“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebam-lebam : 23
Seorang pria paruh baya berkata kasar. Amarahnya tidak dapat dikendalikan, menyebabkan dadanya terasa menyempit menampung emosi.
Wanita jauh lebih muda darinya, pun mengumpat. Ritual pertama yang sudah dikhayalkan akan langsung berhasil malah menuai kegagalan.
“Tidak ada cara lain, harus mengulang lagi di malam Jumat wage bulan depan,” ucap suara rendah, pria yang tadi merutuk. Wajahnya terlihat menyeramkan dengan bekas luka timbul di dagu sampai menyeberangi bibir naik ke atas kelopak mata kiri. Luka itu disebabkan bacokan parang tajam, hampir merenggut nyawanya di masa silam.
“Pastikan kedua kalinya harus berhasil, kita tidak mungkin terus-menerus hidup dalam bayang-bayang kutukan biadab itu!” tuntut suara wanita, terdengar dingin menusuk hingga ke tulang.
Seorang pria dan dua wanita beda usia, beranjak dari ruangan berlantai papan, beralas tikar pada sebuah gubuk di tepi perkebunan jauh dari rumah penduduk.
***
Di kediaman berlantai dua, pria yang tadi menghidupkan dupa, telah selesai melakukan hal rutin wajib dilakukannya setiap malam Jumat.
Galih keluar dari dalam kamar terlarang dimasuki anggota keluarganya. Dia berjalan ke belakang hendak mencuci tangan, menghilangkan wangi dupa yang menempel.
Malam terus beranjak, jam dinding klasik berdentang setiap jam nya.
Bunyi kokok Ayam jantan peliharaan Rosna terdengar sayup-sayup di telinga wanita mulai terjaga.
Ia memperhatikan putrinya yang masih tidur, lalu melihat tempat kosong di samping Pujiara. ‘Kemana Galih? Apa olahraga pagi?’
Hamima meregangkan otot-otot tangan, merasakan keanehan pada tubuhnya. ‘Kenapa badanku lemas sekali? Apa karena kemarin melewati hari yang melelahkan?’
Seharusnya badannya pegal-pegal sehabis terguling di bukit, tenggelam di sungai.
Namun, Mima hanya merasakan lemas sampai seperti tidak bertenaga untuk bangun.
“Jam setengah enam, aku harus bergegas buat sarapan pagi,” gumamnya seraya sekali lagi mencoba duduk.
Eehhkkk ….
Pujiara merengek, suaranya serak seperti menahan sakit, atau merasa tidak nyaman.
Sebagai seorang ibu yang mengandung dan melahirkan buah hatinya, Hamima hafal perbedaan suara anak-anaknya di segala kondisi.
Bayi tertidur membelakangi sang ibu, ditarik lembut badan agar berbaring terlentang.
Hamima terperanjat mendapati baju tidur putrinya kotor, jemari juga ada menempel tanah.
“Panas, Ara demam lagi?” suaranya tercekat, kening Pujiara hangat dan lengket keringat, lehernya juga.
“Dek, adek, kamu habis ngapain? Main dimana? Kok bajunya kotor gini?” dalam keadaan panik, dia lupa kalau anaknya masih tergolong bayi belum pintar berbicara, jalan pun masih satu dua langkah.
Badan yang tadi lemas, seolah tak bertenaga, nyatanya sanggup setelah diserang panik, naluri keibuan mengambil alih — Hamima mengangkat Ara, memeluknya sebentar seraya menempelkan pipi mereka.
Kemudian dia mengganti pakaian anaknya, mengelap tangannya, lalu mengambil jarik dan menggendong Pujiara.
“Ibu gak akan ninggalin Ara lagi barang semenit pun,” ujarnya dengan tekad bulat.
Pujiara menolak saat mau disusui, napasnya terasa panas menerpa kulit wajah sang ibu.
Dengan menggendong Ara, Hamima mengetuk pintu kamar Guntur. Beberapa saat menunggu, tidak juga dibukakan, sampai di menggedor-gedor.
Guntur mengerang pelan, badannya pegal-pegal dan sulit digerakkan. Ia meraba tempatnya berbaring yang terasa keras dan dingin. Sontak matanya terbuka lebar, lalu kepalanya bergerak menyamping.
“Ibu!” reflek ia menjerit, seingatnya semalam tidur di ranjang, kenapa pas bangun berbaring di lantai?
Mendengar teriakan putranya, Hamima pun panik, mencengkram handle pintu. “Guntur, kamu baik-baik saja kan, Nak?”
“Jawab Ibu, Guntur!” teriaknya tidak sabaran dengan perasaan cemas sulit dikendalikan.
Pujiara menangis, terkejut dan takut mendengar ibunya menjerit.
“Ini masih pagi, bukannya disambut dengan kebaikan malah mirip di hutan sana, jerit gak karuan!” Galih melangkah cepat, tadi sewaktu tiba di halaman mendengar teriakan istrinya.
“Mas, dobrak pintu kamar ini! Guntur tadi histeris manggil aku!” ia memohon dengan mata mengiba.
“Drama apalagi ini, Mima? Gak bisa apa sehari saja kalian tenang gitu? Ada saja tingkahnya diluar logika.” Dia enggan melakukan apa yang dipinta istrinya, berlalu ke dapur hendak mandi.
Emosi Hamima terpatik, rasanya ingin sekali dia melakukan sesuatu yang mungkin akan disesali setelahnya.
Pintu ditarik ke dalam, wajah Guntur menyembul di sela ruang terbuka.
Hamima yang menaruh rasa curiga dan diserang cemas, mendorong kuat hingga putranya bergeser ke samping memberi akses ibunya lewat.
“Guntur sakit? Wajahmu pucat, Nak.” Disentuhnya kening remaja berambut kusut, muka lesu dan bibir kering.
Suhu badan Guntur tidak demam, lebih ke dingin. Dia disuruh duduk di atas kasur oleh ibunya.
“Buka kaos mu, Guntur!” titah Mima yakin, teringat lebam di perut Pujiara kemarin hari.
Ketika mendapatkan respon lambat, Hamima menaikan kaos putranya, lalu menarik sampai melewati kepala.
“Astaga!” ia terpekik tertahan. “Ini apa karena nolongi Ibu, Nak?”
Guntur menunduk, memandangi ujung jari ibunya yang menyentuh lebam di bawah dada, lalu perut. “Sudah ada sebelum aku nyebur ke sungai.”
Jawaban sang putra bak jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Ia menatap getir dengan perasaan berkecamuk dalam dada.
Mima juga menyuruh Guntur menurunkan celana tidur, tersisa boxer saja.
Kedua paha Guntur juga terdapat memar biru keunguan. Ternyata di punggung pun ada sampai pundak.
Hamima rengkuh putranya, memeluk kepala anak yang langsung membalas mendekapnya.
Mereka menangis bersama, bahkan Pujiara masih terisak-isak.
“Ibu sekarang percaya, ‘kan? Aku gak bohong, Bu, rumah ini menyeramkan,” adunya dengan suara parau.
“Maaf pernah tidak mempercayaimu, Nak. Sekarang Ibu percaya. Ibu akan mencari jalan keluar. Secepatnya!” janjinya.
Guntur mengangguk, masih memeluk ibunya yang mengelus puncak kepalanya.
“Sekarang pakai lagi bajumu, Nak. Hari ini gak usah sekolah, nanti ikutan pijat bersama dek Ara,” ia tidak peduli seandainya Galih marah.
Suaminya itu selalu menuntut lebih. Sebagai seorang guru olahraga — istri dan anaknya wajib menjaga nama baik keluarga, kedisiplinan.
Tidak jarang Guntur diam saja saat diejek teman yang suka usil. Saat tidak enak badan pun dipaksa tetap masuk sekolah.
Setelah Guntur mengenakan pakaiannya lagi, Hamima menurunkan Pujiara yang tertidur karena kelelahan menangis.
“Nak, apa boleh Ibu minta tolong — jagain dek Ara? Ibu mau masak buat sarapan pagi,” pintanya memberikan Guntur pilihan bersedia atau menolak.
“Aku mau jaga Adek, Bu.” Guntur menyibak selimut.
Hamima menurunkan Pujiara di atas tilam ber seprei kusut, memeriksa suhu badannya yang masih terasa hangat.
“Kamu kalau masih ngantuk, tidur lagi saja bareng Ara.” Mima menepuk pelan bahu Guntur. Sebisa mungkin berdiri tegar agar putra dan putrinya tetap merasa aman.
Sesudahnya Mima keluar, dan menuju dapur. Stok belanjaan untuk hari ini sudah habis, tersisa bahan pokok beras, minyak, gula, telur, sementara sayur serta lauk tidak ada.
Tok!
Tok!
“Hamima! Mima! Kamu sudah bangun belum?”
“Persis suaranya Rosna, ngapain pagi-pagi sekali kemari?” Hamima tidak jadi ke dapur, dia berjalan ke depan dan membuka pintu yang tidak dikunci.
.
.
Bersambung.