Indonesia
NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang Yang Menuebalkan

Pagi itu, aroma telur dadar dan tumisan kangkung memenuhi rumah sederhana milik Rina. Azmira baru saja keluar dari kamar ketika suara ibunya terdengar dari dapur.

"Mira, sini sarapan!"

Azmira yang sudah mengenakan pakaian kerja menghampiri meja makan. "Sebentar, Bu. Mira mau minum dulu."

"Minum nanti. Duduk."

Azmira menurut. Ia menarik kursi, kemudian duduk di hadapan ibunya. Rina meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk sederhana di depannya.

"Makan."

Azmira menatap piring itu. "Bu, banyak banget."

"Banyak dari mana? Nasinya cuma segitu."

"Mira nggak bisa habis."

"Harus habis."

Azmira terkekeh. "Ibu sekarang galak."

Rina mendengus. "Sejak kapan Ibu tidak galak?"

Azmira tertawa. Beberapa detik kemudian ia mulai menyuapkan nasi ke mulut. Rina memperhatikannya dengan saksama.

"Sudah siap?"

Azmira mengangguk.

"Siap."

"Deg-degan?"

"Sedikit."

Rina tersenyum. "Padahal kemarin berani berdiri di depan banyak orang."

"Itu beda, Bu."

"Bedanya apa?"

"Kalau kemarin cuma berdiri." Azmira menunjuk dirinya sendiri. "Hari ini Mira harus menghadapi pasien."

Rina mengangguk pelan. "Kalau begitu ingat pesan Ibu."

Azmira berhenti makan. "Apa?"

"Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena sekarang kamu memakai jas putih."

Senyum Azmira mengembang. "Iya, Bu."

"Orang yang datang kepadamu mungkin sedang membawa penyakit. Tapi bisa jadi mereka juga membawa ketakutan, kesedihan, dan masalah hidup yang tidak kamu ketahui."

Rina mengusap kepala putrinya. "Obati penyakitnya, tapi jangan lupa manusia yang ada di balik penyakit itu."

Azmira terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengangguk. "Insyaallah."

Rina tersenyum. "Sudah. Sekarang habiskan."

Azmira menghela napas. "Ibu ternyata lebih galak daripada dosen."

"Makanya kamu bisa jadi dokter."

Azmira tertawa. Pagi itu terasa sederhana.

Tidak ada kemewahan ataupun perayaan besar, hanya seorang ibu yang menyiapkan sarapan untuk putrinya sebelum bekerja.

Namun bagi Rina, pemandangan itu jauh lebih berharga daripada pesta apa pun. Dulu ia hanya bisa berharap anaknya memiliki masa depan. Sekarang ia melihat sendiri putrinya berangkat dengan jas putih dan kartu identitas dokter yang tergantung di dada.

"Ya Allah terima kasih banyak atas semua perjalanan yang sudah hambamu lalui," ucap Rina sambil menatap punggung sang anak yang terlihat jauh dari pandangannya.

☘️☘️☘️☘️

Rumah sakit sudah ramai ketika Azmira tiba.

Beberapa perawat berlalu-lalang pasien duduk memenuhi ruang tunggu. Suara roda tempat tidur sesekali terdengar melewati lorong.

Azmira berjalan sambil memeriksa sesuatu di ponselnya ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya.

"Mira!"

Azmira menghentikan langkah. Seorang perempuan muda berlari kecil menghampirinya.

"Tania."

Tania langsung tersenyum. "Kamu telat."

Azmira melihat jam tangannya. "Masih lima menit."

"Dokter harusnya datang lebih awal."

"Kamu juga baru datang."

Tania terdiam. Kemudian tersenyum canggung.

"Aku sengaja menunggu kamu."

"Kenapa?"

Tania mendekat. "Aku punya informasi penting."

Azmira mengernyit. "Pasien?"

"Bukan."

"Dokter baru?"

"Bukan."

"Terus?"

Tania melihat ke kanan dan kiri sebelum berbisik. "Anak pemilik rumah sakit datang."

Azmira mengangkat alis.

"Terus kenapa?"

Tania terlihat tidak percaya. "Kamu nggak penasaran?"

"Nggak."

"Katanya ganteng."

"Terus?"

"Dan katanya bakal bekerja di sini."

Azmira mengangkat bahu. "Bagus."

Tania menghela napas panjang. "Kamu memang tidak punya rasa ingin tahu."

Azmira tertawa kecil. "Aku datang ke rumah sakit untuk bekerja, bukan mencari jodoh."

Belum sempat Tania menjawab, seseorang berjalan dari arah berlawanan. Seorang pria muda dengan pakaian formal, berjalan ke arah mereka, langkahnya cepat. Wajahnya tampak serius.

Tania yang tadi masih berceloteh langsung menutup mulut. Azmira tidak terlalu memperhatikan hingga pria itu hampir menabraknya.

Azmira segera menyingkir. Namun pria tersebut berhenti. Tatapannya tertuju kepada Azmira.

"Kalau berjalan lihat depan."

Azmira terdiam. Tania membelalakkan mata.

Beberapa detik kemudian Azmira menjawab tenang.

"Kalau terburu-buru juga lihat depan."

Pria itu menatapnya. Azmira balas menatap tanpa rasa takut.

"Sudah?"

Pria itu mengerutkan kening. Kemudian pergi begitu saja.

Sementara Tania yang melihat kejadian itu langsung menahan tawa. "Astaga..."

Azmira menoleh heran. "Apa?"

"Itu orangnya."

"Orang apa?"

"Anak pemilik rumah sakit."

Azmira langsung menatap punggung pria itu.

"Serius?"

Tania mengangguk. "Iya beneran itu orangnya."

Azmira menghela napas. "Pantasan."

"Pantasan apa?"

"Pantasan menyebalkan."

Tania langsung tertawa, namun Azmira langsung menutup mulut rekan kerjanya itu. "Sudah ketawanya, saatnya kerja."

Tania menampakkan wajah masamnya. "Iya deh, Bu dokter."

☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa jam kemudian, Azmira duduk di ruang pemeriksaan. Seorang perempuan bersama anak laki-lakinya masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.

Azmira mempersilakan mereka duduk.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi, Dok."

Azmira tersenyum ramah, dan memperhatikan ibu dan anak laki-lakinya itu.

"Apa keluhannya?"

Perempuan itu mulai menjelaskan keadaan anaknya. Azmira mendengarkan dengan teliti.

Sesekali ia mengajukan pertanyaan. Setelah selesai memeriksa, Azmira menjelaskan kondisi anak tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami.

Perempuan itu mengangguk berkali-kali.

Namun sebelum keluar, ia tiba-tiba bertanya dengan suara pelan.

"Dok..."

"Iya, Bu?"

"Kami pakai BPJS."

Azmira sedikit mengernyit. "Iya."

"Jadi... tidak masalah, kan?"

Azmira terdiam. Ia menatap perempuan di hadapannya. Ada rasa sungkan yang begitu jelas di wajah itu. Dan entah mengapa, sesuatu di dalam diri Azmira terasa tersentuh.

Dulu, ia juga pernah hidup dengan perasaan serba kekurangan. Pernah merasa malu karena tidak memiliki sesuatu seperti orang lain. Pernah takut dianggap berbeda hanya karena keadaan ekonomi.

Azmira tersenyum. "Tidak ada yang masalah, Bu."

Perempuan itu menatapnya, dengan mata yang berbinar.

"Ibu datang ke sini untuk berobat, bukan untuk merepotkan siapa-siapa."

Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Dok."

Azmira mengangguk. "Sama-sama Ibu."

Setelah pasien itu keluar, Azmira bersandar sebentar di kursinya. Matanya menatap jas putih yang dikenakannya. Jas yang dahulu hanya menjadi bayangan dalam sebuah mimpi seorang anak kecil.

Kini ia benar-benar memakainya. Dan ternyata... menjadi dokter bukan hanya tentang menyembuhkan penyakit. Kadang, satu kalimat sederhana pun bisa membuat seseorang merasa bahwa dirinya masih berharga.

Azmira kembali membuka berkas pasien berikutnya. Ia pikir hari pertamanya sebagai dokter akan berjalan biasa saja.

Ternyata ia salah.

Karena sejak pagi itu, seorang pria menyebalkan mulai masuk ke dalam kehidupannya. Dan Azmira belum tahu...

pria itu akan menjadi seseorang yang jauh lebih sulit ia hindari daripada yang ia bayangkan.

Bersambung . ..

1
Nancy Nurwezia
penyesalanmu mulai mendrkati mu dika
Nar Sih
lanjut kakk👍🥰
Tengku Nafisa
Terasa lamban semuanyaa. Dika banyak duit spt jalan di tempat sementara Dedemit Miranda dan anaknya sdh spt detektif yg sdh maju selangkah. Dan yg di cari tau kehidupannya ada di sekitar mereka. Adegannya seperti main kucing kucingan. Gaskan thor.. jgn keduluan dedemit yg mencelakai Azmira dan ibunya. Oh Wiliam lindungilah Azmira.
Nar Sih
kak ayu jdi gk sabar nunggu kebusukan miranda kebongkar dan penyesalan dika yg telah melupakan azmira
Sri Widiyarti
eh ga taunya Sherin bukan anak kandungnya 🤦🤦🤦
Nar Sih
kesalah mu sendiri dika ,yg sdh piara ular di rmh mu 🤣🤣
ceuceu
Ga sabar liat kehancuran dika pas tau kebusukan miranda wanita yg dia pilih,sampai rela membuang putri kandung
Tengku Nafisa
jgn lama2 thor membuka kedok miranda di dpn keluarga.
Nar Sih
semoga sgra terbongkar kejhtn miranda biar dika menyeslll🤣🤣🤣
ros
🙏
Suanti
setelah terungkap shiren bukan kandung dika
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
Nar Sih
kasihan kmu dika ,klau ternyata ank yg kau anggap ank kandung mu eh...ternyata ank sekingkuhan pelakor mu ,sedang ank kandung mu tak kau anggap🤣🤣
Tengku Nafisa
ketahuan... sdh terlambat utk sadar. terlanjur terlena dgn duniamu Dika. rasakan itu penyesalan yg tak bisa kembali
Marini Suhendar
anak orang lain d urus..anak sendiri d d usir..
ceuceu
sepertinya shiren bukan anak dika,sukurin deh dika biar tau rasa,ngurus anak orang lain,anak sendiri di telantarkan
Heni Fitoria
intinya anakku bukan anakku...
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆
Nar Sih
satu demi satu rahasia miranda sgra terungkap dan saat dika tau tinggal lah penyesalan yg terlambat
Tengku Nafisa
Dika akan sadar ketika dirinya selama ini telah tertipu dan yg menipunya adalah wanita yg dipeliharanya dirmhnya sendiri.
Nar Sih: bnr banget kak ,dan saat kbnran itu tiba tinggal lan penyesalan
total 1 replies
ceuceu
Dika egois menelantarkan anak selama 25 tahun,ngapain sekarang baru cari tau
Nar Sih
seperti nya shiren bkn ank kandung mu dika ,dan bila kbnran rahasia istri perebut suami org terbongkar saat itu lah karma penyesalan mu tiba🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!