Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Keluarga Kecil yang Menyembunyikan Dunia
Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya. Di mata siapa pun yang lewat, mereka hanyalah seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman yang hidup dari laut sebagai nelayan, dan seorang putri kecil yang ceria bernama Angel. Namun di balik kesederhanaan itu, mereka menutup identitas sejatinya — satu-satunya alasan adalah untuk melindungi nyawa sang putri.
Ayah Angel adalah Dewa Penghancur, kekuatan paling ditakuti di seluruh alam semesta, yang kini bertempur di garis depan melawan para Perusak Dunia — musuh yang ingin menghapus seluruh ciptaan. Sebelum berangkat, ia menitipkan putri tunggalnya kepada dua orang yang paling ia percaya: Rebeca, istrinya, seorang Pembunuh Langit yang setia membantunya melawan musuh, dan Kael, paman Angel. Kael adalah murid langsung dari Lazark — Tangan Kanan Dewa Penghancur, sosok kedua terkuat di alam semesta.
"Jaga identitas kita semua," pesan ayah Angel sebelum pergi. "Dan yang terpenting — sembunyikan siapa Angel sebenarnya. Kekuatan yang ia warisi dari kita berdua adalah sesuatu yang akan diburu oleh siapa pun yang ingin menguasai atau menghancurkan dunia. Sampai ia siap, biarkan ia tumbuh tanpa tahu siapa dirinya."
Sejak hari itu, mereka membangun dinding rahasia di sekitar kehidupan mereka. Rebeca memulai sandiwara terbesar dalam hidupnya: di depan semua orang — terutama di depan putrinya sendiri — ia berpura-pura menjadi ibu yang lemah, rapuh, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia berangkat bekerja sebagai pembantu di rumah-rumah warga, mencuci lantai, memasak, dan membersihkan halaman. Setiap pulang dengan upah yang sedikit, ia selalu tersenyum pada Angel dan berkata: "Lihat, sayang — ini cukup untuk kita makan hari ini." Tidak ada yang tahu bahwa wanita yang tampak begitu lelah dan lemah itu adalah Pembunuh Langit yang memegang sabit dan menghantam musuh dengan kekuatan yang meruntuhkan gunung.
Sementara itu, Kael tampil sebagai nelayan yang tenang dan ramah. Setiap hari ia berlayar ke laut, membawa pulang ikan untuk dijual atau dimakan bersama. Tidak ada yang menyangka bahwa tangannya yang tampak kasar karena jaring ikan itu adalah tangan yang pernah dilatih oleh murid dari tangan kanan Dewa Penghancur sendiri.
Ketika Angel menginjak usia 5 tahun, ia menjadi putri kecil yang ceria, penuh rasa ingin tahu, dan selalu bertanya. Hampir setiap hari, ia akan berlari menghampiri ibunya, menarik ujung jubah Rebeca yang sudah lusuh, dan menatap dengan mata emasnya yang berbinar penuh harap:
"Ibu, di mana Ayah? Kenapa Ayah tidak pernah pulang? Apakah Ayah tidak tahu bahwa Angel merindukannya?"
Rebeca akan berlutut perlahan, menatap wajah putrinya dengan senyum lembut yang menyembunyikan rasa sakit di hati. Ia mengelus rambut halus Angel pelan-pelan, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan:
"Ayahmu adalah seorang ksatria yang sangat hebat dan sangat sibuk, Nak. Ia bertempur melindungi dunia ini agar semua orang bisa hidup aman dan damai. Karena itu ia harus pergi jauh dan tidak bisa pulang sesering yang kita mau."
Angel memiringkan kepalanya, jari-jarinya yang mungil memainkan ujung jubah ibunya. "Kapan Ayah akan pulang? Apakah saat Angel sudah dewasa?"
Rebeca mengangguk pelan. "Ya, sayang. Ayah berjanji... ia akan datang menjemputmu saat kau sudah dewasa nanti."
Hari-hari berlalu. Angel melihat betapa kerasnya ibunya bekerja, betapa seringnya Rebeca pulang dengan wajah lelah namun tetap tersenyum. Ia juga melihat pamannya yang selalu berbagi hasil tangkapannya dengan mereka. Dan tak lama lagi akan tiba hari ulang tahun ibunya. Angel berpikir keras: ibunya selalu bekerja tanpa henti, hampir tidak pernah beristirahat. Sang putri ingin memberikan sesuatu yang istimewa — makanan yang sangat enak, yang bisa membuat ibunya tersenyum lebar dan makan dengan nikmat tanpa harus memasak sendiri.
Angel pun menyusun rencana bersama Paman Kael. Saat Rebeca sedang pergi bekerja, Angel berbisik penuh semangat: "Paman, sebentar lagi ulang tahun Ibu. Kita buatkan makanan paling enak untuknya, ya? Aku mau membantu Paman menangkap ikan, lalu kita masak bersama!"
Kael tersenyum melihat antusiasme keponakannya. "Baiklah, Putri Kecil. Mulai besok kau ikut aku ke laut. Kita bekerja sama — kau bantu aku menebar jaring dan memilah ikan, dan dengan hasil tangkapan terbaik itu, kita akan siapkan hidangan yang paling lezat sedunia untuk Ibu."
Sejak hari itu, setiap pagi sebelum fajar, Angel bangun bersama pamannya. Ia membantu mengangkat jaring yang berat, memilah ikan yang segar dan berkilau, serta belajar cara memilih bahan makanan yang terbaik. Tubuh kecilnya kadang terasa pegal, dan kakinya sering lelah, tapi setiap kali terbayang wajah ibunya yang akan tersenyum bahagia, semangatnya kembali membara.
Hari-hari bekerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ikan-ikan yang mereka tangkap laku terjual dengan harga yang baik, dan koin-koin yang dikumpulkan Angel satu per satu di dalam tabung tanah liatnya akhirnya penuh. Saat menghitungnya bersama pamannya, mata Angel berbinar — uangnya sudah cukup! Bahkan lebih dari yang ia bayangkan.
"Uangnya cukup, Paman!" seru Angel melompat kegirangan. "Aku bisa membeli makanan paling enak untuk Ibu!"
Tanpa menunda lagi, Angel langsung bergegas menuju pusat kota. Ia memeluk erat kantong berisi uang itu di dadanya, takut jatuh atau dicuri. Langkah kakinya kecil namun cepat, penuh semangat membayangkan wajah ibunya yang akan tersenyum bahagia saat melihat hidangan lezat tersaji di meja pada hari ulang tahunnya.
Sesampainya di depan toko makanan yang paling terkenal di kota itu, Angel berhenti sejenak untuk mengatur napas. Namun saat ia hendak melangkah masuk, pandangannya tertuju ke seberang jalan. Di sana, di balik jendela toko pakaian yang besar dan bersih, tergantung sebuah gaun berwarna biru lembut yang terbuat dari kain yang tampak sangat halus, dengan sulaman bunga perak di bagian ujungnya. Cahaya matahari yang menyinari kaca jendela membuat gaun itu tampak berkilau cantik, seolah-olah gaun itu dibuat untuk seseorang yang istimewa.
Angel tertegun. Ia belum pernah melihat gaun seindah itu sebelumnya.
"Ibu selalu mengenakan pakaian yang sama lusuhnya setiap hari," pikirnya dengan hati yang berdebar. "Pakaiannya sudah pudar warnanya, sering kali berlubang, dan Ibu selalu menambalnya berulang kali. Jika Ibu memakai gaun itu, pasti Ibu akan terlihat seperti... seperti ratu yang sebenarnya."
Tapi kemudian ia teringat uang di tangannya. Angel menghitung ulang koin-koin itu dengan cermat, satu per satu di telapak tangannya. Jika ia membeli makanan yang enak di toko itu, uangnya hampir habis, dan gaun itu harganya jauh lebih mahal dari sisa uangnya. Namun jika ia membeli gaun itu, ia tidak akan punya cukup uang untuk membeli makanan lezat yang sudah lama ia rencanakan bersama pamannya.
Angel berdiri di sana, menatap ke kiri lalu ke kanan, kebingungan. Di satu sisi ada makanan yang bisa membuat ibunya kenyang dan bahagia seharian. Di sisi lain ada gaun yang bisa membuat ibunya terlihat cantik dan dihargai — sesuatu yang belum pernah ibunya miliki selama ini. Tangannya mencengkeram erat kantong uang itu, matanya berkaca-kaca.
Belum lama berselang, Kael menyusul keponakannya itu. Ia sengaja berjalan di belakang untuk memastikan Angel aman, namun melihat gadis kecilnya berdiri diam di pinggir jalan dengan wajah penuh kebingungan, ia pun mendekat.
"Ada apa, Putri Kecil?" tanyanya lembut sambil berjongkok di samping Angel. "Kenapa wajahmu terlihat begitu sedih dan bingung? Bukankah uangnya sudah cukup untuk membeli makanan yang kau inginkan?"
Angel menoleh, matanya berkaca-kaca menatap pamannya, lalu menunjuk ke arah gaun biru di seberang jalan. "Paman... Angel ingin membeli makanan enak untuk Ibu. Tapi saat melihat gaun itu, Angel ingin membelikannya juga untuk Ibu. Tapi uang Angel tidak cukup untuk keduanya..." suaranya melembut, hampir berbisik. "Apa yang harus Angel lakukan?"
Kael mengikuti arah pandangan keponakannya, dan saat melihat gaun itu, ia tersenyum lembut. Ia mengerti — hari ini bukan sekadar hari biasa, ini adalah hari ulang tahun Rebeca, hari yang sangat berharga bagi keluarga mereka. Selama bertahun-tahun, Rebeca selalu menyembunyikan segala beban dan kekuatannya demi melindungi mereka, dan hari ini pantas bagi mereka untuk memberikan sesuatu yang benar-benar istimewa.
"Jangan khawatir, Angel," kata Kael sambil menepuk lembut kepala keponakannya. "Paman juga ingin merayakan ulang tahun Ibu dengan sepenuh hati. Kalau begitu, Paman akan bantu. Kita gabungkan uang tabungan Paman juga — uang dari hasil penjualan ikan hari-hari sebelumnya. Dengan begitu, kita punya cukup untuk membeli makanan paling enak dan gaun itu sekaligus."
Mata Angel membelalak penuh kegembiraan. "Benarkah, Paman? Kita bisa membeli keduanya?"
"Tentu saja," jawab Kael tersenyum hangat. "Karena Ibu pantas mendapatkan semuanya — makanan yang mengenyangkan dan keindahan yang layak ia kenakan. Mari kita beli keduanya, dan berikan kejutan yang tak akan pernah ia lupakan."
Angel melompat memeluk pamannya dengan erat, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan. Bersama-sama, mereka melangkah menyeberang jalan — pertama menuju toko pakaian untuk membeli gaun biru itu, lalu ke toko makanan untuk memesan hidangan paling lezat. Setelah menyelesaikan pembelian, mereka berdua tidak menunda lagi. Dengan hati penuh semangat, Angel memeluk erat bungkusan berisi gaun biru itu, sementara Kael membawa kotak makanan yang aromanya saja sudah membuat siapa saja menelan ludah. Tanpa menoleh ke kiri atau kanan, mereka bergegas pulang — harus semuanya siap sebelum Rebeca kembali dari bekerja.
Sesampainya di rumah kecil mereka yang sederhana, mereka langsung bergerak cepat seperti pasukan kecil yang sedang menjalankan misi rahasia.
"Angel, kau hiasi meja dengan bunga yang tadi kita petik ya!" perintah Kael sambil menata piring dan sendok. "Paman akan menata makanan agar tetap hangat dan terlihat paling lezat."
"Siap, Paman!" seru Angel dengan mata berbinar. Ia berlari ke halaman, memetik bunga-bunga liar yang cantik berwarna-warni, lalu menyusunnya dengan rapi di atas kain taplak meja yang sudah lama disimpan ibunya dan jarang digunakan. Sementara itu, Kael membuka kotak makanan — hidangan ikan dengan saus kental, sayuran segar yang berkilau, dan kue manis yang harumnya memenuhi seluruh ruangan.
Setelah meja siap, Kael mengambil gaun biru itu. Dengan hati-hati ia membukanya, membiarkan kain yang halus itu jatuh dan terlihat indah di bawah cahaya lampu minyak. Angel menatapnya kagum — gaun itu tampak lebih cantik daripada saat di toko.
"Kira-kira Ibu akan senang tidak ya?" tanya Angel pelan, matanya tak lepas dari gaun itu.
"Ibu pasti sangat senang," jawab Kael lembut sambil berlutut di hadapan keponakannya. "Karena ini bukan sekadar makanan dan gaun, Angel. Ini adalah bukti bahwa kau menyayanginya lebih dari apa pun."
Mereka baru saja selesai menata semuanya dengan sempurna — makanan terhidang rapi, bunga tersusun cantik, dan gaun biru tergantung di kursi sebelah tempat duduk Rebeca — ketika terdengar langkah kaki di luar pintu. Langkah yang pelan, berat, dan terdengar lelah.
"Ibu pulang!" bisik Angel dengan napas tertahan.
Kael segera mengangguk, dan Angel bersembunyi di balik pintu sambil menunggu momen yang tepat. Pintu terbuka, dan Rebeca melangkah masuk dengan wajah yang tampak kelelahan, pakaiannya berdebu, dan tangannya yang kasar karena pekerjaan seharian. Namun begitu ia melangkah masuk dan melihat meja makan yang penuh, bunga-bunga yang cantik, serta gaun biru yang tergantung di kursi itu... langkahnya terhenti. Matanya melebar, dan napasnya tertahan.
Sebelum Rebeca sempat bertanya apa pun, Angel melompat keluar dari persembunyiannya dengan senyum paling lebar dan paling bahagia.
"Selamat ulang tahun, Ibu!" serunya lantang. "Angel dan Paman menyiapkan ini semua untuk Ibu!"
Rebeca berdiri diam di sana, menatap meja yang penuh makanan, lalu ke gaun biru yang indah, dan akhirnya jatuh pada wajah putri kecilnya yang berseri-seri. Wajahnya yang biasanya selalu tampak lelah dan berusaha tetap tegar perlahan berubah. Matanya berkaca-kaca — bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sempat rasakan selama bertahun-tahun menyembunyikan siapa dirinya.
Rebeca berlutut perlahan, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menahan air matanya. Ia merentangkan kedua lengannya dan memeluk putrinya dengan erat — pelukan yang begitu kuat, penuh dengan kasih sayang yang selama ini ia simpan dalam diam.
"Suka, sayangku... Ibu sangat suka," suaranya bergetar. "Ini... ini hal terindah yang pernah Ibu terima."
Angel tersenyum bahagia, lalu membantu ibunya berdiri dan menuntunnya ke arah gaun itu. "Silakan, Ibu. Coba pakai gaun ini. Angel yakin Ibu akan terlihat sangat cantik!"
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rebeca menyentuh kain gaun yang halus itu. Ia menoleh ke arah Kael, yang berdiri di sudut ruangan dengan senyum lembut namun penuh makna. Di antara mereka, tanpa kata-kata, mereka saling mengerti: hari ini, untuk sesaat, mereka bisa melupakan rahasia berat yang mereka pikul. Hari ini, mereka hanya seorang ibu, seorang paman, dan seorang putri kecil yang saling menyayangi.
Setelah Rebeca berganti pakaian dan keluar dari kamar, mata Angel berbinar terang. Gaun biru itu pas sempurna di tubuh ibunya, sulaman bunga perak di ujungnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Rebeca yang biasanya tampak lelah dan lusuh, kini terlihat anggun dan cantik — seolah-olah ada cahaya yang menyelimutinya.
"Wah... Ibu terlihat seperti ratu!" seru Angel dengan kagum.
Rebeca tersenyum malu-malu, menyentuh ujung gaun itu dengan lembut. Mereka duduk bersama menikmati makanan yang lezat, tertawa dan bercerita. Angel menceritakan betapa lelahnya membantu pamannya di laut, betapa beratnya jaring ikan yang diangkatnya, tapi semua itu terbayar lunas saat melihat senyum ibunya. Kael memperhatikan mereka dengan tenang, menikmati momen hangat yang jarang sekali bisa mereka miliki di tengah kehidupan yang penuh rahasia ini.
Setelah makan selesai dan suasana mulai tenang, Rebeca menatap putrinya dengan tatapan yang lebih serius namun penuh kasih sayang. Ia menarik napas pelan, lalu berkata:
"Angel, Ibu punya sesuatu yang ingin Ibu bicarakan denganmu... dan dengan Paman Kael juga."
Angel menatap ibunya dengan penasaran. "Apa itu, Ibu?"
Rebeca menatap tabung tanah liat yang kini kosong — tabung tempat mereka menyimpan uang hasil kerja keras mereka berbulan-bulan. "Selama ini kita menabung dan bekerja keras demi kebutuhan sehari-hari. Tapi ternyata, uang yang kita kumpulkan bersama-sama ini ternyata cukup untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Ibu ingin mendaftarkanmu ke Akademi Langit, sekolah paling terkenal di seluruh negeri. Di sana kau akan belajar banyak hal — membaca, menulis, cara melindungi diri, dan hal-hal hebat lainnya."
Angel membelalakkan matanya tak percaya. "Akademi Langit? Sekolah yang dulu pernah diceritakan Paman? Yang di sana banyak anak-anak hebat belajar?"
"Ya, sayang," jawab Rebeca mengangguk lembut. "Uang yang kita punya sekarang sudah cukup untuk biaya pendaftaran dan seragamnya. Ibu ingin kau tumbuh menjadi gadis yang pintar dan kuat, agar kelak saat kau dewasa, kau siap menghadapi dunia ini dengan berani."
Kael yang mendengar hal itu ikut duduk di samping mereka, menatap Rebeca dengan tatapan penuh pengertian. Ia tahu ini bukan sekadar soal pendidikan — Rebeca ingin memastikan Angel tumbuh di lingkungan yang aman dan terarah, di mana ia bisa mengenal teman-teman seumurnya sebelum waktunya tiba untuk mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
Angel melompat kegirangan, lalu memeluk ibunya erat-erat. "Terima kasih, Ibu! Angel akan belajar dengan rajin, janji!"
Rebeca membalas pelukan putrinya dengan lembut, namun di dalam hatinya ada beban yang tersembunyi. Ia menatap Kael sejenak, dan dalam pandangan itu tersirat pesan: "Ini langkah awal. Tapi semakin Angel tumbuh dan berkembang, semakin dekat pula waktunya untuk memberitahunya siapa dirinya sebenarnya."