Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Di Pisahkan
Keesokan paginya, suasana kelas 7-B tampak lebih ramai dari biasanya. Kabar tentang kedatangan murid baru di semester ini sudah menyebar luas. Di bangkunya, Evan sesekali melirik ke arah Auren yang duduk di sebelahnya, memberikan senyuman tipis yang menenangkan. Seperti biasa, sebelum bel berbunyi, tangan Evan sempat berada di bawah meja dan memberikan ketukan dua kali di lutut Auren. Tok. Tok. Sebuah kode rahasia agar gadis itu tidak tegang menghadapi hari ini.
Tak lama kemudian, Bu Linda selaku wali kelas 7-B masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya, mengekor dua orang anak baru yang langsung menyita perhatian seluruh kelas. Ternyata, murid barunya ada dua orang sekaligus.
"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kelas 7-B kedatangan dua teman baru pindahan dari luar kota. Silakan perkenalkan diri kalian," ujar Bu Linda ramah.
Murid perempuan yang berwajah manis dan tampak ramah maju selangkah. "Halo semuanya, perkenalkan nama saya Anaya."
Setelah itu, giliran murid laki-laki yang berambut rapi dan memiliki senyum menawan yang memperkenalkan diri. "Halo, perkenalkan nama saya Fathur. Salam kenal semuanya."
Bu Linda mengangguk senang. "Baik, Anaya dan Fathur, kebetulan di baris belakang ada dua bangku kosong yang bersebelahan. Kalian berdua bisa duduk di sana—"
"Maaf, Bu Linda!"
Sebuah suara ketus memotong ucapan guru. Balisya tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melirik sinis ke arah Auren, lalu memasang wajah manis tiruan di hadapan Bu Linda. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu untuk memisahkan Evan dan Auren.
"Iya, Balisya? Ada apa?" tanya Bu Linda.
"Begini, Bu. Mereka kan masih anak baru, kalau disuruh duduk berdua, mereka pasti canggung dan belum punya teman lain di kelas ini. Gimana kalau sih Anaya duduk sama Evan, dan Fathur duduk sama Auren?" usul Balisya dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah sangat peduli.
Balisya melirik Evan sekilas sebelum melanjutkan, "Biar saling mengenal, Bu. Apalagi Evan dan Auren kan perangkat kelas 7-B. Mereka berdua pasti bisa bantu Anaya dan Fathur buat cepat berteman dan tahu pelajaran di kelas kita. Iyakan, Bu?"
Doni dan Putra yang mendengar itu langsung saling berpandangan, tahu betul kalau Balisya hanya sedang memanaskan suasana karena cemburu berat melihat kedekatan Evan dan Auren akhir-akhir ini.
Bu Linda tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk-angguk setuju. "Ah, usul yang sangat bagus, Balisya. Ibu tidak memikirkan itu sebelumnya. Evan, Auren, sebagai ketua kelas dan perangkat kelas, kalian tidak keberatan, kan? Ayo, silakan bertukar posisi duduk."
Deg.
Jantung Auren serasa berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah Evan dengan tatapan tidak percaya. Evan sendiri langsung mengepalkan tangannya di atas meja, rahangnya mengeras menahan kesal. Namun, di depan wali kelas, sebagai ketua kelas 7-B yang baik, mereka tidak bisa membantah aturan begitu saja.
Dengan berat hati, Evan dan Auren terpaksa mengemas kotak pensil dan buku-buku mereka. Anaya melangkah menuju meja Evan, sementara Fathur berjalan ke arah meja Auren.
Sebelum benar-benar terpisah, Evan dan Auren saling bertukar pandangan satu sama lain. Tatapan mereka penuh dengan rasa terkejut dan kesedihan yang mendalam. Mereka tidak menyangka bahwa kedekatan manis yang baru saja mereka bangun di kelas 7-B ini, harus dipisahkan begitu saja oleh wali kelas mereka sendiri akibat ulah licik Balisya. Di sudut kelas, Balisya tersenyum puas melihat kemenangan kecilnya hari ini.