahi, menoleh heran ke arah Khafi. "Apaan nih?"

​"Susu cokelat," jawab Khafi singkat tanpa menoleh, tangannya berpura-pura sibuk merapikan pulpen di meja. "Titipan dari Mama."

​"Tante Siska?"

​"Hmm," Khafi berdehem pelan. "Kata Mama, gara-gara kemarin lo suka banget sama donat varian cokelat buatan Mama, lo pasti suka susu cokelat ini juga. Lagian kata Mama gue, lo kurus banget, disuruh banyakin minum yang manis-manis."

​Kiara terpana sejenak. Ditatapnya kotak susu dingin di samping laptopnya, lalu beralih menatap samping wajah Khafi yang pura-pura cuek. Rasa hangat yang sama seperti semalam kembali menyelusup halus di dadanya.

​"Bilangin ke Tante Siska... makasih banyak ya," bisik Kiara dengan senyum tipis yang tak bisa ia tahan lagi.

​Khafi melirik sekilas dari sudut matanya, menangkap ukiran senyum manis di wajah gadis di sebelahnya itu. Sebuah sunggingan tipis ikut terukir di bibirnya, namun segera ia tahan dengan berdehem.

"Faktanya supaya lo kalem aja, karena cokelat bisa nahan rendah tingginya darah lo."

kali ini Kiara berdecak dan menggeplak baju kiri Khafi dengan rada keras. "Secara nggak langsung lo bilang gue darah tinggi?!" Ucapnya agak sewot yang dibalas tawa puas oleh Khafi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!